Pekerjaan uji kedalaman daya dukung dan integritas tiang biasanya dibutuhkan ketika ada case tertentu menyangkut integritas tiang pancang, maka diperlukan pengujian semacam Seismic Shock Test (SST) ini guna dapat memperkirakan kedalaman, daya dukung dan integritas pondasi sehingga hasilnya pemilik (stake holder) dapat melakukan langkah selanjutnya atas tiang pancang tersebut
Pile Test Dengan SST
Modified Shock Test atau Seismic Shock Test menggunakan uji seismic dengan ketukan palu sebagai gaya dan tranducer sebagai pengambil (pembaca) data getaran yang terjadi menggunakan aplikasi digital filtering techniques yaitu suatu metode mekanis yang diakui keakuratannya yang dihubungkan terhadap frekuensi yang dihasilkan.
Cara pengujian SST ini memiliki dua aplikasi utama, yaitu :
Analisis integritas pile yang sudah tertanam, baik bore pile maupun tiang pancang, sekaligus memprediksi perilaku penurunan tiang akibat beban yang bekerja.
Analisis gelombang kejut yang ditimbulkan selama proses pemancangan tiang.
Interpretasi Data
Dengan menggunakan konsep-konsep yang dikembangkan oleh Davis & Dunn, 1974, dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut: Kekakuan tiang berbanding lurus dengan kebalikan kemiringan pada bagian awal (inverse slope of the initial part) dari grafik hubungan mechanical admittance dengan frekuensi.
Contoh grafik seperti pada gambar berikut:
Hal ini proporsional dengan kuat tekan tiang yang diperoleh dalam uji pembebanan (dengan beban mati) pada tiang yang digambarkan dalam grafik displacement (lendutan) dan beban seperti pada gambar di bawah ini:
Namun perlu dicatat bahwa hal ini hanya mengindikasikan kinerja tiang ataupun interaksi tanah dan struktur tiang (soil – pile structure interaction) pada kondisi elastis saja dan bukan mengindikasikan kapasitas ultimate tiang.
Contoh pembacaan seismic trace seperti pada gambar berikut:
Panjang tiang dan integritas tiang dihitung dengan rumus:
Setelah kedalaman tiang dapat dihitung, maka daya dukung tiang dapat diperkirakan dari grafik sebelumnya.
Dokumentasi Seismic Shock Test Modified Shock Test Gedung BII KC Roxy, DKI Jakarta, dok. HESA, 2014):
Baca juga artikel kami lainnya tentang bagaimana melakukan metode dan teknik dalam pengujian kekuatan beton dengan Schmidt Hammer Test : Uji Kekuatan Beton dengan Hammer Test
Dokumentasi Seismic Shock Test/ Modified Shock Test pada jetty/ dermaga di Dermaga P. Sebuku, Kalimantan Selatan, dok. HESA, 2014
Dalam praktik evaluasi bangunan eksisting di Indonesia, concrete hammer test digunakan sebagai metode screening awal untuk menilai kondisi permukaan beton.
Selain penggunaan alat yang relatif mudah, meski pemula sekalipun, juga bentuknya yang portabel serta ringan sehingga praktis untuk ditenteng dan diaplikasikan di berbagai lokasi, dari basement hingga lantai tertinggi, tanpa memerlukan setup kompleks atau persiapan khusus.
Tentang Hammer Test
Pengujian beton dengan palu ini memiliki beberapa nama yang umum dikenal banyak orang. Ada yang menyebutnya sebagai Concrete Hammer Test, Swiss Hammer, Schmidt Hammer atau Rebound Hammers. Yang pasti, ini adalah alat serba guna yang digunakan untuk menilai kualitas beton yang sudah mengeras. Untuk selanjutnya kita akan menggunakan nama Hammer Test sebagai istilah dalam artikel ini.
Karena bentuknya yang portabel dan relatif ringan, sehingga mudah untuk dibawa kemana-mana, menjadi faktor penentu kenapa alat ini begitu populer. Meski begitu, sejarah juga membuktikan bahwa, alat ini telah bertahun-tahun bisa diterima oleh banyak engineer dan ahli struktur, karena kinerja dan hasil pengujiannya bisa diterima dengan baik
Penemu Alat
Sebagai alat uji beton, hammer test telah ditemukan pada tahun 1954 oleh seorang insinyur ilmu sipil dari Swiss bernama Ernst O. Schmidt. Kemudian alat ini secara komersial dikembangkan oleh pendiri perusahaan Proceq, Antonio Brandestini. Dan hingga saat ini, Proceq adalah perusahaan terdepan dalam memproduksi Schmidt Hammer Test serta mengembangkan lebih lanjut teknologinya
Dapat digunakan untuk menilai keseragaman beton di lapangan
Dapat digunakan untuk memperkirakan kekuatan beton
Untuk campuran beton yang diketahui, metode yang digunakan untuk memperoleh permukaan bidang uji (tipe bahan cetakan dan tipe penyelesaian akhir/finishing), dan kedalaman karbonasi.
Pengujian harus dilakukan dengan palu pantul yang sama apabila hendak membandingkan hasil.
Jika digunakan lebih dari satu palu pantul, pengujian dilakukan pada sejumlah permukaan beton tipikal sehingga dapat digunakan untuk menentukan besarnya perbedaan angka pantul..
Metode uji ini tidak dapat digunakan sebagai dasar penerimaan atau penolakan beton karena ketidakpastian yang tersirat dalam perkiraan kekuatan
Prinsip Kerja
Prinsip kerja Concrete Hammer adalah dengan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energy yang besarnya tertentu.
Karena timbul tumbukan antara massa tersebut dengan permukaan beton, massa tersebut akan dipantulkan kembali. Jarak pantulan massa yang terukur memberikan indikasi kekerasan permukaan beton. Kekerasan beton dapat memberikan indikasi kuat tekannya.
Gambar berikut mengilustrasikan prinsip kerja Concrete Hammer atau Schmidt Hammer:
Cara Penggunaan Hammer Test
Alat schmidt hammer dipegang dengan kuat dan tegap.
Posisi palu tegak lurus dengan permukaan media yang akan diuji.
Tekan alat secara perlahan menghadap ke arah permukaan meda uju sampai palu menumbuk hulu palu.
Setelah menumbuk, tahan tekanan dan jika perlu kunci hulu pada posisinya, dengan cara menekan tombol pada bagian sisi.
Lihat angka hasil pengujian yang tertera di alat dan catat.
Lakukan 10 titik bacaan pada setiap daerah pengujian dengan jarak masing–masing titik bacaan tidak boleh lebih kecil dari 25 mm.
Selalu cek permukaan media pengujian, jika benturan palu menghancurkan beton, sebab adanya rongga udara didalamnya maka batalkan. Lakukan pengujian pada titik bacaan yang lainnya.
Yang Harus Diperhatikan dalam Pengujian
Karena alat ini hanya membaca kekerasan beton pada lapisan permukaan (+4 cm), sehingga untuk elemen struktur dengan dimensi yang besar, concrete hammer hanya menjadi indikasi awal bagi mutu dan keragaman mutu.
Sebelum memulai pengujian, permukaan beton yang akan diuji harus dibersihkan dan diratakan dengan batu penggosok karena alat ini peka terhadap variasi yang ada di permukaan beton.
Perhitungan Hammer Test
Hubungan Empirik dari Nilai Hammer Rebound dengan kuat tekan seperti ditunjukkan pada grafik berikut.
Pada grafik diatas terlihat beberapa hubungan korelasi antara Nilai Hammer Rebound, yang tergantung dari arah beban impact ke struktur beton, A, B atau C.
Aplikasi dalam Pengujian Beton
Pengujian Schmidt Hammer dilakukan dengan mempertimbangkan arah impact terhadap permukaan beton, karena orientasi pengujian mempengaruhi nilai rebound yang terbaca. Dalam praktik lapangan, engineer menyesuaikan arah impact dengan posisi elemen struktur yang diuji agar hasil tetap dapat dibandingkan secara teknis.
Beberapa arah impact yang umum digunakan dalam pengujian lapangan antara lain:
Arah A (0°) Pengujian dengan arah horizontal, umumnya diterapkan pada elemen vertikal seperti kolom atau dinding.
Arah A (0°)
Arah B (−90°) Pengujian dengan arah ke bawah, biasanya pada permukaan horizontal seperti pelat lantai atau balok bagian atas.
Arah B (−90°)
Arah C (90°) Pengujian dengan arah ke atas, misalnya pada bagian bawah pelat atau balok, dengan koreksi tertentu dalam interpretasi hasil.
Arah C (90°)
Pemilihan arah impact bukan sekadar teknis alat, tetapi bagian dari standarisasi pengujian agar data yang diperoleh konsisten dan dapat dianalisis secara wajar.
