Magnitudo menentukan tingkat kerusakan potensial gempa bumi—informasi kritis untuk engineer assess risiko struktural. Magnitudo merupakan perhitungan kuantitatif yang menunjukkan besaran gempa bumi.
Magnitudo dihitung berdasarkan terjadinya pergerakan atau pergeseran tanah dari episenter gempabumi dengan menggunakan seismograf sehingga perhitungannya dapat dinyatakan berdasarkan pengukuran amplitudo maksimum yang tercatat di seismograf [1].
Dalam evaluasi risiko gempa, magnitudo tidak diperlakukan sebagai angka informatif semata. Nilai ini digunakan untuk membaca besaran energi seismik yang berpotensi diterjemahkan menjadi tuntutan gaya, deformasi, dan tingkat kerusakan struktur. Karena itu, pemilihan skala magnitudo menjadi relevan bagi engineer dan pengambil keputusa
Berbagai skala magnitudo dikembangkan untuk merepresentasikan karakteristik gempa yang berbeda. Magnitudo lokal (ML/Richter), magnitudo gelombang permukaan (Ms), dan magnitudo gelombang badan (Mb) masing-masing berbasis respon gelombang tertentu. Skala-skala ini masih digunakan dalam kajian seismologi, namun memiliki keterbatasan ketika dijadikan dasar penilaian dampak struktural.
Magnitudo momen (Mw) digunakan karena berbanding lurus dengan energi total yang dilepaskan oleh sumber gempa. Hubungan ini membuat Mw lebih stabil dalam merepresentasikan kekuatan gempa besar dan lebih konsisten untuk evaluasi risiko pada bangunan dan infrastruktur.
Atas pertimbangan tersebut, BMKG menetapkan magnitudo momen (Mw) sebagai standar resmi pelaporan gempa di Indonesia. Akurasi representasi energi seismik ini penting ketika magnitudo digunakan sebagai rujukan awal dalam penilaian potensi kerusakan struktural dan bahaya lanjutan seperti tsunami.
Gambar Frekuensi Gempa dan Daya Rusaknya [3]Magnitudo momen dihitung berdasarkan momen seismik, yang berbanding lurus dengan kekakuan medium batuan, luas bidang patahan, dan besarnya pergeseran rata-rata. Pendekatan ini tidak bergantung pada amplitudo gelombang permukaan semata, sehingga lebih representatif untuk gempa berskala besar.
Penghitungan Magnitude adalah moment gempabumi berbanding lurus dengan kekerasan bumi dikali jumlah rata-rata pergeseran patahan dan area yang mengalami pergeseran [1].
Magnitudo yang berkaitan dengan momen seismik namun tidak bergantung dari besarnya magnitudo permukaan.
Namun pengukuran magnitudo momen lebih kompleks dibandingkan pengukuran magnitudo ML, Ms dan Mb. Karena itu, penggunaannya juga lebih sedikit dibandingkan penggunaan ketiga magnitudo lainnya [2].
Saat ini BMKG menggunakan Magnitudo Momen untuk menyatakan besaran gempa.
Penulis : Dr. Ir. Heri Khoeri, MT.
Tulisan ini adalah bagian kedua dari sebuah pengantar tulisan selanjutnya tentang Bangunan Tahan Gempa.
Daftar Tulisan Selengkapnya:
Konsultasi Penilaian Struktur Terhadap Risiko Seismik
Ketika struktur berada di wilayah rawan gempa, pertanyaan yang biasanya muncul bukan lagi soal apakah risikonya ada, tetapi sejauh mana struktur masih dapat diandalkan dalam kondisi seismik yang aktual. Hal ini sering muncul saat bangunan telah lama beroperasi, direncanakan untuk perpanjangan umur layanan, atau ketika mulai terlihat indikasi awal penurunan kinerja struktural.
Dalam situasi seperti ini, hasil inspeksi, pengujian, atau evaluasi desain perlu dibaca secara hati-hati agar tidak berhenti sebagai data. Tim struktur kami membantu menginterpretasikan temuan tersebut dan mengaitkannya langsung dengan keputusan yang realistis—apakah cukup dengan pengelolaan risiko operasional, diperlukan perkuatan terbatas, atau perlu penyesuaian struktur yang lebih mendasar.
Pendekatan kami mencakup evaluasi kondisi aktual struktur, kesesuaian terhadap ketentuan gempa yang berlaku, serta pengaruh kondisi tanah dan sistem pondasi. Seluruh analisis diarahkan untuk memastikan bahwa setiap rekomendasi dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan relevan terhadap kondisi lapangan.
Fokus akhir dari proses ini bukan pada laporan teknis, melainkan pada kejelasan arah keputusan: bagaimana struktur sebaiknya dioperasikan, dibatasi, diperkuat, atau disiapkan untuk strategi mitigasi risiko seismik jangka menengah hingga panjang.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Gempa bumi (earthquake) adalah peristiwa bergetar atau bergoncangnya bumi karena pergerakan/ pergeseran lapisan batuan pada kulit bumi secara tiba‐tiba akibat pergerakan lempeng‐lempeng tektonik.
Artikel ini adalah bagian pertama dari series pembelajaran tentang gempa bumi dan bangunan tahan gempa. Pemahaman fundamental tentang apa itu gempa bumi—bagaimana terjadinya dan parameter-parameternya—menjadi dasar sebelum Anda memahami konsep magnitudo (artikel #2), intensitas (artikel #3), dan faktor-faktor yang menentukan dampak gempa bumi di lokasi tertentu (artikel #5).
Gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas pergerakan lempeng tektonik disebut gempa bumi tektonik. Namun selain itu, gempa bumi bisa saja terjadi akibat aktivitas gunung berapi yang disebut sebagai gempa bumi vulkanik [1].
Gambar Ilustrasi pergeseran di kerak bumi memancarkan radiasi gelombang gempa bumi hingga menimbulkan goncangan dan perubahan struktur batuan di permukaan [2]Pergeseran batuan terjadi akibat adanya tekanan dan tarikan pada lapisan bumi yang terus menerus sehingga terjadi pengumpulan energi dan pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tidak mampu lagi menahan gerakan tersebut dan terjadilah pelepasan energi yang disebut gempa bumi.
Poin penting di sini: semakin besar energi yang dilepaskan, semakin kuat gempa bumi yang terjadi. Kekuatan gempa ini—yang disebut magnitudo—akan dijelaskan lebih detail di artikel berikutnya. Magnitudo adalah ukuran energi yang bersifat tetap untuk satu kejadian gempa, berbeda dengan intensitas yang berbeda-beda di setiap lokasi berdasarkan jarak dan kondisi geologi setempat.
Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi ini dipancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi. Semakin besar energi yang dilepaskan maka semakin kuat gempa bumi yang terjadi.
