Analisis Pushover untuk Mengetahui Perilaku Struktur saat Terkena Gempa

Analisis Pushover untuk Mengetahui Perilaku Struktur saat Terkena Gempa

Menurut SNI Gempa 03-1726-2002*, analisis statik beban dorong (pushover) adalah :

suatu analisis nonlinier statik, yang dalam analisisnya pengaruh gempa rencana terhadap struktur bangunan gedung dianggap sebagai beban statik pada pusat massa masing-masing lantai, yang nilainya ditingkatkan secara berangsur-angsur sampai melampaui pembebanan sehingga menyebabkan terjadinya pelelehan (sendi plastis) pertama di dalam struktur bangunan gedung, kemudian dengan peningkatan beban lebih lanjut mengalami perubahan bentuk pasca-elastik yang besar sampai mencapai target peralihan yang diharapkan atau sampai mencapai kondisi plastik [1].

Metode analisis pushover merupakan salah satu komponen performance based design yang menjadi sarana untuk mengetahui kapasitas suatu struktur [2], dari hasil analisis, dapat digambarkan hubungan antara base shear dan roof displacement, hubungan tersebut kemudian dipetakan sebagai kurva kapasitas struktur.

Struktur 16 lantai yang diilustrasikan berikut ini dianalisis menggunakan metode pushover untuk memahami urutan dan level kerusakan elemen akibat pembebanan lateral yang meningkat secara bertahap. Contoh ini mendemonstrasikan bagaimana membaca dan menginterpretasikan hasil analisis pushover—khususnya kurva kapasitas dan performa struktur dalam konteks gempa rencana.

Selain itu, analisis pushover juga dapat memperlihatkan secara visual perilaku struktur pada saat kondisi elastis, plastis dan sampai terjadinya keruntuhan pada elemen-elemen strukturnya. Informasi tersebut berguna dalam menggambarkan respons inelastis bangunan ketika mengalami gempa.

Studi Kasus: Analisis Pushover Struktur 16 Lantai

Analisis struktur gedung 16 lantai berikut ini mengilustrasikan pushover analysis.

Gambar 1 Analisis Pushover untuk Mengetahui Perilaku Struktur saat Terkena Gempa

Gambar 1 – Model Struktur 16 Lantai untuk Analisis Pushover

Gambar 1 menunjukkan model struktur 16 lantai. Struktur ini dibebani gaya push over pada arah-x dan arah-y.

Pada gambar 2, terlihat telah terbentuk sendi plastis berwarna merah jambu (pelelehan pertama) pada balok lantai 10, ketika struktur dibebani gaya dorong pada arah-x sebesar 357966 kg.

Pembebanan lateral dalam contoh ini diterapkan secara monoton satu arah (arah-x saja). Hal ini berarti respons struktur yang ditunjukkan tidak merepresentasikan efek simultaneous dua arah perpendicular atau efek cyclic loading yang terjadi dalam gempa nyata. Interpretasi hasil ini berlaku spesifik untuk skenario pembebanan ini pada struktur regular seperti pada Gambar 1.

Gambar 2-7 Analisis Pushover untuk Mengetahui Perilaku Struktur saat Terkena Gempa

Gambar 2–7 – Perkembangan Sendi Plastis dengan Peningkatan Beban Lateral (Arah-X)

Seiring ditingkatkannya gaya dorong terbentuklah sendi-sendi plastis lainnya pada balok yang mulai ada yang berwarna biru (mulai tampak kerusakan struktur ringan pada balok) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3, di mana beban yang bekerja adalah = 602576 kg, yang mengakibatkan lendutan pada arah x = 0.2199 m.

Pada Gambar 4 terlihat sendi plastis berwarna biru semakin banyak terjadi pada balok dan terlihat mulai terjadi pelelehan pertama pada kolom lantai dasar, gaya yang bekerja pada step ini adalah 704000 kg dan lendutan yang terjadi = 0.3099 m.

Gambar 2 sampai dengan gambar 6 menunjukkan visualisasi perilaku struktur dan terbentuknya sendi-sendi plastis pada posisi-posisi struktur akibat dibebani beban tertentu pada pusat masa dimana besarnya beban tersebut ditingkatkan secara berangsur-angsur.

Dengan penambahan beban sampai 871050 kg struktur sudah diambang keruntuhan ditandai dengan terbentuknya sendi plastis berwarna kuning di kolom lantai dasar seperti ditunjukkan pada gambar 5. Dengan penambahan beban sedikit saja struktur akan mengalami keruntuhan seperti pada gambar 6. Gambar 7 menunjukkan hubungan simpangan arah-X dan Base Reaction.

Interpretasi Kurva Kapasitas dan Tahapan Kerusakan

Warna yang ditunjukkan oleh sendi plastis menunjukkan tingkat kelelehan yang terjadi seperti digambarkan pada gambar 5. Berdasarkan filosofi desain yang ada, tingkat kinerja struktur bangunan akibat gempa rencana adalah Life Safety, yaitu walaupun struktur bangunan mengalami tingkat kerusakan yang cukup parah namun keselamatan penghuni tetap terjaga karena struktur bangunan tidak sampai runtuh.

[ADDED – PRIORITAS 1: Mapping Tahapan A–E ke Implikasi Teknis]
Tabel di bawah menunjukkan interpretasi progresif dari kurva kapasitas, dari awal pembebanan (A) hingga keruntuhan (E). Setiap tahapan mencerminkan perubahan state struktur dan implikasi teknis dalam membaca respons inelastis struktur terhadap pembebanan lateral yang meningkat.
Tahap Kondisi Struktur Implikasi Teknis dalam Interpretasi Output
A Awal pembebanan, elastis penuh Struktur dalam zona elastik linear. Tidak ada plastisasi elemen. Stiffness struktur penuh. Respons dapat diprediksi dengan analisis elastis.
B Batas elastis / leleh pertama (yield) Sendi plastis pertama terbentuk (dalam contoh: balok lantai 10 pada beban 357966 kg). Dalam interpretasi: cek apakah lokasi leleh pertama konsisten dengan hierarchy desain yang diinginkan atau menunjukkan weak link tidak terduga.
B–C Elastis-plastis progresif Sendi plastis tambahan terbentuk berurutan di elemen-elemen lain (Gambar 3–4: balok biru semakin banyak). Interpretasi: monitor distribusi kerusakan—apakah tersebar imbang atau terkonsentrasi di zone tertentu? Ini berpengaruh pada ductility global struktur.
C Puncak kekuatan (peak capacity) Gaya geser dasar mencapai maksimum. Simpangan atap pada titik ini menjadi reference point untuk demand check. Setelah titik ini, struktur mulai kehilangan kapasitas lateral. Nilai base shear di C adalah estimasi kapasitas lateral maksimal struktur.
C–D Degradasi kekuatan (strength degradation) Elemen mulai kehilangan kekuatan sementara deformasi terus meningkat (Gambar 5: sendi kuning bertambah di kolom lantai dasar). Ini adalah zona warning dalam evaluasi—struktur masih stabil tapi kapasitas menurun. Untuk desain, zona ini menunjukkan reserve capacity yang terbatas.
D–E Runtuh / loss of stability Setelah deformasi tertentu (Gambar 6), struktur tidak lagi mampu mendukung beban lateral. Deformasi melampaui titik E menandai keruntuhan fisik. Interpretasi: E adalah batas absolut dari kapasitas struktur. Dalam target peralihan, struktur harus tetap di bawah titik ini dengan margin keamanan.

Pada grafik diatas respon linier dimulai dari titik A (unloaded component) dan kelelehan mulai terjadi pada titik B. Respon dari titik B ke titik C merupakan respon elastis plastis.

Titik C merupakan titik yang menunjukkan puncak kekuatan komponen, dan nilai absisnya yang merupakan deformasi menunjukkan dimulainya degradasi kekuatan struktur (garis C-D).

Pada titik D, respon komponen struktur secara substansial menghadapi pengurangan kekuatan menuju titik E. Untuk deformasi yang lebih besar dari titik E, kekuatan komponen struktur menjadi nol [3].

Tipikal kurva tersebut seperti ditunjukkan pada gambar 8 berikut:

Gambar 8 Tahapan Kerusakan Struktur Berdasarkan Terbentuknya Sendi Plastis

Gambar 8 – Kurva Kapasitas: Tahapan Kerusakan dari Elastis hingga Keruntuhan

Keterangan Tahapan pada Kurva Kapasitas

A Awal Pembebanan, belum ada sendi plastis
B Batas linier yg diikuti pelelehan pertama pada struktur
IO Immediate Occupancy, terjadi kerusakan ringan struktur
LS Life Safety, terjadi kerusakan sedang pada struktur, namun belum berpotensi runtuh
CP Collapse Prevention, kerusakan berat pada struktur yang berpotensi runtuh
C Batas maksimum gaya geser yang masih mampu ditahan
D Terjadi degradasi kekuatan struktur
E Runtuh

Catatan Interpretasi Praktis: Kurva kapasitas pada Gambar 8 menunjukkan apa yang struktur mampu capai. Dalam evaluasi seismik, kurva ini harus dibandingkan dengan demand (perpindahan yang diharapkan dari gempa rencana) untuk memverifikasi: apakah struktur dapat mencapai target performance level (LS dalam contoh ini) tanpa exceeded capacity elemen kritis? Output numeris gaya dorong (357966 kg, 602576 kg, dst.) dan simpangan atap adalah data yang diperlukan untuk membuat demand-capacity comparison ini.

Kurva kapasitas hasil dari analisis push over (gambar 8) menunjukkan hubungan antara gaya geser dasar (base shear) dan perpindahan atap akibat beban lateral yang diberikan pada struktur dengan pola pembebanan tertentu sampai pada kondisi ultimit atau target peralihan yang diharapkan. Dengan mengetahui perilaku struktur dari mulai masih dalam batas elastis sampai dengan keruntuhannya, maka kita dapat merencanakan dan mensimulasikan pola keruntuhan yang diharapkan, yang mampu meminimalisir jumlah korban pada saat terjadinya gempa.

Hasil analisis pushover tidak sepatutnya diinterpretasikan dari satu nilai kapasitas atau simpangan atap semata, melainkan dari urutan terbentuknya sendi plastis dan progresif kerusakan elemen-elemen struktur. Seperti yang ditunjukkan dalam contoh 16 lantai ini, lokasi leleh pertama pada balok lantai 10 dan tahapan selanjutnya hingga terbentuknya sendi di kolom lantai dasar memberikan informasi mekanistik tentang bagaimana struktur mendistribusikan dan merespons beban lateral. Pemahaman atas pola ini menjadi dasar untuk memverifikasi bahwa struktur mencapai target performa yang diharapkan tanpa mengalami kerusakan yang tidak terduga atau mode keruntuhan yang tidak diinginkan.

Hasil interpretasi pushover—urutan dan level kerusakan elemen—perlu diperkuat dengan pemahaman atas manifestasi kerusakan fisik yang diamati di lapangan. Analisis pushover memberikan prediksi mekanistik tentang bagaimana struktur akan berdeformasi dan mana elemen yang akan rusak lebih dulu. Prediksi ini dapat divalidasi dengan observasi langsung keretakan beton dan pola kerusakan pada struktur existing. Untuk pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana mengidentifikasi dan memaknai keretakan struktur beton yang terbentuk akibat respons seismik atau pembebanan lateral, lihat artikel Mengenali Jenis Keretakan Struktur Beton. Kedua pendekatan—analitis dan observasional—saling melengkapi dalam evaluasi kondisi dan kapasitas struktur yang sebenarnya.

Referensi

[1] SNI 03-1726-2002

[2] FEMA 451, 2006

[3] ATC 40, 1996, Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings

* SNI 03-1726-2002 sebagai Baseline Referensi: SNI 03-1726-2002 merupakan standar foundational untuk performance-based design dan pushover analysis method di Indonesia. Referensi ini digunakan dalam contoh ini untuk mendefinisikan metode analisis nonlinier statik. Perkembangan metodologis dan guidance terbaru dapat dilihat pada SNI Gempa 2019 dan literatur seismic evaluation kontemporer.

Konsultasi Teknis & Layanan Struktur

Jika Anda sedang mengevaluasi perilaku struktur, evaluasi kapasitas bangunan, Assesment Struktur,
atau membutuhkan pendampingan analisis dan desain struktur berbasis standar teknis,
tim kami siap membantu secara profesional.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

📱 Konsultasi Audit Struktur Gratis

Pola Kerusakan Struktur Beton Akibat Kelebihan Beban

Pola Kerusakan Struktur Beton Akibat Kelebihan Beban

Struktur yang kelebihan beban sering terlihat dari pola retaknya—dan dari pola retak itu, engineer bisa tentukan cara perbaikan yang paling tepat. Tidak semua kerusakan beton bisa diperbaiki dengan metode yang sama. Kelebihan beban pada elemen struktur bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  1. Kecelakaan
  2. Kesengajaan (misalnya karena perubahan fungsi ruang atau menambahkan beban melebihi batas yang ditentukan)
  3. Kesasalahan dalam perencanaan
  4. Kesalahan selama masa konstruksi (misalnya meletakan material konstruksi berlebihan yang membebani elemen struktur, perancah yang dipasang kurang atau bisa juga karena terlalu cepat melepas bekisting.

Dengan mengetahui tipikal pola retaknya, maka dapat merencanakan perbaikannya dengan tepat. Gambar-gambar berikut mengilustrasikan tipikal kerusakan beton pada elemen pelat, balok dan kolom akibat overloading.

Pola retak yang terlihat menentukan severity damage dan metode perbaikan yang dipilih. Retak ringan memungkinkan perbaikan dengan injeksi saja. Retak dengan lendutan berlebih atau defleksi memerlukan perkuatan yang menambah kekakuan struktur. Keputusan metode perbaikan ini harus didukung analisis struktur konkrit untuk memastikan penanganan yang tepat.

