Korosi Tulangan Baja Dalam Beton

Korosi Tulangan Baja Dalam Beton

Korosi Beton Bertulang di Indonesia — Proses yang Dimulai Sejak Hari Pertama

Korosi pada tulangan baja di dalam beton adalah proses kimia yang sudah berjalan sejak awal. Itu bukan kegagalan material atau konstruksi yang tiba-tiba muncul. Yang berubah adalah kapan lapisan proteksi rusak, dan kapan kerusakan itu terlihat jelas di permukaan.

Di Indonesia, korosi menjadi masalah serius di lingkungan laut (Jakarta Utara, Surabaya pesisir) dan kota besar dengan polusi tinggi (Jakarta Selatan, Bandung), serta sekitar jalan raya. Iklim panas–lembab Indonesia mempercepat difusi gas dan ion dibanding iklim temperate. Lokasi jauh dari pantai yang urban (Bandung, Yogyakarta) menghadapi mekanisme korosi berbeda — tapi proses tetap sama.
Kerusakan beton karena korosi pada tulangannya, apa sebabnya? bagaimana mencegah dan mengatasinya

Passive Layer — Proteksi Awal yang Dilengkapi Beton Alkalin

Tulangan baja di dalam beton sebenarnya terlindungi oleh lingkungan yang sangat basa (alkalin). pH beton umumnya 11–12, cukup untuk membentuk lapisan proteksi pasif (passive layer) di permukaan baja. Lapisan ini sangat tipis, tapi cukup kuat mencegah baja berkorosi.

Masalah mulai ketika lapisan ini rusak. Ada dua cara utama lapisan ini hilang di Indonesia:

Karbonasi — Penurunan pH Melalui Difusi CO2

Karbondioksida dari udara masuk ke pori-pori beton. CO2 bereaksi dengan kalsium hidroksida dalam beton, membentuk kalsium karbonat. Proses ini menurunkan pH beton secara bertahap, dari 11–12 menjadi di bawah 9.

Ketika pH turun ke bawah 9, lapisan pasif collapse. Baja tidak lagi terlindungi. Setelah itu, korosi bisa terjadi jika ada oksigen dan air — yang di Indonesia tidak pernah kekurangan.

Laju karbonasi tergantung pada tiga hal: kualitas beton, paparan lingkungan (indoor vs outdoor vs splash zone), dan iklim setempat. Di Jakarta urban dengan iklim lembab dan polusi tinggi, karbonasi bisa dalam. Di lokasi dalam ruangan (basement, gedung dengan AC), laju lebih lambat. Di zona splash laut Surabaya atau Banjarmasin, karbonasi berlomba dengan mekanisme lain (chlorida) yang lebih agresif.

Karbonasi tidak bisa dihindari sepenuhnya. Ini proses alami. Yang bisa dikontrol adalah lajunya — melalui beton padat, selimut tebal, dan kualitas material. Semakin lambat laju karbonasi, semakin lama carbonation front butuh untuk mencapai tulangan.

Chlorida — Serangan Langsung, Dominan di Zona Splash Laut

Chlorida (dari air laut atau garam de-icer di jalan) masuk ke beton lebih cepat dibanding CO2. Ketika konsentrasi chlorida mencapai 0.2–0.4% (berat semen), lapisan pasif rusak langsung, bahkan pada pH yang masih tinggi.

Di Indonesia, chlorida menjadi mekanisme dominan di zona splash laut — gedung pantai Surabaya, dermaga, struktur di pulau-pulau, area pesisir Banjarmasin. Di lokasi urban inland (Bandung, Yogyakarta, Medan), chlorida jarang menjadi penyebab utama, kecuali jika material awal (pasir, air, semen) sudah terkontaminasi atau jika struktur dekat jalan raya dengan garam de-icer rutin.

Yang perlu diingat: setelah lapisan pasif rusak (dari karbonasi atau kontaminasi chlorida awal), chlorida mempercepat laju korosi, bukan menginitiasi. Tapi jika beton sudah terkontaminasi chlorida sejak konstruksi — misalnya dari pasir laut yang tidak dicuci proper — maka lapisan pasif rusak lebih cepat dibanding kalkulasi.