Dalam praktik seismik Indonesia, gempa bumi terjadi hampir setiap hari di berbagai lokasi dengan skala magnitude yang bervariasi—mayoritas berkekuatan sangat kecil (magnitude <3) dan tidak terasa atau tidak mencatat kerusakan berarti. Gempa-gempa kecil ini sering menjadi pertanda aktivitas tektonik terus berlangsung dan, dalam beberapa kasus, dapat menjadi pendahulu gempa bumi yang lebih besar. Pemahaman tentang frekuensi dan pola gempa kecil ini penting untuk antisipasi kemungkinan gempa susulan pasca-gempa utama.
Gempa bumi sebenarnya terjadi hampir setiap hari, namun kebanyakan berkekuatan kecil dan tidak menyebabkan kerusakan yang berarti. Gempa bumi berkekuatan kecil juga dapat mengiringi terjadinya gempa bumi yang lebih besar dan dapat terjadi sesudah atau sebelum gempa bumi besar tersebut terjadi.
Pertanyaan yang sering dilontarkan masyarakat setelah terjadi gempa adalah tentang kapan terjadinya, dimana sumber gempa, seberapa besar kekuatan, apakah ada kemungkinan gempa susulan, dan kapan gempa bumi tersebut bisa berakhir sehingga para korban bisa merasa aman dari bahaya gempa bumi susulan berikutnya.
Pertanyaan-pertanyaan publik ini sejatinya adalah refleksi dari kebutuhan akan data gempa yang akurat untuk tujuan berbeda: informasi publik (keselamatan jiwa), investigasi seismik (penelitian), dan investigasi teknis (desain bangunan). Untuk keperluan desain bangunan tahan gempa, parameter-parameter yang perlu dianalisis adalah fondasi dari semua keputusan struktural di tahap awal perencanaan.
Parameter sumber gempa bumi yang sering dianalisis adalah waktu asal gempa, posisi lintang dan bujur episenter gempa, kedalaman sumber gempa, waktu kejadiangempa, dan ukuran kekuatan atau magnitudo gempa, serta intensitas gempa.
Tulisan ini adalah bagian pertama dari sebuah pengantar tulisan selanjutnya tentang Bangunan Tahan Gempa.
Berikut urutan artikel bersambung berkaitan dengan gempa bumi ini:
Konsultasi Investigasi Parameter Seismik untuk Desain Bangunan Tahan Gempa
Pemahaman parameter seismik lokal—termasuk magnitudo historis, intensitas potensial, dan PGA (peak ground acceleration)—adalah tahap awal yang kritis dalam merancang bangunan yang tahan terhadap gempa. Setiap lokasi proyek memiliki karakteristik seismik unik yang memerlukan investigasi lapangan dan analisis teknis untuk menentukan parameter desain yang tepat sesuai dengan SNI 1726.
Tim struktur kami membantu developer dan engineer mendefinisikan parameter seismik lokal, menganalisis data gempa historis setempat, dan menentukan gaya desain gempa yang sesuai dengan kondisi spesifik proyek Anda. Investigasi ini dilakukan sejak tahap studi kelayakan untuk menghindari kesalahan asumsi yang dapat menyebabkan redesign di fase lanjut.
Layanan kami mencakup: survei seismoteknik, analisis historis data gempa lokal, penentuan parameter magnitudo dan intensitas, estimasi PGA berdasarkan regulasi SNI, serta konsultasi interpretasi hasil analisis ke keputusan desain struktur yang cost-effective dan aman.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Pemeriksaan Awal Gedung Pasca Gempa: Fokus Risiko Struktur
Batas Pemeriksaan Awal
Pemeriksaan yang dibahas pada halaman ini bersifat screening visual awal untuk membaca indikasi risiko pasca gempa. Pemeriksaan ini bukan penilaian kelayakan struktur menyeluruh dan tidak menggantikan evaluasi teknis oleh profesional struktur.
Pemeriksaan awal yang dibahas pada panduan ini adalah langkah pertama pemilik gedung untuk membaca kondisi struktur pasca gempa. Tujuannya tegas: menentukan apakah temuan memerlukan perbaikan lokal, penilaian teknis lanjutan, atau tindakan segera. Setelah pemeriksaan selesai, temuan Anda akan masuk ke salah satu dari empat tingkat kerusakan—lihat klasifikasi kerusakan di halaman lain untuk memahami implikasi dari setiap temuan.
Artikel tentang Cara Pemeriksaan Gedung Pasca Gempa ini kami buat atas dasar pertanyaan dari banyaknya pihak yang mengajukan pertanyaan kepada kami, tentang “Apa Yang Harus Dilakukan Pemilik Bangunan Atau Building Management Pasca Gempa?”
Pasca terjadinya gempa, ada baiknya pemilik gedung atau penyewa ataupun building management suatu gedung bertingkat memeriksa kerusakan yang terjadi pada struktur bangunan.
Artikel ini membahas langkah pemeriksaan awal pasca gempa untuk membantu membaca indikasi risiko struktur, serta memahami kapan temuan visual cukup dan kapan diperlukan penilaian teknis lanjutan.
Langkah-Langkah Pemeriksaan Gedung Pasca Gempa
Pemeriksaan awal dapat dilakukan secara visual untuk memastikan keamanan kondisi bangunan pasca-gempa, dimulai dari mengecek struktur utama yang terlihat.
Pemeriksaan Awal Elemen Struktur Utama
Kolom atau Tiang Struktur
Kategori Risiko: Tinggi
Yang biasanya langsung bisa diamati adalah kolom atau tiang.
Jika kondisi dan bentuknya tak berubah, berarti tak ada masalah.
Jika ada retakan harus dilihat lebih lanjut, apakah ada retakan atau tidak.
Jika terdapat retak lihat dengan seksama apakah retaknya hanya di permukaan saja ataukah ada kemungkinan sampai ke dalam.
Temuan Visual
Makna Risiko
Status
Retak permukaan
Indikasi non-struktural
Perlu verifikasi
Retak dalam / terlihat pembesian
Indikasi struktural
Berisiko
Kalau yakin hanya di permukaan, artinya hanya bagian material finishing-nya saja yang rusak (misalkan hanya plesterannya atau material pembungkus lainnnya saja yang rusak.
Namun jika terlihat retak cukup dalam (sampai terlihat pembesiannya) atau secara kasat mata terlihat perubahan bentuk kolom misalkan miring atau bengkok sebaiknya anda waspada dan mengisolasi area tersebut.
Dalam kondisi kerusakan seperti gambar diatas ini, sebelum dilakukan perbaikan, maka harus dilakukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan bahwa struktur masih bisa diperbaiki atau tidak, agar perbaikan yang dilakukan tidak sia-sia atau sebaiknya langsung diganti saja.
Retak permukaan pada beton tidak dapat dinilai hanya dari observasi visual. Gunakan UPV (ultrasonic pulse velocity) atau metode NDT lain untuk verifikasi kedalaman retak—lihat resources klasifikasi kerusakan untuk konteks dampak dari kedalaman retak ini.