Setiap elemen struktur menunjukkan pola kerusakan yang spesifik tergantung jenis beban dan arah beban yang bekerja. Dengan mengidentifikasi pola retak yang muncul, engineer dapat menentukan severity damage dan metode perbaikan yang paling sesuai untuk setiap kondisi.

Kerusakan pada Pelat (Slab)

Pola kerusakan pada pelat satu arah akibat overloading
Pola kerusakan pada pelat satu arah akibat overloading — Indikasi: retak memanjang searah bentang, beban melebihi kapasitas lentur. Metode perbaikan: injeksi untuk retak halus, atau fiber carbon jika lendutan signifikan
Pola kerusakan pada pelat dua arah akibat overloading
Pola kerusakan pada pelat dua arah akibat overloading — Indikasi: retak radial dari pusat, beban terpusat atau merata melebihi kapasitas. Metode perbaikan: injeksi untuk retak ringan, atau perkuatan dengan fiber carbon jika defleksi berlebih

Kerusakan pada Balok (Beam)

Pola kerusakan geser pada balok akibat overloading
Pola kerusakan geser pada balok akibat overloading — Indikasi: retak diagonal dekat tumpuan, geser berlebih melebihi kapasitas. Metode perbaikan: fiber carbon wrapping atau jacketing untuk perkuatan geser

 

Pola kerusakan bending pada balok akibat overloading
Pola Kerusakan Lentur Pada Balok Akibat Overloading — Indikasi: retak horisontal di serat tarik, momen lentur melebihi kapasitas. Metode perbaikan: injeksi untuk retak halus, fiber carbon untuk penambahan kapasitas lentur

Kerusakan pada Kolom (Column)

Pola kerusakan geser pada kolom akibat overloading
Pola kerusakan geser pada kolom akibat overloading — Indikasi: retak diagonal pada kolom, kombinasi geser dan lentur melebihi kapasitas. Metode perbaikan: jacketing untuk menambah kekakuan dan kapasitas geser

 

Pola kerusakan tekan pada kolom akibat overloading
Pola kerusakan tekan pada kolom akibat overloading — Indikasi: retak vertikal dan spalting, beban tekan aksial melebihi kapasitas. Metode perbaikan: jacketing dengan penambahan tulangan untuk meningkatkan kapasitas tekan

 

Pola kerusakan tekuk/ bukling pada kolom akibat overloading
Pola kerusakan tekuk/bukling pada kolom akibat overloading — Indikasi: kolom melengkung atau kehilangan kestabilan lateral, kekakuan insufficient untuk beban tekan. Metode perbaikan: jacketing adalah solusi utama untuk menambah kekakuan dan kapasitas buckling

Identifikasi pola retak Anda dengan gambar di atas. Retak lentur (bending) pada balok atau pelat dengan lendutan ringan dapat dikerjakan dengan injeksi. Retak dengan lendutan signifikan memerlukan perkuatan fiber carbon atau jacketing. Retak geser pada balok dan kolom hanya dapat diperbaiki dengan perkuatan yang menambah kekakuan, bukan injeksi saja. Tekuk atau bukling pada kolom adalah kondisi kritis yang memerlukan jacketing segera untuk mengembalikan stabilitas struktur. Setiap pola retak memiliki metode perbaikan spesifik—penentuan yang tepat dimulai dari diagnosis akurat terhadap pola retak yang ada.

Solusi untuk kasus overloading alternatifnya adalah dengan pembatasan beban atau dengan perkuatan struktur. Sekalipun yang dipilih adalah dengan pembatasan beban, namun proses perbaikan pengembalian kondisi struktur tetap harus dilakukan.

Jika kerusakan yang terjadi masih ringan, baru timbul retak-retak seperti pola pada gambar-gambar diatas, perbaikannya dengan melakukan injeksi pada bagian-bagian yang retak. Dan dilakukan analisis struktur apakah beban yang bekerja masih mampu ditahan elemen struktur tersebut, jika tidak maka perkuatan dapat dilakukan dengan menambahkan fiber carbon untuk mengganti tulangan yang kurang baik tulangan utama, maupun tulangan geser.

Kelebihan metode ini adalah waktu pemasangan yang cepat, dengan biayanya relatif mahal. Namun perbaikan dengan fiber carbon tidak dapat diterapkan pada elemen struktur yang kekakuannya kurang, misalkan balok dan pelat yang mengalami lendutan berlebih atau pada kolom dengan pola kerusakan tekuk/ bukling.

Perbaikan bisa juga dengan metode konvesional dengan melakukan penebalan pada elemen struktur dan memberinya tulangan tambahan. Kelebihan metode ini adalah selain menambah kekuatan struktur, juga menambah kekakuan struktur. Kelemahannya adalah pengerjaannya lebih sulit dan waktu yang relatif lebih lama.

Pemilihan metode perbaikan perlu disesuaikan dengan kondisi aktual struktur dan batasan operasional yang ada. Injeksi umumnya digunakan pada retak ringan, namun tidak mengubah kekakuan elemen dan perlu dievaluasi apakah masih relevan terhadap tuntutan beban yang bekerja.

Injeksi untuk perbaikan keretakan beton
Injeksi untuk perbaikan keretakan beton

Perkuatan serat karbon dapat diterapkan secara relatif cepat, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kekakuan awal elemen dan kondisi deformasi eksisting. Jacketing atau penebalan elemen memberikan peningkatan kekuatan dan kekakuan, dengan konsekuensi pekerjaan yang lebih kompleks serta kebutuhan penghentian operasi sementara.

Perkuatan dengan fiber carbon
Perkuatan dengan fiber carbon

Karena itu, audit struktur menjadi tahap kunci sebelum menentukan pendekatan perbaikan. Evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas aktual, mekanisme kerusakan, dan implikasinya terhadap operasi diperlukan agar metode yang dipilih tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga selaras dengan anggaran dan kebutuhan operasional proyek.

Perkuatan dengan pembesaran elemen struktur/ Jacketing
Perkuatan dengan pembesaran elemen struktur/ Jacketing

Kunci penanganan overloading adalah diagnostic yang akurat terhadap pola retak dan analisis struktur detail, baru kemudian pilih metode perbaikan yang paling sesuai dengan kondisi, biaya, dan timeline operasional proyek Anda.

Evaluasi Struktur & Pola Retak untuk Keputusan Perbaikan Rasional

Pada kasus overloading, pola retak hanya menunjukkan gejala awal dari mekanisme kerusakan struktur. Karena itu, keputusan perbaikan perlu ditentukan melalui audit dan analisis struktur untuk memastikan metode yang dipilih benar-benar selaras dengan kapasitas aktual elemen, batasan biaya, dan kebutuhan operasional bangunan.

PT Hesa Laras Cemerlang membantu klien membaca pola retak sebagai indikator mekanisme kerusakan, bukan sebagai dasar keputusan tunggal. Proses dilakukan secara menyeluruh—mulai dari inspeksi visual dan evaluasi kondisi eksisting, hingga analisis struktur untuk menilai kapasitas aktual serta implikasinya terhadap metode perbaikan dan timeline operasional.

Hasil audit tidak berhenti pada rekomendasi umum. Setiap kesimpulan diarahkan pada satu pertanyaan kunci: langkah teknis apa yang paling rasional untuk kondisi struktur saat ini—apakah cukup dengan perbaikan ringan, memerlukan perkuatan selektif, penebalan elemen, pembatasan beban, atau kombinasi strategi jangka pendek dan jangka panjang.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

📱 Konsultasi Audit Struktur

Resiko Penggunaan Software Analisis Dan Desain Struktur Bajakan

Resiko Penggunaan Software Analisis Dan Desain Struktur Bajakan

Menggunakan software analisis dan desain rekayasa struktur yang tidak resmi alias bajakan dapat menimbulkan dampak yang cukup serius. Tidak hanya berpotensi mendapatkan tuntutan hukum dari pihak pembuat atau yang memiliki hak karya cipta tersebut namun memiliki implikasi yang cukup serius terhadap substansi hasil analisa yang telah dilakukan.
Resiko Penggunaan Software Analisis Dan Desain Struktur Bajakan

Salah Perhitungan: Risiko Teknis Paling Fatal

Salah satu resikonya, dan ini menurut kami berakibat sangat fatal, adalah adanya Salah Perhitungan!.

Hal ini dapat berakibat output hitungan software yang Tidak Akurat.
Ini sangat berbahaya:
Jika analisis mengarah ke under design, struktur berisiko tidak mampu menahan beban rencana. Sebaliknya, jika overdesign, biaya konstruksi membengkak tanpa alasan teknis yang sah. Keduanya merugikan pemilik proyek.

Menurut pernyataan resmi beberapa supplier software engineering, software bajakan memberikan hasil kalkulasi yang berbeda dengan software original. Perbedaan ini tidak kecil dan bukan masalah presisi—ini adalah masalah akurasi fundamental yang sangat berbahaya jika kesalahan dilanjutkan ke tahap konstruksi.

Dampak di Tahap Konstruksi

Ketika hasil analisis yang salah masuk ke tahap konstruksi, dampaknya berlipat ganda. Kontraktor akan mengikuti gambar dan spesifikasi yang sudah salah sejak awalnya. Koreksi di tahap ini menjadi sangat mahal, memerlukan redesign, dan sering kali menyebabkan delay konstruksi yang signifikan.

Lebih parah lagi, jika kesalahan tidak terdeteksi sampai struktur sudah selesai, risiko structural failure akan menjadi ancaman jangka panjang terhadap keselamatan pengguna bangunan.

Keputusan Penting: Verifikasi Lisensi Software Konsultan

Untuk pengguna jasa desain dan analisis struktur, pastikan terlebih dulu apakah konsultan engineering yang akan digunakan menggunakan perangkat lunak yang telah memiliki lisensi resmi dari pembuat dan pemegang hak karya cipta. Pertanyaan ini adalah pertanyaan kritis sebelum Anda menandatangani kontrak.

Jangan ragu untuk meminta bukti lisensi atau sertifikat dari konsultan. Software original biasanya dilengkapi dengan dokumentasi lisensi yang jelas, sementara software bajakan tidak memiliki ini dan hanya akan memberikan jaminan kosong.

Software Licensed untuk Akuntabilitas Output

PT Hesa Laras Cemerlang menggunakan software yang berlisensi resmi untuk semua pekerjaan analisis dan desain struktur:

  • SAP2000 dan MIDASGEN untuk analisis dan desain superstruktur (struktur atas)
  • MIDAS SOILWORK untuk analisis dan desain substruktur (fondasi dan struktur bawah)

Penggunaan software berlisensi ini memastikan bahwa setiap output analisis yang kami hasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan legal. Hasilnya adalah struktur yang aman, akurat sesuai standar, dan tidak akan menimbulkan masalah di tahap konstruksi atau setelah selesai.

Analisis dan Desain Struktur dengan Software Berlisensi Resmi

Jika Anda akan memerlukann perancangan atau analisis struktur untuk proyek bangunan atau infrastruktur, pastikan hasilnya didasarkan pada software yang terjamin akurasi dan legalitasnya.

PT Hesa Laras Cemerlang menggunakan perangkat lunak berlisensi resmi (SAP2000, MIDASGEN, MIDAS SOILWORK) untuk memastikan setiap output analisis dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan memberikan hasil yang aman serta sesuai dengan standar yang berlaku.

Dengan pendekatan ini, Anda tidak hanya menghindari risiko hukum, tetapi juga memastikan struktur yang dibangun memiliki integritas teknis yang solid dan umur panjang.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

  • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
  • ☎️ Telepon: (021) 8404531
  • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

📱 Konsultasi Analisis & Desain Struktur

Pengujian Welding Pada Bahan Carbon Steel

Pengujian Welding Pada Bahan Carbon Steel

PENGUJIAN WELDING PADA BAHAN CARBON STEEL

Untuk memastikan integritas sambungan las pada struktur baja perlu dilakukan UltrasonicTesting.

Alat yang digunakan pada pengujian ini adalah Ultrasonic Flaw Detector NOVOTEST UD2301 (Mini) dengan metode flaw detector menggunakan Probe 60⁰ pada frekuensi 2 Mhz.

Perkiraan posisi indikasi pada welding dapat diperoleh dengan mencari pantulan dari gelombang ultrasonik dari probe yang terjadi diantara leg, kemudian probe digeserkan kearah sumbu y untuk menentukan panjang dari indikasi tersebut. Pantulan gelombang ultrasonik diantara leg tersebut dapat terlihat pada layar instrumen Ultrasonik Testing dimana juga menampilkan nilai Sound Path (Sp) yang digunakan untuk mencari kedalaman dari indikasi. Untuk menentukan kedalaman dari indikasi, dibutuhkan beberapa data diantaranya tebal benda uji, nilai Sound Path maksimal pada 1 leg, nilai Sound Path indikasi (Sp) dan juga probe sudut yang digunakan.

Untuk menghitung panjang nilai Sound Path Maksimal pada 1 Leg dengan probe sudut 60⁰ dan kedalaman tertentu digunakan perumusan:

Leg =sin30° x thickness

Pengujian kali ini dilakukan diantara Leg 1 dan Leg 2 dikarenakan jarak Leg 1 terlalu dekat welding. Sehingga pengukuran yang digunakan untuk pengecekan kedalaman dihitung menggunakan rumus:

d=(Leg-(Sp-Leg)) x Sin (30°)

Untuk kebutuhan Pengujian bangunan, tower, dermaga, jalan, anda bisa menghubungi kami melalui:

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531
Whatsapp Bussines : 0813 828 271 82 or click this Link : Whatsapp

Atau tinggalkan pesan dibawah ini:

Tinggalkan Pesan

    Tingkat Kerusakan Dan Keamanan Bangunan Pasca Gempa

    Tingkat Kerusakan Dan Keamanan Bangunan Pasca Gempa

    Klasifikasi Kerusakan Pasca Gempa

    Setelah melakukan pemeriksaan visual awal struktur pasca gempa, Anda perlu memahami: apa arti dari temuan yang ditemukan? Halaman ini menjelaskan 4 klasifikasi tingkat kerusakan bangunan (Parah, Sedang, Ringan, Sangat Ringan) sebagai framework untuk menginterpretasi hasil pemeriksaan. Jika belum melakukan pemeriksaan struktur, baca terlebih dahulu panduan pemeriksaan awal gedung pasca gempa untuk prosedur step-by-step.

