Magnitudo menentukan tingkat kerusakan potensial gempa bumi—informasi kritis untuk engineer assess risiko struktural. Magnitudo merupakan perhitungan kuantitatif yang menunjukkan besaran gempa bumi.
Magnitudo dihitung berdasarkan terjadinya pergerakan atau pergeseran tanah dari episenter gempabumi dengan menggunakan seismograf sehingga perhitungannya dapat dinyatakan berdasarkan pengukuran amplitudo maksimum yang tercatat di seismograf [1].
KEKUATAN (MAGNITUDO) GEMPA BUMI
Dalam evaluasi risiko gempa, magnitudo tidak diperlakukan sebagai angka informatif semata. Nilai ini digunakan untuk membaca besaran energi seismik yang berpotensi diterjemahkan menjadi tuntutan gaya, deformasi, dan tingkat kerusakan struktur. Karena itu, pemilihan skala magnitudo menjadi relevan bagi engineer dan pengambil keputusa
Berbagai skala magnitudo dikembangkan untuk merepresentasikan karakteristik gempa yang berbeda. Magnitudo lokal (ML/Richter), magnitudo gelombang permukaan (Ms), dan magnitudo gelombang badan (Mb) masing-masing berbasis respon gelombang tertentu. Skala-skala ini masih digunakan dalam kajian seismologi, namun memiliki keterbatasan ketika dijadikan dasar penilaian dampak struktural.
Magnitudo momen (Mw) digunakan karena berbanding lurus dengan energi total yang dilepaskan oleh sumber gempa. Hubungan ini membuat Mw lebih stabil dalam merepresentasikan kekuatan gempa besar dan lebih konsisten untuk evaluasi risiko pada bangunan dan infrastruktur.
Atas pertimbangan tersebut, BMKG menetapkan magnitudo momen (Mw) sebagai standar resmi pelaporan gempa di Indonesia. Akurasi representasi energi seismik ini penting ketika magnitudo digunakan sebagai rujukan awal dalam penilaian potensi kerusakan struktural dan bahaya lanjutan seperti tsunami.

Penghitungan Magnitude adalah moment gempabumi berbanding lurus dengan kekerasan bumi dikali jumlah rata-rata pergeseran patahan dan area yang mengalami pergeseran [1].
Magnitudo yang berkaitan dengan momen seismik namun tidak bergantung dari besarnya magnitudo permukaan.
Namun pengukuran magnitudo momen lebih kompleks dibandingkan pengukuran magnitudo ML, Ms dan Mb. Karena itu, penggunaannya juga lebih sedikit dibandingkan penggunaan ketiga magnitudo lainnya [2].
Saat ini BMKG menggunakan Magnitudo Momen untuk menyatakan besaran gempa.
[1] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2012. Buku Utama Standar Operating Procedure (SOP) Indonesia Tsunami Early Warning System.
[2] Lay, T. dan Wallace, T.C., Modern Global Seismology, Academic Press, USA, 1995.
Penulis : Dr. Ir. Heri Khoeri, MT.
Tulisan ini adalah bagian kedua dari sebuah pengantar tulisan selanjutnya tentang Bangunan Tahan Gempa.
Daftar Tulisan Selengkapnya:
- Gempa Bumi
- Kekuatan (Magnitudo) Gempa Bumi
- Intensitas Gempa Bumi
- Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
- Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi
- Jenis Gempa Bumi
- Gelombang Seismik
- Gelombang Gempa Bumi Primer (P-Wave)
- Gelombang Gempa Bumi Sekunder (S-Wave)
- Rayleigh Wave
- Gelombang Cinta (Love Wave)
Konsultasi Penilaian Struktur Terhadap Risiko Seismik
Ketika struktur berada di wilayah rawan gempa, pertanyaan yang biasanya muncul bukan lagi soal apakah risikonya ada, tetapi sejauh mana struktur masih dapat diandalkan dalam kondisi seismik yang aktual. Hal ini sering muncul saat bangunan telah lama beroperasi, direncanakan untuk perpanjangan umur layanan, atau ketika mulai terlihat indikasi awal penurunan kinerja struktural.
Dalam situasi seperti ini, hasil inspeksi, pengujian, atau evaluasi desain perlu dibaca secara hati-hati agar tidak berhenti sebagai data. Tim struktur kami membantu menginterpretasikan temuan tersebut dan mengaitkannya langsung dengan keputusan yang realistis—apakah cukup dengan pengelolaan risiko operasional, diperlukan perkuatan terbatas, atau perlu penyesuaian struktur yang lebih mendasar.
Pendekatan kami mencakup evaluasi kondisi aktual struktur, kesesuaian terhadap ketentuan gempa yang berlaku, serta pengaruh kondisi tanah dan sistem pondasi. Seluruh analisis diarahkan untuk memastikan bahwa setiap rekomendasi dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan relevan terhadap kondisi lapangan.
Fokus akhir dari proses ini bukan pada laporan teknis, melainkan pada kejelasan arah keputusan: bagaimana struktur sebaiknya dioperasikan, dibatasi, diperkuat, atau disiapkan untuk strategi mitigasi risiko seismik jangka menengah hingga panjang.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
- ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
- ☎️ Telepon Kantor: (021) 8404531
- 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409
- 💬 WhatsApp: Diskusi Teknis Awal