Proses Assessment Hammer Test di Lapangan
Dokumentasi berikut menunjukkan proses assessment kondisi beton menggunakan hammer test pada salah bangunan eksisting, yang ada di Jakarta. Yaitu di Stasiun Duri, Jakarta Barat, Di Pusat Pengolahan Air Bersih di Pulogadung, Jakarta Timur dan sebuah gedung perkantoran di Jalan TB. Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan. Pengujian dilakukan pada beberapa titik representatif untuk mendapatkan gambaran variasi kondisi beton di lokasi yang berbeda.
Dalam proses ini, hammer test tidak berdiri sendiri. Engineer juga melakukan pengamatan visual terhadap kondisi permukaan beton, lingkungan sekitar, serta elemen struktur yang diuji. Data lapangan dikumpulkan sebagai dasar untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan pada area tertentu.
Proses Assessment Hammer Test di Lapangan
Dokumentasi berikut menunjukkan proses assessment kondisi beton menggunakan hammer test pada salah bangunan eksisting, yang ada di Jakarta. Yaitu di Pusat Perbelanjaan di Cililitan, Di Pusat Pengolahan Air Bersih di Pulogadung, Jakarta Timur dan sebuah gedung perkantoran di Jalan TB. Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan. Pengujian dilakukan pada beberapa titik representatif untuk mendapatkan gambaran variasi kondisi beton di lokasi yang berbeda.
Dalam proses ini, hammer test tidak berdiri sendiri. Engineer juga melakukan pengamatan visual terhadap kondisi permukaan beton, lingkungan sekitar, serta elemen struktur yang diuji. Data lapangan dikumpulkan sebagai dasar untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan pada area tertentu.
Form Laporan Hammer Test
Berikut ini adalah contoh form laporan hasil pengujian lapangan:
Keterbatasan dan Pendekatan Investigasi
Hammer test hanya membaca kekerasan lapisan permukaan beton dengan kedalaman terbatas (±3–4 cm). Kondisi beton di bawahnya tidak terdeteksi. Pada beton yang telah terkarbonasi atau lama terpapar lingkungan agresif, permukaan bisa terlihat keras sementara bagian dalam sudah melemah. Dalam kondisi ini, nilai rebound tinggi dapat menyesatkan jika dibaca tanpa konteks.
Hasil hammer test juga sensitif terhadap kondisi pengujian—kelembaban permukaan, finishing, coating, dan prosedur aplikasi. Karena itu, data hammer test tidak cukup untuk penetapan kuat tekan atau keputusan desain struktur yang memerlukan akurasi tinggi.
Dalam praktik, hammer test diposisikan sebagai screening, bukan metode final. Zona yang menunjukkan anomali dikonfirmasi dengan coring untuk mendapatkan data kuat tekan aktual dan kondisi internal beton. Proses ini dikombinasikan dengan inspeksi visual teknis serta penilaian umur dan lingkungan bangunan. Kombinasi inilah yang menghasilkan assessment kondisi struktur yang lebih andal dan layak dijadikan dasar keputusan teknik.
Harga Jasa Uji Hammer Test
Biaya pengujian hammer test ditentukan terutama oleh jumlah titik uji dan kondisi akses di lapangan. Setiap bangunan memiliki karakteristik berbeda—luasan area, jenis elemen struktur, serta tujuan pengujian—sehingga penentuan biaya perlu disesuaikan dengan konteks pekerjaan, bukan sekadar tarif umum.
Tim PT Hesa Laras Cemerlang biasanya memulai dari pemahaman kebutuhan Anda: apakah pengujian untuk pemetaan awal, pra-renovasi, audit struktur, atau sebagai bagian dari investigasi lanjutan. Dari situ, jumlah titik uji dan pendekatan pengujian dapat ditentukan secara proporsional dan efisien.
Untuk mengetahui estimasi biaya per titik uji sesuai kondisi bangunan Anda, silakan hubungi Customer Service PT Hesa Laras Cemerlang. Diskusi awal dapat dilakukan melalui WhatsApp dengan menekan ikon WhatsApp di bagian bawah halaman ini. Kami akan membantu menilai apakah hammer test memang relevan, dan sejauh mana pengujian perlu dilakukan.
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1 Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia Email: kontak@hesa.co.id Telp: (021) 8404531 Mobile/Whatsapp : 081291442210
Tujuan uji pembebanan Loading Test adalah untuk mengetahui apakah bagian struktur (yang diuji) masih kuat menahan beban kerja (working load) yang membebaninya atau tidak.
Pada saat uji struktur diamati apakah perilakunya masih memenuhi Kriteria peraturan bangunan yang berlaku atau tidak, yang mana pada akhirnya hasil dari uji ini dapat menjadi salah satu indikasi apakah struktur masih aman atau tidak bagi penggunanya. Untuk itu ini akan kami uraikan mengenai Uji Pembebanan Loading Test dalam tulisan singkat berikut ini.
Bagian struktur yang akan memikul beban uji harus dipertimbangkan/ dilihat apakah kondisinya baik dan kuat. Penambahan beban harus dihentikan ketika terindikasi lendutan yang terjadi melebihi batas ijin dan jika secara visual terlihat keretakan-keretakan yang tidak wajar.
Adanya pengaman seperti “scaffolding” perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi keruntuhan bagian struktur yang diuji.
Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga merepresentasikan beban rencana (paling tidak mendekati beban rencana). Dan jika diperlukan untuk menghindari terjadinya distribusi beban yang tidak diinginkan maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya diisolasikan dari bagian struktur yang ada di sekitarnya.
Beban yang paling mudah adalah dengan menggunakan air yang diletakkan diatas bak plastik, yang kemudian beban yang diinginkan diberikan secara bertahap dengan menambahkan air ke dalam bak tersebut.
Berat jenis air = 1000 kg/m kubik, sehingga setiap penambahan 1 cm pada satu area adalah sama dengan penambahan beban 10 kg/m persegi.
Pengambilan beban sesuai yang disyaratkan di dalam SNI 03-2847-2002, yaitu sebesar:
U = 85% x (1,4D+1,7L)
dimana D adalah beban mati dan L adalah beban hidup.
Uji beban dilaksanakan dengan 5 tahapan penambahan beban (loading) yang sama yaitu: 20%U, 40%U, 60%U, 80%U dan 100%U atau setara dengan air setinggi Ui% x 0.1 cm.
Pada setiap penambahan beban, besarnya lendutan yang terjadi pada balok diukur.
Alat yang digunakan adalah Dial Gauge seperti pada gambar berikut:
Dial gauge digunakan untuk mengukur lendutan secara mekanis yang terjadi pada struktur selama pelaksanaan uji beban statik. Dial gauge ini memiliki ketelitian pembacaan sampai dengan 0,01 mm. Dial gauge diikat pada reference beam yang tidak dapat bergerak selama uji beban statik berlangsung.
Pengamatan Lendutan yang diukur dengan dial gauge
Pembebanan dengan Air
Sedangkan jarum dial gauge menempel pada permukaan struktur. Selanjutnya, lendutan struktur yang terjadi dapat dibaca pada indikator yang tersedia.
Pada beban uji sebesar 100%U, besarnya lendutan yang terukur pada balok dicatat. Untuk selanjutnya beban didiamkan selama 24 jam, kemudian dilakukan kembali pengukuran lendutan untuk mengetahui besarnya pengaruh beban permanen pada struktur. Setelah beban air didiamkan selama 24 jam, uji beban dilanjutkan kembali.
Dari hasil pengukuran, setelah beban didiamkan selama 24 jam, besarnya lendutan yang terukur pada balok dicatat pula.
Setelah 24 jam, selanjutnya dilakukan pengurangan beban (unloading) dengan cara membuang air yang ada pada tempat penampungan. Setelah air kosong, besarnya lendutan akhir yang terukur pada balok struktur juga harus dicatat.
Contoh pencatatan lendutan selama berlangsungnya uji pada elemen struktur adalah seperti dalam tabel berikut:
Selama uji beban berlangsung, dilakukan pengamatan terhadap struktur yang diuji. Pengamatan ini bertujuan untuk melihat apakah terjadi keretakan yang dapat dianggap sebagai indikasi terjadinya kegagalan struktur.
Persyaratan yang ada di Bab 22 SNI 03-2847-2002, besarnya lendutan maksimum dan lendutan permanen maksimum yang diijinkan adalah :
Lendutan maksimum : ∆= Lt^2/ (20000.h)
Lendutan permanen maksimum : ∆r = ∆/4
Selanjutnya besarnya lendutan maksimun terukur harus kurang dari persyaranan lendutan maksimum dan besarnya ledutan permanen terukur harus kurang dari persyaran lendutan permanen maksimum.
Jika hal tersebut terpenuhi dapat disimpulkan bahwa elemen struktur memenuhi syarat kekuatan.
Ditulis oleh: Ir. Heri Khoeri, MT.
Mau tahu bangunan kita aman atau tidak?
Informasi lebih lanjut tentang bagaimana detail Uji Pembebanan Loading Test berikut biaya yang dibutuhkan, silahkan hubungi:
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531
Whatsapp Bussines : 0813 828 271 82 or click this Link : Whatsapp
Brinell Test adalah salah satu metode Non-Destructive Test (NDT) yang bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut (speciment).