    Gempa Bumi adalah salah satu gejala alam yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi dan berapa besar gempa tersebut, pada umumnya gempa terjadi pada pertemuan dua buah lempeng tetapi lokasi yang tepat sulit diprediksi.
    Gempa tidak dapat dicegah dan dapat menyebabkan dampak bagi manusia seperti kematian, kerusakan pada bangunan rumah tinggal, fasilitas umum, dll.

    Pengalaman dari gempa besar yang terjadi di Indonesia, Nangroe Aceh Darussalam  (2004), Daerah Istimewa Yogyakarta (2006), Lombok (2018) dan Palu (2018), di mana gempa besar yang terjadi diikuti gempa-gempa susulan, dan beberapa kejadian keruntuhan terjadi pada gempa susulan.

    Ketika gempa terjadi, struktur mengalami perpindahan (drift) dan sambungan balok-kolom mungkin berperilaku plastis. Pemahaman tentang mekanisme ini penting untuk memahami 4 level klasifikasi di bawah ini. Untuk prosedur pemeriksaan visual yang mendeteksi kondisi ini, baca panduan pemeriksaan awal.

    TINGKAT-KERUSAKAN-DAN-KEAMANAN-BANGUNAN-PASCA-GEMPA-2.

    Gambar 6 Ilustrasi struktur masih dalam kondisi elastis dan tidak terjadi drift permanen pasca gempa

    Gambar 7 Ilustrasi terbentuknya sendi plastis dan terjadi drift permanen pada struktur pasca gempa

    4 Jenis Klasifikasi Kerusakan

    Tingkat Kerusakan Dan Keamanan Bangunan Pasca Gempa dapat diklasifikasikan secara general sebagai berikut:

    1. Parah
    Struktur mengalami drift (pergeseran/ lendutan lateral) permanen yang besar, kekakuan dan kekuatan struktur tinggal sedikit yang tersisa. Terlihat retakan-retakan besar pada struktur, terutama pada posisi dekat sambungan kolom dan balok. System dan komponen non struktural seperti dinding pengisi, parapet, partisi, mekanikal dan elkektrikal mengalami kerusakan hampir menyeluruh. Walaupun kolom dan struktur masih berdiri dan belum runtuh, adanya gempa susulan sangat mungkin menyebabkan terjadinya keruntuhan. Pada kondisi ini bangunan tidak dapat dipergunakan lagi, sebaiknya segera diruntuhkan.

    2. Sedang
    Struktur masih memiliki kekuatan dan kekakuan yang tersisa di semua lantainya walaupun terjadi beberapa drift permanen (pergeseran/ lendutan lateral), ditemukan retak-retak struktur pada elemen pelat, balok, kolom dan dinding geser, namun masih mampu berfungsi sebagai elemen penahan gravitasi. Terjadi kerusakan yang banyak pada system dan komponen non struktural seperti dinding pengisi, parapet, partisi, mekanikal dan elektrikal namun tidak menimbulkan potensi bahaya runtuhan. Adanya gempa susulan dengan skala lebih kecil masih berpotensi menaikkan level kerusakan dan kemananan. Bangunan dapat diperbaiki secara teknis dan dapat ditempati kembali setelah selesai perbaikan namun mungkin secara ekonomis menjadi tidak layak.

    3. Ringan
    Tidak terjadi drift (pergeseran/ lendutan lateral) permanen. Tidak terjadi perlemahan kekuatan dan kekakuan struktur secara substansial. Terjadi retak-retak kecil pada elemen struktural dan juga elemen non struktural seperti fasad, partisi, dan langit-langit. Elevator dan fire protection (jika ada) masih berfungsi. Kerusakan yang ada sifatnya minor dan perbaikannya dapat dilakukan tanpa mengganggu pemakai bangunan. Bangunan pada level ini hampir langsung dapat dipakai setelah kejadian gempa.

    4. Sangat Ringan
    Tidak terjadi drift permanen (pergeseran/ lendutan lateral). Tidak terjadi perlemahan kekuatan dan kekakuan struktur yang ditandai dengan tidak ditemukannya retak struktur. Terjadi retak-retak kecil pada elemen non struktural seperti fasad, partisi, dan langit-langit. Semua sistem untuk operasionalisasi bangunan masih berfungsi normal. Bangunan tetap dapat beroperasi langsung setelah gempa terjadi, karena elemen struktur utama tidak mengalami kerusakan sama sekali dan elemen non-struktur hanya mengalami kerusakan sangat kecil sehingga tidak menjadi masalah.
    Ilustrasi gambar di bawah menggambarkan komponen struktur (yang di garis bawah merah) dan non struktur.

    Ilustrasi gambar struktur dan non struktur

    Intinya, elemen struktur (kolom, balok, sambungan) adalah prioritas utama. Jika tidak ada kerusakan pada elemen-elemen ini, bangunan masih dalam level aman—walaupun banyak kerusakan non-struktur. Untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan prosedur yang terstruktur dan detail, ikuti panduan lengkap pemeriksaan awal gedung pasca gempa.

    Ditulis oleh: Dri.Ir. Heri Khoeri, MT

    Konsultasi Evaluasi Struktur Bangunan Pasca Gempa

    Setelah tingkat kerusakan bangunan diketahui, langkah teknis berikutnya adalah memastikan
    apakah struktur existing masih memiliki kapasitas yang memadai
    untuk digunakan kembali dan aman terhadap gempa susulan.

    Evaluasi dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan pasca gempa
    dengan analisis dan desain struktur awal, sehingga keputusan yang diambil
    berbasis kondisi aktual, bukan asumsi visual semata.

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
    • ☎️ Telepon: (021) 8404531
    • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

    📱 Konsultasi Evaluasi Struktur

    Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN Cakung

    Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN Cakung

    Pekerjaan : Pengujian Struktur Bangunan
    Lokasi : Gudang Blok D.05, D11 Dan D.13 PT. Kawasan Berikat Nusantara, Cakung, Jakarta Utara
    Waktu : Oktober 2018
    Jenis Pengujian :

    Coredrill

    Core Drill Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN Cakung1

    UPV Test

    UPVTest Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN

    Covermeter Test

    Covermeter Test Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN (2)

    Brinell Test

    Brinell Test Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN (1)

    Uji Karbonasi

    Uji Karbonasi Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN

    Halfcell Test

    Halfcell Test Pengujian Struktur Bangunan Gudang KBN (2)

    Informasi tentang Pengujian Struktur Gedung silahkan menghubungi kami melalui:

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
    Email: kontak@hesa.co.id
    Telp: (021) 8404531
    Whatsapp Bussines : 0813 828 271 82 or click this Link : Whatsapp

    Atau tinggalkan pesan dibawah ini:

    Tinggalkan Pesan

      Pemeriksaaan Ketegakan Bangunan | Controlling Verticality

      Pemeriksaaan Ketegakan Bangunan | Controlling Verticality

      Controlling Verticality: Verifikasi Presisi Ketegakan Struktur Bangunan Anda

      Apakah bangunan Anda masih memenuhi standar ketegakan yang aman?

      Controlling Verticality adalah jasa pengukuran presisi tinggi untuk mengevaluasi tingkat ketegakan (verticality) struktur menggunakan Electronic Total Station (ETS) terkalibrasi. Hasil pengukuran menentukan apakah bangunan masih laik digunakan atau memerlukan tindakan teknis selanjutnya sesuai standar yang berlaku.

      Konsultasi Presisi Gratis


      Mengapa Controlling Verticality Penting untuk Bangunan Anda?

      Ketegakan struktur adalah indikator fundamental keamanan bangunan. Tanpa verifikasi presisi, Anda tidak bisa memastikan beberapa hal kritis berikut:

      • ❌ Apakah kolom dan dinding masih LURUS sesuai standar?
      • ❌ Apakah bangunan mengalami PENURUNAN DIFERENSIAL (settlement tidak merata)?
      • ❌ Apakah GEMPA atau kejadian lain menyebabkan PERUBAHAN STRUKTURAL?
      • ❌ Apakah bangunan masih LAYAK OPERASIONAL atau perlu penguatan?
      • ❌ Apakah aset properti Anda AMAN untuk penghuni/investor?

      Riset menunjukkan bahwa deviasi ketegakan yang tidak terdeteksi menjadi penyebab kerusakan progresif pada struktur dan sistem bangunan lainnya (MEP, finishing, dan elemen lainnya).


      Solusi: Controlling Verticality dengan Teknologi Precision Engineering

      PT Hesa Laras Cemerlang menawarkan jasa Controlling Verticality dengan metodologi profesional dan peralatan presisi tinggi untuk memberikan confidence bahwa bangunan Anda memenuhi standar keamanan yang berlaku.

      ✓ Pengukuran Presisi Tinggi

      Electronic Total Station (ETS) Nikon Nivo 5C dengan akurasi ±1-2mm mengukur ketegakan kolom, dinding, dan balok dari titik terbawah hingga teratas dengan presisi tinggi untuk hasil yang reliable.

      ✓ Standar Compliance Verification

      Semua pengukuran diverifikasi terhadap SNI 03-1729-2002 untuk memastikan bangunan memenuhi toleransi kemiringan yang diizinkan otoritas lokal dan standar yang berlaku.

      ✓ Rekomendasi Teknis Actionable

      Laporan komprehensif mencakup nilai ketegakan aktual, perbandingan dengan standar, identifikasi area bermasalah, dan rekomendasi tindakan selanjutnya yang jelas dan dapat langsung diimplementasikan.

      ✓ Dokumentasi Profesional

      Hasil pengukuran lengkap dengan visualisasi 3D, koordinat presisi, dan foto lokasi untuk keperluan regulatory, insurance claim, atau transaksi properti dengan kredibilitas tinggi.


      Proses Controlling Verticality: 4 Tahap Sederhana

      Tahap 1: Survey & Assessment

      Tim kami melakukan site visit untuk mengidentifikasi area yang perlu diukur dan membuat scope pengukuran sesuai kebutuhan Anda (basement, struktur utama, lantai tertentu, atau seluruh bangunan).

      Tahap 2: Pengukuran Presisi Lapangan

      Menggunakan ETS, kami mengukur koordinat 3D pada sudut-sudut struktur (kolom, dinding, balok) dari berbagai arah untuk akurasi maksimal. Proses non-destructive—tidak ada pembongkaran atau perusakan struktur yang akan mengganggu operasional bangunan Anda.

      Tahap 3: Analisis & Verifikasi Standar

      Data pengukuran dianalisis untuk menghitung nilai ketegakan aktual setiap struktur, kemudian diverifikasi terhadap batas toleransi SNI yang berlaku untuk memastikan compliance dengan regulasi.

      Tahap 4: Laporan & Rekomendasi

      Laporan profesional lengkap dengan temuan, status compliance (aman/perlu tindakan), dan rekomendasi teknis untuk memastikan bangunan tetap layak digunakan dan aman bagi penghuni.

      Timeline: Dari survey hingga laporan final dalam 7-14 hari kerja.


      Kapan Anda Membutuhkan Controlling Verticality?

      ✓ Sebelum Handover Proyek Baru

      Quality assurance untuk memastikan struktur baru memenuhi presisi desain yang telah ditetapkan.

      ✓ Setelah Kejadian Gempa atau Bencana Alam

      Evaluasi cepat untuk menentukan apakah bangunan masih aman digunakan atau memerlukan pemeriksaan lanjutan.

      ✓ Pembangunan Terkait: Renovasi, Ekspansi, Penambahan Lantai

      Verifikasi kondisi struktur existing sebelum modifikasi besar dilakukan untuk memastikan kesiapan struktur.

      ✓ Audit Berkala: Bangunan Usia 10+ Tahun

      Monitoring preventif untuk mendeteksi perubahan struktural sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah serius.

      ✓ Keperluan Regulatory/Transaksional

      Dokumentasi untuk keperluan insurance claim, financing, merger/akuisisi, atau due diligence investor.

      ✓ Investigasi: Kerusakan Dinding, Pintu/Jendela Macet, Lantai Tidak Rata

      Identifikasi root cause apakah disebabkan ketegakan struktur atau faktor lain untuk keputusan perbaikan yang tepat.


      Mengapa Memilih PT Hesa Laras Cemerlang?

      ✓ 19+ Tahun Pengalaman

      Ribuan pengukuran pada beragam tipe struktur: gedung perkantoran, apartemen, pabrik, jembatan, infrastruktur khusus, dan bangunan heritage dengan track record proven.

      ✓ Equipment Berkalibrasi & Berlisensi

      Electronic Total Station Nikon Nivo 5C dengan sertifikat kalibrasi terkini, bukan equipment second-hand atau abal-abal yang hasil ukurnya tidak dapat dipercaya.

      ✓ Engineer Bersertifikat

      Tim kami adalah engineer geodesi dan surveyor profesional dengan track record di berbagai industri (BUMN, kementerian pemerintah, korporasi multinasional, dan lembaga swasta).

      ✓ Laporan Profesional & Defensible

      Output kami diterima oleh asuransi, lembaga regulasi, dan investor sebagai dokumentasi kredibel dan legal admissible untuk berbagai keperluan formal.

      ✓ Turnaround Cepat

      Dari survey hingga laporan final dalam 3-5 hari kerja, lebih cepat dari kompetitor yang biasanya membutuhkan 2-3 minggu.

      ✓ Cost-Effective

      Investasi pengukuran jauh lebih murah dibanding biaya perbaikan struktur yang keliru diagnosis atau kerusakan progresif yang tidak terdeteksi sejak dini.


