Uji Mutu Dan Integritas Beton Dengan Pulse Echo

Uji Mutu Dan Integritas Beton Dengan Pulse Echo

Pulse Echo Test adalah metode non-destruktif yang digunakan untuk memperoleh indikasi kondisi internal beton pada elemen struktur yang hanya dapat diakses dari satu sisi. Metode ini memanfaatkan respon pantulan gelombang ultrasonik untuk membantu mengidentifikasi perbedaan material, indikasi ketidakhomogenan beton, serta perkiraan ketebalan elemen—terutama pada kondisi di mana pemeriksaan dua sisi atau pembongkaran tidak memungkinkan.

Pulse echo test at Pelindo I Cabang Pelabuhan Belawan Medan
Pulse echo test at Pelindo I Cabang Pelabuhan Belawan Medan

Pulse Echo untuk Evaluasi Beton dengan Akses Satu Sisi

Evaluasi integritas beton sering dilakukan dalam kondisi yang jauh dari ideal: akses terbatas, informasi awal minim, dan tekanan untuk tetap mengambil keputusan. Ketika elemen struktur hanya dapat diperiksa dari satu sisi, risiko salah membaca kondisi internal menjadi nyata, terutama jika data digunakan untuk menentukan kelayakan fungsi, perbaikan, atau pembatasan penggunaan. Dalam konteks inilah metode pemeriksaan non-destruktif dengan akses satu sisi mulai relevan—bukan sebagai jawaban akhir, tetapi sebagai dasar penyaringan risiko.

Pada banyak bangunan eksisting, akses terhadap elemen beton sering kali menjadi kendala utama dalam proses evaluasi kondisi struktur. Pelat lantai, dinding geser, atau elemen struktural lain kerap hanya dapat dijangkau dari satu sisi karena tertutup finishing, berada di area operasional aktif, atau berdekatan dengan elemen lain yang tidak memungkinkan pembongkaran.

Dalam situasi seperti ini, inspeksi visual sering kali tidak memberikan cukup informasi. Permukaan terlihat utuh, tetapi muncul keraguan terkait kondisi internal beton—terutama ketika bangunan akan mengalami perubahan fungsi, peningkatan beban, atau evaluasi umur layan. Ketidakpastian ini bukan sekadar isu teknis, melainkan persoalan pengambilan keputusan.

Sering kali keputusan tertunda bukan karena tidak ada solusi teknis, tetapi karena tidak tersedia data awal yang cukup aman untuk dijadikan dasar diskusi dan langkah lanjutan.

.
Pulse Echo Test pada Inspeksi dan Audit Struktur Jembatan Citra Maja Raya

Kekhawatiran Umum Sebelum Data Diperoleh

Ketika akses terbatas dan indikasi visual tidak cukup, beberapa pertanyaan hampir selalu muncul. Kekhawatiran ini biasanya berkaitan dengan risiko membuat keputusan berdasarkan asumsi, bukan data.

  • Apakah kondisi beton di balik permukaan benar-benar homogen, atau ada cacat tersembunyi yang tidak terlihat?
    Tanpa data pendukung, jawaban atas pertanyaan ini sering kali hanya bersifat spekulatif.
  • Apakah ketebalan elemen sesuai dengan asumsi desain atau gambar lama yang tersedia?
    Ketidakpastian ketebalan dapat berdampak langsung pada perhitungan kapasitas dan evaluasi keamanan.
  • Seberapa besar risiko jika keputusan diambil hanya berdasarkan inspeksi visual?
    Tanpa data internal, risiko salah interpretasi menjadi lebih tinggi, terutama pada struktur yang sudah berumur.

Kebutuhan Data untuk Mengurangi Ketidakpastian

Pada tahap awal evaluasi, yang dibutuhkan bukanlah kesimpulan akhir tentang kelayakan struktur, melainkan data indikatif yang mampu mempersempit ruang ketidakpastian. Data ini berfungsi sebagai dasar untuk menentukan apakah diperlukan tindakan lanjutan atau tidak.

  • Informasi awal mengenai ketebalan elemen beton dan keberadaan anomali internal.
    Data semacam ini membantu memverifikasi asumsi awal sebelum dilakukan analisis yang lebih mendalam.
  • Indikasi lokasi dan kedalaman potensi cacat seperti void, delaminasi, atau ketidakseragaman material.
    Fokusnya adalah penyaringan risiko, bukan penentuan detail perbaikan.
  • Data non-destruktif yang dapat diperoleh tanpa mengganggu fungsi bangunan.
    Hal ini penting terutama pada struktur yang masih digunakan secara aktif.

Data pada tahap ini berfungsi sebagai alat penyaring risiko, bukan sebagai dasar penetapan keputusan struktural akhir.

Pulse Echo Test
Pulse Echo Test

Peran Pemeriksaan Integritas Beton dengan Akses Satu Sisi

Metode pemeriksaan beton dengan akses satu sisi, seperti Pulse Echo Test, dirancang untuk menjawab kebutuhan data awal pada kondisi keterbatasan akses. Metode ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk memberikan gambaran indikatif kondisi internal beton dari satu permukaan.

  • Digunakan sebagai langkah awal ketika pembongkaran atau pengujian destruktif belum dapat dibenarkan.
    Pendekatan ini memungkinkan evaluasi awal tanpa intervensi fisik pada struktur.
  • Membantu memetakan area yang berpotensi bermasalah sehingga investigasi lanjutan dapat lebih terarah.
    Dengan demikian, pengujian tambahan tidak dilakukan secara acak.
  • Berperan sebagai dasar pengambilan keputusan awal, bukan sebagai satu-satunya alat penentu kelayakan struktur.
    Perannya adalah memperjelas arah, bukan menggantikan seluruh proses evaluasi.

Dalam praktik, layanan ini sering digunakan sebagai bagian dari proses bertahap sebelum keputusan yang lebih besar diambil, seperti perkuatan, pembatasan fungsi, atau pengujian lanjutan.

Dalam pekerjaan pemeriksaan integritas beton dengan akses satu sisi, PT Hesa menggunakan perangkat Pulse Echo seperti Pundit PL-200PE sebagai bagian dari sistem kerja lapangan. Penggunaan perangkat ini ditujukan untuk memperoleh data pantulan gelombang ultrasonik yang cukup stabil sehingga indikasi ketebalan, anomali internal, dan perbedaan material dapat dipetakan secara konsisten pada area yang tidak dapat diuji dari dua sisi.

Pundit PL-200PE mendayagunakan teknologi inovasi terbaru Pulse Echo untuk meningkatkan kinerja aplikasi ultrasonik terhadap obyek uji yang mana akses terhadap benda uji terbatas hanya satu sisi.

Pundit PL-200PE
Proceq PL-200PE

Proses pengukuran sangat dibantu oleh inovasi dari Proceq seperti echo tracking dan estimasi otomatis kecepatan Pulse. A-Scan Mode memungkinkan analisis langsung dari data signal sedangkan B-Scan Mode menyediakan tampilan cross-sectional tegak lurus terhadap permukaan scan (pemindaian). Area Pindai memungkinkan pengujian keseragaman ketebalan slab dalam grid pengujian.

Gambar Arah A-Scan Mode dan B-Scan Mode dalam Pulse Echo Test
Gambar Arah A-Scan Mode dan B-Scan Mode dalam Pulse Echo Test

Arah Scan dari Pulse Echo Test

Hal ini memungkinkan pengguna untuk menentukan ketebalan slab dan melokalisir posisi cacat di bawah permukaan elemen yang diuji, seperti adanya benda dengan material berbeda (pipa, tulangan baja, atau lainnya), delaminasi, retak dan honeycomb.

Arah Scan dalam Pulse Echo Test

Penentuan Tebal Pelat

Penentuan tebal pelat bersifat indikatif dan digunakan untuk memverifikasi asumsi awal, bukan menggantikan data desain atau pengujian destruktif.

Penentuan Tebal Pelat

Identifikasi Tebal Pelat dan Posisi Void

Perbedaan respon pantulan dapat mengindikasikan perubahan material atau keberadaan void, namun interpretasi tetap bersifat indikatif.

Identifikasi Tebal Pelat dan Posisi Void

Deteksi adanya Delaminasi dan Posisinya

Deteksi adanya Delaminasi dan Posisinya dalam Pulse Echo Test

Identifikasi Posisi Pipa

Identifikasi Posisi Pipa dalam Pulse Echo Test

Output yang Dihasilkan dan Cara Memanfaatkannya

Jenis Output Teknis

  • Data hasil pemindaian dalam bentuk tampilan A-scan dan B-scan.
    Visualisasi ini membantu memahami respon gelombang terhadap kondisi internal beton.
  • Peta indikatif ketebalan elemen dan lokasi anomali.
    Output ini bersifat indikatif dan digunakan sebagai bahan analisis awal.

Manfaat Output terhadap Pengambilan Keputusan

  • Membantu menyaring area kritis yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
    Dengan demikian, keputusan pengujian lanjutan menjadi lebih terfokus dan efisien.
  • Menjadi dasar diskusi teknis lintas pihak sebelum menentukan tindakan berikutnya.
    Data digunakan sebagai referensi bersama, bukan asumsi individual.

Dalam banyak kasus, output dari pemeriksaan ini digunakan untuk menyepakati langkah lanjutan yang paling rasional, baik itu pengujian tambahan, monitoring, maupun tindakan perbaikan terbatas.

Perangkat seperti Pundit PL-200PE memungkinkan penyajian data dalam bentuk A-scan dan B-scan yang membantu diskusi teknis terkait lokasi dan kedalaman indikasi. Namun, hasil yang diperoleh tetap bersifat indikatif dan tidak berdiri sendiri sebagai dasar keputusan struktural. Data dari perangkat ini digunakan untuk mempersempit area risiko, menentukan kebutuhan evaluasi lanjutan, atau mengarahkan metode pemeriksaan tambahan jika ketidakpastian masih signifikan.

Beberapa penerapan NDT dengan Pundit PL-200PE, antara lain:

  • Kontrol kualitas unit pre-cast atau konstruksi in situ
  • Mengurangi ketidakpastian dalam penerimaan hasil konstruksi dalam kaitan kesesuaiannya dengan spesifikasi
  • Mengkonfirmasikan keraguan atas hasil pekerjaan baik dalam batching plan, pencampuran, penempatan, pemadatan atau curing beton
  • Pemantauan pembangunan kekuatan dalam kaitannya dengan pelepasan bekisting, penghentian curing, pre-stress, maupun rencana pembebanan
  • Penentuan lokasi dan penentuan kedalaman retak, void, honeycomb atau cacat lainnya dalam struktur beton ü Menentukan keseragaman beton
  • Meningkatkan tingkat kepercayaan dari sejumlah kecil dari tes destruktif
  • Mengkonfirmasikan atau mencari diduga kerusakan beton yang disebabkan dari faktor-faktor seperti overloading, fatigue, serangan kimia eksternal maupun internal, kebakaran, ledakan dan dampak lingkungan
  • Memberikan informasi kinerja beton baik untuk perubahan fungsi dari penggunaan struktur, keperluan asuransi maupun perubahan kepemilikan.

Batasan Data dan Risiko Interpretasi

Meskipun memberikan manfaat signifikan sebagai data awal, pemeriksaan beton dengan akses satu sisi memiliki batasan yang perlu dipahami sejak awal. Data yang dihasilkan bersifat indikatif dan sangat bergantung pada kondisi material serta interpretasi yang tepat.

  • Hasil pengujian dapat dipengaruhi oleh heterogenitas beton, kondisi permukaan, dan keberadaan elemen lain di dalam beton.
    Oleh karena itu, interpretasi harus dilakukan dengan konteks yang memadai.
  • Data tidak dirancang untuk menggantikan analisis struktural menyeluruh.
    Menggunakannya sebagai dasar tunggal keputusan berisiko menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Kapan Perlu Dikombinasikan dengan Metode Lain

Pemeriksaan ini menjadi tidak cukup ketika keputusan yang diambil memiliki konsekuensi struktural besar, seperti perubahan beban signifikan atau perpanjangan umur layanan dalam jangka panjang. Pada kondisi tersebut, data indikatif perlu dikonfirmasi dengan metode lain, baik non-destruktif tambahan maupun pengujian destruktif terbatas.

Pendekatan kombinasi justru sering kali menghasilkan keputusan yang lebih aman dan efisien dibanding langsung memilih satu metode secara terpisah.

Langkah Praktis Setelah Data Diperoleh

Setelah hasil pemeriksaan tersedia, langkah berikutnya bukanlah mengambil kesimpulan tergesa-gesa, melainkan menempatkan data tersebut dalam konteks tujuan evaluasi.

  • Menentukan apakah data yang ada sudah cukup atau perlu dilengkapi dengan pengujian lanjutan.
    Keputusan ini bergantung pada tingkat risiko dan tujuan akhir evaluasi.
  • Mengaitkan temuan dengan opsi tindak lanjut seperti monitoring, perbaikan lokal, atau evaluasi struktural lanjutan.
    Data membantu menyusun langkah yang proporsional, bukan berlebihan.

Pada banyak kasus, diskusi awal berbasis konteks struktur, keterbatasan akses, dan tujuan keputusan justru membantu memperjelas langkah berikutnya—bahkan sebelum pengujian lanjutan dilakukan. Pendekatan ini sering kali mencegah investigasi yang tidak perlu dan membantu menjaga keputusan tetap berbasis risiko.

Menempatkan Pulse Echo sebagai Alat Bantu Keputusan, Bukan Jawaban Tunggal

Pemeriksaan beton dengan akses satu sisi melalui Pulse Echo Test memberikan nilai utama pada tahap awal evaluasi—saat keterbatasan akses dan ketidakpastian masih tinggi. Data yang dihasilkan membantu memperjelas arah, menyaring risiko, dan membangun diskusi teknis yang lebih rasional sebelum keputusan besar diambil.

