Pengambilan Sample Beton dengan Coredrill

Metode core drill adalah suatu metoda pengambilan sampel beton pada suatu struktur bangunan. Sampel yang diambil (bentuk silinder) selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian seperti Kuat tekan.

Pengambilan sample beton dengan coredrill (pengeboran inti) dan uji kuat tekan beton di laboratorium untuk Pengambilan contoh dilakukan dengan alat bor yang mata bornya berupa “pipa” dari intan, sehingga diperoleh contoh beton berupa silinder.

Coredrill yang dilakukan pada struktur beton
Coredrill yang dilakukan pada struktur beton

Contoh alat pengambilan sample beton dengan metode core drill tersebut yaitu sebagai berikut:

http://hesa.co.id//images/alat%20core%20drill.jpg

Silinder beton yang diperoleh tergantung ukuran diameter mata-bornya, umumnya antara 2” sampai 8”. Dan disarankan diameter silinder tidak kurang dari 3 kali ukuran maksimum agregat betonnya.

sampel-coredrill-pada-bagian-crack-beton
Sampel beton dari pengambilan dengan metode coredrill pada bagian struktur bangunan yang diduga terdapat retakan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sample beton adalah sebagai berikut:

  1. Umur beton minimal 14 hari.
  2. Pengambilan contoh silinder beton dilakukan di daerah yang kuat tekannya diragukan, biasanya berdasarkan data hasil uji contoh beton dari masing-masing bagian struktur, atau dari hasil NDT (Non Destructive Testing) dengan concrete hammer ataupun UPVT (Ultrasonic Pulse Velocity Test). Dari satu daerah beton diambil satu titik pengambilan contoh. Pengambilan contoh pada bangunan sudah lama berdiri, maka biasanya core drill dilakukan pada bagian-bagian elemen struktur beton yang ingin diketahui kuat tekannya
  3. Dari satu pengambilan contoh diambil 3 titik pengeboran. Pengeboran harus ditempat yang tidak membahayakan struktur, misalnya jangan dekat sambungan tulangan, momen maksimum, dan tulangan utama.
  4. Benda uji yang cacat karena terlalu banyak terdapat rongga, adanya serpihan/agregat kasar yang lepas, tulangan besi yang lepas dan ketidakteraturan dimensi, tidak boleh digunakan untuk
  5. Diameter benda uji untuk uji kuat tekan tidak boleh kurang dari 90 mm;
  6. Rasio tinggi sample (L) dengan diameter (D) lebih besar atau sama dengan 0,95 , dimana L = panjang dan D =diameter benda uji;
  7. Pengeboran harus tegak lurus dengan permukaan beton.
  8. Lubang bekas pengeboran harus segera diisi dengan beton yang mutunya minimal sama.
  9. Apabila ada kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti, letaknya harus tegak lurus terhadap  sumbu benda uji;
  10. Jumlah kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti tidak boleh lebih dari 2 batang;
  11. Apabila jumlah kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti lebih dari 2 batang, benda uji harus dikerjakan dengan gergaji beton dan gerinda, sehingga memenuhi ketentuan dan bila tidak terpenuhi, benda uji tersebut tidak boleh digunakan untuk uji kuat tekan

Benda uji beton inti sesudah kaping yaitu harus memenuhi ketentuan 2,00 ≥ L/D ≥ 1,00 dimana tebal lapisan untuk kaping tidak boleh melebihi 10 mm.

Ilustrasi pengambilan sample beton, langkah demi langkah sebagaimana gambar berikut:

Standar metode pengambilan dan pengujian beton inti sesuai standar SNI 03-2492-2002 bisa anda dapatkan disini:

SNI 03-2492-2002 Metode pengambilan dan pengujian beton inti

Untuk Informasi teknis tentang Coredrill atau jasa audit struktur lainnya, silahkan mengubungi kami

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531
Whatsapp Bussines : 0813 828 271 82 or click this Link : Whatsapp

Atau tinggalkan pesan dibawah ini:

Tinggalkan Pesan

[recaptcha]