      Berapa Biaya Controlling Verticality?

      Harga bervariasi tergantung:

      • Ukuran bangunan (lantai, luas total)
      • Jumlah titik pengukuran
      • Kompleksitas akses struktur
      • Scope laporan detail (basic vs comprehensive)

      Untuk informasi harga akurat sesuai kebutuhan spesifik proyek Anda, hubungi kami untuk konsultasi gratis (tanpa biaya).

      Langkah Berikutnya: 5 Steps ke Pengukuran

      1. Hubungi Kami untuk initial consultation (gratis, tanpa komitmen)
      2. Site Survey untuk scope assessment dan budget preliminary
      3. Quotation Proposal dengan timeline jelas dan harga final
      4. Booking & Pengukuran dijadwalkan sesuai ketersediaan Anda
      5. Laporan Final diterima dalam 3-5 hari kerja setelah pengukuran

      Pertanyaan Umum Tentang Controlling Verticality

      P: Berapa lama proses pengukuran?

      J: Untuk bangunan gedung tipikal, pengukuran lapangan membutuhkan 1-2 hari kerja. Laporan final diserahkan dalam 3-5 hari kerja setelahnya.

      P: Apakah akan mengganggu operasional bangunan?

      J: Tidak. Pengukuran non-destructive, cukup membutuhkan akses ke struktur kolom/dinding. Dapat dijadwalkan di luar jam kerja atau akhir pekan jika diperlukan.

      P: Apakah hasil pengukuran bisa digunakan untuk insurance/financing?

      J: Ya. Laporan kami professionally certified dan diterima oleh asuransi, bank, dan lembaga regulasi sebagai dokumentasi kredibel untuk berbagai keperluan formal.

      P: Apa garansi akurasi pengukuran?

      J: ETS kami berkalibrasi dengan akurasi ±1-2mm pada jarak 50 meter. Semua pengukuran dilakukan minimal 2x untuk validasi dan memastikan konsistensi data.

      P: Bagaimana jika hasil pengukuran menunjukkan ketegakan di luar toleransi?

      J: Kami memberikan rekomendasi teknis spesifik untuk tindakan selanjutnya (reinforcement, further investigation, monitoring berkala) dan dapat mereferensikan partner structural engineer untuk perbaikan jika diperlukan.


      Jangan Biarkan Ketidakpastian Struktur Bangunan Anda

      Verifikasi ketegakan bangunan Anda HARI INI dengan Controlling Verticality dari PT Hesa Laras Cemerlang. Dapatkan confidence bahwa aset properti Anda aman dan compliant dengan standar industri yang berlaku.

      ✓ KONSULTASI GRATIS SEKARANG


      PT Hesa Laras Cemerlang
      Eksperten Struktur & Investigasi Bangunan Sejak 2005

      📍 Jakarta | 📞 (021) 8404531 | 📱 0812 9144 2210
      💬 WhatsApp: Chat Sekarang
      📧 kontak@hesa.co.id

      Parallel Seismic Test

      Parallel Seismic Test

      Parallel Seismic Test (PST) untuk Verifikasi Kedalaman dan Integritas Pondasi Tiang

      Parallel Seismic Test (PST) digunakan ketika terdapat ketidakpastian kritis terkait kedalaman aktual dan kontinuitas struktural pondasi tiang. Pengujian ini biasanya dilakukan pada kondisi di mana data as-built tidak tersedia, diragukan keakuratannya, atau ketika hasil evaluasi struktur menunjukkan potensi risiko kegagalan yang tidak dapat dijelaskan hanya dari dokumen desain.

      Keputusan untuk melakukan PST umumnya muncul pada fase evaluasi lanjutan: apakah panjang tiang yang terpasang benar-benar mencapai lapisan tanah yang direncanakan, dan apakah sepanjang badan tiang terdapat diskontinuitas yang berpotensi mempengaruhi kapasitas dukung maupun perilaku struktur di atasnya.

      Kapan Parallel Seismic Test Menjadi Relevan

      PST menjadi relevan ketika keputusan teknis tidak lagi dapat ditopang oleh data perencanaan semata. Kondisi ini sering terjadi pada bangunan existing, struktur lama, atau proyek yang mengalami perubahan fungsi dan peningkatan beban.

      Tanpa verifikasi panjang dan kondisi tiang, risiko yang muncul bukan hanya kesalahan desain lanjutan, tetapi juga kegagalan dalam mengidentifikasi batas aman operasional struktur. Pada tahap ini, PST berfungsi sebagai alat untuk mengurangi ketidakpastian sebelum keputusan yang berdampak besar diambil.

      Prinsip Pelaksanaan Parallel Seismic Test

      Pengujian dilakukan melalui pemasangan pipa akses berisi air yang ditempatkan sedekat mungkin dan sejajar dengan tiang pondasi yang dievaluasi. Pipa ini harus menembus lapisan tanah hingga kedalaman yang melampaui estimasi panjang tiang, umumnya lebih dari 8–10 meter.

      Ketepatan posisi dan kedalaman pipa akses menjadi faktor krusial. Kesalahan kecil dalam pemasangan dapat menyebabkan interpretasi kedalaman yang keliru, yang pada akhirnya menghasilkan keputusan teknis yang salah.

      Instrumen akuisisi data yang digunakan dalam pengujian PST adalah adalah PSI model 2.0, yaitu sistem seismik yang dirancang untuk merekam respons gelombang dari sumber impuls di kepala tiang.

      Data waktu tempuh gelombang inilah yang kemudian menjadi dasar penentuan perubahan karakteristik material sepanjang kedalaman, yang mengindikasikan ujung tiang maupun potensi anomali.
      PSI model 2.0


      Video Proses Parallel Seismic Test oleh Hesa di salah satu lokasi Proyek

      Output Parallel Seismic Test dan Implikasi Keputusan

      Output utama PST berupa profil waktu tempuh gelombang terhadap kedalaman. Dari profil ini, insinyur dapat mengidentifikasi perubahan signifikan yang menandai ujung tiang atau zona dengan karakteristik material yang berbeda.

      Interpretasi yang keliru pada tahap ini berisiko menghasilkan kesimpulan panjang tiang yang salah, sehingga keputusan lanjutan seperti penambahan tiang, perkuatan struktur atas, atau pembatasan beban menjadi tidak akurat.

      Karena itu, hasil PST tidak berdiri sendiri. Data harus dievaluasi secara kritis dan dikaitkan dengan konteks struktur, kondisi tanah, serta tujuan pengambilan keputusan. Tanpa pendekatan ini, pengujian hanya menjadi data teknis tanpa nilai mitigasi risiko yang nyata.
      Output Parallel Seismic Test

      Review Analisis dan Desain Struktur Existing

      Jika hasil evaluasi struktur atau keterbatasan data lapangan menimbulkan keraguan terhadap panjang dan integritas pondasi tiang, langkah selanjutnya bukan asumsi tambahan, melainkan verifikasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

      Review yang tepat membantu menentukan apakah risiko masih berada dalam batas yang dapat diterima, atau sudah memerlukan intervensi desain sebelum keputusan operasional diambil. Tanpa proses ini, keputusan sering diambil dengan tingkat ketidakpastian yang sulit dikendalikan.

      Dengan dasar verifikasi tersebut, keputusan dapat diambil secara terukur—apakah struktur masih dapat dioperasikan dengan pembatasan tertentu, perlu dilakukan evaluasi desain lanjutan, atau harus direncanakan intervensi struktural yang proporsional terhadap tingkat risikonya.

      Uji Integritas Tiang Pondasi

      Untuk kondisi di mana terdapat ketidakpastian terkait panjang, posisi ujung, atau integritas pondasi tiang, PT Hesa Laras Cemerlang menyediakan layanan pengujian tiang berbasis metode non-destruktif.

      Pengujian ini ditujukan untuk memperoleh data lapangan yang dapat digunakan sebagai dasar evaluasi teknis, sehingga keputusan terkait kelayakan struktur, pembatasan operasional, atau kebutuhan intervensi dapat diambil secara terukur.

      Melalui pengujian dan interpretasi data yang terintegrasi dengan konteks struktur existing, Hesa berperan membantu menjembatani ketidakpastian data lapangan menjadi dasar keputusan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan

      PT Hesa Laras Cemerlang

      Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
      Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

      • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
      • ☎️ Telepon: (021) 8404531
      • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

      📱 Konsultasi Uji Integritas Tiang

       

      Whatsapp

      Pengujian Welding Pada Bahan Carbon Steel

      Pengujian Welding Pada Bahan Carbon Steel

      Konteks Keputusan: Kapan Pengujian Welding Diperlukan

      Sambungan las pada struktur baja adalah titik kritis yang menentukan kapasitas elemen dan keselamatan keseluruhan. Korosi, cacat internal (porosity, crack, incomplete fusion), atau degradasi metallurgis dapat mengurangi kekuatan sambungan secara signifikan. Pertanyaan mendasar: apakah sambungan las memenuhi standar kualitas dan aman untuk beban operasional, atau sudah ada cacat yang mengancam integritas struktur?

      Pengujian welding menggunakan metode ultrasonic (Ultrasonic Testing)adalah cara non-destructive untuk mendeteksi dan mengukur cacat internal pada sambungan las tanpa merusak struktur.

      Alat yang digunakan dalam pengujian welding ini adalah Ultrasonic Flaw Detector NOVOTEST UD2301 (Mini) dengan metode flaw detector menggunakan Probe 60⁰ pada frekuensi 2 Mhz.

      PENGUJIAN WELDING PADA BAHAN CARBON STEEL

      Risiko jika pengujian tidak dilakukan atau diabaikan: cacat tersembunyi tidak terdeteksi → struktur mengalami kegagalan pada beban operasional atau ekstrem → ancaman keselamatan jiwa dan kerugian aset signifikan.

      Pengujian ini memberikan data akurat tentang lokasi, ukuran, dan kedalaman cacat, sehingga Anda dapat membuat keputusan: apakah sambungan layak operasi, memerlukan grinding dan re-welding, atau harus ditolak sepenuhnya.

      Metode Pengujian Welding

      Perkiraan posisi indikasi pada welding dapat diperoleh dengan mencari pantulan dari gelombang ultrasonik dari probe yang terjadi diantara leg, kemudian probe digeserkan kearah sumbu y untuk menentukan panjang dari indikasi tersebut.

      Pantulan gelombang ultrasonik diantara leg tersebut dapat terlihat pada layar instrumen Ultrasonik Testing dimana juga menampilkan nilai Sound Path (Sp) yang digunakan untuk mencari kedalaman dari indikasi.

      Untuk menentukan kedalaman dari indikasi, dibutuhkan beberapa data diantaranya tebal benda uji, nilai Sound Path maksimal pada 1 leg, nilai Sound Path indikasi (Sp) dan juga probe sudut yang digunakan.

      Untuk menghitung panjang nilai Sound Path Maksimal pada 1 Leg dengan probe sudut 60⁰ dan kedalaman tertentu digunakan perumusan:

      Leg =sin30° x thickness

      Pengujian kali ini dilakukan diantara Leg 1 dan Leg 2 dikarenakan jarak Leg 1 terlalu dekat welding. Sehingga pengukuran yang digunakan untuk pengecekan kedalaman dihitung menggunakan rumus:

      d=(Leg-(Sp-Leg)) x Sin (30°)

      Sumber: Yusuf Akbar & M. Fakhri Mulhadi, Laporan Ultrasonic Testing HESA, Jomin Barat, Karawang, April, 2018

      Batasan dan Akurasi Pengujian Ultrasonic pada Welding

      Pengujian ultrasonic pada sambungan las efektif untuk mendeteksi cacat volumetrik (porosity, inclusion, crack) tetapi memiliki keterbatasan pada cacat planar (lack of fusion di permukaan, cold lap) yang mungkin tidak selalu terdeteksi dengan jelas tergantung orientasi probe dan geometri cacat.

      Akurasi pengukuran dipengaruhi oleh kondisi permukaan las (roughness, coating), kualitas coupling antara probe dan material, serta pengalaman operator dalam interpretasi sinyal. Margin error tipikal adalah ±10% dari kedalaman terukur, tergantung kondisi material dan setup pengujian. Untuk cacat kritis atau aplikasi struktural sangat sensitif, hasil ultrasonic sebaiknya diverifikasi dengan metode tambahan (visual inspection detail, magnetic particle inspection, atau sample cutting untuk metallurgical analysis).

      Standar referensi untuk interpretasi hasil ultrasonic pada sambungan las: API 1104 (pipeline welding), AWS D1.1 (structural steel welding), atau ISO 11760 (ultrasonic testing of welds). Setiap standar menetapkan acceptance criteria berbeda berdasarkan aplikasi dan tingkat risiko, sehingga interpretasi cacat harus sesuai standar yang berlaku untuk proyek spesifik Anda.

      Kapan Hasil Pengujian Memerlukan Tindakan Lanjutan

      Jika indikasi cacat ditemukan, keputusan tindakan lanjutan bergantung pada ukuran, lokasi, dan standar acceptance. Cacat kecil (porosity terisolasi) di zona non-kritis (jauh dari garis beban utama) mungkin dapat diterima asalkan tidak melebihi batas standar. Cacat besar atau linear (crack indication) mendekati atau melampaui batas standar memerlukan tindakan: grinding dan re-welding, atau penolakan sambungan.

      Dokumentasi hasil pengujian sangat penting: setiap indikasi harus dicatat dengan detail (lokasi dalam koordinat, ukuran perkiraan, depth, dan assessment sesuai standar). Catatan ini menjadi bukti kontrol kualitas dan dasar keputusan penerimaan atau penolakan sambungan. Jika pengujian mengungkapkan potensi masalah sistemik (banyak cacat di multiple sambungan), ini menunjukkan mungkin ada issue dengan teknik welding atau kontrol proses produksi yang perlu diinvestigasi dan diperbaiki sebelum melanjutkan pekerjaan.

