Daftar Isi
KEPUTUSAN DESAIN DI AWAL SANGAT MENENTUKAN
Keputusan desain yang diambil di fase konsepsi akan menentukan 70–80% dari total biaya proyek dan timeline pelaksanaan. Kesalahan di tahap awal tidak hanya berdampak pada biaya—tetapi juga menjadi sumber konflik di fase konstruksi yang sulit diperbaiki. Banyak proyek mengalami delay signifikan dan redesain mahal karena konsepsi awal tidak matang atau owner tidak melibatkan konsultan sejak awal.
Risiko konkrit: jika struktur atau utilitas didesain tanpa investigasi mendalam terhadap kondisi lapangan dan regulasi lokal, keputusan desain mungkin tidak sesuai SNI atau ketentuan dinas setempat. Akibatnya, izin ditolak, redesign dipaksakan, dan biaya tambahan bisa mencapai 30–50% dari budget awal.
Implikasi: pemilihan konsultan perencana yang tepat di tahap awal bukan opsi administratif, melainkan keputusan strategis untuk menghindari kerugian finansial dan temporal. Sebelum memulai, owner harus memahami apa saja yang perlu diinvestigasi dan pada tahap mana keputusan kritis perlu diambil.
INFORMASI AWAL & INVESTIGASI
Sebagai Konsultan Perencana, pada tahap awal kami akan menjaring informasi selengkap-lengkapnya atas keinginan pengguna jasa, seperti: fungsi, budget, alokasi waktu pelaksanaan, data-data teknis yang tersedia dan lain-lain, sehingga apa yang akan didisain sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pengguna jasa.

Data yang dikumpulkan di tahap ini bukan sekadar arsip administratif—tetapi foundation untuk mengidentifikasi hambatan teknis, regulasi daerah, atau kelayakan SNI sejak dini. Risiko jika investigasi awal diabaikan: asumsi owner tentang kelayakan bangunan ternyata tidak sesuai SNI atau regulasi, atau lokasi memiliki kondisi tanah/hidrologi yang tidak terduga. Akibatnya, perubahan desain menjadi keharusan di fase lanjut, dengan biaya redesign yang besar. Implikasi: semakin detail investigasi awal, semakin rendah risiko perubahan besar di fase pengembangan rencana.
PERTIMBANGAN DESAIN TERINTEGRASI
Dalam suatu perancangan, setidaknya hal-hal berikut ini yang akan dipertimbangkan:
1. ESTETIKA
Dasar keindahan dan keserasian bangunan yang akan memberikan kebanggan pada pemiliknya
2. FUNGSIONAL
Disesuaikan dengan pemanfaatannya dan penggunaanya sehingga memberikan rasa nyaman
3. STRUKTURAL
Struktur yang kuat dan mantap shg memberikan rasa aman untuk tinggal di dalamnya
4. EKONOMIS
Pendemensian (ukuran struktur) yang proporsional dan pemakaian bahan yang sesuai sehingga bangunan awet mempunyai umur yang panjang, pemeliharaan yang mudah.
Keempat aspek ini tidak berdiri sendiri—tetapi saling mempengaruhi dalam setiap keputusan desain. Desain terintegrasi adalah kolaborasi antara arsitektur, struktur, mekanikal, dan elektrikal. Jika satu aspek diabaikan, dampaknya akan terasa di aspek lain. Sebagai contoh: estetika yang ambisius (bentuk kompleks, material khusus) akan membuat struktur lebih sulit dan biaya meningkat. Sebaliknya, desain ekonomis yang ketat bisa membatasi kebebasan rancang dan kenyamanan fungsional.
Keputusan mana yang jadi prioritas—Estetika, Fungsional, Struktural, atauEkonomis—harus ditentukan sejak awal, bukan ditunda hingga fase detail desain. Jika terlambat mengambil keputusan ini, pilihan akan semakin terbatas karena sudah terlanjur jauh, dan setiap perubahan akan menjadi sangat mahal.
Oleh karena itu, konsultan perencana memiliki peran penting: menjelaskan kepada owner dengan transparan dan detail tentang setiap pilihan desain. Jika Anda menginginkan bangunan yang indah dengan desain inovatif, struktur akan lebih kompleks dan biaya akan membengkak. Sebaliknya, jika prioritas adalah hemat biaya, maka ada aspek yang perlu dikompromikan. Owner harus memahami dampak finansial konkrit dari setiap opsi sebelum memutuskan.
KOLABORASI MULTIDISIPLIN & LINGKUNGAN
Konsep dasar rancang bangun adalah suatu hasil kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu yang dirangkum dalam bentuk rancangan.