Ketika digunakan dengan pemahaman batasannya dan ditempatkan dalam konteks tujuan evaluasi, metode ini dapat menghemat waktu, biaya, serta mencegah langkah investigasi yang tidak proporsional. Di sinilah peran utama Pulse Echo: bukan sebagai penentu akhir, melainkan sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang lebih terukur.

Jika Anda sedang menghadapi kondisi struktur dengan akses terbatas dan membutuhkan kejelasan awal sebelum melangkah lebih jauh, diskusi awal berbasis konteks sering kali menjadi langkah paling efektif untuk menentukan apakah pemeriksaan ini relevan dan bagaimana hasilnya sebaiknya dimanfaatkan.

Pemeriksaan Integritas Beton dengan Akses Satu Sisi (Pulse Echo Test)

PT Hesa Laras Cemerlang menyediakan layanan pemeriksaan integritas beton dengan metode Pulse Echo Test untuk membantu memperoleh data indikatif kondisi internal beton tanpa pembongkaran. Pemeriksaan difokuskan pada identifikasi ketebalan elemen, indikasi anomali internal, serta area yang memerlukan perhatian lebih lanjut sebagai dasar evaluasi lanjutan.

Hasil pemeriksaan dirancang untuk membantu proses pengambilan keputusan teknis—apakah kondisi struktur masih dapat diterima, memerlukan pengujian tambahan yang lebih terarah, atau perlu disiapkan langkah mitigasi risiko dan tindak lanjut yang proporsional.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

📱 Konsultasi Pemeriksaan Integritas Beton

Impact Echo Test Untuk Deteksi Rongga Atau Cacat Pada Struktur

Impact Echo Test Untuk Deteksi Rongga Atau Cacat Pada Struktur

Sejumlah metode Non-Destructive Test, NDT mengandalkan efek perambatan gelombang pada suatu media struktur. Teknik yang paling umum diantaranya adalah pulse-echo, impact echo test, impulse–response dan analisis spektral gelombang permukaan. Perbedaaan dari metode-metode ini adalah dalam cara menghasilkan tegangan gelombang dan pada teknik pemrosesan sinyal yang digunakan.

Kegunaan Impact Echo Test

Metode Impact Echo merupakan metode yang mudah dan efektif untuk: – mendeteksi adanya celah/ rongga di dalam struktur – mendeteksi ketebalan suatu lapisan struktur Metode ini bisa diterapkan pada lapisan struktur perkerasan, lantai jembatan, pelat lantai gedung dan lainnya, selama celah, rongga ataupun batas ketebalan suatu lapisan struktur sejajar dengan permukaan uji. Prinsip Kerja Prinsip kerjanya metode ini adalah dengan membuat suatu mechanical impact (benturan mekanis dengan ketukan palu atau lainnya) yang menghasilkan gelombang dengan frekuensi 1-60 kHz dengan panjang gelombang dari 50 mm sampai 2000 mm yang merambat dalam suatu media selama media tersebut elastis homogen. Gambar berikut memberikan ilustrasi prinsip kerja Impact Echo Test: Kegunaan Impact Echo Test Mechanical impact pada permukaan struktur akan menghasilkan gelombang tekanan, gelombang geser dan gelombang permukaan. Ketika perambatan gelombang mencapai media yang berbeda (celah/ rongga/ media lain yang berbeda) maka gelombang tekanan dan gelombang geser akan dipantulkan. Gelombang akan memantul dan kembali mencapai permukaan dimana impact diberikan, Pergerakan tersebut dibaca oleh transduser dan kemudian ditampilkan pada osiloskop digital. Hasil pembacaan berupa voltage-waktu selanjutnya secara digital ditransformasi menjadi hubungan amplitudo vs frekuensi. Frekuensi dominan muncul sebagai puncak pada spektrum frekuensi. Kegunaan Impact Echo Test Frekuensi dominan belum tentu mengindikasikan ketebalan. Namun penentuan ketebalan dilakukan dengan menggunakan setiap frekuensi yang teridentifikasi sebagai puncak spektrum frekuensi, jarak dari permukaan (pemberian impact ketukan palu) ke posisi gelombang akaibat impact tersebut dipantulkan (celah/ rongga/ media lain yang berbeda) yang selanjutnya dihitung dengan persamaan berikut: Impact Echo Test Beberapa dokumentasi uji yang dilakukan PT Hesa, memberikan contoh alat impact echo test dan memberi gambaran bagaimana cara kerjanya dapat dilihat pada beberapa foto di bawah ini: Impact Echo Test     Impact Echo Test Refferensi [1] IAEA, Guidebook on non-destructive testing of concrete structures, 2002 [2] HESA, Project Report Assessment Structure PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia, 2015 ditulis: Dr. Ir. Heri Khoeri, MT

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531
Whatsapp Bussiness : 0812 9144 2210 atau  0811 888 9409

Klik tombol whatsapp dibawah ini, untuk berkomunikasi dengan Customer Service kami:

Infrared Thermography Untuk Pemeriksaan Struktur Beton

Infrared Thermography Untuk Pemeriksaan Struktur Beton

Infrared Thermography Tools Efisien Untuk Deteksi Anomali

Infrared Thermography (IRT) merupakan metode inspeksi non-destruktif yang cukup efektif dalam mendeteksi anomali termal pada elemen struktur beton. Berbeda dengan pemeriksaan konvensional yang bersifat visual, IRT mampu mengidentifikasi masalah tersembunyi di dalam beton jauh sebelum kerusakan terlihat secara kasat mata. Metode ini bukan sekadar alat pencari retak, melainkan suatu alat bantu diagnosis untuk membaca pola kegagalan, jalur rembesan air, dan potensi degradasi material pada bangunan yang masih tampak normal.

Metode ini merupakan metode pengumpulan data awal yang cepat dengan jangkauan lebih luas dan akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode pengamatan konvensional seperti pengamatan visual atau pengambilan foto secara manual.


Prinsip Kerja Infrared Thermograph

Prinsip kerja IRT didasarkan pada fakta bahwa setiap material memancarkan radiasi inframerah yang besarnya tergantung pada sifat termal dan kondisi permukaan. Mutu beton dan kondisi di bawah permukaan beton dapat dikorelasikan terhadap radiasi yang dipancarkan dari permukaan beton tersebut.

Prinsip Kerja Infrared Thermograph
Gambar-1: Prinsip Kerja Infrared Thermograph

Variasi mutu beton dapat terdeteksi dari perbedaan energi yang dipancarkan oleh permukaan beton, yang tergambarkan dalam foto thermal imaging. Setiap komponen struktur—termasuk dinding penahan, pier (pilar), abutment, dan komponen upperstructure lainnya—dapat dipindai menggunakan kamera IRT dengan cakupan area yang luas dan akurasi lebih baik dibandingkan metode pengamatan konvensional.


Mekanisme Deteksi Kerusakan Beton

Kehadiran cacat dalam beton memengaruhi sifat konduksi panas. Delaminasi, rongga (void), atau retak di dalam beton akan ditunjukkan dengan adanya perbedaan suhu di permukaan beton. Demikian pula, keragaman mutu beton dapat terindikas dari perbedaan suhu di permukaan yang digambarkan dalam bentuk perbedaan warna pada hasil thermal imaging.

Perbedaan suhu di permukaan sering kali menjadi indikator awal adanya masalah internal, khususnya ketika air masuk melalui retak mikro, kelembaban terperangkap, atau terjadi perbedaan densitas beton akibat kualitas pelaksanaan. IRT memanfaatkan perubahan kondisi tersebut untuk membantu engineer membaca “sinyal awal” yang tidak dapat ditangkap oleh inspeksi visual konvensional.


Aplikasi Infrared Thermography dalam Pemeriksaan Struktur Beton

Adanya kerusakan dalam beton mempengaruhi sifat konduksi panas. Keberadaan cacat dan lokasinya di dalam beton seperti delaminasi, rongga, atau retak akan ditunjukkan dengan adanya perbedaan suhu di permukaan beton. Keragaman mutu beton dapat terindikas dari perbedaan suhu di permukaan beton yang digambarkan dalam bentuk perbedaan warna pada hasil thermal imaging.

Deteksi Retak Beton sebagai Jalur Masuk Air

Retak halus sering kali tidak terlihat dengan jelas, namun dapat menjadi jalur masuk air hujan atau air tanah. IRT membantu mengidentifikasi area dengan distribusi suhu tidak normal yang mengindikasikan keberadaan kelembaban di balik permukaan beton. Pendekatan ini sangat relevan pada basement, atap beton, pelat lantai, dan dinding penahan tanah yang mengalami keluhan rembesan atau kebocoran berulang.

Identifikasi Area Kelembaban dan Potensi Kebocoran

Kelembaban yang terperangkap di dalam beton memiliki karakter termal berbeda dibandingkan beton kering. Melalui pemetaan termal, area bermasalah dapat dipersempit tanpa perlu pembobokan awal yang spekulatif. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan perbaikan yang lebih presisi, baik untuk penerapan waterproofing, injeksi retak, maupun evaluasi lanjutan.

Deteksi Delaminasi dan Void pada Elemen Beton

Delaminasi atau rongga internal dapat menyebabkan perbedaan respons panas antara lapisan beton yang masih utuh dan yang sudah terpisah. IRT membantu mengindikasikan lokasi-lokasi tersebut, terutama pada pelat, balok, dan elemen pracetak. Jenis kerusakan yang dapat terdeteksi dengan jelas melalui metode ini adalah delaminasi pada struktur beton, retak pada permukaan, serta kemampuan memberikan indikasi lokasi tulangan, kabel, ducting, atau benda-benda lain dalam beton.

Gambar-2 Thermal Imaging pada bagian bawah deck Jembatan

Contoh pier dan hasil thermal imaging
Gambar-3: Contoh Pier (Pilar Jembatan) dan Hasil Thermal Imaging

Pembuatan Zoning dan Verifikasi Kerusakan

Patch terang di sisi garis vertikal menunjukkan variasi keragaman mutu beton. Garis vertikal gelap dalam gambar merupakan alur vertikal di pier. Perbedaan warna yang ada menjadi indikasi perbedaan mutu beton dan juga indikasi kemungkinan adanya kerusakan di dalam beton.
Photo visual dan Thermal Imaging bagian bawah deck jembatan
Gambar-4: Perbandingan Photo Visual (Kiri) dan Thermal Imaging (Kanan) Bagian Bawah Deck Jembatan

Perbedaan warna pada gambar di atas menunjukkan perbedaan keragaman mutu beton. Berdasarkan perbedaan warna yang diperoleh dari thermal imaging, dilakukan pembuatan zoning untuk pengujian lebih lanjut dengan NDT lainnya secara detail guna mendapatkan nilai mutu beton berdasarkan area-area yang telah dibuat. Pendekatan terstruktur ini memastikan bahwa pengujian lanjutan dilakukan secara terarah dan tidak spekulatif, sehingga mengoptimalkan efisiensi biaya dan waktu investigasi.

Lokasi-lokasi yang diduga mengalami kerusakan dalam beton yang diindikasikan dengan perbedaan warna yang mencolok pada hasil thermal imaging diberi tanda khusus untuk pengujian lebih lanjut dengan NDT lainnya secara mendetail. Tujuannya adalah untuk memverifikasi secara akurat keberadaan kerusakan di dalam beton sebelum keputusan perbaikan diambil.

Contoh berikut ini adalah infrared Thermal Imager pada bangunan bertingkat

Photo visual dan Thermal Imaging pada bangunan bertingkat
Gambar-5: Photo Visual dan Thermal Imaging pada Bangunan Bertingkat

Infrared Thermography sebagai Alat Penyaring Investigasi Awal

Infrared Thermography (IRT) digunakan sebagai alat penyaring investigasi awal sebelum dilakukan pengujian lanjutan yang bersifat lebih spesifik, baik non-destruktif maupun destruktif terbatas.
Dalam praktik rekayasa struktur, IRT tidak dimaksudkan untuk menggantikan uji mekanis, tetapi untuk mengarahkan proses investigasi agar lebih tepat sasaran, efisien, dan terkontrol.

Metode ini sangat efektif diterapkan pada pemeriksaan awal struktur beton dengan cakupan area luas, terutama untuk mengidentifikasi keragaman mutu beton dan zona-zona yang terindikasi mengalami anomali atau potensi kerusakan internal yang tidak dapat diidentifikasi secara visual.

Indikasi yang umumnya dapat terbaca dengan cukup jelas melalui thermal imaging meliputi delaminasi beton, retak permukaan yang memengaruhi aliran panas, serta perbedaan sifat termal akibat variasi mutu beton.
Pada kondisi tertentu, IRT juga dapat memberikan indikasi awal posisi tulangan, kabel, ducting, atau elemen tertanam lainnya berdasarkan pola temperatur permukaan.

Zona-zona yang teridentifikasi melalui pemeriksaan IRT selanjutnya diverifikasi menggunakan metode pengujian lanjutan yang dipilih secara selektif, antara lain:

Pemilihan metode NDT lanjutan tidak dilakukan secara generik, tetapi ditentukan berdasarkan hasil interpretasi thermal imaging dan tujuan evaluasi struktur.
Pendekatan ini memastikan bahwa setiap pengujian memiliki konteks teknis yang jelas dan memberikan kontribusi langsung terhadap pengambilan keputusan rekayasa.


Keterbatasan Infrared Thermography

Meskipun merupakan metode yang powerful, IRT memiliki batasan yang perlu dipahami dengan jelas. Pertama, metode ini rentan terhadap pengaruh beberapa kondisi yang terjadi di permukaan beton, seperti adanya puing-puing, air, keausan (wearing), perubahan warna, retak sealant, dan angin yang kencang. Praktis pengujian tidak dapat dilakukan pada kondisi cuaca buruk seperti hujan atau angin kuat.

Kedua, IRT tidak memberikan nilai kuat tekan beton dan tidak dapat berdiri sendiri untuk penilaian kapasitas struktural. Interpretasi hasil sangat bergantung pada pengalaman, kondisi lingkungan, dan pemahaman perilaku material beton. Oleh karena itu, hasil IRT yang andal selalu dikaitkan dengan konteks struktur, riwayat bangunan, serta—bila diperlukan—dikombinasikan dengan metode uji lainnya.

Secara lebih detail dapat dilihat pada standar seperti: ACI 228.2R-2 dan ASTM D4788 – Test Method for Detecting Delaminations in Bridge Decks Using Infrared Thermography.


Pendekatan Holistik dalam Penggunaan IRT

Penggunaan Infrared Thermography harus dipandang sebagai bagian dari proses assessment teknis yang komprehensif, bukan sebagai solusi standalone. Setiap inspeksi menggunakan IRT harus mempertimbangkan fungsi bangunan, jenis elemen struktur, dan tujuan evaluasi—apakah untuk investigasi kebocoran, audit kondisi umum, atau pendampingan perbaikan struktur.

Pendekatan holistik ini membantu klien memahami apa arti temuan di lapangan terhadap keputusan teknis yang akan diambil, serta mengintegrasikan IRT dengan strategi pemeliharaan dan perbaikan yang lebih luas.


Infrared Thermography: Investasi Cerdas untuk Kesehatan Struktur Beton Anda

Infrared Thermography bukan sekadar teknologi inspeksi—ini adalah investasi proaktif untuk melindungi aset bangunan Anda. Struktur beton jarang menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius sampai masalah sudah lanjut dan perbaikan menjadi mahal. Dengan mendeteksi kerusakan pada tahap awal melalui IRT, Anda dapat mengambil tindakan perbaikan yang tepat sasaran, meminimalkan pembongkaran yang tidak perlu, dan menghemat biaya pemeliharaan jangka panjang.

Penggabungan IRT dengan metode pengujian lainnya memastikan diagnosis yang akurat dan rekomendasi perbaikan yang berbasis data. Pendekatan holistik ini telah membantu ribuan pemilik bangunan, engineering firms, dan kontraktor mengambil keputusan yang tepat dan mengoptimalkan investasi dalam perawatan struktur mereka.

Saatnya untuk bertindak. Jika bangunan Anda mengalami kebocoran berulang, terdapat indikasi retak pada beton, atau Anda hanya ingin memastikan kondisi struktur sebelum terlambat, tim ahli PT Hesa Laras Cemerlang siap membantu dengan pemeriksaan Infrared Thermography yang profesional dan terarah.

Hubungi kami hari ini untuk konsultasi gratis dan pemetaan kondisi struktur beton Anda. Jangan tunggu kerusakan kecil berkembang menjadi masalah struktural yang kompleks dan merugikan.

Referensi

  1. D. S. Prakash Rao, Assessment of Concrete Bridge Structures Using Infrared Thermography, The University of the West Indies, Trinidad and Tobago, 2007
  2. Bojan Milovanović, Ivana Banjad Pečur, Detecting Defects in Reinforced Concrete Using The Method of Infrared Thermography, University Of Zagreb, Faculty Of Civil Engineering
  3. ACI 228.2R-2 dan ASTM D4788 – Test Method for Detecting Delaminations in Bridge Decks Using Infrared Thermography
  4. ACI Web Session, Durability and Debond Evaluation of High-Rise Concrete Buildings Using Infrared Thermography

Jasa Infrared Thermography (IRT) – Screening Struktur Beton

Infrared Thermography digunakan sebagai alat investigasi awal untuk memetakan keragaman mutu beton,
mendeteksi indikasi delaminasi, retak, rongga, serta anomali termal lain pada struktur beton dengan cakupan area luas.
Metode ini membantu menentukan zona prioritas pengujian lanjutan secara lebih cepat, terarah, dan efisien.

Jika Anda sedang menghadapi indikasi kebocoran, rembesan air, penurunan performa struktur,
atau membutuhkan screening awal sebelum uji NDT lanjutan seperti Hammer Test, UPVT, GPR, atau Core Drill,
tim kami siap mendampingi secara teknis dan profesional.

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia


📱 Konsultasi Teknis Infrared Thermography

Pemeriksaan Struktur Lantai dan Desain Rencana

Pemeriksaan Struktur Lantai dan Desain Rencana

Untuk memastikan kapasitas pelat lantai dalam menerima beban layan dilakukan audit struktur dengan melakukan serangkaian uji nondestructive test, soil investigation, analisis struktur dan analisis geoteknik, serta disain perkuatannya jika diperlukan.

Sehingga tingkat keamanan dan kenyamanan pengguna bangunan meningkat.

Pemeriksaan Struktur Lantai dan Disain Rencana

Untuk informasi tentang Untuk jasa pengujian, audit analisis dan disain struktur, silahkan hubungi:

PT Hesa Laras Cemerlang

Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
Email: kontak@hesa.co.id
Telp: (021) 8404531

Atau tinggalkan pesan dibawah ini:

Tinggalkan Pesan

    Uji Retak Beton dengan UPV Test

    Uji Retak Beton dengan UPV Test

    Uji Retak Beton dengan UPV Test: Memahami Batasan sebelum Ambil Keputusan

    Uji retak beton menggunakan UPV Test (Ultrasonic Pulse Velocity Test) adalah metode pengujian tanpa merusak (NDT) yang relatif cepat untuk membaca kondisi internal beton. Pengujian dilakukan dengan alat seperti PUNDIT, yang mengukur waktu tempuh gelombang ultrasonik saat merambat di dalam beton.

    Di banyak proyek, UPV dipilih karena cepat, aman, dan tidak merusak struktur. Hasil pengukuran berupa angka velocity memang terlihat objektif, tapi angka ini hanyalah indikasi awal. Tanpa interpretasi lapangan dan konfirmasi visual, angka velocity tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk mengambil keputusan teknis besar.

    Di lapangan, ini kesalahan yang paling sering terjadi. Hasil UPV menunjukkan angka velocity tertentu, lalu angka itu langsung dijadikan dasar perbaikan. Seolah-olah angka tersebut sudah mewakili kondisi struktur sepenuhnya. Padahal, banyak hal penting yang tidak pernah benar-benar terlihat dari velocity saja.

    UPV paling tepat digunakan sebagai langkah pertama untuk screening—menunjukkan area yang perlu perhatian lebih atau menjadi baseline untuk monitoring perubahan retak. Keputusan akhir tetap membutuhkan analisis tambahan, seperti inspeksi visual mendetail atau metode NDT lain yang sesuai kondisi beton.

    Pemeriksaan retak bangunan dengan UPV Test

    Pemeriksaan retak bangunan akibat gempa dengan menggunakan UPV Test

    1. Deteksi Retak vs Estimasi Kedalaman

    UPV bekerja dengan mengukur waktu rambat gelombang ultrasonik di dalam beton. Dari waktu tempuh itu, kecepatan gelombang dihitung. Informasi ini kemudian digunakan untuk membaca indikasi adanya retak dan, dalam beberapa pendekatan, untuk memperkirakan kedalamannya.

    Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gangguan di dalam beton, UPV relatif konsisten. Tapi saat angka itu dipakai untuk mengestimasi kedalaman retak, ceritanya berbeda. Di titik ini, hasil UPV mulai sangat bergantung pada asumsi-asumsi yang di lapangan sering kali tidak sepenuhnya terpenuhi.

    2. Tiga Metode Penempatan Transducer

    Tiga metode UPV Test

    Dalam praktik, ada tiga cara umum menempatkan transducer pada UPV Test.

    Direct method—transducer dipasang pada dua permukaan yang saling berhadapan—adalah kondisi paling ideal. Sayangnya, kondisi seperti ini jarang benar-benar tersedia di bangunan eksisting.

    Semi-direct method lebih fleksibel, tapi akurasinya mulai berkompromi. Indirect method adalah yang paling sering dipakai karena paling mudah dilakukan. Cukup satu permukaan. Tapi metode ini juga yang paling rawan salah tafsir.

    Indirect method sangat sensitif terhadap banyak hal kecil di lapangan: kualitas kontak transducer, kondisi permukaan beton (cat, coating, lumut), sampai adanya void atau delamination di dalam beton. Pada beberapa audit bangunan eksisting, kondisi internal seperti ini membuat gelombang justru “melewati jalan lain”, bukan memotong retak yang ingin dibaca. Akibatnya, gelombang sampai lebih cepat, dan estimasi kedalaman retak bisa meleset jauh dari kondisi sebenarnya.

    3. Peralatan, Kalibrasi, dan Operator

    Alat PUNDIT untuk UPV Test

    Peralatan UPV yang umum dipakai adalah PUNDIT, lengkap dengan transducer dan calibration bar. Tapi alat dengan merek bagus tidak otomatis menjamin data yang baik.

    Masalah yang sering muncul justru hal-hal praktis: kalibrasi yang tidak rutin dicatat, kabel transducer yang mulai aus atau longgar, atau cara penempatan transducer yang berubah-ubah antar titik ukur. Transducer yang sudah lama atau koneksi yang tidak optimal bisa menurunkan pembacaan velocity, sehingga beton terlihat seolah-olah sudah mengalami degradasi, padahal alatnya yang bermasalah.

    Saat membaca laporan UPV, wajar kalau muncul pertanyaan: kapan alat terakhir dikalibrasi, siapa yang melakukan pengujian, dan bagaimana kondisi permukaan saat pengukuran. Pertanyaan seperti ini bukan mencari-cari kesalahan, tapi bagian dari memahami seberapa jauh data tersebut bisa dipercaya.

    4. Asumsi di Balik Estimasi Kedalaman

    Pengukuran dua titik untuk estimasi kedalaman

    Metode pengukuran dua titik untuk estimasi kedalaman retak

    Estimasi kedalaman dilakukan dengan pengukuran dua kali dari jarak berbeda, lalu hasilnya dimasukkan ke rumus. Rumusnya sederhana, tapi asumsi di baliknya ketat: gelombang merambat lurus; beton homogen; retak adalah barrier utama. Di lapangan, asumsi ini sering tidak sepenuhnya terpenuhi.

    Beton tua, agregat besar, carbonation, atau kerusakan akibat air bisa mengubah velocity tanpa harus ada retak signifikan. Retak yang tertutup dan kering akan terbaca berbeda dengan retak yang aktif dan basah. Padahal, dari sisi struktural, risikonya bisa sangat berbeda. Karena itu, hasil UPV pada dasarnya adalah estimasi dengan variabilitas yang sangat bergantung pada kondisi beton yang diuji.

    Rumus estimasi kedalaman retak

    Rumus estimasi kedalaman retak

    5. Dokumentasi Lapangan

    Saat UPV dilakukan, banyak detail kondisi lapangan yang sangat pengaruh tapi tidak selalu dicatat dengan baik. Ada cat atau coating di permukaan? Permukaan basah atau kering? Ada spalling di sekitar retak? Usia beton berapa? Pola retak terlihat aktif atau sudah stabilitas?

    Semua ini perlu dicatat bersama hasil UPV—bukan hanya velocity number. Detail seperti ini perlu dicatat bersama hasil UPV. Angka velocity tanpa konteks sering menyesatkan pembaca soal tingkat keparahan retak. Dalam banyak kasus, dokumentasi visual—foto, sketsa pola retak, kondisi sekitar—justru lebih membantu untuk memahami situasi dibandingkan angka velocity itu sendiri.

    Uji Retak Beton dan Deteksi Kedalaman Retak dengan Ultrasonic Pulse Velocity Test

    6. Kapan UPV Cukup untuk Keputusan

    Jika tujuan pengujian adalah screening awal—untuk tahu apakah ada retak dalam atau tidak, memetakan area mana yang bermasalah, atau membuat baseline untuk monitoring perubahan—UPV cukup membantu. Hasilnya memberikan gambaran awal yang berguna sebelum keputusan lebih lanjut.

    Jika keputusan yang akan diambil adalah menentukan structural integrity, merencanakan repair strategy detail, atau membuat laporan formal untuk klien/klaim—UPV tidak cukup berdiri sendiri. Hasil UPV perlu dikonfirmasi dengan visual inspection mendetail, dan kalau keputusannya serius (biaya signifikan atau ada pertanyaan safety), perlu tambahan metode lain seperti Coredrill untuk pengambilan sampel beton.

    Hindari percaya hasil UPV jika retak pola unusual (tidak sesuai expected stress pattern), di zona critical (joint, transfer load), atau beton dalam kondisi extreme (sangat basah, carbonated dalam, atau agregat sangat besar). Pada kondisi-kondisi ini, margin error UPV bisa sangat besar dan tidak reliable untuk basis keputusan.

    Jika hasil UPV menunjukkan retak dalam tapi visual inspection tidak terlihat sign of structural distress—tidak ada spalling lebar, tidak ada crack width signifikan, tidak ada kolom yang miring—perlu re-check sebelum plan perbaikan besar. Mungkin ada faktor lain yang biasing data UPV.

    Uji Hasil Perbaikan Retak Pelat Beton Gedung SRI-U3 Cilegon 1
    Deteksi retak pada pelat beton dengan ultrasonic pulse velocity test dan pulse echo — Simon Bae at IKPT SRI – U3 Project.

    7. Transparansi Batasan, Bukan Overclaim

    UPV itu alat awal untuk baca kondisi retak beton. Bukan jawaban akhir. Angka velocity yang keluar hanyalah estimasi, dibangun dari asumsi-asumsi yang di lapangan sering kali tidak sepenuhnya kejadian. Kualitas datanya juga sangat tergantung pada cara pengukuran, operator, dan kondisi alat saat dipakai.

    Laporan yang jujur soal batasan—misalnya “hasil UPV menunjukkan indikasi seperti ini, tapi perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lain”—biasanya justru lebih dipercaya. Dibanding laporan yang langsung mengambil keputusan besar hanya dari UPV. Keputusan teknis yang diambil dengan sadar akan batas datanya cenderung lebih aman dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

    FAQ: UPV Test untuk Uji Retak Beton

    Pertanyaan yang sering muncul tentang pengujian dan interpretasi hasil

    1. Apa itu UPV Test?

    UPV Test (Ultrasonic Pulse Velocity Test) mengukur kecepatan rambat gelombang ultrasonik melalui beton. Metode ini digunakan untuk screening awal kondisi retak, pemetaan pola retak di area luas, dan baseline untuk monitoring perubahan seiring waktu.

    UPV adalah metode awal—bukan diagnosis final yang berdiri sendiri.

    2. Berapa akurasi UPV? Apakah 100% akurat?

    Tidak. UPV adalah estimasi, bukan pengukuran absolut. Akurasi tergantung pada kondisi beton (homogenitas, moisture, usia), skill operator, kalibrasi alat, dan kondisi lapangan saat pengukuran.

    Margin variabilitas bisa bermacam-macam—dari beberapa persen pada kondisi ideal sampai cukup besar pada kondisi kompleks.

    Laporan yang baik harus transparan tentang variabilitas ini dan menyebutkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi akurasi hasil.

    3. Apakah hasil UPV bisa langsung jadi dasar keputusan perbaikan?

    Tidak langsung. Velocity number dari UPV memberi gambaran awal, tapi tidak cukup untuk keputusan perbaikan struktural yang serius.

    Hasil UPV sebaiknya dikombinasikan dengan:

    • Visual inspection mendetail (foto, kondisi permukaan, pola retak)
    • Dokumentasi kondisi lapangan saat pengukuran
    • Metode tambahan jika keputusan bersifat kritis (core sample, endoscope, atau engineer structural analysis)

    Kombinasi data ini membuat keputusan lebih informed dan dapat dipertanggungjawabkan.

    4. Apa faktor yang bisa membuat hasil UPV tidak akurat?

    Beberapa faktor bisa mempengaruhi akurasi hasil:

    • Permukaan beton kotor, basah, atau dilapisi coating
    • Kontak transducer yang tidak sempurna
    • Alat yang belum dikalibrasi atau transducer yang sudah aus
    • Kondisi internal beton (void, delamination, agregat besar)
    • Retak tertutup vs retak basah (velocity sangat berbeda)

    Saat membaca laporan UPV, tanya: kapan alat terakhir dikalibrasi? Bagaimana kondisi permukaan saat pengukuran? Siapa operator? Pertanyaan ini penting untuk memahami kredibilitas data.

    5. Kapan UPV cukup dan kapan perlu metode lain?

    UPV cukup untuk:

    • Screening awal—apakah ada retak dalam atau shallow
    • Pemetaan area mana yang bermasalah di bangunan luas
    • Membuat baseline untuk monitoring seiring waktu

    UPV tidak cukup untuk:

    • Menentukan integritas struktur secara pasti
    • Merencanakan strategi repair detail
    • Laporan formal untuk klaim atau keputusan biaya besar

    Hindari percaya hasil UPV jika retak pola unusual (tidak sesuai expected stress pattern), di zona critical (joint, transfer load), atau beton dalam kondisi extreme (sangat basah, carbonated dalam, agregat besar). Pada kondisi-kondisi ini, margin error UPV sangat besar.

    6. Laporan UPV saya hanya menunjukkan velocity map. Apakah cukup?

    Velocity map saja tanpa konteks bisa menyesatkan. Laporan yang lebih lengkap harus menyertakan:

    • Dokumentasi visual (foto retak, kondisi permukaan)
    • Catatan kondisi saat pengukuran (basah/kering, ada coating, suhu)
    • Penjelasan tentang batasan metode
    • Interpretasi hasil dan kemungkinan next step

    Dokumentasi visual sering lebih informatif daripada angka velocity sendiri, karena langsung bisa dikomunikasikan kepada pihak lain.

    7. Hasil UPV menunjukkan retak dalam, tapi visual saya tidak terlihat. Mana yang benar?

    Ada beberapa kemungkinan:

    • UPV terpengaruh void atau delamination internal (gelombang melewati area alternatif)
    • Permukaan beton saat pengukuran dalam kondisi khusus (basah, ada coating, ada algae)
    • Operator tidak konsisten dalam penempatan atau tekanan transducer

    Solusi: minta re-check UPV dengan dokumentasi kondisi lebih detail, atau lakukan core sample untuk verifikasi. Jangan langsung assume hasil UPV tanpa cross-check.

    8. Sudah dapat hasil UPV, sekarang harus apa?

    Langkah selanjutnya tergantung tujuan awal dan sifat keputusan:

    Jika screening awal: UPV + visual inspection sudah cukup. Dari situ bisa decide monitoring atau perlu pengecekan lebih detail.

    Jika akan plan perbaikan: UPV + visual detail + metode tambahan (core sample atau endoscope) + konsultasi engineer struktural.

    Jika bangunan critical: UPV + core sample + structural analysis komprehensif sebelum ambil keputusan besar.

    9. Berapa lama pengujian UPV dan kapan dapat laporan?

    Field testing: 1-3 hari tergantung kompleksitas dan luas area

    Analysis & laporan: 3-7 hari setelah testing

    Total timeline: ~1-2 minggu dari permintaan sampai laporan diterima

    Timeline aktual tergantung kompleksitas kasus dan kondisi lapangan.

    10. Bagaimana cara minta pengujian UPV?

    Hubungi:

    • Email: kontak@hesa.co.id
    • Telepon: (021) 8404531
    • WhatsApp: 0811 888 9409

    Siapkan saat konsultasi:

    • Lokasi dan denah area yang akan diuji
    • Foto retak jika tersedia
    • Riwayat retak (kapan muncul, apakah bertambah)
    • Tujuan pengujian (screening atau untuk keputusan perbaikan)

    Dari informasi ini, bisa dijelaskan metode apa yang sesuai dan apa yang akan Anda terima di laporan.

    11. Retak saya pola-nya tidak jelas. Apakah UPV bisa bantu?

    Ya, UPV bisa membantu pemetaan distribusi dan intensitas retak. Tapi hasil harus dikombinasikan dengan visual inspection untuk memahami penyebab retak (structural, thermal, settlement, atau lainnya).

    Hati-hati dengan hasil UPV jika:

    • Retak pola tidak sesuai expected stress pattern
    • Retak berada di zona critical (joint, transfer load)
    • Beton dalam kondisi extreme (sangat basah, carbonated, atau agregat besar)

    Pada kasus-kasus ini, perlu engineer structural untuk memahami root cause.

    12. Hasil UPV menunjukkan retak dalam, tapi visual tidak terlihat sign of structural distress. Bagaimana?

    Jika visual inspection tidak menunjukkan tanda-tanda structural distress (tidak ada spalling lebar, tidak ada crack width signifikan, tidak ada kolom yang miring), hasil UPV perlu di-re-check sebelum plan perbaikan besar.

    Ada kemungkinan:

    • UPV terpengaruh void atau delamination internal (gelombang melewati area alternatif)
    • Permukaan beton saat pengukuran dalam kondisi khusus yang mempengaruhi hasil
    • Operator tidak konsisten dalam penempatan transducer

    Lakukan re-check dengan dokumentasi kondisi lebih detail, atau lakukan core sample untuk verifikasi sebelum ambil keputusan perbaikan.

    Konsultasi Teknis & Layanan Struktur

    Jika Anda sedang membutuhkan jasa evaluasi kondisi retak beton, screening beton dengan UPV Test,
    atau membutuhkan pendampingan interpretasi hasil NDT dan
    rekomendasi teknis untuk keputusan perbaikan atau monitoring struktur,
    tim kami siap membantu dengan pendekatan profesional dan berbasis pengalaman lapangan.

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    📱 Konsultasi Audit Struktur Gratis

    Survey Penentuan Posisi dengan GPS Geodetic

    Survey Penentuan Posisi dengan GPS Geodetic

    Survei penentuan posisi dengan menggunakan pengamatan satelit GPS (survei GPS) adalah proses penentuan koordinat sejumlah titik terhadap beberapa titik yang diketahui koordinatnya, dengan metode penentuan posisi diferensial serta data pengamatan fase sinyal GPS.

    Survey GPS Geodetic

    Survey GPS Geodetic

    Jaring titik kontrol geodetik orde-00 s/d orde-3 dan orde 4 (GPS) dibangun dengan berbasiskan pada pengamatan satelit GPS. Untuk jaring kontrol orde-0 s/d orde-3 dan orde 4 (GPS), pengadaannya dilakukan dengan menggunakan metode survei GPS.

    Karena pentingnya sistem satelit GPS dalam pengadaan jaring titik kontrol di Indonesia, berikut ini akan dijelaskan secara umum sistem GPS ini berikut metode survei GPS dan mekanisme pelaksanaannya.

    Sekilas tentang GPS

    GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinu di seluruh dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada banyak orang secara simultan.

    Pada saat ini, sistem GPS sudah sangat banyak digunakan orang di seluruh dunia. Di Indonesia pun, GPS sudah banyak diaplikasikan, terutama yang terkait dengan aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi.

    Pada dasarnya GPS terdiri atas tiga segmen utama, yaitu segmen angkasa (space segment) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen sistem kontrol (control system segment) yang terdiri dari station-station pemonitor dan pengontrol satelit, dan segmen pemakai (user segment) yang terdiri dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah sinyal dan data GPS. Ketiga segment GPS ini digambarkan secara skematik di Gambar berikut:

    Sistem penentuan Posisi Global GPS

      Gambar Sistem Penentuan Posisi Global, GPS

    Setiap satelit GPS secara kontinu memancarkan sinyal-sinyal gelombang pada 2 frekuensi L-band yang dinamakan L1 and L2. Sinyal L1 berfrekuensi 1575.42 MHz dan sinyal L2 berfrekuensi 1227.60 MHz.

    Sinyal L1 membawa 2 buah kode biner yang dinamakan kode-P (P-code, Precise or Private code) dan kode-C/A (C/A-code, Clear Access or Coarse Acquisation), sedangkan sinyal L2 hanya membawa kode-C/A. Perlu dicatat bahwa pada saat ini kode-P telah dirubah menjadi kode-Y yang strukturnya dirahasiakan untuk umum.

    Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup, seseorang kemudian dapat memrosesnya untuk mendapatkan informasi mengenai posisi, kecepatan, dan waktu, ataupun parameter-parameter turunannya.

    Survey Topografi dan Pemetaan Situasi Perencanaan Perkuatan Talud Saluran 600 (3)

    Pada dasarnya konsep dasar penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi (pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan oleh GPS adalah posisi tiga dimensi (X,Y,Z ataupun L,B,h) yang dinyatakan dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984.

    Dengan GPS, titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam (static positioning) ataupun bergerak (kinematic positioning).

    Posisi titik dapat ditentukan dengan menggunakan satu receiver GPS terhadap pusat bumi dengan menggunakan metode absolute (point) positioning, ataupun terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (monitor station) dengan menggunakan metode differential (relative) positioning yang menggunakan minimal dua receiver GPS, yang menghasilkan ketelitian posisi yang relatif lebih tinggi.

    GPS dapat memberikan posisi secara instan (real-time) ataupun sesudah pengamatan setelah data pengamatannya di proses secara lebih ekstensif (post processing) yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan ketelitian yang lebih baik. Secara umum kategorisasi metode dan sistem penentuan posisi dengan GPS ditunjukkan pada Gambar berikut.

     

    Gambar Metode dan sistem penentuan posisi dengan GPS [Langley, 1998]

    Karakteristik survei GPS

    Survei  penentuan posisi dengan pengamatan satelit GPS (survei GPS) secara umum dapat didefinisikan sebagai  proses penentuan koordinat dari sejumlah titik terhadap beberapa buah titik yang telah diketahui koordinatnya, dengan menggunakan metode penentuan posisi diferensial (differential positioning) serta data pengamatan fase (carrier phase) dari sinyal GPS.

    Pada survey GPS geodetic, pengamatan GPS dengan selang waktu tertentu dilakukan baseline per baseline dalam suatu jaringan dari titik-titik yang akan ditentukan posisinya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut.

     

    Gambar Penentuan posisi titik-titik dengan metode survei GPS

    Patut dicatat di sini bahwa seandainya lebih dari dua receiver GPS yang digunakan, maka pada satu sesi pengamatan (observing session) dapat diamati lebih dari satu baseline sekaligus. Secara skematik proses perhitungan koordinat titik-titik dalam jaringan GPS dapat ditunjukkan seperti pada Gambar berikut.

     

    Gambar Diagram alir perhitungan koordinat titik-titik jaringan GPS

    Dalam hal ini metode penentuan posisi diferensial dengan data fase digunakan untuk menentukan vektor (dX,dY,dZ) dari setiap baseline yang diamati. Penentuan vektor baseline ini umumnya dilakukan dengan metode hitung perataan kuadrat terkecil (least squares adjustment).

    Tahapan pelaksanaan Survey GPS Geodetic

    Proses pelaksanaan suatu survey GPS geodetic oleh suatu kontraktor (pelaksana), secara umum akan meliputi tahapan-tahapan : perencanaan dan persiapan, pengamatan (pengumpulan data), pengolahan data, dan pelaporan, seperti yang digambarkan secara skematik pada gambar berikut.

     

    Gambar Tahapan umum pelaksanaan suatu survei GPS

    Patut ditekankan disini bahwa tingkat kesuksesan pelaksanaan suatu survei GPS geodetic akan sangat tergantung dengan tingkat kesuksesan pelaksanaan setiap tahapan pekerjaannya. Di antara tahapan-tahapan tersebut, tahap perencanaan dan persiapan adalah suatu tahap yang sangat menentukan, dan perlu dilakukan secara baik, sistematis, dan menyeluruh.