      Aplikasi Pengujian Welding pada Struktur Baja Existing

      Untuk struktur baja yang sudah berdiri (gedung bertingkat, jembatan, dermaga, atau pabrik), pengujian welding sering dilakukan saat: penilaian kondisi struktur sebelum perkuatan, inspeksi periodik struktur kritis, investigasi setelah kerusakan terlihat (korosi parah, retak visual), atau verifikasi kualitas sambungan setelah repair welding.

      Pada aplikasi ini, pengujian memberikan baseline data tentang integritas sambungan asli dan membantu Anda tentukan apakah sambungan masih aman untuk operasi berkelanjutan, memerlukan reinforcement lokal, atau sudah mencapai kondisi yang memerlukan penggantian elemen. Keputusan ini sangat mempengaruhi strategi perbaikan, estimasi biaya, dan perencanaan maintenance jangka panjang.

      Penulis : Dr, Ir. Heri Khoeri, MT.

      Evaluasi Integritas Sambungan Las pada Struktur Baja Existing

      Pada struktur baja yang sudah berusia puluhan tahun—gedung bertingkat, jembatan, dermaga, atau pabrik—integritas sambungan las menentukan kapasitas dan keselamatan elemen struktural. Cacat internal yang tidak terdeteksi dapat terakumulasi dengan korosi, kelelahan material, atau beban dinamis, sehingga akhirnya menyebabkan kegagalan sambungan. Pertanyaan mendasar: apakah sambungan las pada struktur Anda masih memenuhi standar kualitas dan aman untuk operasi berkelanjutan, atau sudah ada indikasi cacat yang memerlukan tindakan perbaikan?

      PT Hesa Laras Cemerlang menyediakan pengujian ultrasonic welding menggunakan peralatan presisi tinggi (Ultrasonic Flaw Detector NOVOTEST series) dan metodologi terstruktur sesuai standar industri (API 1104, AWS D1.1, ISO 11760). Pengujian dilakukan dengan interpretasi akurat tentang lokasi, ukuran, dan kedalaman cacat pada sambungan las, diikuti rekomendasi jelas berdasarkan standar acceptance yang relevan.

      Hasil pengujian diarahkan untuk memberikan satu jawaban yang Anda butuhkan: apakah sambungan sambungan las masih dalam kondisi aman untuk operasi berkelanjutan, memerlukan grinding dan re-welding pada lokasi tertentu, atau harus diganti sepenuhnya. Data ini menjadi dasar keputusan perbaikan struktur yang terukur dan efisien biaya.

      PT Hesa Laras Cemerlang

      Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
      Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

      • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
      • ☎️ Telepon: (021) 8404531
      • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

      📱 Konsultasi Pengujian Welding & Integritas Sambungan

      Uji Kuat Tekan Beton Di Laboratorium

      Uji Kuat Tekan Beton Di Laboratorium

      Uji kuat tekan beton adalah upaya mendapatkan nilai estimasi kuat tekan beton pada struktur eksisting, dengan cara melakukan tekanan pada sampel beton dari struktur yang sudah dilaksanakan.

      Sampel yang akan diuji, berbentuk silinder atau kubus, didapatkan dari pengeboran pada beton struktur dengan alat drilling: Concrete Core Drilling Machine. Proses pengeboran untuk pengambilan sampel ini biasa disebut concrete core drill atau umum disebut dengan coring beton.

      Perbedaan Core Drill vs Fresh Cylinder Test

      Sebelum memahami prosedur uji kuat tekan, penting untuk mengetahui perbedaan antara dua metode pengambilan sampel beton yang berbeda:

      AspekCore Drill (Beton Existing)Fresh Cylinder Test (Beton Baru)
      MaterialDari struktur yang sudah berdiriSegar langsung dari mixer/placement
      Waktu SamplingSetelah hardening (minimum 14 hari)Dalam 24 jam setelah cor
      Kondisi PengujianSesuai kondisi site (kering/basah)Standard lab condition
      TujuanVerifikasi struktur existing, assessment integritasQC/QA beton saat produksi
      Standar SNISNI 03-3403-1994SNI 03-6468-2000
      Frequency Testing1x per lokasi/areaMinimal setiap 50 m³

      Dalam panduan ini, kami fokus pada Core Drill Testing untuk struktur eksisting.

      Kapan & Mengapa: Timing Uji Kuat Tekan Beton

      Memahami Strength Development Curve Beton

      Beton tidak langsung mencapai kekuatan penuh setelah cor. Kekuatan beton berkembang secara bertahap melalui proses hidrasi kimia antara semen dan air. Berikut adalah perkembangan kekuatan beton pada umur-umur tertentu:

      • Umur 7 hari: Sekitar 60-70% dari kekuatan 28 hari
      • Umur 14 hari: Sekitar 80-90% dari kekuatan 28 hari
      • Umur 28 hari: Kekuatan referensi standar (100%)
      • Umur 90 hari+: Pengembangan kekuatan jangka panjang (bisa mencapai 120-150% tergantung jenis semen)

      Catatan: Angka-angka di atas merupakan rata-rata; nilai aktual tergantung pada jenis semen, water-cement ratio, curing condition, dan faktor lainnya.

      Mengapa Umur 28 Hari Menjadi Standar Internasional?

      Standar 28 hari dipilih karena pada umur ini, proses hidrasi utama semen sudah mencapai tahap yang konsisten dan stabil. Pada umur 28 hari, sekitar 90-95% dari hidrasi utama sudah selesai, sehingga memberikan hasil yang dapat direproduksi dan dibandingkan antar proyek. Umur ini juga sudah cukup lama untuk mendapatkan kekuatan yang representatif terhadap kekuatan jangka panjang struktur.

      Persyaratan SNI & Best Practice Industri Indonesia

      Menurut SNI 03-3403-1994:

      • Minimum umur beton untuk core drilling adalah 14 hari
      • Alasan: Beton sudah cukup keras untuk core removal tanpa risiko kerusakan sampel atau struktur

      Best Practice Industri Indonesia:

      • Bangunan Baru (Residential/Commercial): Core drilling dilakukan pada umur 21-28 hari untuk memastikan kekuatan sudah mencukupi standar sebelum struktur menerima beban
      • Bangunan Bertingkat Tinggi (High-Rise): Sering dilakukan pada umur 28-35 hari per lantai untuk verifikasi lebih ketat
      • Beton Massa (Mass Concrete/Fondasi): Dapat dilakukan pada umur 14 hari untuk assessment awal, dengan follow-up testing pada 28-90 hari
      • Struktur Existing (Retrofit/Assessment): Dapat dilakukan kapan saja, tapi minimum 14 hari jika beton sudah ada

      Skenario Praktis: Kapan Melakukan Core Drilling?

      Skenario A: Konstruksi Baru (New Building)

      • Timing: 28 hari setelah cor
      • Tujuan: Verifikasi bahwa mutu beton sesuai spesifikasi desain
      • Action jika pass: Lanjut ke tahap berikutnya (finishing, struktur atas)
      • Action jika fail: Lihat section “Interpretasi Hasil” di bawah

      Skenario B: Problematic Areas (Daerah Mencurigakan)

      • Timing: Sesegera mungkin setelah 14 hari (jika beton ada masalah visible: retak, warna aneh, texture jelek)
      • Tujuan: Early warning untuk quick remedial action
      • Note: Hasil pada <14 hari bukan reference standard, hanya untuk assessment awal

      Skenario C: Existing Structure Assessment (Bangunan Lama)

      • Timing: Dapat kapan saja (retrofit, renovation, structural health check)
      • Tujuan: Memverifikasi integritas struktur, durability assessment, atau persiapan upgrade
      • Note: Umur beton tidak lagi menjadi faktor “development”, tapi faktor “aging/deterioration”

      Bagaimana Umur Beton Mempengaruhi Interpretasi Hasil?

      Jika pengujian dilakukan pada umur yang berbeda dari 28 hari standard, hasil harus diinterpretasikan dengan hati-hati:

      • Uji pada 14 hari: Hasil ≈ 85% dari expected 28-day strength. Jika fc’ design adalah 30 MPa, expected result pada 14 hari ≈ 25.5 MPa.
      • Uji pada 7 hari: Hasil ≈ 65% dari expected 28-day strength. Ini hanya untuk early warning, bukan acceptance criteria.
      • Uji pada 90 hari+: Beton sudah mencapai long-term strength. Hasil lebih tinggi dari 28 hari adalah normal (tergantung tipe semen).

      Rekomendasi: Selalu catat umur beton saat testing dan dokumentasikan dalam laporan. Correction factor harus diterapkan jika comparison dengan design mix diperlukan.

      Langkah Pengambilan Sampel Beton Dengan Coring

      sample beton
      Sample beton diberi nomer identitas dan dicatat. Disimpan dalam kotak yang pantas, sehingga aman dan tidak rusak.

      Laboratorium Uji Tekan Beton

      Setelah dilakukan pengambilan sample beton dengan Coredrill langkah selanjutnya adalah membawa sampel beton tersebut ke Laboratorium.

      Sampel beton berbentuk silinder tersebut akan diberikan impresi pengujian kuat tekan, atau biasanya lebih dikenal dengan pengujian “Beton Inti” sesuai dengan SNI 03-3403-1994 Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Inti Pemboran

      Alat uji yang digunakan adalah mesin tekan dengan kapasitas dari 2000 kN sampai dengan 3000 kN.

      mesin uji kuat tekan beton

      Pemberian beban uji harus dilakukan bertahap dengan penambahan beban uji yang konstan berkisar antara 0,2 N/mm² sampai 0,4 N/mm² per detik hingga benda uji hancur.

      sampel uji beton

      Kondisi sampel saat testing sangat mempengaruhi hasil. Oleh karena itu:

      • Jika beton berada dalam kondisi kering selama penggunaan: Benda uji silinder harus diuji dalam kondisi kering (as received).
      • Jika beton berada dalam kondisi sangat basah/terendam: Silinder harus direndam air terlebih dahulu minimal 40 jam sebelum testing, dan diuji dalam kondisi basah (saturated surface dry).

      Catatan: Hasil uji dalam kondisi kering akan lebih tinggi (~10-15%) dibanding kondisi basah. Dokumentasikan kondisi saat testing dalam laporan hasil.

      Ilustrasi Uji Kuat Tekan Beton

      Tahap 1: Persiapan Sampel dan Alat Uji Tekan

      UJI KUAT TEKAN BETON

      Tahap 2: Penempatan Benda Uji ke Mesin Tekan

      UJI KUAT TEKAN BETON

      Tahap 3: Pembebanan Bertahap hingga Sampel Hancur

      Pemberian beban uji harus dilakukan bertahap dengan penambahan beban uji yang konstan berkisar antara 0,2 N/mm² sampai 0,4 N/mm² per detik hingga benda uji hancur.

      UJI KUAT TEKAN BETON

      Tahap 4: Perhitungan Kuat Tekan Sampel

      Kuat tekan beton dengan ketelitian 0.95 MPa dapat dihitung sebagai berikut:

      Rumus kuat tekan

      Sedangkan kuat tekan beton dengan ketelitian sampai dengan 0.5 MPa dapat dihitung dengan:

      Rumus kuat tekan presisi

      Sumber: SNI 03-3403-1994

      Penjelasan Faktor Koreksi

      Co (Faktor Arah Pengambilan): Faktor pengali yang berhubungan dengan arah pengambilan benda uji beton inti pada struktur beton:

      • Horisontal (tegak lurus pada arah tinggi dari struktur beton) = 1.0
      • Vertikal (sejajar dengan arah tinggi dari struktur beton) = 0.92

      C1 (Faktor Rasio L/D): Faktor pengali yang berhubungan dengan rasio panjang setelah diberi lapisan capping (L’) dengan diameter D dari benda uji:

      Tabel faktor C1

      C2 (Faktor Kandungan Tulangan): Faktor pengali karena adanya kandungan tulangan besi dalam benda uji beton inti yang letaknya tegak lurus terhadap sumbu benda uji, dapat dihitung dengan rumus:

      Rumus faktor C2

      Kriteria Kelulusan & Interpretasi Hasil Uji

      Kuat tekan beton pada titik pengambilan contoh dapat dinyatakan tidak membahayakan (acceptable) jika kuat tekan minimum 3 silinder beton yang diambil dari daerah yang sama memenuhi KEDUA persyaratan berikut:

      1. Kuat tekan rata-rata dari 3 silinder ≥ 0.85 × fc’ (dimana fc’ adalah kuat tekan rencana/design)
      2. Kuat tekan individual setiap silinder ≥ 0.75 × fc’ (tidak ada sampel yang terlalu lemah)

      Contoh: Jika fc’ design = 30 MPa:

      • Kriteria 1: Rata-rata dari 3 sampel harus ≥ 25.5 MPa
      • Kriteria 2: Masing-masing sampel harus ≥ 22.5 MPa

      Interpretasi Hasil & Langkah Selanjutnya (Action Plan)

      Skenario A: Hasil Memenuhi Standar (fc’ ≥ 0.85 fc’)

      Status: ✅ ACCEPTED

      • Artinya: Beton di area pengujian memenuhi spesifikasi desain. Kualitas dan integritas struktur terjamin.
      • Action:
        • Dokumentasikan hasil dalam laporan resmi dengan stempel lab
        • Archive laporan untuk compliance dan future reference
        • Struktur boleh menerima beban penuh atau dilanjutkan ke tahap konstruksi berikutnya
      • Follow-up: Jika ada area lain dengan kondisi serupa, testing boleh dihentikan. Jika ada area dengan kondisi berbeda (berbeda umur, berbeda metode coring, berbeda lokasi struktur), perlu additional sampling.

