Daftar Isi
Intensitas gempa bumi adalah besaran kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi di lokasi tertentu dan efeknya terhadap manusia dan infrastruktur. Intensitas ditentukan berdasarkan kekuatan gempa bumi, jarak antara gempa bumi dengan epicenter dan kondisi geologi lokal [1].
Artikel ini adalah bagian ketiga dari series tentang pemahaman gempa bumi. Sebelumnya Anda telah mempelajari apa itu gempa bumi dan magnitudo (kekuatan gempa). Pada artikel ini, Anda akan memahami konsep intensitas — mengapa gempa dengan magnitudo sama dapat menimbulkan dampak berbeda di lokasi berbeda.

Intensitas dihitung berdasarkan pengamatan visual langsung terhadap kerusakan akibat gempa bumi, dan intensitas ini dapat memberikan gambaran nilai kekuatan gempa bumi pada pusat gempanya.
Konsep kunci: intensitas lokal menggambarkan dampak nyata gempa di suatu area, bukan hanya ukuran energi di epicenter. Banyak orang keliru mengira gempa dengan magnitudo besar selalu menimbulkan kerusakan besar di mana pun. Padahal, intensitas lokal bisa sangat berbeda tergantung kondisi geologi setempat. Pemahaman ini menjadi fondasi untuk memahami artikel berikutnya: faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi intensitas lokal.
Untuk memberikan informasi yang lebih mudah BMKG menggunakan skala SIG (Skala Intensitas Gempa bumi). Skala ini menyatakan dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya gempa bumi.
Skala Intensitas Gempa bumi (SIG-BMKG) digagas dan disusun dengan mengakomodir keterangan dampak gempa bumi berdasarkan tipikal budaya atau bangunan di Indonesia.
Skala ini disusun lebih sederhana dengan hanya memiliki lima tingkatan yaitu I-V.
SIG-BMKG diharapkan bermanfaat untuk digunakan dalam penyampaian informasi terkait mitigasi gempa bumi dan atau respon cepat pada kejadian gempa bumi merusak.
Skala ini dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk dapat memahami tingkatan dampak yang terjadi akibat gempa bumi dengan lebih baik dan akurat.
Tabel Skala Intensitas Gempa bumi BMKG [2]

Mengapa Intensitas Berbeda dari Magnitudo dalam Memahami Dampak Gempa
Magnitudo mengukur total energi yang dilepaskan gempa — nilai ini tetap untuk satu kejadian gempa. Sebaliknya, intensitas mengukur dampak yang dirasakan dan kerusakan yang terjadi di lokasi tertentu — dan nilai ini berbeda-beda di setiap tempat.
Contoh praktis: Gempa magnitudo 6.5 di Bandung akan memiliki intensitas yang berbeda dibanding gempa magnitudo 6.5 di Jakarta, meskipun kekuatan energinya sama. Perbedaan ini terjadi karena kondisi geologi lokal (jenis tanah, lapisan batuan, kedalaman gempa) mempengaruhi bagaimana gelombang seismik tersampaikan dan memperkuat getaran.
Inilah mengapa untuk memahami dampak gempa di area Anda, intensitas lokal lebih relevan daripada hanya melihat magnitudo epicenter.
Dalam kolom ke-5 Tabel Skala Intensitas Gempa bumi BMKG, dituliskan Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) yaitu skala untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang merupakan modifikasi dari skala Mercalli (skala yang digagas seorang vulkanologis asal Italia Giuseppe Mercalli pada tahun 1902) yang dilakukan seismologi Harry Wood dan Frank Neumann tahun 1931. Dimana intensitas gempa dibagi menjadi 12, seperti berikut ini:
Tabel Skala Intensitas MMI [3]