Kerusakan Yg Terlihat — Retak & Spalling Sebagai Indikator Waktu

Ketika korosi sudah berlangsung cukup lama, produk korosi (rust oxide) mengembang. Volume rust oxide lebih besar dari volume baja asli. Ekspansi ini menekan beton dari dalam, membentuk retak dan kemudian spalling (beton terkelupas).

Retak dan spalling bukan “gejala korosi awal”. Ini indikasi bahwa korosi sudah berlangsung cukup lama — berapa lama tergantung lingkungan, kualitas beton, dan ukuran baja. Bisa 5 tahun, bisa 15 tahun. Atas kertas ini terdengar sederhana; di lapangan Indonesia dgn maintenance lemah, seringkali sudah terlambat ketika retak terlihat.

Penting: visual inspection saja tidak bisa bilang “seberapa parah sebenarnya”. Mungkin retak sudah terlihat, tapi korosi belum dalam-dalam. Atau tulangan sudah berkarat cukup parah tapi spalling belum muncul karena selimut masih cukup tebal.

Dari sini muncul kebutuhan assessment teknis. Tanpa itu, keputusan repair adalah blind guessing.

Pencegahan — Paling Serius di Tahap Design, Operasional Mengelola Risiko & Umur Layan

Pencegahan korosi yang benar-benar efektif hanya bisa dilakukan sebelum beton dicor. Setelah itu, upaya operasional bukan solusi struktural, tapi alat untuk mengelola risiko dan memperpanjang umur layan yang tersisa.

Di Tahap Design

Dua keputusan utama: selimut beton dan kualitas beton.

Selimut tebal membeli waktu. Semakin tebal, semakin lama carbonation front butuh untuk sampai ke tulangan. Untuk lokasi agresif (laut, dekat jalan raya), selimut minimal harus 60–80 mm, bukan 40 mm. Ini keputusan durability, bukan sekadar spesifikasi. Di praktik Indonesia, banyak struktur didesain dengan selimut minimum SNI (40 mm) bahkan untuk lokasi dekat pantai. Itu bukan design error; itu trade-off antara durability window dan cost.

Beton padat melambatkan difusi gas dan ion. Beton padat dicapai dengan: rasio air-semen rendah (W/C ≤ 0.5), pemadatan baik, dan curing memadai. Di lapangan Indonesia, curing sering diabaikan. Beton dibiarkan kering terlalu cepat di iklim tropis, atau terkena hujan deras sebelum kuat. Hasilnya, beton porous meskipun W/C sudah bagus di design.

Untuk lokasi chlorida-prone (zona laut), semen tipe V (dengan puzolanik) lebih resistif dibanding tipe I. Ini keputusan teknis, bukan opsional. Tapi biaya semen tipe V lebih tinggi, jadi keputusan ini tergantung apakah owner mau bayar.

Di Tahap Konstruksi

Design sempurna bisa gagal di lapangan. Pemadatan beton tidak homogen meninggalkan cavitas, jalur korosi cepat terbentuk di area lemah. Curing tidak memadai di iklim tropis menghasilkan beton surface yang lemah, permeabel tinggi. Ini bukan teori — ini observasi lapangan berulang.

Kualitas kontrol konstruksi di Indonesia sering lemah. Tidak ada saat konkret di-test, tidak ada record slump atau curing durasi. Tukang cetak beton membuat berdasarkan pengalaman, bukan spesifikasi. Hasilnya, selimut design 60 mm bisa jadi 40 mm di lapangan, beton design W/C 0.45 bisa jadi 0.55 karena tambah air saat pengecoran.

Inspeksi konstruksi yang ketat bisa meminimalkan ini, tapi butuh engineering onsite, bukan hanya supervisor kontraktor.

Di Tahap Operasional

Setelah bangunan jalan, upaya operasional tidak bisa mengganti pencegahan struktural. Tapi bisa mengelola laju degradasi dan memberikan informasi untuk keputusan repair nanti.

