Gempa bumi (earthquake) adalah peristiwa bergetar atau bergoncangnya bumi karena pergerakan/ pergeseran lapisan batuan pada kulit bumi secara tiba‐tiba akibat pergerakan lempeng‐lempeng tektonik.
Artikel ini adalah bagian pertama dari series pembelajaran tentang gempa bumi dan bangunan tahan gempa. Pemahaman fundamental tentang apa itu gempa bumi—bagaimana terjadinya dan parameter-parameternya—menjadi dasar sebelum Anda memahami konsep magnitudo (artikel #2), intensitas (artikel #3), dan faktor-faktor yang menentukan dampak gempa bumi di lokasi tertentu (artikel #5).
Gempa Bumi
Gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas pergerakan lempeng tektonik disebut gempa bumi tektonik. Namun selain itu, gempa bumi bisa saja terjadi akibat aktivitas gunung berapi yang disebut sebagai gempa bumi vulkanik [1].

Poin penting di sini: semakin besar energi yang dilepaskan, semakin kuat gempa bumi yang terjadi. Kekuatan gempa ini—yang disebut magnitudo—akan dijelaskan lebih detail di artikel berikutnya. Magnitudo adalah ukuran energi yang bersifat tetap untuk satu kejadian gempa, berbeda dengan intensitas yang berbeda-beda di setiap lokasi berdasarkan jarak dan kondisi geologi setempat.
Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi ini dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi. Semakin besar energi yang dilepaskan maka semakin kuat gempa bumi yang terjadi.

Dalam praktik seismik Indonesia, gempa bumi terjadi hampir setiap hari di berbagai lokasi dengan skala magnitude yang bervariasi—mayoritas berkekuatan sangat kecil (magnitude <3) dan tidak terasa atau tidak mencatat kerusakan berarti. Gempa-gempa kecil ini sering menjadi pertanda aktivitas tektonik terus berlangsung dan, dalam beberapa kasus, dapat menjadi pendahulu gempa bumi yang lebih besar. Pemahaman tentang frekuensi dan pola gempa kecil ini penting untuk antisipasi kemungkinan gempa susulan pasca-gempa utama.
Gempa bumi sebenarnya terjadi hampir setiap hari, namun kebanyakan berkekuatan kecil dan tidak menyebabkan kerusakan yang berarti. Gempa bumi berkekuatan kecil juga dapat mengiringi terjadinya gempa bumi yang lebih besar dan dapat terjadi sesudah atau sebelum gempa bumi besar tersebut terjadi.
Pertanyaan yang sering dilontarkan masyarakat setelah terjadi gempa adalah tentang kapan terjadinya, dimana sumber gempa, seberapa besar kekuatan, apakah ada kemungkinan gempa susulan, dan kapan gempa bumi tersebut bisa berakhir sehingga para korban bisa merasa aman dari bahaya gempa bumi susulan berikutnya.
Pertanyaan-pertanyaan publik ini sejatinya adalah refleksi dari kebutuhan akan data gempa yang akurat untuk tujuan berbeda: informasi publik (keselamatan jiwa), investigasi seismik (penelitian), dan investigasi teknis (desain bangunan). Untuk keperluan desain bangunan tahan gempa, parameter-parameter yang perlu dianalisis adalah fondasi dari semua keputusan struktural di tahap awal perencanaan.
Parameter sumber gempa bumi yang sering dianalisis adalah waktu asal gempa, posisi lintang dan bujur episenter gempa, kedalaman sumber gempa, waktu kejadian gempa, dan ukuran kekuatan atau magnitudo gempa, serta intensitas gempa.
[1] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2012. Gempa bumi Edisi Populer
[2] Yagi, Y., 2007. Source Mechanism, IISEE, Japan.
Penulis : Dr. Ir. Heri Khoeri, MT.
Tulisan ini adalah bagian pertama dari sebuah pengantar tulisan selanjutnya tentang Bangunan Tahan Gempa.
Berikut urutan artikel bersambung berkaitan dengan gempa bumi ini:
- Gempa Bumi
- Kekuatan Magnitudo Gempa Bumi
- Intensitas Gempa Bumi
- Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
- Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Dampak Gempa Bumi
- Jenis Gempa Bumi
- Gelombang Seismik
- Gelombang Gempa Bumi Primer (P-Wave)
- Gelombang Gempa Bumi Sekunder (S-Wave)
- Rayleigh Wave
- Gelombang Cinta (Love Wave)
Konsultasi Investigasi Parameter Seismik untuk Desain Bangunan Tahan Gempa
Pemahaman parameter seismik lokal—termasuk magnitudo historis, intensitas potensial, dan PGA (peak ground acceleration)—adalah tahap awal yang kritis dalam merancang bangunan yang tahan terhadap gempa. Setiap lokasi proyek memiliki karakteristik seismik unik yang memerlukan investigasi lapangan dan analisis teknis untuk menentukan parameter desain yang tepat sesuai dengan SNI 1726.
Tim struktur kami membantu developer dan engineer mendefinisikan parameter seismik lokal, menganalisis data gempa historis setempat, dan menentukan gaya desain gempa yang sesuai dengan kondisi spesifik proyek Anda. Investigasi ini dilakukan sejak tahap studi kelayakan untuk menghindari kesalahan asumsi yang dapat menyebabkan redesign di fase lanjut.
Layanan kami mencakup: survei seismoteknik, analisis historis data gempa lokal, penentuan parameter magnitudo dan intensitas, estimasi PGA berdasarkan regulasi SNI, serta konsultasi interpretasi hasil analisis ke keputusan desain struktur yang cost-effective dan aman.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
- ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
- ☎️ Telepon: (021) 8404531
- 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409