    Kontrol Kualitas Pengamatan

    Strategi pengamatan suatu jaringan GPS, disamping harus optimal dipandang dari segi ketelitian, biaya, dan waktu, juga harus mengandung secara implisit suatu mekanisme kontrol kualitas.

    Dalam hal ini, ada beberapa strategi pengamatan yang dapat digunakan untuk mengontrol kualitas data pengamatan yaitu antara lain :

    • Penggunaan hanya baseline-baseline bebas (non-trivial) yang membentuk suatu jaringan (kerangka) yang tertutup;
    • Pengamatan beberapa baseline dalam suatu loop tertutup yang relatif tidak terlalu besar;
    • Pengamatan suatu baseline dua kali pada beberapa sesi pengamatan yang berbeda (common baseline). Ini dilakukan biasanya pada baseline yang panjang dan pada baseline-baseline yang konektivitasnya pada suatu titik kurang kuat; dan
    • Penggunaan beberapa titik ikat yang tersebar secara baik dalam jaringan.

    Keempat strategi di atas umumnya diterapkan secara simultan dalam pengamatan suatu jaringan GPS, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut:

     

    Gambar Strategi-strategi pengontrolan kualitas pengamatan

    Pengolahan Baseline

    Pengolahan baseline pada dasarnya bertujuan menghitung vektor baseline (dX,dY,dZ) menggunakan data fase sinyal GPS yang dikumpulkan pada dua titik ujung dari baseline yang bersangkutan, yang diilustrasikan pada gambar berikut:

     

    Gambar Pengolahan data baseline GPS

    Pengolahan data baseline GPS

    Pada survey GPS geodetic, pengolahan baseline umumnya dilakukan secara beranting satu persatu (single baseline) dari baseline ke baseline, dimulai dari suatu tetap yang telah diketahui koordinatnya, sehingga membentuk suatu jaringan yang tertutup. Tapi perlu juga dicatat di sini bahwa pengolahan baseline dapat dilakukan secara sesi per sesi pengamatan, dimana satu sesi terdiri dari beberapa baseline (single session, multi baseline).

    Pada proses pengestimasian vektor baseline, data fase double-difference digunakan. Meskipun begitu biasanya data pseudorange juga digunakan oleh perangkat lunak pengolahan baseline sebagai data pembantu dalam beberapa hal seperti penentuan koordinat pendekatan, sinkronisasi waktu kedua receiver GPS yang digunakan, dan pendeksian cycle slips. Secara skematik, tahapan perhitungan suatu (vektor) baseline ditunjukkan pada Gambar.

     

    Gambar Tahapan perhitungan suatu baseline GPS

    Transformasi Datum dan Koordinat

    Koordinat titik-titik yang didapatkan dari hitung perataan jaringan GPS adalah koordinat kartesian tiga-dimensi (X,Y,Z) dalam datum WGS 1984. Seandainya pengguna menginginkan koordinat titik-titik tersebut dalam datum dan sistem koordinat lainnya yang berbeda, maka diperlukan suatu proses  transformasi datum dan koordinat. Berkaitan dengan pentransformasian koordinat titik-titik GPS ini, jenis transformasi yang umum diperlukan dapat ditunjukkan pada Gambar berikut.

     

    Transformasi koordinat titik GPS

    Laporan Hasil Pekerjaan

    Standar laporan yang akan disampaikan adalah sebagai berikut:

    Referensi: SNI 19-6724-2002: Jaring kontrol horizontal

    Download selengkapnya SNI 19-6724-2002: Jaring kontrol horizontal

    FAQ – Pertanyaan yang Paling Sering Muncul Saat Membutuhkan Survey GPS Geodetik

    Apa itu GPS geodetik, dan bedanya apa dengan GPS di HP?

    GPS di HP dipakai untuk navigasi harian, dengan toleransi meleset beberapa meter.
    Untuk kebutuhan teknis, itu tidak cukup.
    GPS geodetik adalah alat ukur profesional yang digunakan surveyor untuk menentukan posisi titik secara presisi,
    sampai ketelitian sentimeter bahkan milimeter.
    Data dari GPS geodetik dipakai sebagai dasar pemetaan, desain, dan pekerjaan konstruksi.
    Singkatnya: GPS HP memberi perkiraan posisi, GPS geodetik memberi posisi yang bisa dipertanggungjawabkan secara teknis.

    Kapan sebuah proyek perlu menggunakan GPS geodetik?

    GPS geodetik diperlukan ketika proyek membutuhkan titik acuan yang akurat sejak awal.
    Biasanya digunakan untuk pemetaan area luas, proyek jalan, jembatan, gedung bertingkat, kawasan industri,
    atau lokasi yang belum memiliki data koordinat yang jelas dan bisa dipercaya.
    Jika kesalahan posisi bisa berdampak ke desain, biaya, atau pekerjaan ulang,
    GPS geodetik seharusnya dipertimbangkan sejak tahap awal.

    Seberapa akurat hasil GPS geodetik?

    Akurasi GPS geodetik tergantung pada metode pengukuran, durasi pengamatan, kondisi lapangan, dan pengolahan data.
    Dalam praktik lapangan, GPS geodetik umumnya menghasilkan ketelitian di kisaran sentimeter untuk titik kontrol.
    Kebutuhan hingga milimeter memerlukan metode khusus dan waktu pengamatan yang lebih panjang.
    Perlu dipahami: akurasi bukan hanya dari alat, tapi dari proses pengukuran dan pengolahan datanya.

    Apakah hasil GPS geodetik langsung jadi, atau perlu diolah dulu?

    Data dari GPS geodetik tidak langsung menjadi hasil final.
    Setelah pengukuran lapangan, data harus melalui proses pengolahan (post-processing), pengecekan kualitas,
    dan validasi agar hasilnya benar dan konsisten.
    Inilah yang membedakan survey profesional dengan pengukuran asal cepat.
    Hasil yang tidak diolah dengan benar berisiko menimbulkan kesalahan di tahap berikutnya.

    Berapa lama waktu survey GPS geodetik?

    Lama pekerjaan tergantung luas area, jumlah titik, dan kondisi lokasi.
    Pengukuran di lapangan bisa berlangsung dari satu hari hingga beberapa hari.
    Namun perlu diingat, waktu lapangan berbeda dengan waktu penyusunan hasil akhir karena ada proses pengolahan data.
    Estimasi waktu yang realistis biasanya ditentukan setelah scope pekerjaan dipahami dengan jelas.

    Apakah GPS geodetik bisa digunakan di semua lokasi?

    Tidak selalu.
    GPS geodetik membutuhkan pandangan langit yang cukup terbuka.
    Bangunan tinggi, pepohonan lebat, atau area tertutup bisa mengganggu sinyal satelit.
    Di lokasi dengan hambatan berat, surveyor biasanya akan menyesuaikan metode atau mengombinasikan dengan alat lain
    agar hasil tetap akurat.

    Apakah GPS geodetik bisa dilakukan malam hari?

    Secara teknis, GPS geodetik bisa dilakukan siang maupun malam hari.
    Bahkan dalam beberapa kondisi, pengamatan malam hari bisa lebih stabil karena gangguan aktivitas sekitar lebih sedikit.
    Namun faktor keamanan lokasi dan akses lapangan tetap menjadi pertimbangan utama.

    Kenapa satu titik GPS harus diukur cukup lama?

    Karena durasi pengamatan berpengaruh langsung pada kualitas data.
    GPS geodetik bekerja dengan mengumpulkan data satelit dalam rentang waktu tertentu.
    Semakin lama dan stabil pengamatan, semakin baik ketelitian hasilnya.
    Pengukuran yang terlalu singkat berisiko menghasilkan data yang kurang presisi.

    Apakah hasil GPS geodetik bisa langsung dipakai untuk desain atau perizinan?

    Bisa, selama metode survey, sistem koordinat, dan datum yang digunakan jelas dan sesuai kebutuhan proyek.
    Tidak semua hasil GPS otomatis siap dipakai untuk dokumen teknis atau perizinan.
    Karena itu, kebutuhan penggunaan data sebaiknya disampaikan sejak awal agar metode survey disesuaikan.

    Apa risiko jika proyek tidak menggunakan GPS geodetik?

    Risiko utamanya adalah kesalahan posisi dan elevasi.
    Kesalahan ini bisa berdampak ke desain yang keliru, pekerjaan ulang saat konstruksi,
    keterlambatan proyek, hingga pembengkakan biaya.
    Untuk proyek tertentu, biaya survey GPS geodetik jauh lebih kecil dibanding risiko kesalahan di tahap pelaksanaan.

    Lebih baik GPS geodetik atau survey konvensional?

    GPS geodetik bukan pengganti survey konvensional, melainkan pelengkap.
    GPS geodetik ideal untuk menentukan titik kontrol awal di area luas.
    Survey konvensional seperti total station digunakan untuk detail dan pengukuran lanjutan.
    Dalam banyak proyek, kombinasi keduanya justru menghasilkan pekerjaan yang paling efisien dan akurat.

    Apakah titik GPS bisa dipakai lagi untuk proyek berikutnya?

    Bisa, jika titik tersebut dimonumenkan dengan baik dan tidak rusak atau hilang.
    Banyak titik kontrol tidak bisa dipakai ulang karena tidak diberi tanda permanen atau tidak didokumentasikan dengan benar.
    Padahal, titik kontrol yang baik adalah aset jangka panjang untuk lokasi tersebut.

    Kenapa surveyor perlu data awal sebelum turun ke lapangan?

    Data awal membantu surveyor menentukan metode, jumlah titik, dan strategi pengukuran.
    Tanpa informasi awal, risiko ukur ulang dan pemborosan waktu menjadi lebih besar.
    Justru dengan persiapan yang baik, pekerjaan lapangan bisa lebih efisien dan biaya lebih terkendali.

    Berapa biaya survey GPS geodetik?

    Biaya tergantung pada luas area, jumlah titik, kondisi lapangan, dan target akurasi.
    Setiap proyek memiliki kompleksitas berbeda, sehingga estimasi biaya yang akurat hanya bisa diberikan
    setelah lingkup pekerjaan dipahami dengan jelas.
    Pendekatan ini memastikan biaya yang dikeluarkan sesuai kebutuhan teknis, bukan sekadar perkiraan kasar.

    Masih punya pertanyaan atau kondisi lapangan khusus?

    Setiap lokasi dan proyek memiliki tantangan yang berbeda.
    Diskusi awal dengan surveyor berpengalaman akan membantu menentukan metode yang paling aman, efisien, dan sesuai kebutuhan proyek Anda.

     

    Konsultasi Teknis & Layanan Survey GPS Geodetik

    Jika Anda membutuhkan penentuan titik kontrol yang presisi, pemetaan topografi berbasis koordinat yang akurat,
    atau sedang menyiapkan data dasar untuk desain dan konstruksi,
    tim surveyor kami siap membantu dengan pendekatan teknis yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Kami menangani survey GPS geodetik untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemetaan area luas,
    penentuan benchmark dan control point, hingga pendampingan teknis agar data survey benar-benar sesuai
    dengan kebutuhan desain dan pelaksanaan proyek.

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia


    📍 Konsultasi Awal Survey GPS Geodetik

    Analisis Struktur Rangka Batang dengan Metode Elemen Hingga

    Analisis Struktur Rangka Batang dengan Metode Elemen Hingga

    Metode elemen hingga adalah metode numerik untuk penyelesaian masalah engineering dan matematika fisika.

    Masalah dalam rekayasa engineering dan matematika fisika yang dapat diselesaikan dengan menggunakan metode elemen hingga meliputi analisis struktur, perpindahan panas, aliran fluida, transportasi massa, dan potensial elektromagnetik.

    Analisis Struktur Rangka Batang dengan Metode Elemen Hingga

    Metode Elemen Hingga sebagai Alternatif Solusi

    Untuk masalah bentuk geometri yang rumit, beban, dan sifat material yang komplek, sangat sulit untuk mendapatkan penyelesaian dengan solusi analitis matematika secara eksak.

    Solusi analitis umumnya memerlukan pemecahan persamaan diferensial biasa atau persamaan diferensial parsial, tentunya untuk geometri, beban, dan sifat material yang rumit dan komplek sulit untuk diperoleh. Oleh karena itu diperlukan metode numerik, seperti metode elemen hingga, untuk mendapatkan pemecahan masalah.

    Formulasi elemen hingga lebih mengandalkan pemecahan masalah dengan menyelesaikan sistem persamaan aljabar secara simultan, dibandingkan melalui pemecahan persamaan diferensial.

    Dengan penyelesaian numeric metode elemen hingga akan diperoleh nilai perkiraan dari variable yang tidak diketahui pada lokasi tertentu dalam suatu sistem kontinum.

    Pemecahan dengan metode elemen hingga adalah dengan membagi suatu benda atau struktur menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (elemen hingga) yang saling terhubungkan oleh nodal atau garis batas atau permukaan yang disebut diskritisasi.

    Dalam metode elemen hingga, pemecahan masalah tidak dilakukan langsung dalam satu operasi, namun dengan membuat persamaan keseimbangan untuk setiap elemen yang kemudian digabungkan untuk mendapatkan pemecahan dari seluruh sistem.

    Anda bisa mendapatkan modul yang lebih lengkap sesuai dengan tema yang ada di artikel ini dengan mengunduh materi berikut ini Full Modul: Analisis Struktur Rangka Batang dengan Metode Elemen Hingga

    Konsultasi Analisis Struktur

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
    • ☎️ Telepon: (021) 8404531
    • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

    📱 Konsultasi Analisis Struktur

    Penyelidikan Tanah di Lapangan | Rekayasa Geoteknik

    Penyelidikan Tanah di Lapangan | Rekayasa Geoteknik

    Penyelidikan tanah di lapangan adalah proses sistematis untuk mengumpulkan dan mencatat semua data yang diperlukan yang akan dibutuhkan atau akan membantu dalam proses desain dan konstruksi, terkait dengan lapisan tanah di bawah lokasi yang diselidiki dengan tujuan untuk :
    – mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk proyek
    – mengidentifikasi keekonomian desain pondasi
    – mengidentifikasi kesulitan yang mungkin timbul selama proses konstruksi
    – mengidentifikasi penyebab semua perubahan kondisi lapisan tanah.

    Kegunaan Penyelidikan Tanah di Lapangan

    Kegunaan Rekayasa Geoteknik pada proyek konstruksi adalah untuk melakukan evaluasi atas sifat-sifat dasar dari material tanah, baik yang ada di permukaan maupun yang dibawah permukaan bumi, hal ini dilakukan sebelum proyek konstruksi dimulai.

    Pengeboran tanah dilakukan untuk mendapatkan drilling log stratifikasi tanah, pengambilan sampel tanah tak terganggu (undisturb sampling) dan pengujian Standard Penetration Test (SPT), untuk mendapatkan daya dukung tanah dan properti tanah — at Bandara Internasional Soekarno Hatta.

    Evaluasi tersebut dijalankan dengan menyelidiki kondisi dan material yang ada di atas dan di bawah permukaan, menentukan sifat fisik dan kimia material bumi, mengevaluasi stabilitas lereng dan endapan tanah, serta menilai risiko yang ditimbulkan oleh kondisi tapak, desain fondasi, serta, memantau kondisi tapak dan konstruksi pondasi.

    Penyelidikan Tanah pada Rencana Pengembangan Terminal II Bandara Soekarno Hatta 11
    Penyelidikan Tanah di Lokasi Rencana Pengembangan Terminal II Bandara Soekarno Hatta

    Setelah rancangan struktur dan kebutuhan pembangunan ditentukan, tahap selanjutnya adalah: Penyelidikan Tanah di Lapangan.
    Selama fase ini, tanah, batuan, distribusi patahan dan kandungan batuan dasar di dalam tanah yang letaknya ada di bawah lokasi rencana konstruksi diperiksa agar dapat ditentukan sifat teknisnya.

    Penyelidikan Tanah di Lokasi Rencana Pengembangan Terminal II
    Sondir, Cone Penetrometer Test, at Bandara Internasional Soekarno Hatta.

    Sejumlah tes dapat dilakukan dalam investigasi tanah di lapangan, diantaranya adalah Sondir, standard penetration test (SPT), cone penetration tests (CPT), CPT seismic, CPT resistivity dan test geofisika lainnya.

    Pengeboran tanah dilakukan untuk mendapatkan drilling log stratifikasi tanah, pengambilan sampel tanah tak terganggu (undisturb sampling) dan pengujian Standard Penetration Test (SPT), untuk mendapatkan daya dukung tanah dan properti tanah — at Bandara Internasional Soekarno Hatta.

    Pengeboran tanah dilakukan untuk mendapatkan drilling log stratifikasi tanah, pengambilan sampel tanah tak terganggu (undisturb sampling) dan pengujian Standard Penetration Test (SPT), untuk mendapatkan daya dukung tanah dan properti tanah

    Pengeboran tanah at Bandara Internasional Soekarno Hatta.

    Standar Penetration Test (SPT) adalah suatu metode uji yang dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui, baik perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan.

    Sample UDS (undisturb sample) selanjutnya dibawa ke laboratorium mekanika tanah untuk dilakukan serangkaian pengujian untuk mengetahui index properties dan engineering properties.

    Sample UDS (undisturb sample) yang selanjutnya dibawa ke laboratorium mekanika tanah untuk dilakukan serangkaian pengujian untuk mengetahui index properties dan engineering properties — at Bandara Internasional Soekarno Hatta.

    Sedangkan Sondir adalah suatu uji tanah yang dilakukan dengan cara melakukan penetrasi konus ke dalam tanah yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah tiap kedalaman tertentu berdasarkan parameter-parameter perlawanan tanah terhadap ujung konus dan hambatan akibat lekatan tanah dengan selubung konus.

    Parameter tersebut berupa perlawanan konus (q), perlawanan geser (fs), angka banding geser (Rf), dan geseran total tanah (T), yang dapat digunakan untuk interpretasi perlapisan tanah yang merupakan bagian dari desain fondasi.

    Sondir biasa disebut juga dengan Cone Penetrometer Test (CPT) dilakukan dengan menggunakan alat sondir yang biasa disebut penetrasi quasi statik.

    SNI pengujian Sondir dan SPT dapat di click di Link berikut:

    Download SNI 2827-2008 Cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir

    Download SNI 4153:2008, Cara uji penetrasi lapangan dengan SPT

     

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27,  Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia
    Email: kontak@hesa.co.id
    Telp: (021) 8404531
    Whatsapp Bussiness : 0812 9144 2210 atau  0811 888 9409

    Klik tombol whatsapp dibawah ini, untuk bicara dengan CS kami:

    Uji Korosi Tulangan Beton Resistivity Canin+

    Uji Korosi Tulangan Beton Resistivity Canin+

    Uji korosi tulangan beton merupakan salah satu bagian yang harus dilaksanakan oleh pemeriksa lapangan dalam pekerjaan audit building untuk memetakan kerusakan yang sudah terjadi dan potensi kerusakan yang kemungkinan besar akan terjadi.

    Half Cell Potential Test untuk Uji Korosi Tulangan Beton

    Uji korosi tulangan beton merupakan salah satu bagian yang harus dilaksanakan oleh pemeriksa lapangan dalam pekerjaan audit bangunan untuk memetakan kerusakan yang sudah terjadi dan potensi kerusakan yang kemungkinan besar akan terjadi. Pertanyaan kritis: apakah tulangan baja dalam beton masih dalam kondisi aman, atau sudah mengalami korosi progresif yang mengancam integritas struktur?

    Salah satu metode NDT adalah uji korosi tulangan dalam beton dengan menggunakan prinsip half cell potential dengan alat keluaran proceq yaitu CANIN+ (corrosion analysis).

    http://hesa.co.id//images/Services/Uji_Korosi/Resistivity-1.jpg

    CANIN+ dengan batang half-cell mengukur potensi korosi pada tulangan baja di dalam beton baja mengacu pada metode yang dijelaskan dalam berbagai standar (misalnya ASTM C876-91).

    http://hesa.co.id//images/Services/Uji_Korosi/Alat%20Uji%20Resistivity%20Canin.jpg

    Skematik alat seperti pada gambar berikut:

    http://hesa.co.id//images/Services/Uji_Korosi/canin%20equipment3.jpg

    Metode Pengukuran Canin+ untuk Uji Korosi Tulangan Beton

    Untuk mengukur voltase ini, perlu menghubungkan kabel ground ke bagian yang terbuka dari tulangan baja di dalam beton. Pembacaan dilakukan dengan menempelkan batang half-cell pada permukaan beton yang sudah diberi tanda misalkan titik-titik dengan grid berjarak tertentu. Hasil pembacaan akan ditampilkan pada unit display sebagai grafik beda potensial.

    Dalam praktik lapangan, hasil pengukuran potensi korosi ini menjadi basis keputusan perbaikan yang konkret. Nilai potensial negatif yang tinggi menunjukkan area dengan risiko korosi tinggi yang memerlukan intervensi cepat, sementara nilai yang lebih rendah mengindikasikan kondisi yang masih relatif aman untuk operasi berkelanjutan. Tanpa pengukuran yang akurat, Anda berisiko mengambil keputusan perbaikan yang tidak tepat—baik menghabiskan biaya untuk perbaikan yang sebenarnya belum mendesak, atau mengabaikan area dengan korosi kritis yang bisa menyebabkan kegagalan struktur.

    Prinsip Pengukuran

    Prinsip pengukuran Resistivitas pada Canin+ untuk Memperkirakan Potensi Korosi Tulangan dalam Beton adalah sebagi berikut

    CANIN + dengan probe resistivitas mengukur tahanan (resistivity) listrik pada beton sesuai dengan prinsip Wenner. Gambar di bawah menunjukkan secara skematik prinsip pengukuran resistivitas dan rumus yang digunakan oleh instrumen untuk menghitung dan menampilkan nilai resisitivitas.

    http://hesa.co.id//images/Services/Uji_Korosi/Prinsip%20konfigurasi%20wenner%20pembacaan%20resistivitas.jpg

    Resistivitas beton adalah indikator penting dari kelembaban dan kondisi lingkungan internal beton. Beton dengan resistivitas rendah (biasanya <100 Ω·cm) menunjukkan kelembaban tinggi dan kondisi yang sangat kondusif untuk korosi tulangan. Pengukuran resistivitas ini dikombinasikan dengan data potensial korosi memberikan gambaran menyeluruh tentang risiko korosi—bukan hanya keberadaan korosi saat ini, tetapi juga kecenderungan korosi di masa depan.

    Photo dokumentasi di bawah ini menunjukkan cara pengukuran Canin+ untuk mengetahui potensi korosi pada tulangan dalam beton.

    Uji Resistivity Canin untuk Uji Korosi Tulangan dalam Beton

    Pengolahan data selanjutnya dilakukan pada PC dengan bantuan software ProVista, yang memberikan dasar untuk interpretasi penilaian potensi korosi yang terjadi pada tulangan di dalam beton.

    Output pembacaan seperti pada tabel berikut:

    http://hesa.co.id//images/Services/Uji_Korosi/Pembacaan%20Uji%20Resistivity.jpg

    Uji Korosi Tulangan untuk Keputusan Perbaikan Beton Existing

    Pada bangunan atau struktur beton yang sudah berusia puluhan tahun, tulangan baja sering mengalami korosi dari paparan kelembaban, CO2, atau ion klorida. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab: apakah tulangan masih dalam kondisi yang aman untuk operasi berkelanjutan, atau sudah mencapai tahap di mana perbaikan atau perkuatan diperlukan?

    PT Hesa Laras Cemerlang membantu Anda melakukan pengukuran potensi korosi dan analisis resistivitas beton untuk menilai kondisi aktual tulangan baja dalam struktur Anda. Evaluasi difokuskan pada pemetaan area risiko korosi tinggi, estimasi laju degradasi, serta rekomendasi intervensi yang terukur dan efisien.

    Hasil pengukuran dan analisis diarahkan untuk memberikan kejelasan teknis—apakah tulangan masih berada dalam kondisi yang dapat diterima, memerlukan monitoring berkala, atau perlu direncanakan strategi perbaikan dan reinforcement yang terukur.

    Apakah struktur beton Anda termasuk: bangunan gedung bertingkat, jembatan beton, struktur terowongan, fasilitas industri, atau bangunan di area dengan potensi korosi tinggi (dekat pantai, lingkungan asam, atau paparan klorida)?

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
    • ☎️ Telepon: (021) 8404531
    • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

    📱 Konsultasi Uji Korosi Tulangan Beton

    Uji Korosi Struktur Baja

    Uji Korosi Struktur Baja

    Pengendalian Pemantauan dan Uji Korosi pada Struktur Baja

    Jika struktur baja Anda sudah berusia 15+ tahun, terekspos lingkungan aggressive (dekat laut, pabrik kimia), atau menunjukkan tanda visual korosi (karat, pitting, discoloration), Anda perlu tahu dengan pasti: apakah korosi masih dalam batas aman atau sudah mencapai level kritis yang memerlukan intervensi?

    Uji korosi struktur baja menjawab pertanyaan itu dengan data konkret: berapa dalam material sudah hilang, apakah laju korosi masih terprediksi, dan berapa tahun lagi struktur dapat beroperasi normal sebelum perlu perkuatan atau penggantian.

    Pengendalian Pemantauan dan Uji Korosi pada Struktur Baja

    Korosi yang terjadi pada struktur baja merupakan proses kerusakan pada sifat material logam akibat terjadinya reaksi elekrokimia karena interaksi logam dengan lingkungan. Pada elemen struktur umumnya korosi ini tidak dapat dicegah sepenuhnya, karena sangat sulit dan tentunya mahal untuk dapat memproteksi secara keseluruhan dan permanen suatu elemen struktur dari serangan korosi.

    Kapan Uji Korosi Struktur Baja Diperlukan?

    Uji korosi paling penting ketika struktur masuk dalam kondisi spesifik. Memahami kapan perlu test membantu engineer mencegah melakukan uji yang tidak terlalu penting untuk dilakukan atau delay yang berisiko.

    1. Struktur Baja Umur 15+ Tahun di Lingkungan Aggressive

    Area dekat laut, pabrik kimia, atau kelembaban tinggi mengalami laju korosi lebih cepat. Uji korosi menunjukkan: berapa dalam material hilang, dan berapa tahun lagi sebelum critical thickness tercapai.

    2. Ada Tanda Visual Korosi (Karat, Pitting, Discoloration)

    Tanda visual bisa indikasi awal. Uji korosi membantu quantify: apakah baru permukaan atau sudah dalam? Apakah butuh reinforcement atau cukup monitored saja.

    3. Rencana Perpanjangan Umur Operasi atau Modifikasi Beban

    Sebelum extend umur atau tambah beban, data korosi actual lebih akurat daripada asumsi. Ini membantu avoid over-design atau under-design.

    4. Persiapan Keputusan: Perkuatan vs. Penggantian vs. Monitoring

    Engineer perlu data untuk memutuskan: apakah cukup protective coating repair, atau butuh structural strengthening, atau element harus diganti. Uji korosi menyediakan dasar yang kuantitatif untuk keputusan itu.

    Manfaat Uji Korosi Struktur Baja

    Namun upaya untuk mencegah, mengendalikan, dan memantau tingkat korosi pada elemen struktur tetap diperlukan untuk menghindarkan terjadinya kegagalan struktur akibat korosi pada masa layan struktur.

    Perencanaan proteksi atau pengendalian korosi dilakukan dengan memberikan proteksi kepada komponen struktur sehingga terlindung dari korosi dalam rentang waktu tertentu, dan memperbaharuinya secara berkala selama umur rencana struktur.

    Tujuan Uji Korosi Struktur Baja

    Perencanaan pengendalian korosi bertujuan mengatur laju korosi, dengan metode tertentu sehingga perkembangannya diprediksi tetap berada dalam batas tertentu yang tidak mengakibatkan struktur dibawah kapasitas layannya selama umur rencana.

    Upaya pemantauan korosi dan uji korosi bertujuan untuk memantau tingkat korosi agar tidak melebihi batas yang diijinkan yang dapat mengakibatkan kegagalan struktur akibat penurunan kapasitasnya.

    Kegagalan salah satu dari aspek-aspek pengendalian korosi ini dapat menyababkan struktur mengalami kegagalan dini struktur.

    Pengendalian Korosi

    Proteksi terhadap korosi atau lebih tepat disebut pengendalian terhadap korosi dapat digolongkan menjadi empat golongan besar yaitu :

    • Dengan mengubah jenis logam dan desain
    • Dengan mengubah media korosif
    • Dengan cara mengubah potensial (tegangan)
    • Dengan pelapisan permukaan.

    Cara pengendalian diatas bertujuan untuk menghambat laju korosi sehingga diharapkan umur logamnya menjadi lebih lama, penghematan pemakaian bahan, yang pada akhirnya akan menurunkan biaya-biaya pemeliharaan yang disebabkan oleh masalah-masalah korosi.

    Pemantauan Korosi pada struktur Baja

    Pemantauan korosi yang terjadi pada struktur baja dilakukan untuk memastikan bahwa korosi yang terjadi tidak membahayakan struktur, atau mengakibatkan kegagalan struktur.

    Untuk mengetahui prosentase korosi yang terjadi dapat dilakukan uji korosi dengan mengukur ketebalan profil baja yang belum terkorosi, dengan ultrasonic testing.

    http://hesa.co.id//images/Audit-Struktur-Ware-House-Taisho-Pharmaceutical-Indonesia/ultrasonic_testing/Ultrasonic%20Thickness-3.jpg

    Prinsip dasar Pengujian Ultrasonic

    Ultrasonic Testing (UT) menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi (biasanya berkisar antara 0,5 dan 15 MHz) untuk melakukan pemeriksaan dan melakukan pengukuran. Selain penggunaannya yang luas dalam aplikasi teknik (seperti deteksi dan evaluasi cacat, pengukuran dimensi, karakterisasi material, dan lain-lain).

    Secara umum, pengujian ultrasonik didasarkan pada penangkapan dan kuantifikasi gelombang pantul pulse-echo atau gelombang yang ditransmisikan (melalui transmisi).

    Masing-masing dari kedua jenis ini digunakan dalam aplikasi tertentu, namun pada umumnya, sistem pulse echo lebih useful karena hanya memerlukan akses dari satu sisi ke objek yang diperiksa.

     

    http://hesa.co.id//images/Ultrasonic%20principle.jpg

    Sistem inspeksi UT pulse-echo terdiri dari beberapa komponen alat, seperti pulser atau receiver, transducer, dan perangkat display.

    Analisis struktur dilakukan dengan penampang profil yang terukur untuk mengetahui apakah rasio tegangan pada struktur masih memenuhi syarat yang diijinkan.

    Jika tidak memenuhi maka dilakukan perhitungan atau treatment tertentu untuk mengembalikan kapasitasnya. Jika penurunan kapasitasnya masih dalam batas yang diijinkan, selanjutnya dilakukan perhitungan dimensi minimum profil elemen struktur yang ditinjau yang menghasilkan rasio tegangan yang masih diijinkan.

    Dari dimensi minimum ini dan dari perkiraan laju kaorosi akan dapat juga diperkirakan sisa masa layan struktur.

    Korosi Struktur Baja Exposed: Karakteristik & Assessment

    Struktur baja yang sepenuhnya terekspos—tidak terlindungi oleh beton—seperti jembatan, rangka industri, atau tower, memiliki mekanisme dan pola korosi yang berbeda dibandingkan tulangan di dalam beton. Memahami perbedaan ini penting untuk memilih metode assessment dan pengendalian yang tepat.

    Tipe Korosi pada Struktur Baja Exposed

    1. Uniform Corrosion (Korosi Merata)
    Korosi terjadi relatif seragam di seluruh permukaan baja, menyebabkan kehilangan material secara gradual.
    Kondisi ini umumnya dijumpai pada lingkungan dengan paparan sedang, seperti kelembapan relatif yang stabil dan jauh dari pengaruh semprotan air laut.
    Laju korosi cenderung lebih mudah diproyeksikan, sehingga pengukuran ketebalan menggunakan ultrasonic thickness (UT) dapat digunakan secara efektif untuk memantau penurunan tebal material dari waktu ke waktu..

    2. Pitting Corrosion (Korosi Alur/Lubang)
    Korosi bersifat terlokalisasi, membentuk pit atau lubang dalam, sementara area di sekitarnya tampak relatif utuh.
    Kondisi ini sering ditemukan pada zona basah–kering siklis, area dekat laut, atau detail desain yang berpotensi menjebak kelembapan,
    seperti sudut re-entrant, permukaan horizontal, atau sistem drainase yang kurang baik.
    Risiko utama pitting bukan pada luas kerusakan, melainkan pada konsentrasi tegangan di dasar pit, yang dapat menyebabkan kegagalan meskipun tebal rata-rata tampak masih memadai.
    Pengukuran UT saja sering tidak cukup untuk mendeteksi pit yang kecil namun dalam, sehingga inspeksi visual tetap menjadi elemen penting.

    3. Galvanic Corrosion (Korosi Galvanik)
    Korosi galvanik terjadi ketika dua logam dengan potensial elektrokimia berbeda berada dalam kontak langsung di lingkungan yang bersifat elektrolit, seperti air atau kelembapan tinggi.
    Logam yang lebih mulia akan terlindungi, sementara logam yang lebih aktif mengalami percepatan korosi.
    Di lapangan, kondisi ini sering dijumpai pada penggunaan fastener stainless pada struktur baja karbon, di mana area sekitar sambungan menunjukkan degradasi yang lebih parah.
    Pendekatan pengendalian umumnya berupa pemilihan material sejenis atau penggunaan lapisan isolasi seperti gasket atau sistem pelapisan yang tepat.

    Strategi Assessment untuk Struktur Baja Exposed

    Visual Inspection Dulu: Sebelum melakukan pengujian ketebalan, inspeksi visual diperlukan untuk membaca distribusi karat,
    mengidentifikasi area dengan indikasi pitting, menilai kondisi coating, serta mengenali potensi masalah pada detail desain.
    Tahap ini menangkap konteks lapangan yang tidak selalu terwakili dalam data numerik.

    UT dan Pengukuran Kedalaman Pit: Pada area dengan indikasi korosi merata, pengukuran ketebalan menggunakan UT umumnya memadai.
    Namun pada area yang menunjukkan pitting, pengukuran perlu dilengkapi dengan alat pengukur kedalaman pit.
    Dalam konteks risiko struktural, kedalaman pit terdalam sering lebih relevan dibandingkan nilai tebal rata-rata material.

    Assessment Kondisi Coating: Kondisi sistem pelapisan memiliki hubungan langsung
    dengan laju korosi dalam beberapa tahun ke depan. Coating yang masih berfungsi dengan baik
    dapat memperpanjang umur layanan struktur secara signifikan.
    Assessment umumnya mencakup evaluasi adhesi, ketebalan lapisan, serta keberadaan cacat atau holiday. Hasilnya digunakan untuk menentukan prioritas tindak lanjut, apakah diperlukan recoating segera atau cukup dilakukan pemantauan dengan rencana pelapisan ulang jangka menengah.

    Konsultasi Uji Korosi & Assessment Kapasitas Sisa Struktur

    Jika Anda sedang mempertimbangkan perpanjangan umur operasi, modifikasi beban, atau memiliki indikasi awal korosi pada struktur baja, keputusan sebaiknya didasarkan pada data konkret—bukan asumsi worst-case. Uji korosi yang dilakukan dengan metode yang tepat memberikan clarity tentang: berapa dalam material sudah hilang, apakah laju terprediksi, dan kapan intervensi diperlukan.

    Tim kami membantu dalam setiap tahapan: dari planning test lokasi strategis, eksekusi UT measurement, interpretasi data, hingga deliver laporan yang actionable untuk keputusan design atau maintenance Anda.

    Konsultasi Uji Korosi & Assessment Kondisi Struktur Baja

    Jika Anda sedang mengevaluasi kondisi struktur baja existing, merencanakan perpanjangan umur operasi, atau memiliki data indikasi awal korosi, tim struktur kami dapat membantu menginterpretasikan data pengujian dan menerjemahkannya ke keputusan maintenance atau reinforcement yang praktis.

    Pendampingan dapat mencakup perencanaan lokasi pengujian strategis, eksekusi UT measurement, interpretasi hasil, hingga telaah kapasitas sisa struktur untuk kebutuhan operasi jangka panjang Anda.

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    📱 Konsultasi Uji Korosi & Assessment Kondisi Struktur Bajai

    Non-Destructive Test Beton

    Non-Destructive Test Beton

    Non-Destructive Test (NDT) pada Struktur Beton

    Non-Destructive Test (NDT) adalah investigasi teknis yang paling cost-effective untuk mengevaluasi kondisi struktur existing tanpa merusak fungsinya.

    Memilih metode NDT yang tepat—dari rebar scanner, hammer test, hingga core drill—menentukan akurasi diagnosis dan keputusan perbaikan struktur Anda. Kesalahan pemilihan metode berisiko memberikan data yang tidak akurat, menghasilkan keputusan desain yang salah dan biaya perbaikan berlebihan.

    Saat ini keberadaan NDT semakin semakin banyak diterima dan diaplikasikan dalam rekayasa teknik sipil dan struktur, sebagai alat untuk mengevaluasi kekuatan, keseragaman, keawetan dan sifat-sifat lainnya dari struktur beton eksisting.

    Dasar-dasar metode NDT terus dieksplorasi baik kelebihan, kekurangan, metode  maupun interpretasi hasil ujinya. Metode Non-Destructive Test yang umum digunakan dalam rekayasa teknik sipil dan struktur diantaranya adalah :

    Daftar Metode NDT Umum

    Rebar Scanner

    Pengujian ini sering disebut juga dengan Rebar Locator, karena sesuai fungsinya untuk mengetahui lokasi tulangan (rebar) atau juga banyak yang menyebutnya dengan Covermeter test. Pada prinsipnya pengujian NDT ini adalah sebuah pengujian yang dilakukan untuk mengukur tebal selimut beton, jarak antar tulangan dan besar diameter tulangan.

    Rebar scanning
    Rebar Locator on Pelindo
    Nondestructive Test Dermaga Pelabuhan Belawan 4
    Rebar scanning atau covermeter test untuk mengetahui posisi, dimensi dan kedalaman tulangan baja di dalam beton sekaligus mendapatkan visualisasinya — at Pelindo I Cabang Pelabuhan Belawan.

    Implikasi praktis rebar scanner: Ketepatan pengukuran selimut beton dan posisi tulangan menentukan diagnosis korosi. Jika selimut beton lebih tipis dari standar SNI, risiko korosi tulangan meningkat drastis. Data rebar scanner yang akurat memungkinkan Anda membuat keputusan tepat: apakah perlu perbaikan segera atau bisa ditunda. Jika data salah, Anda berisiko underestimate risiko korosi atau melakukan perbaikan mahal yang sebenarnya tidak perlu.

    Hammer Test

    Biasa juga disebut dengan Concrete Hammer Test atau Schmidt Hammer Test. Adalah suatu metode uji yang simpel dan nisbi praktis guna mengetahui bagaimana kualitas beton

    Hammer Test at Pelabuhan Belawan.
    Hammer Test at Pelabuhan Belawan.

    Impact Echo Test

    Melakukan benturan mekanis dengan bantuan ketukan palu atau lainnya,  sehingga dapat menghasilkan gelombang pada frekuensi 1-60 kHz dengan panjang gelombang dari 50 mm sampai 2000 mm yang merambat dalam suatu media selama media tersebut elastis homogen.

    IMPACT ECHO TEST

    Carbonation Test

    Tujuan carbonation test, uji karbonasi, adalah supaya dapat diketahui bagaimana kualitas selimut beton dalam melakukan perlindungan terhadap tulangan baja yang  di dalamnya. Karena, proses karbonasi menetralisir kondisi basa dalam beton. Jika selimut beton seluruhnya telah terkarbonasi mencapai tulangan baja di dalamnya, maka baja tulangan di dalamnya akan segera terkorosi ketika udara lembab dan oksigen mencapai tulangan.

    Carbonation Test
    Carbonation Test

    Pulse Echo Test

    Untuk menguji mutu serta integritas beton dengaan bantuan alat Pundit PL-200PE yang telah mendayagunakan Pulse Echo sebagai inovasi teknologi dalam meningkatkan kinerja aplikasi ultrasonik dalam hal obyek uji serta akses terhadap benda yang hanya terbatas di satu sisi

    Ultrasonic Pulse Velocity Test

    Proses pengujian beton dengan bantuan gelombang ultrasonik melalui alat  Read-out Unit PUNDIT (Portable Unit Non Destructive Indicator Tester), Transducer 54 Hz, dan Calibration Bar.

    Half Cell Potencial Test

    Metode Half Cell bertujuan untuk mengindikasikan tingkat korosi dari tulangan yang berada di dalam beton. Metode ini memberi banyak keuntungan, sebab dengan hasil yang cukup akurat tapi biayanya relatif murah

    Half Cell Potential Test untuk Uji Korosi pada Inspeksi dan Audit Struktur Jembatan Citra Maja Raya
    Half Cell Potential Test untuk Uji Korosi pada Inspeksi dan Audit Struktur Jembatan Citra Maja Raya 3

    Brinell Test

    Adalah untuk menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut (speciment).

    http://hesa.co.id//images/Brinell6.jpg

    Loading Test

    Tujuannya supaya tahu apakah bagian struktur yang diuji masih dapat kuat menahan beban working load, beban kerja,  yang membebaninya atau tidak.
    Loading Test Jembatan Trimartani

    Core Drill

    Metode core drill adalah suatu metoda pengambilan sampel beton pada suatu struktur bangunan. Sampel yang diambil (bentuk silinder) selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian seperti Kuat tekan

    Core Drill Dermaga Pomako Papua 2017
    Core Drill Dermaga Pomako Papua 2017

    Prinsip-prinsip Non-Destructive Test (NDT)

    NDT adalah suatu cara untuk memeriksa, menguji, atau mengevaluasi material atau elemen struktur tanpa merusak kemampuan layan dari suatu bagian atau sistem struktur.

    Tujuan Non destructive Testing adalah untuk menentukan kualitas dan integritas material atau elemen struktur tanpa mempengaruhi kemampuan untuk menjalankan fungsinya.

    Metode pengujian yang tidak mempengaruhi kegunaan suatu bagian atau sistem tetap dianggap tidak merusak bahkan jika mengandung tindakan invasif.

    Sebagai contoh, coring adalah metode NDT yang umum digunakan untuk mengambil sample dengan melubangi elemen struktur beton dan menguji spesimen sample dari elemen struktur beton untuk menentukan sifat beton in-situ.

    Coring tentunya mengubah tampilan komponen struktur dan secara marginal mempengaruhi integritas strukturalnya. Namun jika dilakukan dengan benar, dilakukannya coring tidak mempengaruhi kemampuan layan elemen struktur tersebut dan dengan demikian tetap dianggap masuk kedalam katagori uji tidak merusak (Non destructive Testing/NDT).

    Perbedaan NDT dengan Destructive Test

    Pengujian yang merusak (Destructive Testing, DT) mengeksplorasi mekanisme kegagalan untuk menentukan sifat mekanik material seperti kuat leleh, kuat tekan, kuat tarik, keuletan dan ketangguhan retak.

    Sedangkan metode NDT mengeksplorasi indikasi sifat tanpa mencapai kegagalan elemen struktur. Upaya secara ekstensif terus dilakukan untuk mengembangkan metode NDT sehingga semakin baik dalam mengindikasikan sifat mekanik, akustik, kimia, listrik, magnetik, dan fisik dari material atau elemen yang diuji.

    Metode NDT terus dikembangkan sebagai metode yang untuk menjawab kebutuhan untuk mendeteksi kerusakan secara dini sebagai bagian dari pencegahan kerusakan struktural.

    Penggunaan ekstensif NDT didorong oleh faktor ekonomi dan keselamatan. Dalam upaya pencegahan dini terjadinya kerusakan struktural, teknik-teknik pengujian in-site baru telah banyak ditemukan.

    Untuk semakin memungkinkan melakukan penilaian kinerja beton selama tahap konstruksi, tahap commissioning maupun dan pada masa layan struktur.

    Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan survei NDT adalah kedalaman penetrasi terhadap material atau elemen struktuyang diuji, resolusi vertikal dan lateral, kontras pada sifat fisik, rasio signal-to-noise dan informasi yang ada mengenai struktur (McCann & Forde, 2001).

    Pemahaman tentang sifat material dan isu utama yang terkait dengan penerapannya dalam bidang struktur menjadi sangat penting bagi keberhasilan metode NDT apapun. Langkah-langkah untuk memilih metode NDT yang memadai adalah sebagai berikut (Shull, 2002).

    • Memahami sifat fisik dari material yang diinspeksi
    • Memahami proses fisik dasar yang dari metode NDT yang diaplikasikan
    • Memahami sifat fisik interaksi antara probe alat uji dengan bahan uji
    • Memahami keterbatasan teknologi NDT yang diaplikasikan
    • Mempertimbangkan faktor ekonomi, lingkungan, peraturan dan faktor lainnya

    Ada berbagai metode NDT yang diaplikasikan dalam bidang rekayasa teknik sipil dan struktur. Dan sudah banyak pula literatur teknis mengenai NDT pada beton, namun hal penting untuk meningkatkan keakurasian interpretasi hasil NDT adalah kolaborasi antara insinyur sipil, peneliti NDT dan spesialis NDT.

    Reference:

    Konsultasi Pemilihan Metode NDT dan Interpretasi Data untuk Diagnosa Struktur

    Memilih metode NDT yang tepat untuk struktur Anda adalah keputusan kritis yang menentukan akurasi diagnosa dan validitas keputusan perbaikan. Jika metode tidak sesuai dengan jenis kerusakan yang dicurigai, data yang dihasilkan bisa menyesatkan, menyebabkan keputusan perbaikan yang tidak perlu atau melewatkan kerusakan serius. Tim teknis kami dapat membantu mengevaluasi kondisi struktur, merekomendasikan kombinasi metode NDT yang optimal, dan melakukan interpretasi data dengan kolaborasi multidisiplin untuk diagnosa yang akurat.

    Layanan kami mencakup: penilaian kondisi visual awal struktur, pemilihan metode NDT berdasarkan jenis kerusakan yang dicurigai, koordinasi dan supervisi pelaksanaan pengujian lapangan, interpretasi hasil NDT dengan perspektif teknik struktur, dan rekomendasi keputusan perbaikan berbasis data NDT yang tervalidasi.

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
    • ☎️ Telepon: (021) 8404531
    • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

    📱 Konsultasi Pemilihan Metode NDT

    Pemodelan Struktur Dermaga dengan Midas Gen 2014 V2.1

    Pemodelan Struktur Dermaga dengan Midas Gen 2014 V2.1

    Mengapa Pemodelan Struktur Dermaga Kritis

    Dermaga adalah infrastruktur porturan yang mengalami beban kompleks dan simultan: berat sendiri struktur, beban operasional dari mesin ship unloader (±830 ton), benturan kapal tongkang (6991 ton), gaya mooring dari tambat, beban arus laut, angin, dan gempa. Kesalahan dalam pemodelan pembebanan atau analisis struktur dapat menghasilkan desain yang tidak aman atau over-dimensioned dengan dampak finansial signifikan.

    Pemodelan struktur dermaga menggunakan software engineering seperti Midas Gen memungkinkan analisis komprehensif: dari definisi geometri, material properties, kombinasi beban, hingga interpretasi gaya dalam dan deformasi. Proses ini bukan sekadar visualisasi — tetapi fondasi keputusan desain yang berbasis data akurat.

    Artikel ini menguraikan metodologi pemodelan struktur dermaga secara sistematis: standard desain yang diacu, tata letak geometri, properti material, pembebanan operasional, metode analisis, dan interpretasi hasil program.

    Pemodelan Struktur Dermaga

    Pemodelan struktur dermaga memerlukan pendekatan sistematis yang mengintegrasikan data geometri, properti material, dan kondisi pembebanan dalam satu model komprehensif. Proses ini bukan sekadar visualisasi — tetapi fondasi untuk analisis yang akurat dan keputusan desain yang tepat.

    Dermaga dilengkapi dengan fasilitas rumah kontrol mesin dan conveyor. Beban mati akibat berat sendiri rangka baja, beban mati tambahan, dan 25% beban hidup diambil sebagai gaya yang bekerja pada fasilitas tersebut. Reaksi perletakan dari struktur fasilitas tersebut akan diaplikasikan sebagai beban ke struktur dermaga

    Artikel ini menguraikan metodologi pemodelan struktur dermaga menggunakan Midas Gen — dari penentuan standar desain, tata letak geometri, pendefinisian material, hingga analisis hasil. Pendekatan ini memastikan model struktur mencerminkan kondisi lapangan dan memenuhi persyaratan regulasi yang berlaku.

    Scope Pembahasan Artikel

    Pembahasan mencakup:

    • Standard Desain: Referensi peraturan dan persyaratan teknis yang mendasari pemodelan
    • Geometri Struktur: Tata letak dan dimensi komponen dermaga (deck, pilar, pondasi) dalam model
    • Properti Material: Definisi karakteristik baja, beton, dan sambungan sesuai standar
    • Pembebanan & Kombinasi: Identifikasi beban mati, hidup, dan kontribusi fasilitas penunjang (rumah kontrol mesin, conveyor)
    • Metode Analisis: Pendekatan linear elastis, modal analysis, atau time-history sesuai kriteria desain
    • Pemodelan Midas Gen: Tahapan input data dan eksekusi model dalam software v2014 v2.1
    • Interpretasi Hasil: Verifikasi output analisis (displacement, stress, reaction) terhadap kriteria kelayakan

    Mengapa Akurasi Model Struktur Penting

    Dermaga yang tepat desain bukan hanya memenuhi kekuatan struktural — tetapi juga memastikan durabilitas jangka panjang, efisiensi operasional, dan margin keselamatan yang cukup terhadap kondisi ekstrem (beban insidental, perubahan lingkungan).

    Dalam praktik, kesalahan pemodelan sering terdeteksi terlambat: saat konstruksi sudah lanjut atau bahkan pasca-operasional. Dampaknya dapat berupa perkuatan darurat, shutdown operasional, atau — dalam kasus kritis — kerusakan struktural yang merugikan. Oleh karena itu, validasi model di tahap awal menjadi investasi penting untuk menghindari kerugian jauh lebih besar di kemudian hari.

    Pendekatan sistematis dalam pemodelan — seperti yang diuraikan artikel ini — memastikan model mencerminkan kondisi sebenarnya dan output analisis dapat menjadi dasar keputusan desain yang reliable.

    Struktur Artikel & Cara Membaca

    Artikel ini dirancang untuk dibaca secara progresif: mulai dari pemahaman konsep (standard desain, identifikasi beban), kemudian implementasi teknis (pemodelan software), hingga interpretasi hasil. Pembaca dapat memilih untuk:

    • Membaca lengkap jika ingin memahami alur pemodelan dari awal hingga akhir
    • Fokus pada bagian tertentu jika sudah familiar dengan tahapan awal atau hanya butuh detail hasil analisis
    • Download artikel lengkap (link di bawah) untuk referensi offline dan detail teknis yang lebih mendalam

    Mengapa Akurasi Model Struktur Penting

    Dermaga yang tepat desain bukan hanya memenuhi kekuatan struktural — tetapi juga memastikan durabilitas jangka panjang, efisiensi operasional, dan margin keselamatan yang cukup terhadap kondisi ekstrem (beban insidental, perubahan lingkungan).

    Dalam praktik, kesalahan pemodelan sering terdeteksi terlambat: saat konstruksi sudah lanjut atau bahkan pasca-operasional. Dampaknya dapat berupa perkuatan darurat, shutdown operasional, atau — dalam kasus kritis — kerusakan struktural yang merugikan. Oleh karena itu, validasi model di tahap awal menjadi investasi penting untuk menghindari kerugian jauh lebih besar di kemudian hari.

    Pendekatan sistematis dalam pemodelan — seperti yang diuraikan artikel ini — memastikan model mencerminkan kondisi sebenarnya dan output analisis dapat menjadi dasar keputusan desain yang reliable.

    Struktur Artikel & Cara Membaca

    Artikel ini dirancang untuk dibaca secara progresif: mulai dari pemahaman konsep (standard desain, identifikasi beban), kemudian implementasi teknis (pemodelan software), hingga interpretasi hasil. Pembaca dapat memilih untuk:

    • Membaca lengkap jika ingin memahami alur pemodelan dari awal hingga akhir
    • Fokus pada bagian tertentu jika sudah familiar dengan tahapan awal atau hanya butuh detail hasil analisis
    • Download artikel lengkap (link di bawah) untuk referensi offline dan detail teknis yang lebih mendalam

    Untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang Pemodelan Struktur Dermaga dengan Midas Gen 2014 V2.1, silahkan unduh artikel l;enhgkapnya yang ditulis  Oleh : Dr. Ir. Heri Khoeri, MT,  Junaidi ST, Hilmi Zamakhsyari ST, pada link berikut: *Link Artikel*

    Pemodelan & Analisis Struktur Dermaga untuk Keputusan Desain

    Jika Anda sedang merancang atau mengevaluasi dermaga baru, pemodelan struktur yang akurat adalah tahap kritis untuk memastikan desain feasible, aman, dan cost-effective. Model yang tepat memungkinkan engineer untuk mengidentifikasi zona kritis, mengoptimalkan dimensi, dan memvalidasi kelayakan sebelum investasi konstruksi besar-besaran.

    Tim analisis struktur kami membantu mendefinisikan data pembebanan operasional (machinery, conveyor, aktivitas porturan), membangun model struktur yang mencerminkan kondisi lapangan, dan melakukan analisis komprehensif menggunakan software terkini (Midas Gen, SAP2000, atau aplikasi engineering lainnya).

    Hasil analisis disertai dengan interpretasi teknis — bukan hanya angka output, tetapi rekomendasi konkrit tentang kapasitas elemen, zona yang perlu reinforcement, dan validasi terhadap standar desain yang berlaku. Pendekatan ini memastikan keputusan desain didasarkan pada data akurat, bukan asumsi atau judgment semata.

    PT Hesa Laras Cemerlang

    Komplek Rukan Mutiara Faza RB 1
    Jl. Condet Raya No. 27, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia

    • ✉️ Email: kontak@hesa.co.id
    • ☎️ Telepon: (021) 8404531
    • 📱 Hotline: 081291442210 / 08118889409

    📱 Konsultasi Pemodelan & Analisis Struktur