Coating (cat epoxy, elastomer) mengurangi laju karbonasi dengan membatasi difusi CO2 melalui permukaan. Tapi coating bukan barrier sempurna. Jika ada kerusakan coating, CO2 masuk lagi. Coating juga perlu maintenance berkala — di-touch-up setiap 5–7 tahun. Di praktik Indonesia, ini jarang dilakukan konsisten.

Cathodic protection (proteksi katodik) untuk struktur existing yang sudah berisiko tinggi adalah opsi, tapi mahal dan memerlukan keahlian teknis. Ini bukan pencegahan, tapi “intervention” untuk struktur sudah problem.

Monitoring visual rutin (lihat ada retak baru, ada spalling, ada rust staining) berguna sebagai alarm untuk assessment lebih lanjut. Owner bisa lihat permukaan, tapi tidak tahu kedalaman korosi di dalam — monitoring visual saja tidak cukup untuk keputusan repair yang defensible.

Repair — Keputusan Berbasis Assessment, Bukan Asumsi

Perbaikan korosi dimulai dengan assessment teknis. Tanpa data, keputusan repair bisa tidak tepat — terlalu konservatif (biaya besar) atau tidak cukup (problem terulang).

Assessment & Diagnosis

Struktur yang akan diambil keputusan repair memerlukan dua tools minimum untuk decision-making:

Half-cell potential test mengukur potensial elektrokimia di permukaan beton. Dari hasil ini bisa diduga apakah korosi sudah aktif atau masih pasif. Ini bukan angka pasti, tapi indikator yang cukup reliable untuk membedakan “berisiko tinggi” dari “masih terkontrol”.

Uji karbonasi (carbonation test) menunjukkan seberapa dalam carbonation front sudah masuk. Beton diambil sample, dipotong, disemprot phenolphthalein. Area yang belum terkarbonasi akan warna merah muda, area terkarbonasi putih. Dari sini bisa prediksi berapa lama lagi sebelum tulangan terserang karbonasi penuh, atau apakah sudah melebihi kedalaman selimut.

CARA UJI KOROSI TULANGAN BETON DENGAN METODE HALF-CELL POTENTIAL
PERKIRAAN UMUR BANGUNAN DENGAN UJI KARBONASI | CARBONATION TEST

Tes ini tidak mahal dan tidak destruktif (atau semi-destruktif). Tanpa tes ini, keputusan repair adalah asumsi. Detail lapangan menentukan apakah tes lain (misalnya concrete resistivity, rebar diameter measurement) diperlukan tambahan.

Untuk Struktur Dengan Korosi Lanjut (Visual Damage Nyata)

Jika ada retak, spalling, rust staining jelas, dan assessment menunjukkan korosi sudah aktif, repair wajib dilakukan. Urutan teknis umum adalah:

  1. Chiping beton yang sudah terkarbonasi sampai beton sehat (warna merah muda setelah phenolphthalein). Area yang di-chip harus cukup luas agar tulangan terbuka penuh untuk cleaning. Detail extent bergantung kondisi lapangan — bisa localized, bisa meluas.
  2. Cleaning tulangan dari produk korosi (rust oxide) menggunakan wire brush atau sandblasting kecil. Tulangan harus bersih agar adhesive baru bisa menempel. Intensitas cleaning bergantung pada kedalaman korosi.
  3. Ganti tulangan jika diameter sudah berkurang signifikan akibat korosi. Keputusan ini berdasarkan measurement dan analisis struktur — bukan visual saja. Tidak semua retak memerlukan replacement tulangan.
  4. Injection retak kecil yang tersisa dengan material cement-base atau epoxy, tergantung ukuran retak dan lokasi. Ini bukan checklist item; detail material bergantung diagnosis setiap area.
  5. Grouting area yang di-chip dengan beton low-shrinkage atau mortar khusus. Shrinkage beton repair normal bisa menyebabkan retak baru, sehingga material low-shrinkage penting. Tapi aplikasinya harus sesuai kondisi cuaca & curing Indonesia.
  6. Surface protection baru setelah area repair kering: coating atau proteksi katodik untuk mencegah korosi berlanjut. Ini bukan akhir — monitoring tetap perlu jangka panjang.

Durasi proses ini bisa berminggu-minggu. Ada downtime. Ada biaya signifikan. Urutan di atas adalah praktik proper, tapi detail lapangan (akses, cuaca, budget) sering mengubah execution. Ini bukan tulang punggung, ini adalah panduan yang bisa disesuaikan dengan realitas onsite.

Untuk Struktur Dengan Indikasi Korosi Awal

Assessment menunjukkan pH sudah turun atau carbonation sudah dalam, tapi belum ada spalling, atau spalling minimal dan potensial korosi masih rendah.

Di sini ada pilihan:
— Lakukan injection dan coating sekarang (proaktif, biaya jelas)
— Jaga monitoring visual, assessment ulang setiap 2–3 tahun (menunggu, butuh disiplin)

Kedua pilihan valid. Pilihan pertama lebih “safe” tapi lebih mahal di depan. Pilihan kedua lebih ekonomis tapi memerlukan disiplin monitoring, yang sering tidak terjadi di praktik Indonesia.

Tidak ada formula yang bilang “lakukan ini” atau “lakukan itu”. Keputusan tergantung berapa lama building diharapkan bertahan, berapa anggaran tersedia, dan seberapa mau owner terlibat dalam monitoring aktif. Ini trade-off bisnis, bukan hanya keputusan teknis.

Konteks Lapangan Indonesia — Batasan Yg Perlu Diakui

Panduan di atas adalah praktik proper. Tapi realitas di Indonesia punya batasan serius yang mempengaruhi setiap keputusan:

Anggaran terbatas. Repair korosi mahal. Owner sering memilih “quick fix” (coating saja, atau injection tanpa chiping) daripada repair proper. Hasil: kerusakan terulang dalam 2–3 tahun.

Inspeksi tidak rutin. Struktur sering tidak dimonitor sampai ada kerusakan visual jelas. Tapi saat itu sudah terlambat untuk pencegahan, hanya tinggal repair korektif.

Material kontrol lemah. Beton standard SNI ada, tapi enforcement di lapangan lemah. Semen bisa campuran, pasir bisa asin (belum dicuci proper), air bisa kotor. Ini terpengaruh harga dan supplier.

Keahlian teknis terbatas. Tidak semua engineer atau kontraktor familiar dengan assessment korosi, half-cell test, atau proteksi katodik. Banyak yang tahu teori, tapi tidak bisa membaca data lapangan atau membuat keputusan di bawah ketidakpastian.

Standard lokal versus international. SNI ada, ACI ada, BS ada. Tapi konteks iklim Indonesia (panas ekstrem, hujan deras, iklim laut agresif) tidak selalu tercakup dalam standard asing. Engineer lokal perlu judgment untuk adapt standard ke kondisi lapangan.

Artikel ini ditulis dengan asumsi: engineer yang baca ini punya kebebasan teknis untuk memutuskan berdasarkan data dan konteks. Realitasnya, banyak keputusan dikurangi oleh budget dan kepentingan komersial. Tapi prinsip-prinsip di atas tetap berlaku meski dalam kondisi terbatas. Pengakuan terhadap batasan ini adalah bagian dari responsibility teknis — bukan excuse untuk negligence, tapi basis untuk keputusan yang defensible.


Catatan Klarifikasi Lapangan

Apakah selimut tebal cukup untuk mencegah korosi sepenuhnya?

Tidak. Selimut tebal hanya membeli waktu. Karbonasi tetap berlangsung, hanya lebih lambat. Di Indonesia, struktur dengan selimut 80 mm di lokasi urban Bandung mungkin punya “umur aman” 25–30 tahun sebelum carbonation mencapai tulangan. Tapi di zona splash laut Surabaya, umur itu lebih pendek karena faktor kelembaban dan chlorida tambahan. Tidak ada angka pasti — tergantung kualitas beton aktual di lapangan, yang sering berbeda dari design.

Kalau saya lihat retak di gedung saya, apakah itu pasti korosi tulangan?

Tidak selalu. Retak bisa dari settlement, suhu, beban dinamis, atau desain yang under-reinforced. Tapi jika retak disertai rust staining (noda coklat di permukaan) atau spalling, maka korosi sudah berlangsung. Visual inspection hanya bisa bilang “ada indikasi” — diagnosis sebenarnya butuh assessment teknis. Menunda assessment ketika ada indikasi jelas hanya membuat keputusan repair nanti lebih difficult dan mahal.