Tim Hesa dalam sebuah investigasi sebuah gedung: Keretakan kolom hanya pada permukaan saja, pada material finishing, yang sebenarnya tidak berpotensi mengakibatkan keruntuhan struktur, namun pemilik gedung ingin memastikan apakah retaknya membahayakan atau tidak, maka dilakukan pengukuran kedalaman retak dengan ultrasonic pulse velocity test, UPVTSetelah menemukan indikasi kerusakan pada kolom, Anda akan perlu memahami apakah temuan ini berada di level kerusakan Ringan, Sedang, atau Parah. Pelajari klasifikasi 4 tingkat kerusakan bangunan pasca gempa untuk menentukan langkah tindak lanjut yang tepat.
Lantai Dasar di Sekitar Kolom
Kategori Risiko: Menengah (bergantung kondisi kolom)
Yang dapat langsung diamati adalah lantai dasar.
Jika terjadi perubahan elevasi permukaan lantai, misalnya bergelombang, atau amblas, atau pecah dan posisinya di sekitar kolom, bisa jadi karena adanya kerusakan atau pergeseran ataupun penurunan pondasi.
Tapi tidak perlu khawatir lebih dulu, kalau tidak ada kerusakan pada kolom, belum tentu itu akibat kerusakan atau pergeseran pondasi.
Dan setelah pemeriksaan berikutnya yaitu balok (akan dijelaskan berikutnya) jika tidak ditemukan kerusakan, maka tak perlu khawatir kerusakan yang ada hanya pada lantai dasarnya saja.
Indikasi Lantai
Relasi Struktur
Catatan Risiko
Amblas / bergelombang
Dekat kolom
Perlu cek kolom & balok
Pecah lokal
Jauh kolom
Kemungkinan non-struktural
Jika terjadi kerusakan pada lantai, untuk memastikan bahwa hal tersebut bukan kerusakan pondasi, lakukan pemeriksaan dengan seksama adakah kerusakan pada kolom terdekat.
Jika tidak ada, periksa apakah apakah ada retak pada balok dan sambungan balok kolom.
Jika tidak ada kerusakan pada kolom dan balok, kemungkinan hanya penurunan tanah di bawah penutup lantai saja, maka tidak berpotensi mengakibatkan keruntuhan struktur.
Balok adalah bagian struktur bangunan yang menahan beban pelat lantai.
Balok yang melintang menghubungkan satu kolom dan kolom lainnya disebut balok induk. Sedangkan balok anak, biasanya lebih kecil, difungsikan untuk membagi beban jika bentangan pelat lantai terlalu panjang dan biasanya menahan beba pada dua balok induk di ujung-ujungnya.
Untuk memeriksa balok umumnya harus membongkar plafond.
Agar tidak terlalu banyak membongkar palfond, utamakan pengecekan pada bagian sambungan balok (induk) dengan kolom. Periksa apakah kondisi sambungan antara balok dan kolom dan kondisi di ujung-ujung balok dekat kolom dalam keadaan baik, tidak ada retakan dan pergeseran.
Jika kondisi kerusakan seperti ini jika akan diperbaiki harus dilakukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan bahwa struktur masih bisa diperbaiki atau tidak, agar perbaikan yang akan dilakukan tidak sia-sia atau langsung diganti saja
Area
Risiko
Konsekuensi
Sambungan balok–kolom
Kritis
Potensi kegagalan struktur
Ujung balok
Menengah–tinggi
Penurunan kapasitas beban
Keretakan pada sambungan balok yang tidak membahayakan, karena hanya bagian permukaan, bagian finishingnya saja yang rusak, dapat langsung diperbaiki dan dirapihkan kembali.
Namun untuk meyakinkan, pastikan adakah penurunan balok ataupun pergeseran pada balok, jika tidak ada dapat langsung diperbaiki dan dirapihkan kembali
Ketiga elemen struktur di atas kolom, balok dan pondasi adalah elemen struktur yang jika mengalami kerusakan dapat mengakibatkan keruntuhan bangunan, sehingga pemeriksaan atas elemen-elemen tersebut harus diprioritaskan.
Tangga
Kategori Risiko: Keselamatan Pengguna
Pastikan sambungan antara tangga dengan balok atau lantai dalam keadaan baik, tidak ada retakan besar dan pergeseran.
Jika yakin yang terjadi hanya retakan kecil, tak perlu khwatir, namun jika terjadi retakan besar sebaiknya jangan dilewati sebelum dilakukan perbaikan dan perkuatan, gunakan akses naik lainnya.
Walaupun kerusakan tangga tidak menyebabkan potensi keruntuhan struktur, namun keruntuhan tangga bisa sangat membahayakan.
Atap
Kategori Risiko: Rendah–Menengah
Yang dapat diamati dengan mudah adalah penutup atap.
Perhatikan apakah terjadi perubahan bentuk ataupun pergeseran pada penutup atap. Kerusakan pada rangka atap biasanya berhubungan dengan tumpuan di bawahnya, yaitu kolom dan balok.
Selama kolom dan balok baik-baik saja, seharusnya tak ada masalah.
Namun, taka da salahnya memastikan rangka atapnya, tentunya harus dilihat dari bawah, biasanya dengan membongkar plafond. Pastikan tidak ada sambungan rangka yang lepas.
Jika ada penutup genteng yang melorot atau seng yang lepas sebagian material penutup atap yang jatuh, selama rangkanya baik-baik saja, tak perlu khawatir, cukup lakukan perbaikan setempat.
Selanjutnya perhatikan langit-langit atau plafon, pastikan tidak ada retakan, jika ada cukup lakukan perbaikan setempat, walaupun tidak berpotensi mengakibatkan keruntuhan struktur, tetap saja jika jatuh bisa saja menimpa dan mencederai sesorang.
Tabel Pemeriksaan Elemen Struktur
Elemen yang Diperiksa
Tingkat Risiko
Indikasi Umum di Lapangan
Fokus Pemeriksaan
Kapan Diperlukan Pemeriksaan dengan Alat
Alat NDT yang Relevan
Kolom / Tiang Struktur
Tinggi
Retak permukaan, pola retak memanjang, spalling lokal
Verifikasi apakah retak bersifat dangkal atau menembus beton struktural
Saat penilaian visual tidak dapat memastikan kedalaman, kontinuitas, atau arah retak
Ultrasonic Pulse Velocity (UPV)
Lantai Dasar di Sekitar Kolom
Menengah (bergantung kondisi kolom)
Lantai amblas, pecah, atau terangkat
Korelasi kondisi lantai dengan perilaku kolom dan tumpuan
Saat terdapat indikasi pergerakan atau ketidakrataan yang berpotensi terkait elemen struktur utama
UPV, Ground Penetrating Radar (GPR)
Balok dan Sambungan Balok–Kolom
Tinggi
Retak di zona sambungan, retak diagonal
Identifikasi potensi gangguan transfer gaya
Saat pola retak berada di zona kritis dan tidak dapat dikonfirmasi secara visual
Ultrasonic Pulse Velocity (UPV)
Tangga
Menengah–Tinggi
Retak anak tangga, perubahan elevasi
Evaluasi risiko keselamatan pengguna
Saat retak atau deformasi mempengaruhi jalur beban dan stabilitas tangga
Ultrasonic Pulse Velocity (UPV)
Atap
Rendah–Menengah
Kebocoran, deformasi rangka
Pemeriksaan integritas rangka dan elemen pendukung
Saat deformasi atau penurunan kinerja tidak dapat ditentukan penyebabnya secara visual
UPV, Infrared Thermography
Elemen Non-Struktur dan Dampaknya
Elemen bangunan lainnya seperti dinding, jendela, pintu, kusen, plafon, partisi dan lantai disebut elemen non-struktur.