      Skenario B: Hasil Marginal (0.75 fc’ < hasil < 0.85 fc’)

      Status: ⚠️ MARGINAL / REQUIRES INVESTIGATION

      • Artinya: Beton berada di zona abu-abu. Kuat tekan lebih rendah dari standar minimum tapi belum tentu membahayakan struktur.
      • Action Immediate:
        • Option 1 – Retesting: Ambil sampel tambahan (minimal 3 sampel lagi) dari area yang sama atau area sekitar untuk validasi. Jika rata-rata dari 6 sampel masih <0.85 fc’, maka area tersebut FAIL.
        • Option 2 – Structural Assessment: Minta engineer struktural untuk melakukan analisis ulang. Jika beton pada area non-critical atau sudah memberikan margin, mungkin masih acceptable.
        • Option 3 – Local Strengthening: Jika diperlukan, lakukan local reinforcement (concrete repair, epoxy injection, carbon wrapping, dll) pada area tersebut.
      • Documentation: Catat kondisi ini di laporan dan kirimkan ke structural engineer untuk clearance sebelum struktur menerima beban penuh.

      Skenario C: Hasil Rendah (Rata-rata < 0.75 fc’ ATAU ada sampel individual < 0.75 fc’)

      Status: ❌ FAILED / NOT ACCEPTABLE

      • Artinya: Beton di area pengujian tidak memenuhi kualitas minimum. Ada risiko struktural.
      • Action Immediate:
        • Stop Pekerjaan: Jangan lanjutkan beban atau konstruksi di atas area ini sampai ada solusi.
        • Structural Engineering Involvement: Libatkan engineer struktur untuk assessment mendalam:
          • Apakah area ini critical untuk load path?
          • Apakah sudah ada beban struktural?
          • Berapa margin of safety saat ini?
        • Root Cause Analysis: Investigasi mengapa beton jelek:
          • Kesalahan dalam material (semen jelek, agregat bermasalah, water-cement ratio tinggi)?
          • Kesalahan dalam proses (mixing, placement, compaction, curing)?
          • Pengaruh environmental (cuaca, suhu ekstrem)?
      • Remedial Options (per engineer recommendation):
        • **Concrete Repair / Patch:** Buka area, remove beton jelek, ganti dengan beton baru (jika area kecil dan non-critical)
        • **Reinforcement Addition:** Tambah tulangan lokal di area tersebut
        • **Epoxy/Resin Injection:** Untuk crack repair atau meningkatkan bondage
        • **Structural Redesign:** Jika area critical, mungkin perlu redesign sebagian struktur untuk accommodate lower concrete strength
        • **Demolition:** Dalam kasus ekstrem (misalnya fondasi dengan beton sangat jelek), area mungkin harus di-demo dan diulang
      • Cost Implication: Remedial work bisa expensive dan time-consuming. Dokumentasikan semua findings dan escalate ke project owner/developer segera.

      Kapan Perlu Professional Consultation?

      Hubungi structural engineer jika:

      • Hasil testing menunjukkan kuat tekan < 0.85 fc’ (tidak harus immediate panic, tapi perlu assessment)
      • Ada variasi besar antar sampel (misalnya: 28 MPa, 24 MPa, 19 MPa) → indikator QC problem
      • Hasil tidak sesuai dengan fresh cylinder testing pada umur yang sama (mungkin ada durability issue)
      • Area dengan kuat tekan rendah berada di lokasi kritis (kolom, beam support, foundation)

      Pertanyaan Umum (FAQ)

      Q: Berapa biaya uji kuat tekan beton inti (core drill)?

      A: Biaya bervariasi tergantung jumlah sampel, lokasi, dan akses ke struktur. PT HESA menawarkan paket testing dengan harga kompetitif. Hubungi tim kami untuk quotation detail.

      Q: Berapa lama waktu testing dari core drilling sampai hasil laporan?

      A: Proses biasanya memakan waktu 3-7 hari kerja, tergantung:

      • Waktu untuk core drilling di lapangan (1-2 hari)
      • Waktu persiapan sampel di lab (1 hari)
      • Waktu testing di mesin uji tekan (1 hari)
      • Waktu untuk perhitungan dan pembuatan laporan (1-2 hari)

      Untuk urgent cases, PT HESA dapat mempercepat proses (fast-track testing).

      Q: Apa bedanya core drill dengan hammer test (rebound hammer)?

      A: Perbedaan signifikan:

      • Core Drill: Mengambil sampel material nyata, tested dengan mesin tekan presisi. Hasil akurat dan dapat digunakan untuk acceptance/rejection. Destructive (merusak struktur).
      • Hammer Test (Rebound): Non-destructive, hanya mengukur hardness permukaan. Hasil estimasi saja, tidak bisa digunakan untuk acceptance. Lebih murah dan cepat untuk screening.

      Rekomendasi: Gunakan hammer test untuk initial screening luas. Jika ada area mencurigakan, follow-up dengan core drill testing untuk hasil akurat.

      Q: Apakah beton harus berumur berapa hari sebelum bisa di-test?

      A: Minimum 14 hari per SNI 03-3403-1994. Tapi best practice di Indonesia adalah 21-28 hari untuk memastikan beton sudah development strength-nya. Lihat section “Timing Pengujian” di atas untuk detail lengkap.

      Q: Bagaimana jika hasil test kuat tekan beton saya tidak sesuai standar?

      A: Jangan panik! Ada beberapa kemungkinan dan action plan. Lihat section “Interpretasi Hasil & Langkah Selanjutnya” di atas untuk skenario lengkap dan opsi remedial.

      Tentang PT HESA Laras Cemerlang

      PT Hesa Laras Cemerlang memiliki Laboratorium uji kuat tekan beton sendiri yang terakreditasi dan dilengkapi dengan mesin uji tekan modern untuk menguji sampel beton dari proyek yang kami tangani.

      Laboratorium uji beton PT HESA juga melayani uji beton silinder bagi klien eksternal yang membutuhkan jasa testing beton berkualitas tinggi dengan hasil yang cepat dan akurat.

      Layanan Kami:

      • ✓ Core Drilling & Sampling
      • ✓ Uji Kuat Tekan Beton Inti (SNI 03-3403-1994)
      • ✓ Uji Cylinder Beton Segar (SNI 03-6468-2000)
      • ✓ Laporan Testing Resmi dengan Stempel Lab
      • ✓ Konsultasi Teknis & Interpretasi Hasil

      Hubungi Kami:

      PT. HESA LARAS CEMERLANG
      Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
      Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
      Email: kontak@hesa.co.id
      Telp: (021) 8404531
      Whatsapp Business: 0812 9144 2210

      WhatsApp HUBUNGI VIA WHATSAPP


      Referensi Standar

      Standar yang digunakan dalam panduan ini:

      • SNI 03-3403-1994 — Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Inti Pemboran
      • SNI 03-6468-2000 — Cara Pengambilan Contoh dan Pemeriksaan Kuat Tekan Beton
      • ACI 228.1R — In-Place Methods to Estimate Concrete Strength (referensi internasional)

      Disclaimer: Panduan ini bersifat informatif. Untuk project-specific decisions, selalu konsultasikan dengan structural engineer bersertifikat dan ikuti regulasi lokal yang berlaku.

      PT. HESA LARAS CEMERLANG Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1 Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia Email: kontak@hesa.co.id Telp: (021) 8404531 Whatsapp Bussines : 0812 9144 2210
      Ground Penetrating Radar sebagai Basis Data Teknis Assessment Struktur Beton Existing

      Ground Penetrating Radar sebagai Basis Data Teknis Assessment Struktur Beton Existing

      Ground Penetrating Radar (GPR): Pemeriksaan Struktur Beton untuk Keputusan Teknis Tepat

      Struktur beton yang terlihat baik secara visual belum tentu sehat di dalam. Delaminasi, void, korosi tulangan, atau retak internal hanya terdeteksi dengan pemeriksaan mendalam—bukan melalui visual inspection semata.

      Pada bangunan existing, keputusan perbaikan atau penguatan sering diambil berdasarkan pengamatan permukaan atau hasil tes yang terbatas. Padahal, data kondisi aktual struktur—khususnya kondisi internal beton—adalah input kritis untuk keputusan teknis yang informed.

      Visual inspection tidak cukup. Anda butuh teknologi yang bisa “melihat” ke dalam struktur beton untuk memahami kapasitas aktual dan potensi kerusakan tersembunyi.

      Apa Itu Ground Penetrating Radar (GPR)?

      GPR adalah teknologi pemeriksaan non-destruktif yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi kondisi internal beton. Hasilnya: data akurat tentang lokasi tulangan, tebal lapisan beton, kerusakan internal—informasi yang Anda butuhkan untuk keputusan perbaikan yang tepat.

      Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan suatu metode yang secara luas digunakan untuk mendeteksi kondisi dibawah permukaan tanah. Dalam perkembangannya, GPR juga digunakan sebagi salah satu teknik pengujian non-destruktif (tidak merusak) yang cukup potensial diterapkan untuk mengetahui kondisi di dalam suatu struktur beton.

      Metode Pemetaan struktur beton dengan ground penetrating radar

      Metode Pemetaan struktur beton dengan Ground Penetrating Radar

      Dengan semakin banyak diciptakan serta dirpoduksinya alat-alat berbasiskan teknologi GPR yang user friendly menjadikan pengujian beton dengan metode pemetaan struktur beton via GPR ini semakin mudah dan cepat.

      Dengan GPR, Anda dapat mendeteksi:

      • Delaminasi dan void dalam beton
      • Posisi dan kondisi tulangan
      • Tebal lapisan beton dan overlay
      • Kerusakan tersembunyi seperti honeycomb atau korosi

      Data ini menjadi basis untuk keputusan: apakah struktur masih aman, memerlukan perbaikan terbatas, atau perlu penguatan signifikan.

      Kapan GPR Diperlukan? (Decision Context)

      Struktur beton memiliki umur layanan tertentu. Seiring waktu, kerusakan internal mungkin terjadi tanpa terlihat dari permukaan. Pada bangunan yang akan diperpanjang umur layanan, akan diperkuat, atau menunjukkan indikasi kerusakan awal, pemeriksaan internal dengan GPR memberikan data kondisi aktual struktur. Data ini mengubah keputusan dari “spekulatif” menjadi “informed”—berdasarkan fakta teknis, bukan asumsi.

      Skenario praktis kapan GPR adalah solusi yang tepat:

      • Struktur usia lanjut: Bangunan yang sudah beroperasi 10+ tahun tanpa data detail kondisi internal—butuh baseline kondisi aktual sebelum keputusan perbaikan diambil
      • Indikasi kerusakan visual: Struktur dengan tanda retak, noda, atau discoloration—tapi sebab dan kedalaman kerusakan tidak jelas
      • Perencanaan penguatan/modifikasi: Sebelum diperkuat atau dimodifikasi, butuh data baseline kondisi aktual untuk ensure rekomendasi sesuai dengan realitas lapangan
      • Elemen bawah tanah: Pondasi atau elemen bawah tanah—tidak bisa inspeksi visual langsung, GPR adalah cara efektif untuk assess kondisi internal

      Dasar Teori Teknik GPR

      Cara kerja GPR didasarkan pada prinsip fisika elektromagnetik. Pemahaman singkat tentang mekanisme ini penting untuk interpret hasil pemeriksaan dan memahami kenapa GPR akurat untuk detect berbagai jenis kerusakan beton.

      GPR adalah analog elektromagnetik dari sonic dan metode ultrasonic pulse echo. Hal ini didasarkan pada perambatan energi elektromagnetik melalui material yang memiliki konstanta dielectric yang berbeda.

      Semakin besar perbedaan antara konstanta dielectric pada suatu interface antara dua material, semakin besar pula jumlah energi elektromagnetic yang dipantulkan pada interface.

      Semakin kecil perbedaan semakin kecil pula jumlah yang dipantulkan dan sebaliknya semakin banyak energi yang terus merambat ke material yang kedua. Dalam hal ini perbedaan konstanta dielectric dalam perambatan energi elektromagnetic adalah analog dengan perbedaan impedansi dalam perambatan energi sonic dan ultrasonic.

      Perilaku pancaran microwave pada interface dua material yang berbeda

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/s720x720/12047075_184662315203880_5446938562547826790_n.jpg?oh=b0af66cdefca1dec5113b75b8c22de5d&oe=5A6A96E3

      Dari gambar diatas, perhatikan perilaku pancaran energy elektromagnetik (EM) yang mengenai sebuah interface, atau batas antara dua bahan dengan konstanta dielektric yang berbeda. Sebagian energi dipantulkan  sedangkan sisanya menembus melalui interface ke material yang kedua. Intensitas energi yang dipantulkan, AS, adalah relative terhadap intensitas energi insiden, AI, dengan hubungan berikut:

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/12063748_184662571870521_2260565679383481805_n.jpg?oh=d3b0d932746362f21e2ce2b5109b9eef&oe=5A6C9FE2

      Untuk setiap bahan non-logam, seperti beton atau tanah, impedansi gelombang diberikan oleh:

       

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/12196119_184663141870464_8057167917756780001_n.jpg?oh=f16456f17293df900c8d9175dbccd5f1&oe=5A3C0E85

      Logam adalah reflektor yang sempurna dari gelombang EM, karena impedansi gelombang untuk logam apapun adalah nol. Karena impedansi gelombang udara, η0 adalah:

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/12187656_184663728537072_6499668133635225128_n.jpg?oh=b8c93ba40828dca64d1ff13ff658f72d&oe=5A7AF464

      Dan, jika kita mendefinisikan konstanta relative dielectricεr, dari bahan sebagai:

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/11037254_184664691870309_5706103228322687054_n.jpg?oh=62c0933190d9ff2214d7807158c2c1c8&oe=5A66F78B

      Persamaan diatas menunjukkan bahwa ketika pancaran energi microwave mengenai interface antara dua material, besarnya yang dipantulkan (μ 1,2) ditentukan oleh nilai-nilai konstanta relative dielectric dari kedua material tersebut.

      Jika material 2 memiliki konstanta relative dielctric lebih besar dari material 1, μ1,2 akan memiliki nilai negatif – yaitu, nilai absolut yang menunjukkan kekuatan relatif dari  energi yang dipantulkan, dan tanda negatif menunjukkan bahwa polaritas energi yang dipantulkan adalah kebalikan dari energi insiden.