Kapan Perlu Brinell Test?
Brinell Test menjadi pilihan utama Hesa dalam proses Audit Struktur pada gedung, jembatan, dan instalasi industri karena memberikan data kekerasan material yang akurat dan terukur. Berikut skenario kapan testing ini diperlukan:
Struktur berusia panjang (15+ tahun): Kolom baja mulai menunjukkan indikasi korosi, deformasi, atau fatigue. Testing menentukan apakah masih aman operasi atau perlu repair/ganti.
Pre-Renovation Assessment: Sebelum merenovasi atau upgrade beban struktur, data kekerasan material menjadi dasar perhitungan kekuatan (fy) untuk design baru.
Post-Incident atau Post-Earthquake: Verifikasi material integrity setelah bencana atau insiden untuk memastikan struktur tetap safe.
Compliance & Documentation: Untuk keperluan legal, asuransi, atau sertifikasi keselamatan kerja.
Hesa telah melakukan ratusan testing di berbagai tipe struktur—dari gedung perkantoran, rumah sakit, dermaga port, hingga tower industri. Setiap project, hasil Brinell Test menjadi fondasi keputusan: apakah repair cukup, atau struktur harus diganti.
Pengujian Brineel Test dilakukan pada profil baja yang telah terpasang dengan menggunakan metode pengujian kekerasan baja, dari nilai kekerasan tersebut dapat di konversi menjadi kuat tarik (fy)
Metoda uji kekerasan diperkenalkan oleh Johan August Brinell pada tahun 1900 an ini merupakan uji kekerasan lekukan yang pertama kali dan sudah banyak digunakan dan di susun standarisasinya. Uji kekerasan ini berupa pembentukan lekukan pada permukaan logam memakai bola baja yang ditekan dengan beban tertentu.
Beban diterapkan selama waktu tertentu, biasanya 30 detik, dan diameter lekukan diukur dengan mikroskop, setelah beban tersebut dihilangkan. Permukaan logam yang akan diuji harus relatif halus, rata dan bersih dari debu atau karat.
Angka kekerasan brinell (HB) dinyatakan sebagai beban P dibagi luas permukaan lekukan. Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik.
Selanjutnya Angka Kekerasan Brinell BHN dapat ditentukan dari persamaan berikut:
Parameter-parameter dasar pada pengujian Brinell (Dieter, 1987), diilustrasikan dalam gambar berikut:
Menentukan Kuat Tarik Baja Struktur Yang Sudah Terpasang
LEEB HARDNESS
Dikembangkan pada pertengahan 1970-an, metode Leeb (atau Equotip) diterima secara luas sebagai instrumen portabel pertama untuk mengukur kekerasan komponen logam dalam hitungan detik. Nama “Rebound” nama berasal dari sifat dasar dari tes.
Metode ‘Rebound” atau pantulan didasarkan pada pengukuran tegangan yang menunjukkan hilangnya energi dari “impact body” setelah menumbuk benda uji. Dalam alat uji yang menggunakan prinsip Rebound, pegas mendorong impact body melalui tabung pengarah sehingga menumbuk benda uji.
Impact Body menumbuk benda uji tanpa hambatan, magnet yang ada menghasilkan tegangan dalam sistem kumparan yang mengelilingi tabung pengarah impact body. Indentor yang biasanya terbuat dari ”tungsten carbide” atau “diamond ball”, yang terletak di ujung impact body, menumbuk benda uji, menyebabkan impact body memantul dari permukaan benda uji dengan kecepatan yang lebih lambat.
Lebih lunak benda uji, akan lebih besar bekas lekukan yang terjadi pada benda uji yang menyebabkan kehilangan energy yang lebih besar dan kecepatan pantulan yang lebih lambat, yang pada akhirnya menghasilkan tegangan lebih rendah.
beberapa alat Hardness Tester seperti pada gambar di bawah ini:
Nilai kekerasan (HL) dihitung dari rasio kecepatan tumbukan dan rebound. Nilai kekerasan (HL) ini kemudian dapat diubah oleh perangkat lunak untuk menampilkan konvensional nilai kekerasan konvensional dalam skala HRC, HV atau HB.
Gambar diatas menunjukkan konsep dasar perhitungaan dalam skala Leeb (HL), sedangkan gambar di bawah ini beberapa dokumentasi kegiatan uji kekerasan (Hardness tester).
Konversi Angka Kekerasan Hl Ke Skala Brinell
Seperti yang dijelaskan diatas skala brinell tetap merupakan skala yang sudah dipakai cukup luas, untuk mengkonversi Angka Kekerasan Leeb (HL) ke brinell (HB) pada logam dapat menggunakan table di bawah ini.
Atau dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
HB = 0.436 HL + 514.317
Perkiraan Kekuatan (Tarik) Baja Dari Angka Kekerasan Brinell
Selenjutnya kuat tarik baja dapat ditentukan dengan menggunakan table berikut ini:
Atau dengan menggunakan persamaan berikut:
Kuat Tarik Baja (MPa) = 3.482 HB –28.772
Pendekatan Testing Sesuai Kebutuhan Struktur Anda
Setiap struktur memiliki kebutuhan testing berbeda. Untuk itu, Hesa menawarkan fleksibilitas:
Situasi
Rekomendasi Hesa
Audit cepat, struktur besar, budget terbatas
Mulai dgn Leeb screening di 20-30 titik key points (2-3 hari). Jika ada area suspect, lanjut Brinell detail di area tersebut. Efisien waktu & biaya.
Pre-renovation, kebutuhan presisi tinggi
Langsung Brinell di semua titik kritis untuk data akurat sebelum design ulang.
Compliance & legal documentation
Brinell dengan laporan tertulis lengkap per standar ASTM/ISO.
Aplikasi Real Brinell Test di Indonesia
Di bawah ini beberapa contoh nyata project Brinell Test yang telah Hesa lakukan. Setiap project menunjukkan bagaimana hasil hardness test menjadi dasar keputusan bisnis: dari keputusan repair sederhana hingga planning renovasi senilai miliaran rupiah.
Perhatikan: Setiap hasil testing tidak hanya tentang angka HB. Kami berikan interpretasi lengkap dan rekomendasi actionable sesuai kondisi struktur, usia, beban operasional, dan tujuan owner.
Beberapa Pengujian dengan Metode Brinell Test oleh tim PT Hesa Laras Cemerlang di berbagai tempat di Indonesia:
Hardness Test on Building of ICRC JAKARTA
Uji kekerasan Brinell di Gedung GSI TB Simatupang Jakarta
Pengujian di Jembatan Barelang Bata,
Pengujian Brineel di Dermaga Tanjung Buton
Uji Brinell dalam Assessment struktur bangunan gedung GSI Tb Simatupang Jakarta (1)
Test Brinell di Gudang KBN Cakung
Pengujian Brinell di Demaga Pelabuhan Luwuk
Brinell Test Gedung Kantor Pusat Bank Sulteng d Palu
Pengujian Di Main Tower Conveyor Sebuku
Testing di Gedung LPDB Kementerian UKM
Pengujian di Jetty Pulau sebuku
Uji Brinell di Gedung RS Sumber Waras Cirebon
—-
Pertanyaan Umum Seputar Brinell Test & Hardness Testing
Q: Berapa lama testing Brinell untuk bangunan saya?
A: Durasi tergantung jumlah titik sampling dan lokasi. Rata-rata 1-2 titik per jam termasuk persiapan dan dokumentasi. Untuk bangunan 5 lantai, biasanya 8-12 titik sampling di berbagai lokasi (kolom, beam, junction). Durasi total: 2-3 hari kerja lapangan.
Q: Apa perbedaan antara hasil Brinell dan Leeb?
A: Keduanya valid dan terstandar internasional (ASTM, ISO). Brinell = presisi laboratorium. Leeb = instant on-site. Hasil Leeb bisa dikonversi ke skala Brinell. Pilih metode berdasarkan kebutuhan akurasi dan timeline proyek.
Q: Apakah testing merusak struktur saya?
A: Brinell Test membuat indentasi kecil (2-4 mm diameter). Jika di area non-critical, impact sangat minimal. Kami konsultasi dulu sebelum tentukan titik testing. Leeb Test non-destructive (hanya testing, tidak ada damage).
Q: Apa hasil Brinell Test dan bagaimana interpretasinya?
A: Hasil dinyatakan dalam HB (Hardness Brinell) range 200-600 untuk baja struktur. Semakin tinggi HB, semakin keras material. Target HB 250-350 untuk baja struktural standar. Hasil di bawah standar = material degraded, butuh repair/replacement. Hesa berikan interpretasi lengkap + rekomendasi aksi.
Q: Standar apa yang dipakai Hesa untuk testing?
A: Hesa mengikuti standar internasional: ASTM E10 (US), ISO 6506 (ISO), JIS Z 2243 (Japan). Testing procedure, peralatan, dan dokumentasi Hesa comply penuh dengan ketiga standar.
Q: Berapa biaya estimasi Brinell Test?
A: Hubungi Admin Hesa untuk konsultasi free dan quotation detail. Kami tawarkan opsi: Leeb screening (lebih murah, quick), atau Brinell full audit (lebih presisi).
Q: Berapa lama waktu untuk dapatkan laporan hasil?
A: Preliminary results langsung setelah testing selesai. Laporan tertulis lengkap (analysis + rekomendasi) biasanya 3-5 hari kerja setelah data collection. Urgent report bisa dipercepat dengan biaya tambahan. Scheduling tergantung kepastian pekerjaan dengan rilisnya PO/SPK dan pembayaran uang muka.
—
Untuk kebutuhan Uji Kekerasan Materal dan Uji Baja serta pengujian beton lainnya, silahkan hubungi:
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531
Whatsapp Bussines:
081291442210
08118889409
Menentukan Kuat Tarik Baja pada Struktur yang Sudah Terpasang
Salah satu material utama dalam struktur bangunan adalah baja, baik berupa profil baja maupun tulangan (rebar) di dalam beton. Untuk mengetahui kuat tarik baja secara akurat, metode terbaik adalah dengan memotong sampel struktur dan melakukan uji tarik di laboratorium.
Namun, pada struktur existing yang masih berfungsi, pemotongan elemen struktur sering kali tidak memungkinkan karena alasan keselamatan, operasional, maupun biaya. Oleh karena itu, digunakan metode pengujian non-destructive untuk memperkirakan kuat tarik baja tanpa merusak struktur.
Beberapa metode yang umum digunakan di lapangan akan dijelaskan berikut ini.
Uji Kekerasan Brinell
Uji kekerasan Brinell merupakan metode untuk menentukan kekerasan material berdasarkan ketahanan permukaan terhadap penekanan bola baja (indentor). Metode ini diperkenalkan oleh Johan August Brinell pada awal tahun 1900-an dan hingga saat ini masih menjadi acuan standar dalam pengujian kekerasan logam.
Pengujian dilakukan dengan menekan bola baja berdiameter tertentu ke permukaan logam menggunakan beban yang telah ditetapkan, selama waktu tertentu (umumnya ±30 detik). Setelah beban dilepas, diameter lekukan diukur menggunakan mikroskop.
Permukaan baja yang diuji harus relatif rata, bersih, dan bebas dari karat atau cat, agar hasil pengujian dapat diandalkan.
Angka kekerasan Brinell (HB) dinyatakan sebagai perbandingan antara beban tekan dengan luas permukaan lekukan. Dalam praktiknya, nilai HB dihitung berdasarkan hasil pengukuran diameter lekukan.
Parameter dasar pengujian Brinell diilustrasikan pada gambar berikut:
Menentukan Kuat Tarik Baja Struktur Yang Sudah Terpasang
Uji Kekerasan Leeb (Rebound Hardness)
Metode Leeb, yang juga dikenal sebagai metode rebound, dikembangkan pada pertengahan tahun 1970-an dan menjadi instrumen portabel pertama untuk pengujian kekerasan logam di lapangan.
Prinsip dasar metode ini adalah pengukuran energi pantulan (rebound) dari sebuah impact body yang ditumbukkan ke permukaan baja.
Pegas pada alat mendorong impact body hingga menumbuk permukaan benda uji. Setelah tumbukan, impact body memantul kembali dengan kecepatan tertentu. Perbedaan kecepatan sebelum dan sesudah tumbukan mencerminkan tingkat kekerasan material.
Semakin lunak material, semakin besar deformasi permukaan, energi yang hilang semakin besar, dan kecepatan pantulan menjadi lebih kecil.
Indentor pada alat Leeb umumnya terbuat dari tungsten carbide atau bola berlian (diamond ball), yang memungkinkan pengujian cepat tanpa merusak elemen struktur secara signifikan.
Nilai kekerasan Leeb dinyatakan dalam satuan HL, yang merupakan rasio antara kecepatan tumbukan dan kecepatan pantulan. Nilai HL ini kemudian dapat dikonversi ke skala kekerasan lain, seperti Brinell (HB), Rockwell (HRC), atau Vickers (HV).
Konversi Nilai Kekerasan Leeb ke Brinell
Dalam praktik rekayasa struktur, skala Brinell masih menjadi acuan yang cukup luas. Oleh karena itu, nilai kekerasan Leeb (HL) biasanya dikonversi ke nilai Brinell (HB).
Konversi dapat dilakukan menggunakan tabel empiris berikut:
Atau menggunakan persamaan pendekatan:
HB = 0,436 × HL + 514,317
Perkiraan Kuat Tarik Baja dari Angka Kekerasan
Setelah nilai kekerasan Brinell diperoleh, kuat tarik baja dapat diperkirakan menggunakan tabel korelasi empiris berikut:
Tabel Perkiraan Kuat Tarik Baja
Selain tabel, perkiraan kuat tarik baja juga dapat dihitung menggunakan persamaan pendekatan berikut:
Kuat Tarik Baja (MPa) = 3,482 × HB − 28,772
Catatan Penting dalam Interpretasi
Hasil pengujian harus dibaca sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh, dengan mempertimbangkan kondisi visual, umur struktur, lingkungan (korosi, kelembaban), serta riwayat beban dan modifikasi struktur. Karena itu, interpretasi hasil uji kekerasan sebaiknya dilakukan oleh engineer yang memahami perilaku struktur dan batasan metode pengujian, bukan semata-mata membaca angka hasil alat.
Perlu dipahami bahwa hasil perhitungan ini merupakan perkiraan teknis, bukan nilai absolut seperti uji tarik laboratorium. Namun dalam banyak kasus, metode ini sangat membantu untuk penilaian awal, audit struktur, atau pengambilan keputusan teknis tanpa harus merusak elemen bangunan.
FAQ – Penentuan Kuat Tarik Baja pada Struktur Existing
Apakah kuat tarik baja pada struktur yang sudah terpasang bisa diketahui tanpa memotong struktur?
Bisa, melalui metode pengujian non-destructive seperti uji kekerasan Brinell dan Leeb. Metode ini digunakan untuk memperkirakan kuat tarik baja tanpa merusak elemen struktur yang masih berfungsi.
Apakah hasil uji kekerasan dapat menggantikan uji tarik laboratorium?
Tidak. Uji tarik laboratorium tetap menjadi metode paling akurat untuk menentukan kuat tarik baja. Pengujian kekerasan digunakan sebagai alat evaluasi teknis awal, terutama ketika pemotongan sampel tidak memungkinkan karena risiko struktural, operasional, atau biaya.
Seberapa andal hasil perkiraan kuat tarik dari uji kekerasan?
Keandalan hasil sangat bergantung pada kondisi permukaan baja, metode pengujian, serta cara interpretasi data. Karena itu, hasil uji tidak dibaca sebagai angka tunggal, melainkan sebagai bagian dari penilaian struktur secara menyeluruh.
Kapan pengujian ini relevan dilakukan?
Pengujian ini umum digunakan pada pekerjaan evaluasi struktur existing, audit bangunan lama, pemeriksaan pasca renovasi, atau sebagai dasar teknis sebelum dilakukan pengujian lanjutan yang lebih invasif.
Apakah semua jenis baja struktur dapat diuji dengan metode ini?
Pada prinsipnya, baja struktur dan tulangan dapat diuji selama permukaan dapat diakses dan dibersihkan. Namun pada baja dengan korosi berat, lapisan pelindung, atau perlakuan khusus, interpretasi hasil memerlukan kehati-hatian ekstra.
Mengapa interpretasi engineer menjadi faktor paling penting?
Karena hasil uji kekerasan hanya memberikan indikasi material, sementara keputusan teknis menyangkut keselamatan struktur. Kesalahan interpretasi dapat menyebabkan overestimate atau underestimate kapasitas baja, yang berdampak langsung pada desain perkuatan atau keputusan renovasi.
Bagaimana pendekatan PT Hesa Laras Cemerlang dalam pengujian ini?
Kami tidak hanya melakukan pengukuran, tetapi juga mendiskusikan tujuan pengujian, konteks struktur, serta keputusan teknis yang ingin didukung oleh data. Dengan pendekatan ini, hasil uji menjadi relevan, dapat dipertanggungjawabkan, dan benar-benar membantu pemilik bangunan dalam mengambil keputusan.
PORTOFOLIO
Berikut ini adalah beberapa portfolio proyek audit struktur yang pernah kami kerjakan, yang salah satu ujinya menggunakan hardness test atau brinell test sebagaimana terlihat pada dokumentasi berikut
Audit Dermaga Tanjung Buton
AUDIT STRUKTUR MAIN TOWER CONVEYOR SEBUKU
Audit Struktur Lantai Mezannin Gedung Mandiri
Audit Jembatan Barelang Batam
Previous
Next
Konsultasi Teknis & Layanan Evaluasi Struktur
Jika Anda sedang melakukan evaluasi kondisi struktur,
penilaian kapasitas bangunan existing,
audit struktur, atau membutuhkan
pendampingan teknis sebelum pengujian lanjutan,
tim engineer kami siap membantu secara profesional dan berbasis standar teknis.
Kami terbiasa mendampingi pemilik bangunan, konsultan, maupun kontraktor
dalam membaca data lapangan secara proporsional—bukan sekadar angka uji,
tetapi konteks teknis yang relevan untuk pengambilan keputusan.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Uji Karbonasi Beton: Kapan Diperlukan & Apa Artinya untuk Keputusan Anda
Bangunan >20 tahun tanpa dokumen asli? Rencana perkuatan besar-besaran? Uji karbonasi memberikan data konkret tentang umur bangunan Anda sekarang dan berapa lama lagi bisa digunakan sebelum korosi menjadi masalah. Panduan ini membantu Anda memutuskan: apakah perlu ditest, dan apa yang harus dilakukan dengan hasilnya.
Uji karbonasi di lapangan: mengukur kedalaman penetrasi CO2 dalam beton
Kapan Karbonasi Terjadi ?
Karbonasi beton terjadi ketika karbon dioksida di atmosfer dengan kelembaban tertentu bereaksi dengan mineral semen terhidrasi dan menghasilkan karbonat (misalnya: calcium karbonat).
Proses karbonasi juga disebut depassivation. Karbonasi menembus bagian bawah permukaan beton dengan perlahan. Waktu yang diperlukan untuk karbonasi dapat diperkirakan dari mutu beton.
Apakah Bangunan Anda Perlu Diuji?
Uji karbonasi paling penting dalam tiga situasi:
1. Usia >20 tahun, dokumen konstruksi hilang
Spesifikasi material original tidak ada. Uji karbonasi mengungkap kualitas beton sebenarnya dan berapa lama lagi sampai tulangan terancam korosi.
2. Planning perkuatan atau sertifikasi kelayakan
Sebelum investasi besar, butuh tahu: sudah mencapai tulangan atau belum? Butuh intervensi sekarang atau masih bisa tunda?
3. Ada tanda deterioration (retak, bintik karat, spalling)
Retak vertikal dan rust stain bisa tanda korosi sudah dimulai. Uji karbonasi membantu diagnosa seberapa jauh prosesnya.
Jika tidak ada ketiga kondisi ini, kombinasi uji lain (hammer test, UPVT) mungkin lebih efisien.
Kondisi Spesifik: Kapan Sangat Urgent?
Langsung test jika:
Usia >20 tahun + ada retak/spalling/discoloration (rust stain)
Bangunan outdoor/exposed atau near area aggressive (laut, industri)
Humidity tinggi + maintenance buruk (coating rusak, drainage jelek)
Akan dijual, direnovasi besar, atau ada issue emergency (leak, movement)
Bisa ditunda jika: Bangunan <10 tahun dengan dokumen bagus, atau akan demolish <5 tahun.
Apa Yang Diukur & Apa Artinya
Uji karbonasi mengukur: Berapa dalam CO₂ sudah menembus beton dari permukaan.
Mengapa penting: CO₂ menghilangkan sifat alkali beton yang melindungi baja. Jika sudah sampai tulangan, dalam kondisi lembab, baja mulai terkorosi.
Artinya untuk keputusan Anda:
Jika belum sampai tulangan: Struktur masih aman. Berapa tahun lagi? Rumus bisa estimasi.
Jika sudah sampai tulangan: Risk zone dimulai. Perlu monitoring intensif atau intervensi (coating, perkuatan).
Perkiraan Umur Bangunan melalui Uji Karbonasi
Sebelumnya perlu diketahui bahwa waktu yang dibutuhkan untuk karbonasi bisa diperkirakan dari mutu beton dengan menggunakan persamaan berikut:
dimana: t = waktu proses karbonasi hingga mencapai tulangan beton d = selimut beton k = permeabilitas
Hubungan antara Mutu Beton dengan permeabilitas adalah seperti diberikan pada table berikut:
Dimana nilai concrete grade adalah kuat tekan karakteristik beton dalam MPa.
Perlunya uji tingkat karbonasi adalah untuk mengetahui apakah selimut beton masih melindungi tulangan baja di dalamnya. Proses karbonasi menetralisir kondisi basa dalam beton.
Jika selimut beton seluruhnya telah terkarbonasi mencapai tulangan baja di dalamnya, maka baja tulangan di dalamnya akan segera terkorosi ketika udara lembab dan oksigen mencapai tulangan.
Cara Ujinya Sederhana, Biaya Jauh Lebih Murah
Lubang kecil (10-15mm) di permukaan beton, semprotkan larutan phenolphthalein. Beton yang masih alkali berubah pink. Ukur kedalaman dari surface ke batas warna pink—itu kedalaman karbonasi.
Alat dan bahan yang digunakan dalam uji karbonasi sangat sederhana, yaitu: – Semprotan (spray) angin – Semprotan (spray) yang diisi 1% phenolthaelin (1 gm phenolthaelin dicampur dengan 90 cc ethanol dan tambahkan air bersih hingga mencapai 100 cc)
Cara kerja uji karbonasi adalah dengan membuat lubang kecil pada beton sampai dengan perkiraan ketebalan selimut beton. Bersihkan lubang dengan semprotan angin dari debu dan kotoran lainnya, kemudian semprotkan cairan 1% phenolthaelin ke dalam lubang tersebut.
Bagian beton yang masih dalam kondisi baik (masih bersifat basa) akan berwarna pink/ ungu, sedangkan bagian yang sudah terkarbonasi, PH nya sudah menjadi 7 (netral) atau bahkan kurang dari 7 (asam) tidak akan berubah warna. Selanjutnya ukur ketebalan lapisan yang terkarbonasi dari permukaan beton sampai dengan lokasi yang berubah warna.
Dari kedalaman karbonasi, dapat diketahui umur bangunan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
dimana: x=W/C atau rasio air/semen dapat diambil secara empirik dari mutu beton, dimana mutu beton dapat diketahui dengan uji NDT atau DT (misalnya: Hammer Test, UPVT ataupun core drill dan uji tekan). C = kedalaman karbonasi R = konstanta yang tergantung dari a (konstanta yang tergantung lingkungan beton) dan b (finishing beton/ coating beton). a = 1.7 untuk beton dalam ruangan dan a = 1.0 untuk beton yang berada di outdoor (diambil dari angka yang dikeluarkan oleh: The Japanese Ministry Construction Publications “Engineering for improving the durability of reinforced concrete structure)
Sedangkan b dapat diambil dari table berikut:
Sumber: Guidebook on non-destructive testing of concrete structures, International Atomic Energy Agency, Vienna, 2002
Maka dengan rumus diatas juga dapat diperkirakan kedalaman karbonasi yang akan terjadi pada pda umur bangunan y tahun:
Sehingga lebih jauh dari kedalaman karbonasi yang diketahui, maka dapat diperkirakan pula sisa umur bangunan. Karena ketika proses karbonasi sudah mencapai tulangan, selanjutnya baja diperkirakan akan mengalami korosi, dari hasil analisis struktur akan diketahui sampai tingkat korosi berapa %, struktur beton masih mampu menahan beban yang bekerja.
Selanjutnya dari perhitungan laju korosi baja dan hasil analisis struktur akan bisa diperkirakan kapan bangunan ini akan mengalami kegagalan. Dengan diketahuinya hal-hal tersebut tentunya mempermudah pengguna bangunan untuk menentukan sampai kapan bangunannya difungsikan atau kapan akan dilakukan perkuatan/ perbaikan.
Beberapa hasil uji karbonasi di beberapa struktur beton seperti gambar berikut:
Rebar Scanner dalam Pemeriksaan Struktur Beton Bangunan Eksisting
Mengapa Rebar Scanner Penting untuk Pemeriksaan Bangunan
Bangunan lama di Indonesia sering menghadapi masalah yang sama: dokumentasi struktur hilang, kondisi tulangan tidak jelas, atau perlu renovasi mendadak. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara tahu apakah struktur masih aman tanpa harus merusak beton?
Situasi ini bukan hanya terjadi pada satu atau dua kasus. Banyak bangunan berusia 20 tahun ke atas memiliki gambar asli yang tidak lengkap atau hilang sama sekali. Demikian pula, ketika renovasi atau perubahan fungsi direncanakan, engineer perlu verifikasi kondisi eksisting dengan akurat. Saat gedung akan dijual atau disewa, pembeli atau penyewa ingin memastikan bahwa struktur beton masih dalam kondisi yang dapat diandalkan. Penambahan lantai juga memerlukan data pasti tentang tulangan yang sudah ada.
