Daftar Isi
Infrared Thermography Tools Efisien Untuk Deteksi Anomali
Infrared Thermography (IRT) merupakan metode inspeksi non-destruktif yang cukup efektif dalam mendeteksi anomali termal pada elemen struktur beton. Berbeda dengan pemeriksaan konvensional yang bersifat visual, IRT mampu mengidentifikasi masalah tersembunyi di dalam beton jauh sebelum kerusakan terlihat secara kasat mata. Metode ini bukan sekadar alat pencari retak, melainkan suatu alat bantu diagnosis untuk membaca pola kegagalan, jalur rembesan air, dan potensi degradasi material pada bangunan yang masih tampak normal.
Metode ini merupakan metode pengumpulan data awal yang cepat dengan jangkauan lebih luas dan akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode pengamatan konvensional seperti pengamatan visual atau pengambilan foto secara manual.
Prinsip Kerja Infrared Thermograph
Prinsip kerja IRT didasarkan pada fakta bahwa setiap material memancarkan radiasi inframerah yang besarnya tergantung pada sifat termal dan kondisi permukaan. Mutu beton dan kondisi di bawah permukaan beton dapat dikorelasikan terhadap radiasi yang dipancarkan dari permukaan beton tersebut.

Variasi mutu beton dapat terdeteksi dari perbedaan energi yang dipancarkan oleh permukaan beton, yang tergambarkan dalam foto thermal imaging. Setiap komponen struktur—termasuk dinding penahan, pier (pilar), abutment, dan komponen upperstructure lainnya—dapat dipindai menggunakan kamera IRT dengan cakupan area yang luas dan akurasi lebih baik dibandingkan metode pengamatan konvensional.
Mekanisme Deteksi Kerusakan Beton
Kehadiran cacat dalam beton memengaruhi sifat konduksi panas. Delaminasi, rongga (void), atau retak di dalam beton akan ditunjukkan dengan adanya perbedaan suhu di permukaan beton. Demikian pula, keragaman mutu beton dapat terindikas dari perbedaan suhu di permukaan yang digambarkan dalam bentuk perbedaan warna pada hasil thermal imaging.
Perbedaan suhu di permukaan sering kali menjadi indikator awal adanya masalah internal, khususnya ketika air masuk melalui retak mikro, kelembaban terperangkap, atau terjadi perbedaan densitas beton akibat kualitas pelaksanaan. IRT memanfaatkan perubahan kondisi tersebut untuk membantu engineer membaca “sinyal awal” yang tidak dapat ditangkap oleh inspeksi visual konvensional.
Aplikasi Infrared Thermography dalam Pemeriksaan Struktur Beton
Adanya kerusakan dalam beton mempengaruhi sifat konduksi panas. Keberadaan cacat dan lokasinya di dalam beton seperti delaminasi, rongga, atau retak akan ditunjukkan dengan adanya perbedaan suhu di permukaan beton. Keragaman mutu beton dapat terindikas dari perbedaan suhu di permukaan beton yang digambarkan dalam bentuk perbedaan warna pada hasil thermal imaging.
Deteksi Retak Beton sebagai Jalur Masuk Air
Retak halus sering kali tidak terlihat dengan jelas, namun dapat menjadi jalur masuk air hujan atau air tanah. IRT membantu mengidentifikasi area dengan distribusi suhu tidak normal yang mengindikasikan keberadaan kelembaban di balik permukaan beton. Pendekatan ini sangat relevan pada basement, atap beton, pelat lantai, dan dinding penahan tanah yang mengalami keluhan rembesan atau kebocoran berulang.
Identifikasi Area Kelembaban dan Potensi Kebocoran
Kelembaban yang terperangkap di dalam beton memiliki karakter termal berbeda dibandingkan beton kering. Melalui pemetaan termal, area bermasalah dapat dipersempit tanpa perlu pembobokan awal yang spekulatif. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan perbaikan yang lebih presisi, baik untuk penerapan waterproofing, injeksi retak, maupun evaluasi lanjutan.
Deteksi Delaminasi dan Void pada Elemen Beton
Delaminasi atau rongga internal dapat menyebabkan perbedaan respons panas antara lapisan beton yang masih utuh dan yang sudah terpisah. IRT membantu mengindikasikan lokasi-lokasi tersebut, terutama pada pelat, balok, dan elemen pracetak. Jenis kerusakan yang dapat terdeteksi dengan jelas melalui metode ini adalah delaminasi pada struktur beton, retak pada permukaan, serta kemampuan memberikan indikasi lokasi tulangan, kabel, ducting, atau benda-benda lain dalam beton.