      Setelah menembus interface dan masuk ke dalam material 2, maka gelombang merambat melalui material 2 dengan kecepatan:

       

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t31.0-8/s720x720/12109789_184666598536785_3635325440014379120_o.jpg?oh=45090b9b10d13daa082b25fa3c95d4fb&oe=5A71F16F

      ketika melewati material 2, terjadi pelemahan energi dengan hambatan, A, sebesar:

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/12189792_184668055203306_5189607199228256810_n.jpg?oh=ee05cb8bdc7a737dc3799f7928f436b6&oe=5A74877B

      dan karena faktor disipasi terkait dengan σ, maka konduktivitas listrik (mho/meter) pada material menjadi:

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/s720x720/12191852_184669341869844_7285019140865182815_n.jpg?oh=615e86e674f49912b8141a1e20e7d6fb&oe=5A827E70

      Ketika energi gelombang mikro yang tersisa mencapai interface lain, besarnya energy yang akan dipantulkan kembali melalui material 2 seperti yang diberikan oleh Persamaan 41. Hasil dari dua waktu transit (t2) dari energi microwave melalui material 2 dapat dinyatakan sebagai:

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/12188980_184668805203231_3667780267451749538_n.jpg?oh=e7fcbd89e06ef5ce5d4e7a94edf148b3&oe=5A779023

      Dari teori ini, penting dipahami: Semakin besar perbedaan konstanta dielectric antara beton dan objek di dalamnya (tulangan, void, air), semakin jelas signal yang terdeteksi GPR. Ini mengapa GPR sangat efektif untuk detect tulangan metal (contrast tinggi) maupun void/delaminasi (contrast air-beton).

      Tipikal Komponen sistem Ground Penetrating Radar

      Sistem GPR terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja terintegrasi untuk transmit gelombang, record refleksi, dan process data menjadi hasil pemeriksaan yang interpretable oleh engineer.

      Komponen Sistem Ground Penetrating Radar
      Komponen Sistem Ground Penetrating Radar

      Aplikasi GPR untuk Assessment  Beton Bertulang

      Berikut adalah contoh penerapan GPR dalam pemeriksaan struktur beton di lapangan. Setiap aplikasi menunjukkan informasi spesifik yang dihasilkan GPR—data yang critical untuk keputusan teknis perbaikan atau penguatan struktur. Hasil GPR bukan hanya dokumen teknis, tapi guidance konkrit untuk langkah konstruksi berikutnya.

      Ground Penetrating Radar
      Ground Penetrating Radar di sebuah Gedung Perkantoran di Jakarta Selatan

       

      Ground Penetrating Radar
      Pemeriksaan Pondasi gedung dengan Ground Penetrating Radar

      Pemeriksaan Pondasi Gedung dengan Ground Penetrating Radar — GPR scan pondasi mengidentifikasi: kedalaman pondasi, kondisi beton, posisi tulangan, potensi kerusakan internal yang tidak terlihat visual. Data ini menentukan apakah pondasi masih adequate untuk perpanjangan beban struktur.

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/11230658_184673641869414_5508629236971400665_n.jpg?oh=4ab22c2b8b5c210484002d2471aa3c7e&oe=5A64FC5D
      Output GPR menunjukkan refleksi dari interface beton-aggregate, area void atau delaminasi (anomali signal), posisi tulangan (signal kuat)

      https://scontent.fdps1-1.fna.fbcdn.net/v/t31.0-8/s720x720/12184248_184673781869400_3642225365125327478_o.jpg?oh=b8e320f62fb7557a2617f8379efdbb52&oe=5A74C93A

      Interpretasi hasil ini adalah basis untuk keputusan: dimensi adequate? Ada kerusakan tersembunyi? Perlu perbaikan?

      Dari Data GPR ke Keputusan Teknis

      Hasil pemeriksaan GPR bukan akhir dari proses assessment—melainkan awal dari keputusan teknis. Data GPR mengungkap kondisi internal struktur. Dari data ini, engineer menjawab pertanyaan kunci: apakah struktur masih adequate untuk operasi normal, apakah perlu perbaikan terbatas atau penguatan signifikan, apakah ada kerusakan yang akan berkembang jika tidak ditangani.

      Framework keputusan berbasis hasil GPR:

      • Hasil Normal: Struktur dapat beroperasi normal, monitoring berkala saja
      • Kerusakan Awal (minor): Perbaikan terbatas, monitoring ketat untuk track perkembangan
      • Kerusakan Moderate: Penguatan selektif pada elemen tertentu yang terbukti degradasi
      • Kerusakan Severe: Penguatan signifikan atau redesign strategis untuk restore kapasitas struktur

      Keputusan ini hanya bisa dibuat jika data GPR akurat dan di-interpret dengan understanding mendalam tentang mekanisme kerusakan beton dan implikasi terhadap kapasitas struktur.

      Pemeriksaan Struktur Beton dengan GPR untuk Keputusan Teknis yang Tepat

      Pada struktur beton existing, kondisi internal hampir selalu menjadi blind spot. Retak, noda, atau perubahan warna hanya menunjukkan gejala permukaan. Mekanisme kerusakan yang menentukan kapasitas—seperti delaminasi, void, atau korosi tulangan—sering terjadi tanpa tanda visual yang jelas. Mengandalkan inspeksi visual untuk menentukan langkah perbaikan berarti mengambil keputusan dengan data yang tidak lengkap.

      GPR digunakan bukan untuk “melihat beton”, tetapi untuk mengurangi ketidakpastian teknis sebelum keputusan diambil. Informasi mengenai posisi tulangan, tebal beton efektif, anomali internal, dan indikasi degradasi memberi konteks nyata terhadap apa yang sebenarnya bekerja di dalam elemen struktur. Tanpa data ini, risiko salah arah keputusan meningkat: perbaikan terlalu ringan untuk masalah struktural, atau penguatan berlebihan yang tidak perlu.

      PT Hesa menempatkan hasil GPR sebagai input keputusan, bukan sebagai laporan berdiri sendiri. Pemeriksaan direncanakan berdasarkan elemen kritis, pola kerusakan yang terindikasi, dan tujuan evaluasi struktur. Data hasil scanning kemudian dibaca terhadap mekanisme kerusakan beton dan implikasinya pada kapasitas elemen—bukan sekadar dicatat sebagai temuan teknis.

      Pendekatan kerja difokuskan pada lima hal: penentuan area kritis yang relevan untuk discan, coverage GPR yang cukup untuk membaca pola internal, interpretasi hasil terhadap mekanisme kerusakan aktual, evaluasi dampaknya terhadap kapasitas struktur, serta penyaringan rekomendasi agar selaras dengan kondisi lapangan dan batasan operasional maupun biaya.

      Kesimpulan pemeriksaan tidak berhenti pada label umum seperti “aman” atau “perlu perbaikan”. Setiap hasil diarahkan untuk menjawab satu pertanyaan utama: apa langkah teknis paling masuk akal untuk kondisi struktur saat ini. Pilihannya bisa berupa operasi normal dengan monitoring, perbaikan lokal, perkuatan selektif, intervensi menyeluruh, atau strategi bertahap antara jangka pendek dan jangka panjang.

      Nilai GPR tidak terletak pada tebalnya laporan, tetapi pada kejelasan arah keputusan. Struktur mana yang benar-benar bermasalah, seberapa mendesak penanganannya, metode apa yang realistis untuk diterapkan, dan bagaimana intervensi dapat dilakukan tanpa mengganggu fungsi bangunan. Itu yang dibutuhkan di lapangan—bukan asumsi, tapi dasar teknis untuk bertindak.

      Referensi:

       [1] IAEA, Guidebook on non-destructive testing of concrete structures, Vienna, 2002

      [2] HESALEMTEK UI, Project Report Assessment Bangunan Cooling Tower PLTP Unit IV Kamojang, 2012 

      [3] GSSI, Ground Penetrating Radar for Concrete Inspection

      [4] A. P. Annan, Sensors & Software Inc., GPR For Infrastructure Imaging, 2003

      ditulis oleh: Dr. Ir. Heri Khoeri, MT

       


      Studi Kasus Penggunaan GPR: Mengurangi Blind Spot Internal Beton dalam Audit Struktur

      Ground Penetrating Radar (GPR) berperan sebagai alat pengurang blind spot internal beton dengan memberikan data subsurface non-destruktif untuk memperkuat keputusan audit struktural, bukan menggantikan full structural assessment.

      Studi Kasus 1 – Gedung 20 Tahun, Evaluasi Perpanjangan Umur Struktur

      Konteks Masalah

      Gedung perkantoran 10 lantai (dibangun ±2004) akan direnovasi dan ditargetkan tetap beroperasi minimal 15 tahun ke depan.
      Pemilik ingin memastikan bahwa keputusan investasi renovasi didasarkan pada kondisi aktual struktur beton, bukan asumsi
      atau gambar as-built yang belum tentu akurat.

      Peran GPR dalam Assessment Struktur Beton

      • Memverifikasi posisi, jarak, dan konfigurasi tulangan pada kolom, balok, dan slab, termasuk selimut beton dan ketebalan aktual elemen, sebagai dasar validasi terhadap gambar rencana.
      • Mengidentifikasi anomali internal seperti indikasi void, delaminasi, atau beton tidak homogen yang tidak terdeteksi melalui inspeksi visual.

      Boundary Teknis & Kondisi Pengujian

      • Frekuensi antena tipikal: 1.0–2.6 GHz (beton struktural).
      • Kedalaman efektif realistis: ±30–60 cm tergantung mutu beton dan tingkat kelembapan.
      • Permukaan relatif kering memberikan kualitas data terbaik; beton sangat jenuh menurunkan resolusi.

      Catatan Engineering Penting

      GPR tidak memberikan nilai kuat tekan atau kapasitas struktur. Data GPR harus dipadukan dengan metode NDT lain (misalnya rebound hammer, UPV/PE, atau core terbatas) serta analisis struktur sesuai prinsip ACI dan SNI beton.

      Outcome Keputusan

      Engineer memperoleh peta kondisi internal dan geometri aktual elemen beton sebagai basis audit struktural yang lebih akurat, sehingga risiko melakukan renovasi di atas struktur yang sudah melemah dapat diminimalkan.


      Studi Kasus 2 – Retak Vertikal pada Elemen Pondasi

      Konteks Masalah

      Gedung residensial 8 lantai menunjukkan retak vertikal sepanjang ±1–2 meter pada elemen pondasi tertentu.
      Pemilik perlu memastikan apakah retak bersifat non-struktural atau indikasi kerusakan internal yang lebih serius.

      Peran GPR sebagai Pengurang Blind Spot

      • Melakukan scanning terfokus di sekitar retak untuk mendeteksi indikasi void, delaminasi, atau diskontinuitas beton di balik retakan.
      • Memetakan posisi tulangan di sekitar zona retak untuk membantu engineer menilai potensi keterlibatan tulangan utama.

      Boundary Teknis

      • Antena 1.5–2.6 GHz untuk resolusi tinggi di zona retak.
      • GPR efektif mendeteksi diskontinuitas besar, bukan micro-crack halus.

      Catatan Engineering

      GPR membantu mengurangi area abu-abu terkait kedalaman dan sebaran kerusakan, namun penentuan penyebab retak (settlement, overstress, atau korosi) tetap memerlukan evaluasi pola retak, data geoteknik, dan metode NDT tambahan sesuai praktik ACI/SNI.

      Outcome Keputusan

      Engineer dapat membedakan kasus yang cukup dengan perbaikan lokal dan monitoring, dibandingkan kasus yang memerlukan penguatan struktural atau investigasi lanjutan.


      Studi Kasus 3 – Jembatan dengan Indikasi Scouring pada Pondasi

      Konteks Masalah

      Jembatan pejalan kaki berusia ±15 tahun menunjukkan penurunan pada salah satu pier, disertai indikasi gerusan tanah di sekitar pondasi.

      Peran GPR

      • Scanning area pondasi yang dapat diakses untuk melihat interface beton–tanah dan indikasi void di bawah atau di sisi pondasi.
      • Mengidentifikasi diskontinuitas internal besar pada beton pondasi di area yang relatif kering.

      Boundary Teknis Penting

      • Penetrasi GPR menurun signifikan pada tanah sangat jenuh atau sangat konduktif.
      • Data GPR biasanya perlu dipadukan dengan metode lain seperti sonar atau boring.

      Outcome Keputusan

      Memberikan gambaran awal kondisi subsurface yang cukup untuk menentukan apakah jembatan perlu ditutup sementara, diperbaiki segera, atau dimasukkan ke program pemeliharaan.


      Studi Kasus 4 – Basement Mall dengan Seepage dan Dugaan Void

      Konteks Masalah

      Mall komersial dengan 3 lantai basement mengalami seepage air dan indikasi suara hollow pada beberapa area lantai.

      Peran GPR

      • Memetakan void dan delaminasi pada slab basement secara area-wide.
      • Scanning dinding basement untuk mendeteksi diskontinuitas internal yang berpotensi menjadi jalur rembesan air.

      Boundary Teknis

      • Lapisan waterproofing dapat mempengaruhi respon radar dan memerlukan interpretasi berpengalaman.
      • Kelembapan tinggi mengurangi kedalaman penetrasi.

      Outcome Keputusan

      Menghasilkan peta area bermasalah sehingga perbaikan dapat difokuskan pada zona yang benar-benar memerlukan intervensi struktural, bukan sekadar perbaikan kosmetik.


      Studi Kasus 5 – Assessment Bangunan Pasca Gempa

      Konteks Masalah

      Gedung perkantoran 12 lantai mengalami gempa M6,2 dengan retak diagonal pada kolom dan joint balok-kolom.