Di sinilah rebar scanner memainkan peran penting. Rebar scanner adalah alat bantu Non-Destructive Test (NDT) yang membantu engineer memahami struktur beton tanpa perlu merusak bangunan. Alat ini bukan solusi tunggal yang menjawab semua pertanyaan tentang kondisi struktur, tetapi merupakan tool yang sangat berguna untuk mendapatkan informasi cepat dan akurat di lapangan Indonesia.
Rebar scanner dalam penggunaan di lokasi proyek pemeriksaan struktur
Mari kita pelajari lebih lanjut apa itu rebar scanner, bagaimana cara kerjanya, kapan Anda benar-benar membutuhkannya, dan apa saja batasan yang perlu dipahami sebelum menggunakannya.
Apa itu Rebar Scanner dan Fungsinya
Rebar scanner adalah alat handheld yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi posisi tulangan (rebar) baja di dalam beton. Alat ini dapat memberitahu di mana tulangan berada, seberapa tebal lapisan beton yang melindunginya (selimut beton), dan memberikan perkiraan diameter tulangan. Dalam praktik engineering struktur, rebar scanner termasuk dalam kelompok alat uji tanpa rusak (Non-Destructive Test) yang semakin banyak digunakan untuk quality control dan assessment struktur beton.
Rebar scanner yang portable dan mudah digunakan di lokasi lapangan manapun
Fungsi Utama di Lapangan Indonesia
Ada empat fungsi utama yang membuat rebar scanning menjadi praktik penting dalam pemeriksaan struktur beton di Indonesia:
1. Cek Posisi Tulangan
Sebelum melakukan pekerjaan lanjutan seperti drilling atau core test, engineer perlu mengetahui dengan pasti di mana tulangan berada. Scanning juga penting saat akan dilakukan renovasi atau penambahan anchor pada struktur existing. Dalam banyak kasus, kondisi nyata di lapangan tidak sesuai dengan as-built drawing yang tersedia, sehingga verifikasi langsung dengan scanning menjadi sangat bermanfaat.
Sebelum dilakukan core drill untuk mengambil sampel beton, engineer HARUS tahu posisi tulangan agar tidak merusak struktur atau mengurangi daya tarik beton. Scanning di 3-4 titik potensial sebelum menentukan lokasi core drill adalah praktik prudent yang mengurangi risiko kesalahan dan memastikan sampel beton yang valid untuk analisis.
3. Verifikasi Kondisi Eksisting
Saat merencanakan audit struktur bangunan lama, engineer perlu data akurat tentang tulangan yang sudah ada. Data ini digunakan sebagai input untuk analisis struktur retrofit, atau untuk memverifikasi apakah ada bagian dengan tulangan renggang atau tidak sesuai spesifikasi design asli.
4. Keperluan Dokumentasi
Rebar scanning sering dilakukan sebagai bagian dari dokumentasi teknis saat pemeriksaan pre-handover proyek baru, sertifikasi building untuk keperluan insurance atau asuransi, atau saat gedung akan dijual atau disewa. Laporan scanning menjadi bagian dari due diligence yang meningkatkan transparansi kondisi struktur.
Pesan Penting: Rebar scanner bukan untuk menentukan keputusan teknis sendiri. Hasil scanning adalah informasi yang perlu dikombinasikan dengan data lain dan keahlian engineer untuk pengambilan keputusan yang tepat dan berkelanjutan.
Bagaimana Rebar Scanner Bekerja?
Prinsip Dasar Teknologi Pulse-Induction
Rebar scanner menggunakan teknologi pulse-induction method yang bekerja sebagai berikut: alat mengirimkan gelombang elektromagnetik ke permukaan beton. Ketika gelombang menyentuh baja tulangan yang bersifat konduktif, gelombang itu akan dipantulkan balik. Komputer di dalam alat menangkap pantulan ini dan mengubahnya menjadi informasi tentang posisi dan ukuran tulangan.
Untuk memudahkan pemahaman, teknologi ini mirip seperti sonar kapal nelayan yang mendeteksi ikan di laut. Hanya saja di sini gelombang elektromagnetik mendeteksi baja di dalam beton, bukan ikan di air.
Penjelasan Teknis Singkat
Coil pada probe alat secara periodik dibebani arus gelombang sehingga menghasilkan medan magnet. Pada permukaan bahan yang konduktif (seperti baja), medan magnet ini akan menginduksi medan magnet dalam arah yang berlawanan. Perubahan tegangan yang dihasilkan dari interaksi ini digunakan untuk pengukuran. Baja tulangan yang lebih dekat dengan probe atau ukuran yang lebih besar akan menghasilkan medan magnet yang kuat, sehingga alat dapat membedakan jarak dan diameter dengan lebih akurat.
Pemrosesan sinyal yang dilakukan oleh komputer alat tidak hanya membantu melokalisasi pembacaan baja tulangan, tetapi juga dapat menentukan tebal cover beton dan mengestimasi diameter tulangan. Metode ini tidak dipengaruhi oleh bahan non-konduktif seperti beton, kayu, plastik, atau batu bata. Namun, setiap jenis bahan konduktif lainnya dalam medan magnet akan memiliki pengaruh pada hasil pengukuran.
Alur Kerja di Lapangan
Langkah 1: Persiapan Permukaan
Bersihkan permukaan beton dari debu, cat, atau coating tebal agar probe dapat kontak baik dengan permukaan. Permukaan harus agak rata, meskipun tidak perlu sempurna. Waktu persiapan biasanya 10-15 menit per area 50×50 cm.
Rebar Scan
Langkah 2: Proses Scanning
Engineer letakkan probe alat di permukaan dan lakukan scanning dengan pola grid yang teratur. Setiap posisi direkam oleh alat secara otomatis. Data tersimpan di monitor atau device internal. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit per area 50×50 cm tergantung detail yang diinginkan.
Langkah 3: Pembacaan Hasil
Monitor alat menampilkan posisi tulangan dalam koordinat (x, y), juga menampilkan tebal selimut beton dalam satuan millimeter. Engineer dapat langsung interpretasi apakah hasil scanning sesuai dengan design spesifikasi atau tidak.
Alat Rebar Locator: Hilti Ferro Scan PS200 dengan monitor display dan probe untuk scanning
Processing Data dan Visualisasi
Setelah scanning selesai, data yang terekam dapat dikirim ke software khusus untuk processing lebih lanjut. Software ini membuat visualisasi 2D (denah tulangan) atau 3D untuk laporan yang lebih mudah dipahami oleh klien dan engineer lain.
Faktor ketelitian dalam penggunaan rebar scanner, menunjukkan akurasi pengukuran tergantung kedalaman dan kondisiHasil scanning dapat divisualisasikan dalam bentuk tabel penulangan dan visualisasi 3D untuk interpretasi yang lebih jelas
Yang Penting Diingat: Hasil rebar scanner adalah perkiraan atau indikasi, bukan nilai mutlak atau pasti. Akurasi tergantung pada kondisi beton, kerapatan tulangan, dan setup alat. Untuk kepastian 100%, perlu metode lain seperti core drill atau pengujian tambahan.
Video Proses Pengujian Rebar Scan di salah satu proyek pemeriksaan oleh PT Hesa
Kapan Rebar Scanner Digunakan? Skenario Praktis di Lapangan Indonesia
Rebar scanning bukanlah rutinitas yang wajib dilakukan di setiap proyek. Ada kondisi spesifik di mana scanning sangat berguna dan cost-effective untuk memberikan informasi yang dibutuhkan.
Gedung kantor berusia 25 tahun akan direnovasi. Gambar asli hilang atau tidak lengkap. Untuk merencanakan renovasi dengan aman, engineer perlu data pasti: di mana posisi tulangan? Apakah ada bagian yang tulangan-nya renggang atau tidak sesuai spesifikasi design asli?
Scanning dilakukan di lantai terpilih (lantai atas, tengah, bawah) sebagai sampel representatif. Data scanning digunakan sebagai reference untuk analisis retrofit yang akan datang. Jika ditemukan indikasi anomali seperti tulangan renggang atau lokasi tidak sesuai drawing, dapat dilanjutkan dengan core drill untuk verifikasi kedalaman dan kondisi detail.
Benefit dari pendekatan ini adalah mendapatkan informasi akurat tanpa merusak struktur. Biaya scanning jauh lebih hemat dibandingkan risiko mengambil keputusan renovation berdasarkan guessing yang salah, yang bisa mengakibatkan kerusakan besar pada struktur.
Pengalaman PT Hesa dalam audit struktur menunjukkan bahwa perbedaan kecil pada diameter tulangan dapat berdampak signifikan terhadap hasil evaluasi kapasitas struktur. Atas dasar itu, rebar scanner menjadi alat yang selalu digunakan untuk memperoleh data tulangan aktual, sebagai dasar pengambilan keputusan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Use Case #2: Persiapan Core Drill Beton
Akan dilakukan core drill untuk mengambil sampel beton dan melakukan test kekerasan beton. Sebelum drilling dimulai, engineer HARUS tahu posisi tulangan agar tidak merusak struktur atau mengurangi daya tarik beton secara signifikan.
Dalam praktik, scanning dilakukan pada 3-4 titik lokasi potensial untuk core drill. Dari hasil scanning, dipilih lokasi yang paling aman (terjauh dari tulangan) untuk dilakukan core drill. Dengan demikian, pekerjaan drilling dapat dilakukan dengan confidence tinggi dan hasil sampel beton menjadi valid untuk analisis lebih lanjut.
Benefit utama adalah mengurangi risiko kesalahan lokasi drilling dan memastikan sampel beton yang diambil representatif untuk pengujian kekerasan dan durabilitas.
Use Case #3: Renovasi atau Penambahan Lantai
Gedung apartemen akan ditambah 2 lantai. Structural engineer perlu verifikasi: apakah kolom existing mampu menahan beban tambahan dari 2 lantai baru? Tahap pertama adalah mendapatkan data pasti tentang tulangan di kolom existing melalui rebar scanning.
Scanning dilakukan pada kolom existing untuk mengetahui jumlah dan diameter tulangan yang sebenarnya. Data real ini digunakan sebagai input untuk analisis ulang struktur dengan beban tambahan. Jika data real tidak sesuai dengan design asli (misalnya jumlah tulangan lebih sedikit dari yang digambar), analisis struktur dapat disesuaikan atau penambahan tulangan baru dapat direkomendasikan.
Benefit dari pendekatan data-driven ini adalah keputusan teknis berbasis informasi akurat, bukan asumsi. Hal ini mengurangi risiko underestimation terhadap keamanan struktur.
Use Case #4: Pemeriksaan Sebelum Jual atau Beli Gedung
Gedung office akan dijual kepada buyer baru. Calon pembeli ingin assurance: apakah struktur beton dalam kondisi baik? Salah satu indikator penting adalah tulangan berada di posisi yang benar dengan ketebalan selimut yang memadai (untuk proteksi terhadap korosi jangka panjang).
Scanning dilakukan di beberapa area representatif di berbagai lantai. Laporan hasil scanning dibuat sebagai bagian dari due diligence teknis gedung. Calon pembeli jadi lebih confident untuk mengambil keputusan investasi. Transparansi struktur melalui laporan scanning ini juga dapat meningkatkan nilai jual gedung dan menurunkan risiko buyer untuk sengketa pasca-akuisisi.
Key Takeaway: Scanning adalah tools untuk mengurangi uncertainty tentang kondisi tulangan beton. Tool ini bukan untuk menghilangkan semua uncertainty sekaligus, tapi memberikan informasi awal yang penting sebelum mengambil keputusan teknis atau investasi lebih besar.
Rebar Scanner Dibandingkan Metode Lain
Ada beberapa cara untuk mengetahui kondisi tulangan beton. Setiap metode memiliki kelebihan dan keterbatasan tersendiri. Pemilihan metode bergantung pada tujuan pemeriksaan, budget, dan kondisi lapangan.
Rebar Scanner (Pulse-Induction)
Kelebihan:
Cepat: hasil dapat diperoleh dalam 5-10 menit per area scanning
Non-destructive: tidak merusak beton atau struktur
Portable: alat dapat dibawa ke lokasi manapun, bahkan akses terbatas
Cost-effective: biaya scanning relatif terjangkau (Rp 1-3 juta per lantai)
Data terekam: seluruh data tersimpan dan dapat diproses lebih lanjut
Keterbatasan:
Akurasi tergantung kondisi beton (beton very dense atau tulangan rapat bisa mengurangi akurasi)
Kedalaman scanning terbatas (efektif hingga ~200-300mm, lebih dalam akurasi berkurang)
Hasil adalah indikasi, bukan data pasti 100%
Tidak bisa deteksi reinforcement non-magnetic seperti fiber atau bamboo
Kapan Paling Cocok: Screening awal, cek posisi sebelum drilling, audit struktur existing, persiapan renovation.
Detail: bisa deteksi void, keretakan, dan anomali lain selain tulangan
Akurasi tinggi untuk scan area luas
Versatile: dapat digunakan untuk berbagai material, bukan hanya baja
Data comprehensive untuk investigasi mendalam
Keterbatasan:
Lebih kompleks dalam interpretasi hasil—memerlukan expertise khusus
Biaya lebih mahal
Tidak selalu diperlukan untuk pemeriksaan rutin
Waktu processing data lebih lama
Kapan Cocok: Investigasi mendalam, scanning area luas, atau audit struktur yang sangat critical dengan banyak concern.
Core Drill (Destructive Test)
Kelebihan:
Paling akurat: langsung lihat tulangan sebenarnya tanpa interpretasi
Sampel physical: bisa ambil sampel beton untuk test kekerasan dan durability
Informasi detail: memberikan data paling komprehensif tentang struktur
Verifikasi pasti: hasil tidak ada ambiguitas
Keterbatasan:
Merusak struktur: perlu patch atau repair setelah drilling selesai
Biaya lebih tinggi: Rp 2-5 juta per lubang
Perlu izin dan planning lebih teliti dari property owner
Waktu lebih lama, disruptive terhadap operasional building
Kapan Cocok: Final verification, sampling untuk testing kekerasan/durability, atau ketika hasil scanning perlu dikonfirmasi dengan data fisik.
Tabel Ringkas Perbandingan
Aspek
Rebar Scanner
GPR
Core Drill
Kecepatan
⭐⭐⭐⭐⭐ Cepat
⭐⭐Lambat
⭐⭐ ⭐Sedang
Non-Destructive
✅ Ya
✅ Ya
❌ Tidak
Akurasi
⭐⭐⭐ Sedang
⭐⭐⭐⭐ Tinggi
⭐⭐⭐⭐⭐ Paling Tinggi
Biaya
⭐⭐⭐⭐⭐ Murah
⭐ Tinggi
⭐⭐⭐ Sedang
Mudah Interpretasi
⭐⭐⭐⭐ Mudah
⭐ Kompleks
⭐⭐⭐⭐ Jelas
Strategi Praktis: Dalam banyak kasus, pendekatan terbaik adalah kombinasi dari metode di atas. Mulai dengan rebar scanning untuk mendapatkan informasi awal yang cepat dan cost-effective. Jika ada indikasi anomali atau area yang perlu verifikasi lebih lanjut, barulah dilanjutkan dengan core drill atau metode testing lainnya untuk konfirmasi.
Apa yang Tidak Bisa Dilakukan Rebar Scanner? Batasan yang Perlu Dipahami
Sebelum memutuskan menggunakan rebar scanner, penting untuk memahami limitasinya. Pengharapan yang tepat akan membuat hasil scanning bermanfaat dengan maksimal dan mengurangi kekecewaan di kemudian hari.
Batasan Teknis
Batasan #1: Keterbatasan Kedalaman Deteksi
Rebar scanner akurat untuk deteksi tulangan hingga kedalaman sekitar 200-300mm dari permukaan beton. Ketika tulangan berada lebih dalam dari itu, sinyal elektromagnetik akan melemah secara signifikan, dan akurasi pembacaan akan berkurang drastis. Kondisi ini sering terjadi pada struktur kolom atau dinding tebal.
Batasan #2: Tulangan yang Rapat atau Banyak
Jika tulangan berada sangat rapat (spacing kurang dari 50mm), alat dapat kesulitan untuk membedakan satu tulangan dari tulangan lainnya. Hasilnya bisa terjadi overlap pembacaan atau double-count, sehingga data menjadi kurang akurat atau sulit diinterpretasi.
Batasan #3: Beton yang Sangat Padat atau Rusak
Beton dengan aggregate kasar atau beton yang sudah banyak retak dapat mempengaruhi propagasi gelombang elektromagnetik. Hasil scanning pada kondisi beton seperti ini bisa menjadi less reliable dan memerlukan verifikasi tambahan.
Batasan #4: Material Non-Baja
Rebar scanner dirancang khusus untuk mendeteksi baja atau logam konduktif. Jika struktur menggunakan fiber-reinforced polymer (FRP), bamboo, atau material non-magnetic lainnya, alat tidak akan dapat mendeteksinya. Ini penting untuk diketahui terutama untuk struktur heritage atau sustainable building yang mungkin menggunakan material alternatif.
Interpretasi Data dan Pengambilan Keputusan
Penting Diingat: Hasil rebar scanner adalah indikasi atau perkiraan, bukan data pasti. Variasi akurasi ±10-15mm adalah hal yang normal dan wajar. Untuk keputusan teknis yang critical atau high-stakes, hasil scanning sebaiknya dikombinasikan dengan:
Data design drawing (jika tersedia dan dapat dipercaya)
Visual inspection langsung di lapangan oleh engineer berpengalaman
Engineering judgment dari expert yang familiar dengan tipe struktur serupa
Jika perlu kepastian mutlak, lakukan core drill untuk verifikasi physical
Kalimat Kunci untuk Transparansi (Trust Builder): “Hasil rebar scanner perlu dikaji bersama dengan data lain dan judgment engineer. Jangan gunakan scanning sebagai satu-satunya basis untuk pengambilan keputusan teknis yang penting.”
Kapan Scanning TIDAK Perlu atau TIDAK Cocok Dilakukan
Bangunan Baru dengan Dokumentasi Lengkap: Jika bangunan baru memiliki as-built drawing yang lengkap, terpercaya, dan telah di-verify, scanning mungkin tidak diperlukan karena informasi sudah tersedia.
Pemeriksaan Cepat dengan Risiko Rendah: Untuk pemeriksaan yang hanya butuh informasi kasar dan risikonya rendah, scanning mungkin tidak cost-justified.
Area dengan Akses Terbatas: Jika lokasi pemeriksaan sulit diakses (sangat tinggi, sempit, atau berbahaya), scanning mungkin tidak feasible secara praktis.
Budget Sangat Terbatas: Jika budget untuk pemeriksaan struktur sangat terbatas dan tidak ada dana untuk scanning, pilihan lain seperti visual inspection saja dapat dipertimbangkan, meskipun informasinya lebih terbatas.
Standar dan Praktik di Indonesia
Meskipun rebar scanning adalah praktik umum dan semakin banyak digunakan, ada standar internasional dan konteks regulasi lokal yang sebaiknya dipahami oleh para profesional yang menggunakannya.
Standar Internasional: Praktik Non-Destructive Testing (NDT) di Indonesia mengacu pada standar internasional yang telah established, khususnya ACI 228 (American Concrete Institute) yang membahas panduan umum untuk NDT beton, termasuk rebar detection. Standar ini menjadi referensi teknis bagi engineer Indonesia yang melakukan scanning dan memastikan metodologi yang konsisten dengan praktik global.
Konteks Lokal Indonesia: Di level regulasi lokal, SNI 7970:2020 (Standar Nasional Indonesia tentang Pengujian Beton Non-Destruktif) menjadi acuan teknis yang relevan. SNI ini mendorong penggunaan metode NDT dalam praktik quality control dan assessment struktur beton di Indonesia sebagai bagian dari best engineering practice.
Praktik Umum di Lapangan: Dalam praktik lapangan Indonesia, rebar scanning adalah bagian dari protokol NDT yang semakin banyak digunakan, terutama untuk audit struktur existing, quality control proyek besar, investigasi kerusakan struktur, dan persiapan pekerjaan structural lanjutan.
Catatan Penting: Penggunaan rebar scanner bukan merupakan requirement mandatory yang wajib dilakukan di semua proyek, tetapi semakin diakui sebagai best practice dalam engineering yang prudent dan berbasis data.
Rebar Scanner sebagai Bagian dari Pendekatan Menyeluruh
Rebar scanner adalah tools yang powerful untuk membantu engineer memahami struktur beton dengan lebih baik dan lebih akurat. Akan tetapi, alat ini bukan solusi magic yang dapat menjawab semua pertanyaan tentang kondisi dan perilaku struktur.
Filosofi Penggunaan yang Tepat: Setiap keputusan teknis yang matang dan berkelanjutan seharusnya berbasis pada evaluasi menyeluruh: kombinasi dari investigasi lapangan, data historis yang tersedia, analisis perhitungan struktur, dan engineering judgment yang kuat. Rebar scanning adalah satu elemen penting dalam puzzle tersebut, tetapi bukan merupakan satu-satunya elemen.
Peran Engineer yang Krusial: Yang paling penting dalam keseluruhan proses adalah engineer yang berpengalaman dan qualified. Engineer inilah yang dapat menginterpretasi hasil scanning dengan benar, melakukan cross-check dengan informasi lain yang tersedia, dan memberikan rekomendasi teknis yang bijaksana berdasarkan expertise dan pertimbangan holistik.
Pesan Penutup: Jika Anda sedang menghadapi situasi yang memerlukan verifikasi kondisi struktur beton—entah untuk perencanaan renovasi, pembelian atau penjualan gedung, quality control selama konstruksi, atau audit struktur existing—rebar scanning adalah step yang smart dan cost-effective untuk dikerjakan terlebih dahulu. Langkah awal ini akan memberikan informasi berharga sebelum mengambil keputusan teknis atau investasi yang lebih besar. Selalu konsultasikan dengan engineer yang qualified dan berpengalaman untuk memastikan metodologi scanning yang tepat, interpretasi hasil yang akurat, dan rekomendasi teknis yang dapat diandalkan.
Pertanyaan Umum Seputar Rebar Scanning
Q: Berapa akurasi rebar scanner sebenarnya?
A: Akurasi sangat bergantung pada kondisi beton dan konfigurasi tulangan. Untuk tebal selimut (cover beton), akurasi berkisar ±10-15mm. Untuk diameter tulangan, akurasi sekitar ±2-3mm. Angka-angka ini adalah typical range yang dapat diharapkan, bukan guarantee pasti. Kondisi beton yang tidak ideal dapat mempengaruhi akurasi hasil.
Q: Berapa lama waktu scanning satu lantai gedung?
A: Waktu scanning sangat tergantung pada luas lantai dan detail yang diinginkan. Untuk lantai office dengan luas 1.000-1.500 m², rata-rata dibutuhkan 2-4 jam untuk menyelesaikan scanning. Jika scanning dilakukan dengan detail sangat tinggi atau ada banyak area yang perlu focus, waktu bisa lebih lama.
Q: Berapa biaya scanning?
A: Biaya rebar scanning biasanya berkisar Rp 1-3 juta per lantai, tergantung luas area, akses lokasi, dan kompleksitas pekerjaan. Biaya ini umumnya sudah termasuk scanning, processing data awal, dan laporan basic. Jika diperlukan visualisasi 3D yang detail atau analisis mendalam, ada biaya tambahan untuk hal-hal tersebut.
Q: Apakah rebar scanner aman? Ada efek radiasi?
A: Ya, rebar scanner 100% aman digunakan. Alat ini menggunakan gelombang elektromagnetik non-ionizing, bukan radiasi berbahaya seperti X-ray atau radioactive material. Operator dan orang-orang yang berada di sekitar lokasi scanning tidak memiliki risiko kesehatan apapun dari penggunaan alat ini.
Q: Apa bedanya covermeter, rebar locator, detektor tulangan dengan rebar scanner?
A: Semuanya alat yang sama, hanya istilahnya berbeda. Nama berbeda tergantung konteks dan preferensi pengguna lokal:
Rebar scanner/locator = fokus pada deteksi lokasi tulangan
Covermeter = fokus pada pengukuran tebal selimut beton
Detektor tulangan = istilah umum Bahasa Indonesia
Scanner tulangan = istilah spesifik Bahasa Indonesia yang semakin populer
Di lapangan, istilah ini dipakai bergantian. Yang penting adalah memahami bahwa semua alat ini berfungsi untuk deteksi dan pengukuran tulangan baja dalam beton.
Q: Bisa deteksi tulangan yang ada karat atau korosi?
A: Rebar scanner mendeteksi posisi tulangan berdasarkan sifat konduktif material, bukan kondisi korosi secara langsung. Jika tulangan sudah mengalami korosi parah dan berkurang dimensinya secara signifikan, mungkin terdeteksi dari hasil pengurangan sinyal. Namun, untuk assessment kondisi korosi yang akurat dan detail, diperlukan metode khusus lain seperti Half-Cell Potential Test.
Q: Hasil scanning bisa langsung digunakan untuk design struktur baru?
A: Tidak disarankan menggunakan hasil scanning langsung sebagai basis design tanpa verification lebih lanjut. Hasil scanning adalah informasi awal yang perlu di-cross-check dengan data design drawing (jika ada), visual inspection lapangan, dan expertise engineer. Untuk keputusan design yang serius dan high-stakes, hasil scanning sebaiknya divalidasi dengan metode testing tambahan.
Q: Siapa yang boleh melakukan scanning? Apakah perlu certification?
A: Teknis operasional scanning dapat dipelajari oleh teknisi yang terlatih. Namun, interpretasi data dan rekomendasi teknis yang reliable perlu dilakukan oleh engineer yang qualified dan berpengalaman di bidang struktur beton. Idealnya, scanning disupervisi atau dilakukan oleh engineer yang memiliki certification NDT (seperti ASNT atau ISO 9712) dan pengalaman bertahun-tahun dalam assessment struktur beton.
⚙️ CATATAN TEKNIS
Bangunan eksisting yang akan mengalami perubahan fungsi, penambahan beban, atau memerlukan verifikasi struktur membutuhkan data kondisi tulangan yang akurat. Rebar scanning memberikan informasi yang dapat diandalkan tanpa merusak struktur, dan hasil scanning menjadi bagian penting dalam pembuatan As Built Drawing yang akurat.
Tim engineer PT Hesa siap menjadi rekan diskusi profesional Anda untuk:
✓ Pemilihan metode pengujian yang sesuai dengan kebutuhan proyek
✓ Integrasi data scanning ke dalam As Built Drawing struktur
✓ Evaluasi kondisi eksisting bangunan dan dokumentasi teknis