Perbedaan SIG-BMKG dan MMI — Konteks Penggunaan
Anda mungkin perhatikan bahwa artikel ini menggunakan dua skala intensitas: SIG-BMKG (Skala Intensitas Gempa-BMKG) dengan 5 tingkatan dan MMI (Modified Mercalli Intensity) dengan 12 tingkatan. Keduanya valid, tapi memiliki konteks penggunaan berbeda.
Di Indonesia, SIG-BMKG adalah referensi standar yang dikembangkan khusus untuk kondisi bangunan dan geologi Indonesia. Skala ini digunakan dalam standar desain tahan gempa (SNI 1726).
Skala MMI, sebaliknya, adalah standar internasional yang lebih detail (12 tingkatan vs 5). Dalam konteks Indonesia, MMI biasanya digunakan untuk perbandingan atau keperluan riset internasional, bukan sebagai acuan desain utama.
Kesimpulannya: Untuk memahami intensitas gempa di Indonesia dalam konteks praktis lokal, fokuslah pada SIG-BMKG. MMI memberikan perspektif internasional namun tidak perlu menjadi prioritas utama pembelajaran Anda.
Perlu diperhatikan bahwa skala intensitas bukan skala magnitudo.
Intensitas dihitung berdasarkan pengamatan visual langsung terhadap kerusakan akibat gampabumi, dan intensitas ini dapat memberikan gambaran nilai kekuatan gempa bumi (magnitude) pada pusat gempanya.
Pada umumnya, untuk menentukan secara tepat intensitas dari suatu gempa bumi di suatu daerah, dikirimkan suatu tim peneliti yang langsung terjun ke lapangan atau daerah dimana terdapat efek atau pengaruh gempa bumi tersebut.
Pengamatan ini perlu pengetahuan mengenai kondisi geologi dan tipe konstruksi bangunan.
Ketika tim peneliti melakukan observasi lapangan untuk menentukan intensitas, mereka tidak hanya mencatat kerusakan visual. Mereka juga mempelajari kondisi geologi setempat — jenis tanah, kedalaman lapisan batuan, kehadiran air tanah. Mengapa? Karena kondisi ini mempengaruhi bagaimana gelombang seismik diperkuat (amplified) saat mencapai permukaan.
Tanah lunak, misalnya, cenderung memperkuat getaran gempa dibanding tanah keras atau batu. Ini berarti gempa dengan magnitudo sama bisa menghasilkan intensitas lebih tinggi di area tanah lunak dibanding area dengan bedrock keras. Pemahaman ini akan Anda pelajari lebih detail di artikel berikutnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dampak gempa.
Perbedaan magnitudo dengan intensitas dari suatu gempa bumi adalah magnitudo dihitung dari catatan alat sedangkan intensitas didasarkan atas akibat langsung dari getaran gempa bumi.
Magnitudo mempunyai harga yang tetap untuk sebuah gempa, tetapi intensitas berbeda dengan perubahan tempat. Untuk menghindari kerancuan antara besaran magnitude dengan skala intensitas, maka skala intensitas ditulis dengan angka Romawi.
Pada kolom ke-6 SIG BMKG tertulis PGA (gal), PGA (Peak ground acceleration) adalah percepatan tanah maksimum yang terjadi selama gempa bumi yang merupakan amplitudo percepatan absolut terbesar yang tercatat pada accelerograph di suatu lokasi saat terjadi gempa bumi tertentu.
Satuan yang digunakan adalah gal (cm/det2). Karena umumnya gempa bumi terjadi ketiga arah maka PGA sering dibagi menjadi komponen horisontal dan vertikal. PGA horizontal umumnya lebih besar daripada yang vertikal walaupun tidak selalu begitu.
Tidak seperti skala Richter dan skala momen yang menunjukkan total energy (besaran atau ukuran gempa bumi), namun PGA menunjukkan seberapa keras bumi bergetar pada lokasi tertentu yang diukur dengan accelerograph [4].
PGA dalam Konteks Memahami Intensitas Gempa
PGA (Peak Ground Acceleration) yang tertera di kolom-6 tabel SIG-BMKG bukanlah hanya angka teknis. Nilai ini mewakili percepatan tanah maksimum yang terjadi selama gempa — dengan kata lain, seberapa kuat bumi bergetar di lokasi tertentu.
Hubungan antara PGA dan intensitas: intensitas lokal ditentukan sebagian oleh PGA. Semakin besar PGA, umumnya semakin tinggi intensitas yang dirasakan. Namun, PGA saja tidak cukup menentukan intensitas — kondisi geologi dan tipe bangunan juga memainkan peran penting.
Jadi, ketika Anda melihat tabel SIG-BMKG dan nilai PGA-nya, ingat bahwa nilai tersebut adalah representasi dari berapa kuat bumi bergetar, dan inilah salah satu faktor yang menentukan intensitas gempa lokal Anda.
Rangkuman Pembelajaran dan Konteks Series
Sejauh ini, Anda telah mempelajari bahwa intensitas adalah dampak lokal dari gempa — berbeda dari magnitudo yang merupakan ukuran energi gempa secara keseluruhan. Intensitas ditentukan oleh kombinasi beberapa faktor: kekuatan gempa, jarak dari epicenter, dan terutama kondisi geologi lokal.
Pemahaman ini adalah fondasi penting sebelum Anda melanjutkan ke artikel berikutnya: “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi.” Dalam artikel tersebut, setiap faktor yang membuat intensitas berbeda-beda akan dijelaskan secara detail. Dengan memahami artikel berikutnya, Anda akan bisa memprediksi bagaimana gempa akan berdampak di area tertentu berdasarkan karakteristik lokal.
Lanjutkan ke artikel berikutnya: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi →
REFERENSI
[1] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2012. Buku Utama Standar Operating Procedure (SOP) Indonesia Tsunami Early Warning System.
[2] Skala Intensitas Gempabumi (SIG) BMKG
[3] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2012. Gempa bumi Edisi Populer
[4] Douglas, J (2003-04-01). Earthquake ground motion estimation using strong-motion records: a review of equations for the estimation of peak ground acceleration and response spectral ordinates. Earth-Science Reviews.
Penulis: Dr. Ir. Heri Khoeri, MT.
Untuk memperdalam pemahaman tentang gempa bumi, ikuti daftar artikel lengkap dalam series berikut:
Daftar Tulisan Selengkapnya:
- Gempa Bumi
- Kekuatan (Magnitudo) Gempa Bumi
- Intensitas Gempa Bumi
- Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
- Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi
- Jenis Gempa Bumi
- Gelombang Seismik
- Gelombang Gempa Bumi Primer (P-Wave)
- Gelombang Gempa Bumi Sekunder (S-Wave)
- Rayleigh Wave
- Gelombang Cinta (Love Wave)
Konsultasi Evaluasi Risiko Seismik Bangunan Existing
Jika Anda memiliki bangunan existing yang berlokasi di area dengan potensi gempa, pemahaman intensitas lokal menjadi langkah pertama dalam mengevaluasi kondisi struktural dan kecukupan margin keselamatan.
Tim kami dapat melakukan investigasi geologi setempat, analisis intensitas lokal, dan assessment terhadap kapasitas struktur Anda menghadapi beban gempa sesuai SNI 1726.
Hasil evaluasi dapat menjadi dasar keputusan: apakah struktur sudah aman, memerlukan reinforcement, atau perlunya redesign sistem penahan gaya gempa.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
- ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
- ☎️ Telepon Kantor: (021) 8404531 (Jakarta)
- 📱 Hotline HP: 081291442210 atau 08118889409
- 💬 WhatsApp (Pesan Cepat): melalui tautan konsolidasi kontak di bawah ini.