      Peran GPR

      • Screening area kritis untuk mendeteksi void besar atau delaminasi internal yang tidak terlihat di permukaan.
      • Menentukan prioritas lokasi untuk investigasi lanjutan (UPV, core, atau pembukaan lokal).

      Catatan Penting

      GPR tidak dirancang untuk mendeteksi micro-crack seismik yang sangat halus.
      Oleh karena itu, hasil GPR harus diposisikan sebagai alat screening cepat, bukan penentu tunggal kelayakan struktur pasca gempa.


      Studi Kasus 6 – Kolom Beton dengan Honeycomb dan Porositas

      Konteks Masalah

      Beberapa kolom gedung industri mengalami spalling dan terlihat beton sangat porous setelah dibersihkan.

      Peran GPR

      • Memetakan extent honeycomb dan void di dalam kolom.
      • Menilai keterkaitan antara zona cacat dan posisi tulangan.

      Outcome Keputusan

      Data GPR membantu menentukan apakah perbaikan lokal cukup,
      atau diperlukan perkuatan struktural seperti jacketing atau FRP sesuai prinsip ACI.


      Studi Kasus 7 – Pile Cap dengan Indikasi Settlement

      Konteks Masalah

      Bangunan tinggi mengalami differential settlement dengan indikasi retak pada lantai dan dinding.

      Peran GPR

      • Scanning pile cap untuk mendeteksi void, crack internal, dan heterogenitas beton.
      • Menilai kondisi zona interface pile–cap yang dapat dijangkau dari permukaan.

      Catatan Batasan

      GPR tidak menggantikan uji integritas tiang (PIT, CSL).
      Fokus GPR realistis adalah pada pile cap dan area koneksi beton yang dapat diakses.

      Pemeriksaan Struktur Beton dengan GPR

      Pada gedung perkantoran, rumah sakit, pabrik, atau fasilitas energi, kesalahan membaca kondisi internal beton dapat berdampak pada downtime, biaya tak terduga, dan risiko keselamatan. Pemeriksaan GPR membantu memetakan kondisi aktual sebelum keputusan teknis besar diambil.

      Tim PT Hesa Laras Cemerlang berpengalaman menangani assessment struktur untuk berbagai tipe bangunan dan fasilitas, dan dapat membantu Anda menyusun scope GPR yang proporsional dengan tingkat risiko dan kebutuhan proyek.

      PT Hesa Laras Cemerlang

      Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
      Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

      • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
      • ☎️ Telepon: (021) 8404531
      • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

      📡 Konsultasi Pemeriksaan Struktur dengan GPR

      Cara Uji Korosi Tulangan Beton dengan Metode Half-Cell Potential

      Cara Uji Korosi Tulangan Beton dengan Metode Half-Cell Potential

      Half-Cell Potential Test dalam Investigasi Struktur Beton

      Half-cell potential measurement digunakan sebagai screening awal untuk menilai risiko korosi tulangan tanpa merusak struktur beton. Pengujian ini tidak dimaksudkan sebagai penentu kondisi tulangan final, melainkan sebagai alat bantu pemetaan area risiko dalam investigasi struktur.

      Dalam praktik di proyek bangunan Indonesia, half-cell potential umumnya dilakukan untuk mengidentifikasi pola potensial di berbagai lokasi dan mendeteksi zona yang menunjukkan indikasi korosi. Hasil pengukuran dipakai untuk memandu keputusan investigasi lanjutan: apakah perlu coring pada lokasi tertentu, atau pemetaan sudah cukup untuk tahap design.

      Pada pekerjaan evaluasi struktur atau pra-perbaikan bangunan lama, half-cell potential membantu engineer menentukan area yang perlu pemeriksaan lebih detail. Dengan pendekatan ini, investigasi menjadi lebih terarah dan efisien, menghemat biaya dan waktu yang tidak perlu dihabiskan pada area yang tidak memerlukan perhatian khusus.

      Fungsi Half-Cell Dalam Investigasi Struktur

      Half-cell potential measurement memberikan data tentang pola potensial di berbagai titik pada struktur beton. Data ini digunakan untuk mengidentifikasi area mana yang relatif konsisten dan area mana yang menunjukkan indikasi korosi tinggi.

      Hasil pengukuran membantu engineer menjawab pertanyaan awal dalam investigasi: apakah kondisi tulangan seragam di seluruh struktur, atau ada lokasi tertentu yang menunjukkan penyimpangan signifikan. Dari pola ini, engineer dapat memutuskan apakah investigasi lanjutan seperti coring diperlukan, dan jika perlu, lokasi mana saja yang harus di-core untuk mendapatkan data akurat tentang kondisi tulangan internal.

      Half-cell potential juga berguna dalam audit struktur berkala, di mana baseline data tentang risiko korosi perlu didokumentasikan untuk monitoring trend kondisi beton seiring waktu. Data ini menjadi referensi untuk mendeteksi apakah ada perubahan signifikan yang memerlukan tindakan intervensi.

      Half-Cell Potential screening awal kondisi korosi tulangan
      Gambar 1: Alat Half-Cell Potential digunakan untuk screening awal kondisi korosi tulangan di lapangan

      Prinsip Kerja Uji Korosi Pada Tulangan Beton Metode Half-Cell Potential

      Half-cell potential measurement didasarkan pada pengukuran beda potensial (voltage difference) antara tulangan yang berada di dalam beton dengan referensi elektroda standar yang ditempatkan pada permukaan beton. Beton berfungsi sebagai medium elektrolit yang menghubungkan kedua titik potensial tersebut.

      Penggunaan referensi elektroda yang standar—biasanya tembaga/tembaga sulfat atau perak/perak klorida—sangat penting untuk memastikan hasil pengukuran dapat diperbandingkan antar lokasi dan antar waktu. Tanpa standarisasi ini, pola potensial yang dihasilkan tidak akan reliable untuk keputusan investigasi lanjutan. Kemungkinan korosi pada tulangan secara empiris terkait dengan besar beda potensial yang terukur, meskipun hubungan ini bukan deterministic tetapi probabilistik.

      Peralatan

      Peralatan yang digunakan seperti ditunjukkan dalam gambar berikut:

       

      Peralatan half-cell potential terdiri dari voltmeter digital presisi, referensi elektroda standar, dan kabel koneksi
      Gambar 2: Peralatan half-cell potential terdiri dari voltmeter digital presisi, referensi elektroda standar, dan kabel koneksi. Setup yang tepat sangat penting untuk akurasi hasil pengukuran.

      Cara Kerja di Lapangan

      Dalam praktik di lapangan, prosesnya dimulai dengan persiapan: permukaan beton dibersihkan di lokasi pengukuran, referensi elektroda disiapkan dengan solution yang tepat, dan voltmeter dikalibrasi. Setelah setup standar terpenuhi, pengukuran dilakukan dengan menghubungkan voltmeter antara tulangan (yang terkoneksi ke permukaan beton melalui clamp atau connector) dan referensi elektroda yang disentuhkan ke permukaan beton.

      Pembacaan potensial dilakukan di puluhan titik berbeda di seluruh area struktur yang dievaluasi. Setiap titik diukur dan dicatat bersamaan dengan lokasinya yang presisi (koordinat atau referensi fisik). Dari data ini, engineer membuat peta potensial (potential map) yang menunjukkan distribusi nilai potensial di permukaan struktur. Pola pada peta ini adalah yang dianalisis untuk mengidentifikasi area dengan risiko korosi tinggi versus area yang relatif aman.

      Interpretasi Data Half-Cell Potential

      Hasil pengukuran half-cell potential ditampilkan sebagai nilai potensial dalam satuan millivolt (mV). Nilai ini berkaitan dengan kekerasan permukaan beton dan kondisi lingkungan di sekitar tulangan, tetapi bukan indikator langsung dari kondisi tulangan itu sendiri.

      Nilai potensial tinggi (misalnya -600mV) tidak berarti tulangan sudah dalam kondisi kritis. Sebaliknya, nilai potensial rendah juga tidak selalu menunjukkan tulangan masih aman. Pola potensial lebih penting daripada nilai absolut. Kondisi tulangan dipengaruhi oleh banyak faktor lain: ketersediaan oksigen, kelembaban di sekitar tulangan, ketebalan protective oxide layer beton, dan kondisi lingkungan.

      Tabel berikut menunjukkan hubungan beda potensial (mV) dengan tingkat korosi (%)

      Pengukuran Potensial (mV) Probabilitas Korosi Aktif (%) Indikasi Kondisi
      0 hingga -200 0 – 5% Risiko korosi rendah—area relatif aman
      -201 hingga -350 5 – 50% Uncertainty—perlu investigasi lanjutan untuk konfirm
      -351 hingga -500 50 – 95% Risiko korosi tinggi—investigasi dan tindakan diperlukan

      Catatan: Tabel ini menunjukkan korelasi probabilistik, bukan hubungan deterministik. Nilai potensial tinggi tidak otomatis berarti tulangan kritis—interpretasi harus mempertimbangkan visual inspection, umur struktur, lingkungan, dan jika perlu, dikonfirmasi dengan coring.

      Metode dan Tahapan Pengukuran Half-Cell Potential

      Pengukuran half-cell potential mengikuti standar internasional yang telah ditetapkan untuk memastikan konsistensi hasil antar proyek dan antar time period. Metode yang umum digunakan adalah ASTM C876-91 (Test Method for Half-Cell Potentials of Uncoated Reinforcing Steel in Concrete), yang merupakan standar dari American Society for Testing and Materials. Standar ini menetapkan protokol detail tentang setup peralatan, kalibrasi, prosedur pengukuran, dan cara mencatat data untuk memastikan hasil yang reliable dan dapat diperbandingkan.

      Tahapan pengukuran di lapangan meliputi beberapa langkah sistematis untuk memastikan akurasi dan konsistensi data:

       

      Tahapan pengukuran half-cell potential
      Gambar 4: Pengukuran half-cell potential

      Secara singkat, tahapan Pengukuran Halfcell meliputi:

      (1) Persiapan lokasi pengukuran di permukaan beton—pembersihan dan pengeringan sesuai standar,

      (2) Setup peralatan—referensi elektroda disiapkan dengan solution standar dan voltmeter dikalibrasi,

      (3) Koneksi tulangan—koneksi listrik antara tulangan dan voltmeter dibuat dengan kokoh melalui clamp atau connector,

      (4) Pengukuran potensial—potensial dibaca pada setiap titik dan dicatat bersamaan dengan lokasi presisinya,

      (5) Dokumentasi—semua data direkam dalam format terstruktur untuk analisis pola dan mapping. Konsistensi dalam setiap tahapan ini adalah yang memastikan data half-cell dapat dipakai untuk keputusan investigasi lanjutan yang reliable.

      FAQ — Evaluasi Korosi Tulangan dengan Half-Cell Potential

      Kapan half-cell potential test perlu dilakukan?

      Half-cell potential test relevan ketika dibutuhkan gambaran awal distribusi risiko korosi tulangan. Umumnya digunakan sebelum renovasi atau perkuatan untuk menentukan area yang perlu perhatian lebih, saat ada kerusakan visual untuk melihat apakah terdapat indikasi korosi internal, serta dalam audit struktur berkala untuk memantau perubahan pola kondisi dari waktu ke waktu. Pengujian ini juga berguna untuk menyaring lokasi investigasi lanjutan agar tidak dilakukan secara merata tanpa prioritas.

      Apakah half-cell potential test bisa dijadikan satu-satunya dasar desain perkuatan?

      Tidak. Half-cell memiliki batas akurasi dan sangat sensitif terhadap kondisi lapangan. Data yang dihasilkan tidak cukup untuk keputusan design perkuatan atau penilaian kondisi tulangan final. Untuk keputusan teknis yang berdampak langsung pada keselamatan dan biaya, hasil half-cell perlu dikonfirmasi dengan metode lain seperti coring, terutama pada lingkungan dengan eksposur tinggi.

      Seberapa andal hasil half-cell potential test?

      Dalam kondisi pengujian yang terkontrol, half-cell memberikan indikasi dengan tingkat keandalan terbatas. Data hanya merefleksikan kondisi elektrokimia di dekat permukaan dan dipengaruhi banyak faktor lapangan. Karena itu, hasilnya harus diperlakukan sebagai indikasi awal dan selalu dibaca bersama konteks visual inspection, umur bangunan, serta lingkungan struktur.

      Bagaimana half-cell digunakan dalam investigasi struktur yang benar?

      Half-cell ditempatkan sebagai tahap awal. Pengujian dilakukan untuk memetakan pola risiko, bersamaan dengan observasi visual teknis. Dari hasil tersebut, lokasi dengan indikasi menyimpang dipilih untuk investigasi lanjutan seperti coring dan pengujian laboratorium. Pendekatan bertahap ini menjaga efisiensi sekaligus mengurangi risiko salah arah keputusan.

      Berapa jumlah titik pengukuran yang ideal?

      Tidak ada angka baku. Untuk pemetaan umum, jumlah titik disesuaikan agar pola distribusi dapat terbaca dengan jelas. Pada area tertentu yang menjadi fokus, kepadatan titik dapat ditingkatkan. Penentuan jumlah titik sebaiknya mengikuti tujuan investigasi, bukan sekadar mengejar kuantitas data.

      Konsultasi Evaluasi Korosi & Interpretasi Half-Cell Potential

      Jika Anda sedang mengevaluasi potensi korosi tulangan berdasarkan hasil uji Half-Cell Potential,
      atau menimbang apakah data tersebut cukup untuk menjadi dasar keputusan teknis,
      tim kami dapat membantu menafsirkan hasilnya secara kontekstual dan bertanggung jawab.

      Pendampingan dapat mencakup telaah pola pembacaan Half-Cell, korelasinya dengan kondisi struktur,
      serta penilaian apakah diperlukan pengujian lanjutan sebelum menentukan strategi perbaikan
      atau proteksi beton.

      PT Hesa Laras Cemerlang

      Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
      Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

      📱 Diskusikan Evaluasi Korosi Struktur Beton