Elemen non struktur yang mudah terlihat untuk diamati kerusakannya karena gempa adalah dinding dan jendela. Jika kerusakannya dalam skala kecil seperti sebagian dinding retak, jendela kaca pecah atau plafon jatuh, tak perlu khawatir selama struktur utama (kolom, balok, atap dan pondasi) masih dalam kondisi baik.
Bahkan seandainya ada dinding yang ambruk pun, jangan terlalu khawatir, cukup lakukan renovasi pada lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan saja.
Tapi kalimat “jangan terlalu khawatir” bukan berati diartikan tidak perlu diperbaiki, tetap saja yang namanya kerusakan bangunan sebaiknya segera diperbaiki, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, misalnya kitchen set jatuh karena retakan dinding, lampu gantung jatuh karena retakan lantai ataupun hal-hal lainnya yang berpotensi mencederai penggunanya.
Yang Tidak Bisa Disimpulkan dari Pemeriksaan Visual
Kekuatan sisa struktur
Kapasitas gempa bangunan
Kelayakan fungsi jangka panjang
Jika setelah dilakukan pengecekan awal pada struktur bangunan tidak ditemukan indikasi kerusakan pada elemen-elemen struktur, berarti bangunan dalam kondisi aman, cukup lakukan perbaikan pada lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan.
Tapi jika ditemukan kerusakan pada elemen struktur seperti kolom retak cukup dalam, lantai di bawah kolom naik/ turun, sambungan balok dengan kolom retak pada banyak lokasi segera hubungi profesional:
Kapan Pemeriksaan Profesional Menjadi Perlu
Pemeriksaan profesional menjadi perlu ketika hasil pemeriksaan visual awal tidak lagi memberikan kepastian teknis atas kondisi struktur.
Temuan seperti retak yang cukup dalam pada kolom, perubahan bentuk elemen struktur, perbedaan elevasi lantai di sekitar kolom, atau kerusakan yang muncul pada banyak titik bukan lagi berada pada wilayah asumsi aman berbasis visual.
Pada kondisi tersebut, keputusan tidak lagi berada pada perbaikan lokal atau renovasi permukaan, melainkan pada penilaian apakah struktur masih memiliki kapasitas yang memadai atau memerlukan tindakan lanjutan.
Di titik ini, pemeriksaan lanjutan oleh profesional struktur diperlukan untuk menghindari keputusan yang keliru, baik berupa perbaikan yang tidak efektif maupun pengabaian risiko yang berpotensi membahayakan.
FAQ – Pertanyaan yang Sering Muncul
Kapan pemeriksaan visual tidak lagi memadai?
Pemeriksaan visual tidak lagi memadai ketika retak, deformasi, atau indikasi kerusakan tidak dapat dipastikan hanya dari tampilan permukaan. Pada kondisi tersebut, observasi visual hanya berfungsi sebagai penyaring awal dan belum cukup untuk menilai kondisi internal elemen struktur.
Apa risiko jika keputusan diambil hanya dari observasi visual?
Keputusan yang hanya didasarkan pada observasi visual berisiko mengabaikan kerusakan internal yang tidak terlihat dari luar. Hal ini dapat menyebabkan penilaian kondisi struktur menjadi tidak akurat dan keputusan tindak lanjut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Apakah retak permukaan selalu aman?
Tidak selalu. Sebagian retak memang hanya terjadi pada lapisan finishing, namun pada beberapa kasus retak permukaan dapat menjadi indikasi awal dari kondisi yang lebih dalam. Tanpa data tambahan, retak permukaan tidak dapat langsung dikategorikan aman atau berbahaya.
Bagaimana hasil pemeriksaan awal seharusnya digunakan dalam pengambilan keputusan?
Hasil pemeriksaan awal sebaiknya digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan, metode evaluasi tambahan, atau tindakan tertentu. Pemeriksaan awal berfungsi untuk memetakan kondisi dan tingkat kebutuhan analisis lebih lanjut, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan akhir.
Butuh Penilaian Teknis Pemeriksaan Pasca Gempa?
Dalam banyak kasus, pemeriksaan pasca gempa sudah dilakukan—
baik secara visual, internal, maupun oleh tim lapangan.
Namun yang sering tersisa adalah pertanyaan teknis:
Apakah temuan ini sudah cukup untuk mengambil keputusan? Apakah perlu pengujian lanjutan, atau sebenarnya tidak?
Di titik inilah penilaian independen dibutuhkan.
Untuk membaca ulang temuan kemudianm menerjemahkannya menjadi keputusan teknis yang jelas.
Review dan penilaian teknis atas hasil inspeksi pasca gempa
Klarifikasi apakah pemeriksaan lanjutan memang diperlukan
Penentuan elemen struktur yang perlu perhatian khusus
Penyusunan arah tindak lanjut yang proporsional dan rasional
Hubungi : PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Analisis Dinamik Riwayat Waktu adalah suatu cara analisis untuk menentukan riwayat waktu respon dinamik struktur bangunan gedung yang berperilaku linear atau nonlinier terhadap gerakan tanah akibat Gempa.
Konteks Artikel dalam Series Gempa: Artikel ini adalah bagian dari pembelajaran lengkap tentang gempa bumi dan bangunan tahan gempa. Sebelumnya Anda telah mempelajari magnitudo (kekuatan gempa) dan intensitas lokal (dampak gempa di lokasi tertentu). Pada artikel ini, Anda akan memahami metode analisis untuk mengevaluasi respons struktur bangunan terhadap rekaman gempa aktual — proses yang menghubungkan input seismik dengan keputusan desain struktur.
Rencana sebagai data masukan, di mana respon dinamik dalam setiap interval waktu dihitung dengan metode integrasi bertahap.
Implikasi Praktis Ketergantungan Waktu: Ketika beban gempa adalah fungsi waktu, respon puncak struktur tidak hanya ditentukan oleh amplitudo beban maksimal, melainkan juga oleh fase beban saat struktur dalam kondisi tertentu. Artinya, struktur yang sama dapat mengalami respon berbeda jika dipembebani dengan akselerogram gempa yang berbeda — meskipun magnitudo sama. Inilah sebabnya time history analysis lebih detail daripada spektral analysis yang hanya memberikan envelope single respon puncak.
Beban gempa merupakan fungsi dari waktu, sehingga respon yang terjadi pada struktur gedung juga tergantung dari waktu pembebanan.
Akibat beban Gempa Rencana maka struktur akan tetap berperilaku elastik untuk analisis linear dan berperilaku inelastik untuk analisis nonlinear. Biasanya analisis riwayat waktu lebih sering digunakan untuk kondisi nonlinear, namun tidak jarang juga digunakan untuk kondisi linear saja.
Untuk mendapatkan respon struktur akibat pembebanan dari rekamAccelerograms, (accelogram; perekaman akselerasi gerakan dasar bumi pada saat gempa terjadi) penggunaan modal analisis tidak dapat dilakukan, integrasi numerik langsung dengan memperhatikan struktur sebagai persamaan couple adalah dasar dari analisis Time History dimana metode integrasi yang umumnya digunakan adalah metode Newmark.
Dalam RSNI Gempa 1726: 2012 disyaratkan paling sedikit tiga gerak tanah yang sesuai harus digunakan dalam analisis.
Kondisi lokasi, geologi, topografi dan seismotektoniknya dipilih yang sesuai dengan lokasi tempat struktur gedung yang ditinjau berada.
Hal ini untuk mengurangi ketidakpastian mengenai kondisi lokasi. Maka paling sedikit harus ditinjau 3 buah akselerogram dari 3 gempa yang berbeda.
Jika rekaman gempa yang didapatkan tidak cukup, diperbolehkan menggunakan rekaman gempa buatan yang disesuaikan dengan respon spectrum di lokasi struktur berada.
Rekam gempa yang digunakan juga harus dimodifikasi puncak percepatannya hingga sekurang-kurangnya setara terhadap spektrum SNI. Beban gempa adalah fungsi waktu, sehingga respon pada struktur juga tergantung dari waktu pembebanan. Contoh rekam gempa asli dan rekam gempa yang telah dimodifikasi:
Hasil gambar untuk ACCELEROGRAMGambar 1 Riwayat waktu gempa yang terekam accelerogram dan gempa hasil simulasi (modifikasi)
Analisis Dua Dimensi
Apabila analisis dua dimensi dilakukan maka setiap gerak tanah harus terdiri dari riwayat waktu percepatan tanah horisontal yang diseleksi dari rekaman gempa aktual. Percepatan tanah yang sesuai harus diambil dari rekaman peristiwa gempa yang memiliki magnitudo, jarak patahan, dan mekanisme sumber gempa yang konsisten dengan hal-hal yang mengontrol ketentuan gempa maksimum yang dipertimbangkan.
Apabila jumlah rekaman gerak tanah yang sesuai tidak mencukupi maka harus digunakan rekaman gerak tanah buatan untuk menggenapi jumlah total yang dibutuhkan.
Gerak-gerak tanah tersebut harus diskalakan sedemikian rupa sehingga nilai rata-rata spektrum respons dengan redaman 5 persen dari semua gerak tanah yang sesuai di situs tersebut tidak boleh kurang dari spektrum respons desain setempat untuk rentang perioda dari 0,2T hingga 1,5T , di mana T adalah perioda getar alami struktur dalam ragam getar fundamental untuk arah respons yang dianalisis.
Analisis tiga dimensi
Apabila analisis tiga dimensi dilakukan maka gerak tanah harus terdiri dari sepasang komponen percepatan tanah horisontal yang sesuai, yang harus diseleksi dan di skalakan dari rekaman peristiwa gempa individual.
Gerak tanah yang sesuai harus diseleksi dari peristiwa-peristiwa gempa yang memiliki magnitudo, jarak patahan, dan mekanisme sumber gempa yang konsisten dengan hal-hal yang mengontrol ketentuan gempa maksimum yang dipertimbangkan.
Apabila jumlah pasangan rekaman gerak tanah yang sesuai tidak mencukupi maka harus digunakan pasangan gerak tanah buatan untuk menggenapi jumlah total yang dibutuhkan.
Untuk setiap pasang komponen gerak tanah horisontal, suatu spektrum SRSS harus dibuat dengan mengambil nilai SRSS dari spektrum respons dengan 5 persen faktor redaman untuk komponen-komponen gerak tanah yang telah diskalakan (di mana faktor skala yang sama harus digunakan untuk setiap komponen dari suatu pasangan gerak tanah).
Setiap pasang gerak-gerak tanah tersebut harus diskalakan sedemikian rupa sehingga pada rentang perioda dari 0,2T hingga 1,5T , nilai rata-rata spektrum SRSS dari semua pasang komponen horizontal tidak boleh kurang dari nilai ordinat terkait pada spektrum respons yang digunakan dalam desain, yang ditentukan sesuai dengan 6.4 atau 6.9.
Untuk situs yang berada dalam jarak 5 km dari patahan aktif yang menjadi sumber bahaya gempa, setiap pasangan komponen gerak tanah harus dirotasikan ke arah normal-patahan dan arah sejajar-patahan sumber gempa dan harus diskalakan sedemikian rupa sehingga nilai rata-rata komponen normal patahan tidak kurang dari spektrum respons gempa MCER untuk rentang perioda dari 0,2T hingga 1,5T .
Referensi:
[1] SNI 1726:2012. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung
Jika Anda sedang merancang struktur di area seismik tinggi atau mengevaluasi struktur existing terhadap potensi gempa, pemilihan metode analisis (spektral vs. time history) adalah keputusan kritis, yang berdampak langsung pada hasil desain dan biaya konstruksi.
Tim struktur kami siap membantu Anda dalam setiap tahap:
Seleksi accelerogram yang sesuai dengan karakteristik gempa lokal dan konsistensi dengan SNI 1726
Scaling dan modifikasi rekaman gempa agar sesuai dengan spektrum desain
Setup model 2D/3D untuk time history analysis dengan metode integrasi yang tepat
Interpretasi hasil analisis dan translasi ke keputusan desain yang praktis dan dengan biaya yang rasional
Evaluasi margin keselamatan untuk kondisi linear maupun nonlinear
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1 Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Menurut SNI Gempa 03-1726-2002*, analisis statik beban dorong (pushover) adalah :
suatu analisis nonlinier statik, yang dalam analisisnya pengaruh gempa rencana terhadap struktur bangunan gedung dianggap sebagai beban statik pada pusat massa masing-masing lantai, yang nilainya ditingkatkan secara berangsur-angsur sampai melampaui pembebanan sehingga menyebabkan terjadinya pelelehan (sendi plastis) pertama di dalam struktur bangunan gedung, kemudian dengan peningkatan beban lebih lanjut mengalami perubahan bentuk pasca-elastik yang besar sampai mencapai target peralihan yang diharapkan atau sampai mencapai kondisi plastik [1].
Metode analisis pushover merupakan salah satu komponen performance based design yang menjadi sarana untuk mengetahui kapasitas suatu struktur [2], dari hasil analisis, dapat digambarkan hubungan antara base shear dan roof displacement, hubungan tersebut kemudian dipetakan sebagai kurva kapasitas struktur.
Struktur 16 lantai yang diilustrasikan berikut ini dianalisis menggunakan metode pushover untuk memahami urutan dan level kerusakan elemen akibat pembebanan lateral yang meningkat secara bertahap. Contoh ini mendemonstrasikan bagaimana membaca dan menginterpretasikan hasil analisis pushover—khususnya kurva kapasitas dan performa struktur dalam konteks gempa rencana.
Selain itu, analisis pushover juga dapat memperlihatkan secara visual perilaku struktur pada saat kondisi elastis, plastis dan sampai terjadinya keruntuhan pada elemen-elemen strukturnya. Informasi tersebut berguna dalam menggambarkan respons inelastis bangunan ketika mengalami gempa.
Studi Kasus: Analisis Pushover Struktur 16 Lantai
Analisis struktur gedung 16 lantai berikut ini mengilustrasikan pushover analysis.
Gambar 1 – Model Struktur 16 Lantai untuk Analisis Pushover
Gambar 1 menunjukkan model struktur 16 lantai. Struktur ini dibebani gaya push over pada arah-x dan arah-y.
Pada gambar 2, terlihat telah terbentuk sendi plastis berwarna merah jambu (pelelehan pertama) pada balok lantai 10, ketika struktur dibebani gaya dorong pada arah-x sebesar 357966 kg.
Pembebanan lateral dalam contoh ini diterapkan secara monoton satu arah (arah-x saja). Hal ini berarti respons struktur yang ditunjukkan tidak merepresentasikan efek simultaneous dua arah perpendicular atau efek cyclic loading yang terjadi dalam gempa nyata. Interpretasi hasil ini berlaku spesifik untuk skenario pembebanan ini pada struktur regular seperti pada Gambar 1.
Gambar 2–7 – Perkembangan Sendi Plastis dengan Peningkatan Beban Lateral (Arah-X)
Seiring ditingkatkannya gaya dorong terbentuklah sendi-sendi plastis lainnya pada balok yang mulai ada yang berwarna biru (mulai tampak kerusakan struktur ringan pada balok) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3, di mana beban yang bekerja adalah = 602576 kg, yang mengakibatkan lendutan pada arah x = 0.2199 m.
Pada Gambar 4 terlihat sendi plastis berwarna biru semakin banyak terjadi pada balok dan terlihat mulai terjadi pelelehan pertama pada kolom lantai dasar, gaya yang bekerja pada step ini adalah 704000 kg dan lendutan yang terjadi = 0.3099 m.
Gambar 2 sampai dengan gambar 6 menunjukkan visualisasi perilaku struktur dan terbentuknya sendi-sendi plastis pada posisi-posisi struktur akibat dibebani beban tertentu pada pusat masa dimana besarnya beban tersebut ditingkatkan secara berangsur-angsur.
Dengan penambahan beban sampai 871050 kg struktur sudah diambang keruntuhan ditandai dengan terbentuknya sendi plastis berwarna kuning di kolom lantai dasar seperti ditunjukkan pada gambar 5. Dengan penambahan beban sedikit saja struktur akan mengalami keruntuhan seperti pada gambar 6. Gambar 7 menunjukkan hubungan simpangan arah-X dan Base Reaction.
Interpretasi Kurva Kapasitas dan Tahapan Kerusakan
Warna yang ditunjukkan oleh sendi plastis menunjukkan tingkat kelelehan yang terjadi seperti digambarkan pada gambar 5. Berdasarkan filosofi desain yang ada, tingkat kinerja struktur bangunan akibat gempa rencana adalah Life Safety, yaitu walaupun struktur bangunan mengalami tingkat kerusakan yang cukup parah namun keselamatan penghuni tetap terjaga karena struktur bangunan tidak sampai runtuh.
[ADDED – PRIORITAS 1: Mapping Tahapan A–E ke Implikasi Teknis]
Tabel di bawah menunjukkan interpretasi progresif dari kurva kapasitas, dari awal pembebanan (A) hingga keruntuhan (E). Setiap tahapan mencerminkan perubahan state struktur dan implikasi teknis dalam membaca respons inelastis struktur terhadap pembebanan lateral yang meningkat.
Tahap
Kondisi Struktur
Implikasi Teknis dalam Interpretasi Output
A
Awal pembebanan, elastis penuh
Struktur dalam zona elastik linear. Tidak ada plastisasi elemen. Stiffness struktur penuh. Respons dapat diprediksi dengan analisis elastis.
B
Batas elastis / leleh pertama (yield)
Sendi plastis pertama terbentuk (dalam contoh: balok lantai 10 pada beban 357966 kg). Dalam interpretasi: cek apakah lokasi leleh pertama konsisten dengan hierarchy desain yang diinginkan atau menunjukkan weak link tidak terduga.
B–C
Elastis-plastis progresif
Sendi plastis tambahan terbentuk berurutan di elemen-elemen lain (Gambar 3–4: balok biru semakin banyak). Interpretasi: monitor distribusi kerusakan—apakah tersebar imbang atau terkonsentrasi di zone tertentu? Ini berpengaruh pada ductility global struktur.
C
Puncak kekuatan (peak capacity)
Gaya geser dasar mencapai maksimum. Simpangan atap pada titik ini menjadi reference point untuk demand check. Setelah titik ini, struktur mulai kehilangan kapasitas lateral. Nilai base shear di C adalah estimasi kapasitas lateral maksimal struktur.
C–D
Degradasi kekuatan (strength degradation)
Elemen mulai kehilangan kekuatan sementara deformasi terus meningkat (Gambar 5: sendi kuning bertambah di kolom lantai dasar). Ini adalah zona warning dalam evaluasi—struktur masih stabil tapi kapasitas menurun. Untuk desain, zona ini menunjukkan reserve capacity yang terbatas.
D–E
Runtuh / loss of stability
Setelah deformasi tertentu (Gambar 6), struktur tidak lagi mampu mendukung beban lateral. Deformasi melampaui titik E menandai keruntuhan fisik. Interpretasi: E adalah batas absolut dari kapasitas struktur. Dalam target peralihan, struktur harus tetap di bawah titik ini dengan margin keamanan.
Pada grafik diatas respon linier dimulai dari titik A (unloaded component) dan kelelehan mulai terjadi pada titik B. Respon dari titik B ke titik C merupakan respon elastis plastis.
Titik C merupakan titik yang menunjukkan puncak kekuatan komponen, dan nilai absisnya yang merupakan deformasi menunjukkan dimulainya degradasi kekuatan struktur (garis C-D).
Pada titik D, respon komponen struktur secara substansial menghadapi pengurangan kekuatan menuju titik E. Untuk deformasi yang lebih besar dari titik E, kekuatan komponen struktur menjadi nol [3].
Tipikal kurva tersebut seperti ditunjukkan pada gambar 8 berikut:
Gambar 8 – Kurva Kapasitas: Tahapan Kerusakan dari Elastis hingga Keruntuhan
Keterangan Tahapan pada Kurva Kapasitas
A
Awal Pembebanan, belum ada sendi plastis
B
Batas linier yg diikuti pelelehan pertama pada struktur
IO
Immediate Occupancy, terjadi kerusakan ringan struktur
LS
Life Safety, terjadi kerusakan sedang pada struktur, namun belum berpotensi runtuh
CP
Collapse Prevention, kerusakan berat pada struktur yang berpotensi runtuh
C
Batas maksimum gaya geser yang masih mampu ditahan
D
Terjadi degradasi kekuatan struktur
E
Runtuh
Catatan Interpretasi Praktis: Kurva kapasitas pada Gambar 8 menunjukkan apa yang struktur mampu capai. Dalam evaluasi seismik, kurva ini harus dibandingkan dengan demand (perpindahan yang diharapkan dari gempa rencana) untuk memverifikasi: apakah struktur dapat mencapai target performance level (LS dalam contoh ini) tanpa exceeded capacity elemen kritis? Output numeris gaya dorong (357966 kg, 602576 kg, dst.) dan simpangan atap adalah data yang diperlukan untuk membuat demand-capacity comparison ini.
Kurva kapasitas hasil dari analisis push over (gambar 8) menunjukkan hubungan antara gaya geser dasar (base shear) dan perpindahan atap akibat beban lateral yang diberikan pada struktur dengan pola pembebanan tertentu sampai pada kondisi ultimit atau target peralihan yang diharapkan. Dengan mengetahui perilaku struktur dari mulai masih dalam batas elastis sampai dengan keruntuhannya, maka kita dapat merencanakan dan mensimulasikan pola keruntuhan yang diharapkan, yang mampu meminimalisir jumlah korban pada saat terjadinya gempa.
Hasil analisis pushover tidak sepatutnya diinterpretasikan dari satu nilai kapasitas atau simpangan atap semata, melainkan dari urutan terbentuknya sendi plastis dan progresif kerusakan elemen-elemen struktur. Seperti yang ditunjukkan dalam contoh 16 lantai ini, lokasi leleh pertama pada balok lantai 10 dan tahapan selanjutnya hingga terbentuknya sendi di kolom lantai dasar memberikan informasi mekanistik tentang bagaimana struktur mendistribusikan dan merespons beban lateral. Pemahaman atas pola ini menjadi dasar untuk memverifikasi bahwa struktur mencapai target performa yang diharapkan tanpa mengalami kerusakan yang tidak terduga atau mode keruntuhan yang tidak diinginkan.
Hasil interpretasi pushover—urutan dan level kerusakan elemen—perlu diperkuat dengan pemahaman atas manifestasi kerusakan fisik yang diamati di lapangan. Analisis pushover memberikan prediksi mekanistik tentang bagaimana struktur akan berdeformasi dan mana elemen yang akan rusak lebih dulu. Prediksi ini dapat divalidasi dengan observasi langsung keretakan beton dan pola kerusakan pada struktur existing. Untuk pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana mengidentifikasi dan memaknai keretakan struktur beton yang terbentuk akibat respons seismik atau pembebanan lateral, lihat artikel Mengenali Jenis Keretakan Struktur Beton. Kedua pendekatan—analitis dan observasional—saling melengkapi dalam evaluasi kondisi dan kapasitas struktur yang sebenarnya.
*SNI 03-1726-2002 sebagai Baseline Referensi: SNI 03-1726-2002 merupakan standar foundational untuk performance-based design dan pushover analysis method di Indonesia. Referensi ini digunakan dalam contoh ini untuk mendefinisikan metode analisis nonlinier statik. Perkembangan metodologis dan guidance terbaru dapat dilihat pada SNI Gempa 2019 dan literatur seismic evaluation kontemporer.
Konsultasi Teknis & Layanan Struktur
Jika Anda sedang mengevaluasi perilaku struktur, evaluasi kapasitas bangunan, Assesment Struktur,
atau membutuhkan pendampingan analisis dan desain struktur berbasis standar teknis,
tim kami siap membantu secara profesional.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Setelah melakukan pemeriksaan visual awal struktur pasca gempa, Anda perlu memahami: apa arti dari temuan yang ditemukan? Halaman ini menjelaskan 4 klasifikasi tingkat kerusakan bangunan (Parah, Sedang, Ringan, Sangat Ringan) sebagai framework untuk menginterpretasi hasil pemeriksaan. Jika belum melakukan pemeriksaan struktur, baca terlebih dahulu panduan pemeriksaan awal gedung pasca gempa untuk prosedur step-by-step.
Gempa Bumi adalah salah satu gejala alam yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi dan berapa besar gempa tersebut, pada umumnya gempa terjadi pada pertemuan dua buah lempeng tetapi lokasi yang tepat sulit diprediksi.
Gempa tidak dapat dicegah dan dapat menyebabkan dampak bagi manusia seperti kematian, kerusakan pada bangunan rumah tinggal, fasilitas umum, dll.
Pengalaman dari gempa besar yang terjadi di Indonesia, Nangroe Aceh Darussalam (2004), Daerah Istimewa Yogyakarta (2006), Lombok (2018) dan Palu (2018), di mana gempa besar yang terjadi diikuti gempa-gempa susulan, dan beberapa kejadian keruntuhan terjadi pada gempa susulan.
Ketika gempa terjadi, struktur mengalami perpindahan (drift) dan sambungan balok-kolom mungkin berperilaku plastis. Pemahaman tentang mekanisme ini penting untuk memahami 4 level klasifikasi di bawah ini. Untuk prosedur pemeriksaan visual yang mendeteksi kondisi ini, baca panduan pemeriksaan awal.
Gambar 6 Ilustrasi struktur masih dalam kondisi elastis dan tidak terjadi drift permanen pasca gempa
Gambar 7 Ilustrasi terbentuknya sendi plastis dan terjadi drift permanen pada struktur pasca gempa
4 Jenis Klasifikasi Kerusakan
Tingkat Kerusakan Dan Keamanan Bangunan Pasca Gempa dapat diklasifikasikan secara general sebagai berikut:
1. Parah
Struktur mengalami drift (pergeseran/ lendutan lateral) permanen yang besar, kekakuan dan kekuatan struktur tinggal sedikit yang tersisa. Terlihat retakan-retakan besar pada struktur, terutama pada posisi dekat sambungan kolom dan balok. System dan komponen non struktural seperti dinding pengisi, parapet, partisi, mekanikal dan elkektrikal mengalami kerusakan hampir menyeluruh. Walaupun kolom dan struktur masih berdiri dan belum runtuh, adanya gempa susulan sangat mungkin menyebabkan terjadinya keruntuhan. Pada kondisi ini bangunan tidak dapat dipergunakan lagi, sebaiknya segera diruntuhkan.
2. Sedang
Struktur masih memiliki kekuatan dan kekakuan yang tersisa di semua lantainya walaupun terjadi beberapa drift permanen (pergeseran/ lendutan lateral), ditemukan retak-retak struktur pada elemen pelat, balok, kolom dan dinding geser, namun masih mampu berfungsi sebagai elemen penahan gravitasi. Terjadi kerusakan yang banyak pada system dan komponen non struktural seperti dinding pengisi, parapet, partisi, mekanikal dan elektrikal namun tidak menimbulkan potensi bahaya runtuhan. Adanya gempa susulan dengan skala lebih kecil masih berpotensi menaikkan level kerusakan dan kemananan. Bangunan dapat diperbaiki secara teknis dan dapat ditempati kembali setelah selesai perbaikan namun mungkin secara ekonomis menjadi tidak layak.
3. Ringan
Tidak terjadi drift (pergeseran/ lendutan lateral) permanen. Tidak terjadi perlemahan kekuatan dan kekakuan struktur secara substansial. Terjadi retak-retak kecil pada elemen struktural dan juga elemen non struktural seperti fasad, partisi, dan langit-langit. Elevator dan fire protection (jika ada) masih berfungsi. Kerusakan yang ada sifatnya minor dan perbaikannya dapat dilakukan tanpa mengganggu pemakai bangunan. Bangunan pada level ini hampir langsung dapat dipakai setelah kejadian gempa.
4. Sangat Ringan
Tidak terjadi drift permanen (pergeseran/ lendutan lateral). Tidak terjadi perlemahan kekuatan dan kekakuan struktur yang ditandai dengan tidak ditemukannya retak struktur. Terjadi retak-retak kecil pada elemen non struktural seperti fasad, partisi, dan langit-langit. Semua sistem untuk operasionalisasi bangunan masih berfungsi normal. Bangunan tetap dapat beroperasi langsung setelah gempa terjadi, karena elemen struktur utama tidak mengalami kerusakan sama sekali dan elemen non-struktur hanya mengalami kerusakan sangat kecil sehingga tidak menjadi masalah.
Ilustrasi gambar di bawah menggambarkan komponen struktur (yang di garis bawah merah) dan non struktur.
Ilustrasi gambar struktur dan non struktur
Intinya, elemen struktur (kolom, balok, sambungan) adalah prioritas utama. Jika tidak ada kerusakan pada elemen-elemen ini, bangunan masih dalam level aman—walaupun banyak kerusakan non-struktur. Untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan prosedur yang terstruktur dan detail, ikuti panduan lengkap pemeriksaan awal gedung pasca gempa.
Ditulis oleh: Dri.Ir. Heri Khoeri, MT
Konsultasi Evaluasi Struktur Bangunan Pasca Gempa
Setelah tingkat kerusakan bangunan diketahui, langkah teknis berikutnya adalah memastikan
apakah struktur existing masih memiliki kapasitas yang memadai
untuk digunakan kembali dan aman terhadap gempa susulan.
Evaluasi dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan pasca gempa
dengan analisis dan desain struktur awal, sehingga keputusan yang diambil
berbasis kondisi aktual, bukan asumsi visual semata.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Indonesia adalah Negara dengan tingkat kegempaan yang sangat tinggi karena diapit oleh lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, hal ini menyebabkan tantangan sendiri bagi para ahli struktur dalam merancang suatu bangunan gedung yang tahan terhadap gempa.
Picture by Ivan Cujic. On https://www.pexels.com/photo/sky-architecture-building-modern-109479/ ✓ Free for personal and commercial use ✓ No attribution required
Pada proses perancangan beban gempa dapat dilakukan dengan berbagai analisis mulai dari statik ekivalen dan analisis dinamik respon spektrum. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau struktur gedung menggunakan analisis dinamik respon spektrum struktur yang mengacu pada SNI 03-1726-2012.
Pembebanan yang di input yaitu beban mati, beban hidup dan beban gempa. Bangunan gedung yang ditinjau dalam tulisan ini yaitu gedung bentuk gedung L dan T dengan inersia yang sama terhadap sumbu arah x. Masing-masing struktur berlantai 3 dengan menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK).
Kedua bentuk gedung tersebut akan dianalisis menggunakan respon spektra desain kota Jakarta Pusat dan diasumsikan sebagai tanah lunak. Untuk mempercepat proses perhitungan analisis ini menggunakan bantuan software Etabs versi 9.6.
Analisis respon struktur yang ditinjau adalah waktu getar, perpindahan (displacement), rasio simpangan antar lantai (storydrift), momen lentur (bendingmomen) balok dan kolom serta torsi (Torsion) dari kedua bangunan gedung bentuk L dan T.
Dari hasil analisis kedua bentuk gedung didapatkan data data sebagai berikut:
Gedung bentuk L mempunyai waktu getar lebih kecil daripada gedung bentuk T,
Perpindahan (displacement) gedung bentuk T lebih kecil daripada gedung bentuk L,
Simpangan antar lantai (storydrift) gedung bentuk T lebih kecil dari pada gedung bentuk L,
Momen bentuk gedung T,
Momen maksimum gedung bentuk L lebih kecil daripada gedung bentuk T,
Serta torsi rata rata gedung bentuk T lebih kecil daripada gedung bentuk L.
Penulis: Rizwan Komarudin1, Heri Khoeri2, Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta
Artikel ini adalah contoh aplikasi dari konsep-konsep yang telah dipelajari dalam series pembelajaran gempa bumi sebelumnya. Parameter seismik lokal (dari artikel #2, #3, #5) ditransformasi menjadi respons spektra desain yang kemudian digunakan untuk analisis dinamik struktur. Setiap keputusan desain yang dihasilkan—dimensi balok, pengujaran kolom, detail joint—adalah konsekuensi langsung dari pemahaman parameter seismik dan perilaku struktur terhadap beban gempa.
Untuk referensi lengkap series pembelajaran gempa bumi dan aplikasinya dalam desain struktur, Anda dapat merujuk pada artikel-artikel yang telah dijelaskan sebelumnya dan memperdalam pemahaman melalui studi kasus praktis seperti yang disajikan di artikel ini.
Konsultasi Analisis Respons Spektrum & Desain Struktur Tahan Gempa
Jika Anda sedang menyusun desain bangunan tahan gempa, mengevaluasi respons spektrum untuk geometri struktur kompleks, atau menyesuaikan perencanaan dengan ketentuan SNI 1726-2012, tim struktur kami dapat membantu menafsirkan hasil analisis dan menerjemahkannya ke keputusan desain yang praktis dan ekonomis.
Pendampingan dapat mencakup peninjauan model dinamis, penentuan parameter respons spektrum yang relevan dengan kondisi seismik lokal, analisis output struktur (perpindahan, story drift, momen, torsi), serta telaah rasionalitas sistem penahan gaya gempa untuk kebutuhan proyek Anda—mulai dari tahap studi kelayakan hingga detail desain.
Layanan kami mencakup: pemodelan struktur menggunakan software analisis (ETABS, SAP2000, atau sesuai preferensi), interpretasi hasil analisis dinamik, optimisasi dimensi struktur berdasarkan kriteria SNI dan peraturan lokal, serta rekomendasi detail struktur yang aman dan cost-effective.
PT Hesa Laras Cemerlang
Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia