Penyebab Terjadinya Gempa Bumi

Berdasarkan atas penyebabnya gempa bumi dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam diantaranya: tektonik, vulkanik, runtuhan, jatuhan meteor, dan gempa bumi buatan manusia [1].

Penyebab terjadinya Gempa bumi Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung di atas astemosfer yang cair dan panas. Sehingga lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain.

Penyebab Terjadinya Gempa Bumi


Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi.

Konteks geografis Indonesia: Indonesia berada di kawasan lempeng tektonik yang sangat aktif—terutama zona subduction antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia di sepanjang Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, serta zona transform Sumatera dan Palau. Akibatnya, Indonesia mengalami gempa tektonik dengan magnitudo besar dan frekuensi tinggi. Keputusan desain struktur di Indonesia tidak bisa menggunakan parameter gempa dari daerah dengan zona tektonik berbeda (seperti Eropa atau Amerika); harus berbasis karakteristik hazard lokal Indonesia.

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel.

Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi.

Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya.

Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (divergen), saling mendekati (konvergen) dan saling geser (transform). Convergent sendiri ada dua jenis, yaitu subduction (dimana terjadi penunjaman) dan collision (terjadi pengangkatan seperti Himalaya).

Gambar Ilustrasi pergerakan divergen (saling menjauhi) satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya

 

Penyebab Terjadinya Gempa Bumi3
Gambar Ilustrasi pergerakan transform (saling geser) satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya
Gambar Ilustrasi pergerakan convergent-subduction (saling mendekati sehingga terjadi saling penunjaman) antara satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya
Gambar Ilustrasi pergerakan convergent-collision (saling mendekati sehingga terjadi pengangkatan) antara satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya.

Implikasi setiap jenis pergerakan untuk desain: Pergerakan divergen (saling menjauhi) menghasilkan gempa rendah-menengah dengan kedalaman dangkal. Pergerakan transform (geser) menghasilkan gempa cukup kuat dengan hiposenter dangkal dan energi meledak lateral. Subduction (penunjaman) menghasilkan gempa sangat besar (M8+) dengan kedalaman menengah-dalam dan dampak luas. Collision (pengangkatan) menghasilkan gempa besar dengan kompleksitas struktur tinggi. Jenis pergerakan menentukan magnitudo maksimal, distribusi spasial gempa, dan karakteristik gelombang yang akan mempengaruhi struktur Anda. Jika Anda tidak mengetahui jenis pergerakan lempeng di lokasi proyek, Anda tidak bisa menentukan hazard gempa yang akurat.

Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15 cm per tahun.

Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng 76 tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Mekanisme penguncian dan pelepasan energi: Lempeng yang “macet” (locked) berarti tekanan terakumulasi tanpa pelepasan selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika batuan akhirnya gagal, energi dilepaskan secara mendadak dalam hitungan detik, menghasilkan gempa besar. Lokasi dengan periode penguncian panjang (strain buildup) berisiko mengalami gempa besar yang jarang terjadi tapi sangat destruktif. Di lokasi dengan sejarah gempa jarang, tidak ada jaminan struktur Anda aman—justru kemungkinan gempa besar meningkat karena energi terakumulasi belum pernah dilepas. Investigasi sejarah gempa lokal (earthquake history dan return period) menjadi wajib dalam mendesain struktur untuk menghindari underestimate hazard.

Koneksi dengan artikel series: Artikel ini (penyebab tektonik #4) menjelaskan mengapa gempa terjadi di lokasi tertentu dan jenis gempa apa yang mungkin terjadi. Artikel berikutnya akan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi dampak gempa lokal (artikel #5), serta jenis-jenis gempa berdasarkan kedalaman (artikel #6). Pemahaman mekanisme tektonik lokal adalah fondasi untuk memahami mengapa desain struktur di lokasi berbeda harus berbeda, meskipun standar SNI 1726 sama untuk seluruh Indonesia.

REFERENSI 

[1] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2012. Gempabumi Edisi Populer

[2] Dilek, Y., Pavlides, S., 2006. Postcollisional Tectonics and Magmatism in the Mediterranean Region and Asia, Geological Society of America.

Penulis : Dr. Ir. Heri Khoeri, MT.

Untuk memperdalam pemahaman tentang penyebab gempa bumi dan mekanisme tektonik lokal, ikuti daftar artikel lengkap dalam series berikut:

Daftar Tulisan Selengkapnya:

  1. Gempa Bumi
  2. Kekuatan (Magnitudo) Gempa Bumi
  3. Intensitas Gempa Bumi
  4. Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
  5. Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi
  6. Jenis Gempa Bumi
  7. Gelombang Seismik
  8. Gelombang Gempa Bumi Primer (P-Wave)
  9. Gelombang Gempa Bumi Sekunder (S-Wave)
  10. Rayleigh Wave
  11. Gelombang Cinta (Love Wave)

Konsultasi Pemetaan Hazard Gempa Lokal dan Karakteristik Tektonik

Mekanisme tektonik di lokasi proyek Anda—apakah zona subduction, transform, collision, atau divergen—menentukan jenis gempa, magnitudo maksimal, dan frekuensi yang mungkin terjadi. Desain struktur harus berbasis karakteristik hazard gempa lokal yang akurat, bukan parameter standar umum.

Konsultasi mencakup: review data seismotektonik lokal dan sesar aktif, analisis mekanisme gempa di zona proyek, penentuan magnitudo maksimal dan frekuensi yang realistis, serta rekomendasi parameter desain gempa yang sesuai dengan hazard lokal Anda.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

  • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
  • ☎️ Telepon: (021) 8404531
  • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

📱 Konsultasi Pemetaan Hazard Gempa Lokal