Gagasan dasar muncul dari kreativitas arsitek, baik dalam bentuk intuisi maupun dalam bentuk pemrograman. Rancangan yang dihasilkan selanjutnya diekspresikan dalam satu atau beberapa alternatif lay out bangunan, dimana bentuknya dihasilkan dari pertimbangan rumusan konsep-konsep sistem bangunan (arsitektural, struktural, mekanikal dan elektrikal) dan lingkungan sekitar yang tentunya disesuaikan dengan peruntukan bangunan.

Konsepsi desain harus mempertimbangkan kondisi lingkungan konkret di lokasi—topografi, hidrologi, potensi gempa, kondisi tanah, iklim lokal—dan regulasi daerah setempat. Keputusan ini tidak bisa diabaikan atau ditunda ke fase lanjut. Risiko jika desain tidak mempertimbangkan kondisi lokal: fondasi tidak tepat karena tanah lembek atau berair, struktur bermasalah, menjadi safety hazard; atau desain tidak sesuai regulasi dinas setempat sehingga permohonan izin ditolak, menyebabkan delay atau redesign terpaksa.
Dalam praktik lapangan, konflik antara keinginan owner dengan kelayakan regulasi lokal atau kondisi teknis sering muncul di fase awal. Jika tidak diselesaikan cepat melalui diskusi transparan, hambatan ini akan menjadi bottleneck di fase perizinan. Implikasi: konsultan harus proaktif mengidentifikasi hambatan regulasi dan teknis sejak konsepsi, tidak menunggu sampai pra-rencana selesai. Owner perlu memahami batasan-batasan ini sejak awal agar ekspektasi realistis.
TAHAPAN PERENCANAAN & KEPUTUSAN KRITIS
Secara umum tahapan perencanaan meliputi hal-hal yang akan dipaparkan berikut ini:
5A. PERSIAPAN / KONSEPSI PERENCANAAN
-
- Pengumpulan data dan informasi lapangan
- Membuat interpretasi secara garis besar terhadap keinginan pengguna jasa
- Menyusun program kerja perencanaan
- Menyusun konsep perencanaan, sketsa dan gagasan
- Konsultasi dengan pemerintah daerah setempat mengenai peraturan daerah/ perizinan bangunan;
Tahap persiapan adalah investasi awal yang kecil tetapi sangat krusial untuk menghindari kesalahan besar di fase lanjut. Jangan anggap tahap ini sebagai tahap yang bisa dipercepat untuk hemat biaya awal—justru mempercepat di sini akan menghasilkan biaya redesign yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Risiko konkrit: jika owner dan konsultan tidak sepemahaman tentang tujuan proyek sejak tahap konsepsi, maka desain akan berubah-ubah di fase development—ini menjadi sumber utama delay dan cost overrun. Konsultasi awal dengan dinas daerah di tahap ini (bukan menunggu pengajuan formal nanti) bisa menghindari penolakan izin dan perubahan order besar di fase yang lebih lanjut.
Implikasi: tahapan persiapan/konsepsi bukan opsi untuk dihemat—jika dilakukan dengan baik, tahap ini menghemat biaya total proyek hingga 15–20% karena meminimalkan rework. Owner harus mengalokasikan budget dan waktu yang cukup untuk fase ini.
5B. PENYUSUNAN PRA-RENCANA
-
- Membuat rencana tapak
- Prarencana bangunan
- Perkiraan biaya
- Informasi perizinan sampai mendapatkan advice planning dan keterangan persyaratan bangunan dan lingkungan dari pemerintah daerah setempat.
Pra-rencana adalah titik pivotal di mana owner harus “lock in” desain konsep sebelum melanjut ke gambar detail dan spesifikasi rinci. Pada tahap ini, masih ada fleksibilitas untuk memilih alternatif desain tanpa biaya besar. Setelah fase ini, perubahan akan sangat costly.
Pra-rencana mencakup: rencana tapak (site plan), prarencana bangunan (layout umum), perkiraan biaya awal, dan advice planning dari dinas—ini adalah approval point resmi dari owner dan pemerintah sebelum melanjut ke design development. Risiko jika pra-rencana tidak final: owner minta perubahan besar di fase pengembangan rencana—gambar detail harus diulang, konsultan dan kontraktor membuang waktu, timeline bergeser, dan biaya tambahan muncul.
Implikasi: pra-rencana adalah milestone agreement resmi antara owner, konsultan, dan dinas. Perubahan setelah milestone ini harus melalui formal addendum dan biaya tambahan yang jelas. Owner harus yakin dengan pilihan desain di tahap ini sebelum menandatangani approval.
5C. PENYUSUNAN PENGEMBANGAN RENCANA
-
- Gambar rencana arsitektur;
- Gambar rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya;
- Gambar rencana utilitas, beserta uraian konsep dan perhitungannya;
- Garis besar spesifikasi teknis;
Fase pengembangan rencana adalah detailing dari desain yang sudah “locked” di pra-rencana. Gambar rencana arsitektur, struktur, utilitas, dan spesifikasi mulai detail di fase ini. Jika perubahan konsep masih terjadi, dampaknya akan menyebar ke semua disiplin: perubahan struktur akan memaksa utilitas disesuaikan, timing konstruksi berubah, dan koordinasi menjadi kacau.
Risiko: jika masih ada perubahan fundamental (bukan minor detail) di fase ini, koordinasi antar disiplin menjadi tidak terkelola, gambar sering revisi, kontraktor menjadi kebingungan saat konstruksi, dan kualitas pekerjaan turun. Dalam praktik, perubahan di tahap development rencana bisa menambah timeline 2–4 minggu dan biaya koordinasi signifikan.
Implikasi: pada phase ini, owner hanya bisa meminta perubahan minor dan korektif. Perubahan konsep fundamental harus ditolak atau masuk ke addendum resmi dengan biaya tambahan yang transparan. Konsultan harus tegas dalam mengkomunikasikan batas-batas ini kepada owner.
5D. PENYUSUNAN RENCANA DETAIL & RKS
-
- Gambar-gambar detail;
- Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS);
- Rincian volume dan rencana anggaran biaya (RAB) pekerjaan konstruksi fisik dan metode kerja
- Petunjuk operasional dan perawatan
Fase detail adalah tahap terakhir sebelum konstruksi dimulai. Gambar detail dan Rencana Kerja & Syarat-syarat (RKS) harus akurat dan jelas, karena ketidakakuratan akan menjadi sumber klaim dan dispute di lapangan konstruksi.
RKS dan RAB detail adalah dokumen kontrak antara owner, konsultan, dan kontraktor. Ketidakjelasan atau ambiguitas di dokumen ini sering menjadi sumber konflik di lapangan. Contoh konkrit: jika spesifikasi mutu beton tidak detail, kontraktor dan owner akan berbeda interpretasi, sehingga ada claim “itu bukan yang disepakati”. Atau jika gambar detail tidak mencakup kondisi lapangan yang kompleks (misalnya utilitas existing yang harus dipertahankan), kontraktor akan claim biaya tambahan karena kondisi lapangan berbeda dengan gambar.
Dalam praktik lapangan, 60–70% dispute konstruksi terjadi karena ambiguitas atau ketidakakuratan di RKS dan gambar detail. Implikasi: fase detail harus diverifikasi lapangan secara ketat sebelum dokumen final. Owner sebaiknya melakukan field verification bersama konsultan untuk memastikan gambar sesuai kondisi aktual lapangan.
5E. PENGAWASAN BERKALA SELAMA KONSTRUKSI
Tanggung jawab perencana atas hasil perencanaan tidak berakhir saat dokumen perencanaan diserahkan. Sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi Pasal 47 huruf (k), perencana bertanggung jawab atas hasil perencanaan melalui Kontrak Kerja Konstruksi, dengan periode tanggung jawab maksimal 10 (sepuluh) tahun setelah penyerahan bangunan.
Pengawasan berkala selama masa konstruksi adalah layanan konsultansi yang dapat dikontrak oleh owner (Pasal 13 ayat 4 UU No. 2/2017). Jika pengawasan termasuk dalam scope kontrak, perencana wajib melaksanakannya sesuai dengan jangka waktu yang disepakati. Dalam praktik industri, periode pengawasan umumnya mencakup masa konstruksi ditambah 1–2 tahun pasca-serah terima bangunan, meskipun hal ini merupakan hasil kesepakatan kontrak dan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan proyek.
Fungsi pengawasan adalah memverifikasi bahwa pekerjaan kontraktor sesuai dengan rencana dan standar teknis yang disepakati. Risiko jika pengawasan tidak dilakukan atau dilakukan sporadis: kontraktor mungkin bekerja dengan standar lebih rendah dari desain, cacat tersembunyi baru terlihat setelah proyek selesai dan digunakan, dan perbaikan menjadi mahal dan sulit. Dalam skenario ekstrem, kegagalan struktural bisa terjadi di kemudian hari karena work quality yang buruk di tahap konstruksi tidak terdeteksi.
Dalam praktik lapangan, proyek yang memiliki pengawasan konsultan yang ketat cenderung lebih sesuai spesifikasi, work quality lebih baik, dan umur bangunan lebih panjang. Sebaliknya, proyek tanpa pengawasan atau pengawasan sporadis sering mengalami quality issue yang terlihat bertahun-tahun kemudian.
Implikasi: jika owner memilih untuk mengontrak layanan pengawasan, budget yang dialokasikan bukan sekadar biaya tambahan—tetapi investasi untuk menjamin kualitas dan umur panjang bangunan. ROI-nya adalah bangunan yang sesuai spesifikasi, aman struktural, dan memerlukan maintenance minimal di kemudian hari. Sebaliknya, jika owner tidak mengontrak pengawasan, tanggung jawab verifikasi kualitas berada pada pihak lain (owner sendiri atau pihak ketiga yang ditunjuk).
6. KUALITAS PERENCANA & KOMUNIKASI BERKELANJUTAN
Kualitas perencana akan ditentukan oleh kepuasan pengguna jasanya. Untuk meminimalisir kemungkinan adanya miss interpretasi antara perencana dengan pengguna jasa, maka dalam setiap tahapan yang disampaikan di atas, sebelum melangkah ke tahap selanjutnya selalu didiskusikan dengan pengguna jasa.
Kepuasan owner pada kualitas perencana ditentukan bukan hanya dari hasil akhir (gambar dan dokumen), tetapi juga dari kualitas proses komunikasi dan transparansi selama seluruh perancangan. Ini adalah faktor yang sering diabaikan owner saat memilih konsultan, padahal sangat krusial untuk keberhasilan proyek.
Komunikasi yang jelas di setiap tahapan—sebelum melanjutkan ke fase berikutnya—adalah mekanisme utama untuk menghindari mis-interpretasi antara owner dan konsultan. Risiko jika komunikasi lemah: owner menduga konsultan melenceng dari keinginan awal tanpa tahu bagaimana perubahan itu terjadi, kepercayaan menurun, kemudian muncul order perubahan besar di fase lanjut, biaya dan timeline meledak.
Dalam praktik, proyek dengan komunikasi terbuka dan regular sejak awal lebih smooth dan hasil lebih sesuai ekspektasi dibanding proyek dengan komunikasi sporadis atau only-upon-request. Implikasi: owner harus memilih konsultan yang proaktif komunikasi, transparan dalam penjelasan trade-off dan risiko, dan siap berdiskusi iteratif—bukan konsultan yang pasif menunggu instruksi dan hanya deliver dokumen di akhir.
7. KESIMPULAN & KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK OWNER
Perancangan bangunan yang berkualitas adalah hasil dari investigasi mendalam, trade-off yang jelas dan sadar, koordinasi multidisiplin yang solid, dan komunikasi berkelanjutan antara owner dan konsultan sejak awal hingga fase konstruksi. Semua aspek ini membutuhkan partnership yang erat dan partnership yang erat, bukan relasi vendor-customer yang transaksional.
Risiko jika owner memilih konsultan berdasarkan harga termurah saja tanpa mempertimbangkan kapabilitas: konsultan tidak punya resource untuk investigasi mendalam, keputusan desain menjadi tergesa-gesa atau tidak sesuai kondisi lokal, design quality rendah, problem muncul saat konstruksi atau setelah bangunan digunakan, biaya perbaikan jauh lebih besar dari biaya awal yang dihemat.
Implikasi: investasi dalam memilih konsultan perencana yang tepat—dengan kemampuan investigasi mendalam, pengalaman regulasi lokal, dan track record komunikasi yang baik—adalah keputusan finansial terbaik untuk proyek bangunan jangka panjang. Jangan lihat konsultan sebagai cost center yang perlu dihemat, tetapi sebagai risk manager yang mencegah kerugian jauh lebih besar di kemudian hari.
Konsultasi Perencanaan Bangunan
Keputusan desain bangunan selalu memiliki konsekuensi teknis dan biaya. Pada tahap tertentu, owner perlu memastikan bahwa pilihan yang diambil masih sejalan dengan kondisi lapangan, ketentuan teknis, dan risiko yang dapat diterima.
PT Hesa Laras Cemerlang mendampingi proses pengambilan keputusan desain dengan menelaah aspek teknis yang krusial, batasan regulasi, serta implikasi biaya dari setiap alternatif. Pendekatan ini membantu owner memahami mana keputusan yang masih dapat disesuaikan dan mana yang sebaiknya dipertahankan untuk menjaga keselamatan dan kinerja bangunan.
Dengan dasar tersebut, keputusan desain dapat diambil secara lebih terukur, realistis, dan bertanggung jawab terhadap risiko jangka panjang.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1 Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
- ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
- ☎️ Telepon: (021) 8404531
- 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409