Pembuatan Zoning dan Verifikasi Kerusakan

Perbedaan warna pada gambar di atas menunjukkan perbedaan keragaman mutu beton. Berdasarkan perbedaan warna yang diperoleh dari thermal imaging, dilakukan pembuatan zoning untuk pengujian lebih lanjut dengan NDT lainnya secara detail guna mendapatkan nilai mutu beton berdasarkan area-area yang telah dibuat. Pendekatan terstruktur ini memastikan bahwa pengujian lanjutan dilakukan secara terarah dan tidak spekulatif, sehingga mengoptimalkan efisiensi biaya dan waktu investigasi.
Lokasi-lokasi yang diduga mengalami kerusakan dalam beton yang diindikasikan dengan perbedaan warna yang mencolok pada hasil thermal imaging diberi tanda khusus untuk pengujian lebih lanjut dengan NDT lainnya secara mendetail. Tujuannya adalah untuk memverifikasi secara akurat keberadaan kerusakan di dalam beton sebelum keputusan perbaikan diambil.
Contoh berikut ini adalah infrared Thermal Imager pada bangunan bertingkat

Infrared Thermography sebagai Alat Penyaring Investigasi Awal
Infrared Thermography (IRT) digunakan sebagai alat penyaring investigasi awal sebelum dilakukan pengujian lanjutan yang bersifat lebih spesifik, baik non-destruktif maupun destruktif terbatas.
Dalam praktik rekayasa struktur, IRT tidak dimaksudkan untuk menggantikan uji mekanis, tetapi untuk mengarahkan proses investigasi agar lebih tepat sasaran, efisien, dan terkontrol.
Metode ini sangat efektif diterapkan pada pemeriksaan awal struktur beton dengan cakupan area luas, terutama untuk mengidentifikasi keragaman mutu beton dan zona-zona yang terindikasi mengalami anomali atau potensi kerusakan internal yang tidak dapat diidentifikasi secara visual.
Indikasi yang umumnya dapat terbaca dengan cukup jelas melalui thermal imaging meliputi delaminasi beton, retak permukaan yang memengaruhi aliran panas, serta perbedaan sifat termal akibat variasi mutu beton.
Pada kondisi tertentu, IRT juga dapat memberikan indikasi awal posisi tulangan, kabel, ducting, atau elemen tertanam lainnya berdasarkan pola temperatur permukaan.
Zona-zona yang teridentifikasi melalui pemeriksaan IRT selanjutnya diverifikasi menggunakan metode pengujian lanjutan yang dipilih secara selektif, antara lain:
- Concrete Hammer Test untuk estimasi kekuatan beton
- UPVT (Ultrasonic Pulse Velocity Test) untuk evaluasi mutu beton, identifikasi dan estimasi kedalaman retak
- Impact Echo Test untuk deteksi rongga atau delaminasi internal
- Rebar Scan untuk identifikasi posisi dan konfigurasi tulangan
- Uji Karbonasi untuk menilai penetrasi karbonasi beton
- Ground Penetrating Radar (GPR) untuk pemetaan detail subsurface
- Core Drill sebagai verifikasi destruktif terbatas apabila diperlukan
Pemilihan metode NDT lanjutan tidak dilakukan secara generik, tetapi ditentukan berdasarkan hasil interpretasi thermal imaging dan tujuan evaluasi struktur.
Pendekatan ini memastikan bahwa setiap pengujian memiliki konteks teknis yang jelas dan memberikan kontribusi langsung terhadap pengambilan keputusan rekayasa.
Keterbatasan Infrared Thermography
Meskipun merupakan metode yang powerful, IRT memiliki batasan yang perlu dipahami dengan jelas. Pertama, metode ini rentan terhadap pengaruh beberapa kondisi yang terjadi di permukaan beton, seperti adanya puing-puing, air, keausan (wearing), perubahan warna, retak sealant, dan angin yang kencang. Praktis pengujian tidak dapat dilakukan pada kondisi cuaca buruk seperti hujan atau angin kuat.
Kedua, IRT tidak memberikan nilai kuat tekan beton dan tidak dapat berdiri sendiri untuk penilaian kapasitas struktural. Interpretasi hasil sangat bergantung pada pengalaman, kondisi lingkungan, dan pemahaman perilaku material beton. Oleh karena itu, hasil IRT yang andal selalu dikaitkan dengan konteks struktur, riwayat bangunan, serta—bila diperlukan—dikombinasikan dengan metode uji lainnya.
Secara lebih detail dapat dilihat pada standar seperti: ACI 228.2R-2 dan ASTM D4788 – Test Method for Detecting Delaminations in Bridge Decks Using Infrared Thermography.
Pendekatan Holistik dalam Penggunaan IRT
Penggunaan Infrared Thermography harus dipandang sebagai bagian dari proses assessment teknis yang komprehensif, bukan sebagai solusi standalone. Setiap inspeksi menggunakan IRT harus mempertimbangkan fungsi bangunan, jenis elemen struktur, dan tujuan evaluasi—apakah untuk investigasi kebocoran, audit kondisi umum, atau pendampingan perbaikan struktur.
Pendekatan holistik ini membantu klien memahami apa arti temuan di lapangan terhadap keputusan teknis yang akan diambil, serta mengintegrasikan IRT dengan strategi pemeliharaan dan perbaikan yang lebih luas.
Infrared Thermography: Investasi Cerdas untuk Kesehatan Struktur Beton Anda
Infrared Thermography bukan sekadar teknologi inspeksi—ini adalah investasi proaktif untuk melindungi aset bangunan Anda. Struktur beton jarang menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius sampai masalah sudah lanjut dan perbaikan menjadi mahal. Dengan mendeteksi kerusakan pada tahap awal melalui IRT, Anda dapat mengambil tindakan perbaikan yang tepat sasaran, meminimalkan pembongkaran yang tidak perlu, dan menghemat biaya pemeliharaan jangka panjang.
Penggabungan IRT dengan metode pengujian lainnya memastikan diagnosis yang akurat dan rekomendasi perbaikan yang berbasis data. Pendekatan holistik ini telah membantu ribuan pemilik bangunan, engineering firms, dan kontraktor mengambil keputusan yang tepat dan mengoptimalkan investasi dalam perawatan struktur mereka.
Saatnya untuk bertindak. Jika bangunan Anda mengalami kebocoran berulang, terdapat indikasi retak pada beton, atau Anda hanya ingin memastikan kondisi struktur sebelum terlambat, tim ahli PT Hesa Laras Cemerlang siap membantu dengan pemeriksaan Infrared Thermography yang profesional dan terarah.
Hubungi kami hari ini untuk konsultasi gratis dan pemetaan kondisi struktur beton Anda. Jangan tunggu kerusakan kecil berkembang menjadi masalah struktural yang kompleks dan merugikan.
Referensi
- D. S. Prakash Rao, Assessment of Concrete Bridge Structures Using Infrared Thermography, The University of the West Indies, Trinidad and Tobago, 2007
- Bojan Milovanović, Ivana Banjad Pečur, Detecting Defects in Reinforced Concrete Using The Method of Infrared Thermography, University Of Zagreb, Faculty Of Civil Engineering
- ACI 228.2R-2 dan ASTM D4788 – Test Method for Detecting Delaminations in Bridge Decks Using Infrared Thermography
- ACI Web Session, Durability and Debond Evaluation of High-Rise Concrete Buildings Using Infrared Thermography
Jasa Infrared Thermography (IRT) – Screening Struktur Beton
Infrared Thermography digunakan sebagai alat investigasi awal untuk memetakan keragaman mutu beton,
mendeteksi indikasi delaminasi, retak, rongga, serta anomali termal lain pada struktur beton dengan cakupan area luas.
Metode ini membantu menentukan zona prioritas pengujian lanjutan secara lebih cepat, terarah, dan efisien.
Jika Anda sedang menghadapi indikasi kebocoran, rembesan air, penurunan performa struktur,
atau membutuhkan screening awal sebelum uji NDT lanjutan seperti Hammer Test, UPVT, GPR, atau Core Drill,
tim kami siap mendampingi secara teknis dan profesional.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
- ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
- ☎️ Telepon Kantor: (021) 8404531 (Jakarta)
- 📱 Hotline: 0812 9144 2210 atau 0811 888 9409