Jenis Gempa Bumi

Jenis Gempa Bumi

Kedalaman hiposenter gempa menentukan dampak dan persyaratan desain struktur yang berbeda. Gempa dangkal menyebabkan kerusakan lebih besar dengan jangkauan luas, sementara gempa dalam menimbulkan efek minimal. Klasifikasi ini kritis untuk memahami risiko seismik lokasi proyek Anda dan menentukan parameter desain struktur yang sesuai standar SNI 1726.

Berdasarkan kedalaman hiposenternya, Gempa Bumi dapat dibedakan dalam 3 jenis, yaitu:

Souce Pict : What happens at tectonic plate boundaries? in slideplayer_com, in slide: 5712505

a. Gempa bumi Dangkal

Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposenternya berada kurang dari 50 km dari permukaan bumi. Di Indonesia Gempa bumi dangkal letaknya terpencar di sepanjang sesar aktif dan patahan aktif. Gempa ini menimbulkan kerusakan besar dan semakin dangkal tempat terjadinya maka kerusakan semakin besar.

Gambar Ilustrasi Gempa bumi dangkal

Gempa bumi dangkal menimbulkan efek goncangan dan kehancuran yang lebih dahsyat dibanding gempa bumi dalam. Ini karena sumber gempa bumi lebih dekat ke permukaan bumi sehingga energi gelombangnya lebih besar. Karena pelemahan energi gelombang akibat perbedaan jarak sumber ke permukaan relatif kecil [2].

Implikasi untuk desain struktur: Gempa dangkal di Indonesia—terutama di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara—memerlukan sistem penahan gaya gempa yang kuat. Percepatan tanah (PGA) dari gempa dangkal bisa mencapai 0,7-1,0g tergantung lokasi dan magnitudo. Struktur di daerah rawan gempa dangkal harus didesain dengan faktor amplifikasi lebih tinggi dan detail sambungan yang ketat untuk menahan gerakan lateral multi-arah. Jika lokasi proyek Anda berada di dekat sesar aktif (zona gempa dangkal), investigasi hazard gempa lokal menjadi wajib sebelum menentukan parameter desain.

b. Gempa bumi Menengah

Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposenternya berada antara 50 km–300 km di bawah permukaan bumi. Di Indonesia Gempa bumi ini terbentang sepanjang Sumatra sebelah Barat, Jawa sebelah Selatan, selanjutnya Nusa Tenggara antara Sumbawa dan Maluku, sepanjang Teluk Tomini, dan Laut Maluku sampai Filipina. Gempa ini dengan focus kurang dari 150 km dibawah permukaan bumi masih dapat menimbulkan kerusakan.

Risiko praktis: Gempa menengah dengan hiposenter <150 km dapat menimbulkan kerusakan pada area luas (hingga radius 200+ km dari epicenter). Energi gempa menengah tersebar lebih luas dibanding gempa dangkal, sehingga dampaknya terasa di wilayah yang jauh dari epicenter. Konsekuensi: struktur di daerah Sumatra, Jawa Selatan, dan Nusa Tenggara harus didesain tidak hanya untuk gempa dangkal, tapi juga untuk beban gempa menengah dengan durasi getaran lebih panjang. Durasi getaran yang lebih panjang memerlukan perhitungan periode natural struktur yang akurat untuk menghindari resonansi.

c. Gempa bumi Dalam

Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposenternya berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi. Di Indonesia Gempa bumi ini berada di Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda dan Laut Sulawesi. Gempa ini tidak membahayakan.

Gambar Ilustrasi Gempa bumi dalam

Catatan untuk evaluasi risiko: Meskipun gempa dalam tidak membahayakan struktur, kehadiran gempa dalam di wilayah (Laut Jawa, Flores, Banda, Sulawesi) menunjukkan zona subduksi aktif. Zona ini juga memproduksi gempa menengah dan dangkal. Keputusan desain struktur di wilayah tersebut tidak bisa mengabaikan gempa dalam, tapi harus fokus pada gempa menengah dan dangkal yang lebih berbahaya dari zona subduksi yang sama.

Koneksi dengan artikel series: Klasifikasi berdasarkan kedalaman hiposenter ini merupakan fondasi untuk memahami artikel berikutnya tentang gelombang seismik (artikel #7), karena pola perambatan gelombang P dan S berbeda tergantung kedalaman sumber gempa. Karakteristik kedalaman juga menjelaskan mengapa intensitas gempa di permukaan bervariasi (artikel #5), meskipun magnitudo gempa sama (artikel #2).

REFERENSI 

[1] S. Irman Sonjaya, 2008. Pengenalan Gempa Bumi, Yogyakarta: Workshop ASEAN Regional Climates Validation Models.

[2] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2012. Gempabumi Edisi Populer

Penulis : Dr. Ir. Heri Khoeri, MT.
Tulisan ini adalah bagian ke enam dari sebuah pengantar tulisan selanjutnya tentang Bangunan Tahan Gempa.
Daftar Tulisan Selengkapnya:

  1. Gempa Bumi
  2. Kekuatan (Magnitudo) Gempa Bumi
  3. Intensitas Gempa Bumi
  4. Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
  5. Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi
  6. Jenis Gempa Bumi
  7. Gelombang Seismik
  8. Gelombang Gempa Bumi Primer (P-Wave)
  9. Gelombang Gempa Bumi Sekunder (S-Wave)
  10. Rayleigh Wave
  11. Gelombang Cinta (Love Wave)

Konsultasi Evaluasi Hazard Gempa Lokal dan Parameter Desain Struktur

Kedalaman hiposenter gempa di lokasi proyek Anda menentukan persyaratan desain struktur yang berbeda. Jika proyek Anda berada di daerah rawan gempa dangkal atau menengah, investigasi hazard gempa lokal diperlukan untuk menentukan PGA, periode gempa dominan, dan durasi getaran yang akurat. Tim struktur kami dapat melakukan analisis hazard gempa, mengevaluasi parameter seismik lokal, dan menerjemahkannya ke persyaratan desain struktur yang sesuai SNI 1726.

Konsultasi mencakup: identifikasi zona gempa lokal dan jenis gempa dominan, estimasi PGA berdasarkan kedalaman sumber, analisis respons spektrum lokal, dan penentuan gaya desain gempa untuk struktur Anda.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

  • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
  • ☎️ Telepon: (021) 8404531
  • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

📱 Konsultasi Evaluasi Hazard Gempa Lokal