Apakah proteksi katodik bisa menggantikan repair chiping untuk korosi lanjut?

Tidak dapat sebagai solusi utama. Proteksi katodik berfungsi untuk mencegah korosi berlanjut dan potentially reverse proses korosi awal, tapi tidak bisa menghilangkan rust oxide yang sudah ada. Jika tulangan sudah berkarat parah, rust oxide masih menekan beton dari dalam — retak tetap berkembang. Proteksi katodik bisa digunakan setelah repair chiping sebagai lapisan proteksi tambahan, tapi bukan pengganti.

Mengapa coating sering gagal di lapangan Indonesia meski sudah dilakukan?

Coating bekerja dengan membatasi difusi CO2, tapi tidak absolute — ada selalu kebocoran minor. Di Indonesia, permasalahan tambahan adalah: (1) persiapan permukaan sering tidak sempurna sebelum coating, (2) coating tidak di-maintain (dicek, diperbaiki kerusakan), dan (3) aplikator sering tidak qualified, sehingga thickness dan uniformity tidak konsisten. Coating perlu renewal setiap 5–7 tahun. Jika tidak, manfaatnya hilang. Keputusan coating harus realistis tentang commitment maintenance ini.

Bagaimana cara tahu apakah struktur saya butuh repair sekarang atau bisa ditunda?

Assessment adalah satu-satunya cara objektif. Visual inspection menunjukkan ada indikasi, tapi tidak tahu seberapa parah atau seberapa cepat progres. Half-cell test dan uji karbonasi memberikan data untuk prediksi. Dari data itu, engineer bisa bilang: “Risiko tinggi, repair dalam 1 tahun” atau “Indikasi ada, tapi masih bisa ditunda 3 tahun dengan monitoring ketat”. Keputusan defer repair tanpa assessment adalah gambling — mungkin beruntung, mungkin tidak. Kalau struktur adalah investasi bisnis atau tempat orang bekerja, gambling tidak advisable.

Apakah SNI Indonesia cukup untuk melindungi struktur dari korosi?

SNI ada standar, tapi standard adalah minimum. SNI umumnya adopted dari international standard (ACI, BS) dengan adaptasi lokal terbatas. Problem: konteks lapangan Indonesia (iklim ekstrem, kontrol kualitas lemah, material lokal variabel) sering membuat execution actual lebih lemah dari standard. Design sesuai SNI bukan jaminan — execution dan maintenance menentukan hasil sesungguhnya. Engineer perlu judgment tambahan: apakah standard ini cukup untuk kondisi lokasi spesifik, atau perlu margin tambahan (selimut lebih tebal, beton lebih padat, semen lebih good).

Jika Diagnosis Dimulai dari Assessment

Keputusan repair korosi hanya bisa rational jika didasarkan data dari struktur. Banyak gedung di Indonesia menunggu sampai kerusakan visual jelas sebelum bertindak — pada titik itu, opsi repair sudah terbatas dan cost sudah naik. Assessment sederhana (half-cell dan uji karbonasi) tidak mahal dibanding cost repair nanti, dan memberikan informasi untuk keputusan defensible: apakah action sekarang atau monitor dengan protokol ketat.

Pengalaman lapangan menunjukkan: struktur dengan monitoring aktif dan assessment berkala selalu lebih ekonomis daripada struktur yang diabaikan sampai damage terlihat. Tapi monitoring aktif memerlukan commitment dari owner — inspeksi periodik, record keeping, keputusan cepat ketika data mulai menunjukkan perubahan.

Jika struktur Anda menunjukkan indikasi korosi, atau jika building sudah di usia di mana pencegahan di design stage sudah terlambat, langkah pertama adalah assessment objektif. Dari sana, keputusan menjadi lebih jelas: repair sekarang, atau tunda dengan monitoring ketat dengan timeline jelas. Tidak ada pilihan ketiga — menunda tanpa monitoring adalah neglect.

Konsultasi Teknis

Jika struktur Anda menunjukkan indikasi korosi — retak, spalling, atau rust staining — keputusan repair hanya bisa defensible jika didasarkan data objektif. Half-cell potential test dan uji karbonasi memberikan informasi untuk menentukan: apakah repair urgent sekarang, atau bisa ditunda dengan monitoring ketat.

Tim kami melakukan assessment korosi sesuai standar teknis, menginterpretasi data lapangan dengan konteks Indonesia (iklim, material lokal, kondisi existing), dan membantu Anda membuat keputusan yang rational — bukan berdasarkan panic saat kerusakan terlihat.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

📱 Konsultasi Gratis


Referensi

[1] Concrete Damage due to Reinforcement Corrosion, Rak-43.3301 Repair Methods of Structures I (4 cr), Fahim Al-Neshawy & Esko Sistonen, Autumn 2016

[2] Hartono, Widi. 2001. Merancang Campuran Beton Ringan Struktural Agregat Kasar ALWA Menurut Metode Dreux-Corrise. Gema Teknik Volume I/Tahun IV. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Uji Karbonasi Beton

Uji Karbonasi Beton

Uji Karbonasi Beton: Kapan Diperlukan & Apa Artinya untuk Keputusan Anda

Bangunan >20 tahun tanpa dokumen asli? Rencana perkuatan besar-besaran? Uji karbonasi memberikan data konkret tentang umur bangunan Anda sekarang dan berapa lama lagi bisa digunakan sebelum korosi menjadi masalah. Panduan ini membantu Anda memutuskan: apakah perlu ditest, dan apa yang harus dilakukan dengan hasilnya.

Carbonation Test
Uji karbonasi di lapangan: mengukur kedalaman penetrasi CO2 dalam beton

Uji karbonasi paling penting dalam tiga situasi:

1. Usia >20 tahun, dokumen konstruksi hilang

Spesifikasi material original tidak ada. Uji karbonasi mengungkap kualitas beton sebenarnya dan berapa lama lagi sampai tulangan terancam korosi.

2. Planning perkuatan atau sertifikasi kelayakan

Sebelum investasi besar, butuh tahu: sudah mencapai tulangan atau belum? Butuh intervensi sekarang atau masih bisa tunda?

3. Ada tanda deterioration (retak, bintik karat, spalling)

Retak vertikal dan rust stain bisa tanda korosi sudah dimulai. Uji karbonasi membantu diagnosa seberapa jauh prosesnya.

Jika tidak ada ketiga kondisi ini, kombinasi uji lain (hammer test, UPVT) mungkin lebih efisien.

Kondisi Spesifik: Kapan Sangat Urgent?

Langsung test jika:

  • Usia >20 tahun + ada retak/spalling/discoloration (rust stain)
  • Bangunan outdoor/exposed atau near area aggressive (laut, industri)
  • Humidity tinggi + maintenance buruk (coating rusak, drainage jelek)
  • Akan dijual, direnovasi besar, atau ada issue emergency (leak, movement)

Bisa ditunda jika: Bangunan <10 tahun dengan dokumen bagus, atau akan demolish <5 tahun.

Apa Yang Diukur & Apa Artinya

Uji karbonasi mengukur: Berapa dalam CO₂ sudah menembus beton dari permukaan.

Mengapa penting: CO₂ menghilangkan sifat alkali beton yang melindungi baja. Jika sudah sampai tulangan, dalam kondisi lembab, baja mulai terkorosi.

Artinya untuk keputusan Anda:

  • Jika belum sampai tulangan: Struktur masih aman. Berapa tahun lagi? Rumus bisa estimasi.
  • Jika sudah sampai tulangan: Risk zone dimulai. Perlu monitoring intensif atau intervensi (coating, perkuatan).

Perkiraan Umur Bangunan melalui Uji Karbonasi

Sebelumnya perlu diketahui bahwa waktu yang dibutuhkan untuk karbonasi bisa diperkirakan dari mutu beton dengan menggunakan persamaan berikut:

dimana:
t = waktu proses karbonasi hingga mencapai tulangan beton
d = selimut beton
k = permeabilitas

Hubungan antara Mutu Beton dengan permeabilitas adalah seperti diberikan pada table berikut:

Sumber: Guidebook on non-destructive testing of concrete structures, International Atomic Energy Agency, Vienna, 2002

Dimana nilai concrete grade adalah kuat tekan karakteristik beton dalam MPa.

Perlunya uji tingkat karbonasi adalah untuk mengetahui apakah selimut beton masih melindungi tulangan baja di dalamnya. Proses karbonasi menetralisir kondisi basa dalam beton.

Jika selimut beton seluruhnya telah terkarbonasi mencapai tulangan baja di dalamnya, maka baja tulangan di dalamnya akan segera terkorosi ketika udara lembab dan oksigen mencapai tulangan.

Cara Ujinya Sederhana, Biaya Jauh Lebih Murah

Lubang kecil (10-15mm) di permukaan beton, semprotkan larutan phenolphthalein. Beton yang masih alkali berubah pink. Ukur kedalaman dari surface ke batas warna pink—itu kedalaman karbonasi.

Alat dan bahan yang digunakan dalam uji karbonasi sangat sederhana, yaitu:
– Semprotan (spray) angin
– Semprotan (spray) yang diisi 1% phenolthaelin (1 gm phenolthaelin dicampur dengan 90 cc ethanol dan tambahkan air bersih hingga mencapai 100 cc)

Cara kerja uji karbonasi adalah dengan membuat lubang kecil pada beton sampai dengan perkiraan ketebalan selimut beton. Bersihkan lubang dengan semprotan angin dari debu dan kotoran lainnya, kemudian semprotkan cairan 1% phenolthaelin ke dalam lubang tersebut.

Bagian beton yang masih dalam kondisi baik (masih bersifat basa) akan berwarna pink/ ungu, sedangkan bagian yang sudah terkarbonasi, PH nya sudah menjadi 7 (netral) atau bahkan kurang dari 7 (asam) tidak akan berubah warna. Selanjutnya ukur ketebalan lapisan yang terkarbonasi dari permukaan beton sampai dengan lokasi yang berubah warna.

Dari kedalaman karbonasi, dapat diketahui umur bangunan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

dimana:
x=W/C atau rasio air/semen dapat diambil secara empirik dari mutu beton, dimana mutu beton dapat diketahui dengan uji NDT atau DT (misalnya: Hammer Test, UPVT ataupun core drill dan uji tekan).
C = kedalaman karbonasi
R = konstanta yang tergantung dari a (konstanta yang tergantung lingkungan beton) dan b (finishing beton/ coating beton).
a = 1.7 untuk beton dalam ruangan dan a = 1.0 untuk beton yang berada di outdoor (diambil dari angka yang dikeluarkan oleh: The Japanese Ministry Construction Publications “Engineering for improving the durability of reinforced concrete structure)

Sedangkan b dapat diambil dari table berikut:

Sumber: Guidebook on non-destructive testing of concrete structures, International Atomic Energy Agency, Vienna, 2002

Maka dengan rumus diatas juga dapat diperkirakan kedalaman karbonasi yang akan terjadi pada pda umur bangunan y tahun:

Sehingga lebih jauh dari kedalaman karbonasi yang diketahui, maka dapat diperkirakan pula sisa umur bangunan. Karena ketika proses karbonasi sudah mencapai tulangan, selanjutnya baja diperkirakan akan mengalami korosi, dari hasil analisis struktur akan diketahui sampai tingkat korosi berapa %, struktur beton masih mampu menahan beban yang bekerja.

Selanjutnya dari perhitungan laju korosi baja dan hasil analisis struktur akan bisa diperkirakan kapan bangunan ini akan mengalami kegagalan. Dengan diketahuinya hal-hal tersebut tentunya mempermudah pengguna bangunan untuk menentukan sampai kapan bangunannya difungsikan atau kapan akan dilakukan perkuatan/ perbaikan.

Beberapa hasil uji karbonasi di beberapa struktur beton seperti gambar berikut:

Ditulis oleh: Dr. Ir. Heri Khoeri, MT

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531
Whatsapp Bussiness : 0812 9144 2210 atau  0811 888 9409

Klik tombol whatsapp dibawah ini, untuk bicara dengan CS kami: